Dear Khadijah

Dear Khadijah
Menguar Rindu


__ADS_3

...57. Menguar Rindu....


Khadijah


Sejak menerima pesan dari Awan dini hari tadi, Kha tak lagi dapat memejamkan mata. Pesan singkat yang mengatakan jika dirinya bisa bertemu dengan Biru pagi ini membuatnya bahagia bukan kepalang. Setelah terpisah dua malam yang menyiksa, akhirnya bisa bertemu suami yang sudah sangat ia rindukan.


Kha berdiri di depan standing mirror. Mondar mandir di kamar dan membongkar isi lemari demi mix and match busana yang akan ia kenakan. Setelah sebagian isi lemari berpindah ke atas kasur, pilihannya jatuh pada gamis berwarna putih serta hijab dan cadar dengan warna senada. Kha berputar-putar, mematut diri di cermin seraya bergumam.


“Aku datang, Mas ....”


Kha keluar kamar dengan perasaan berbunga-bunga selayaknya isi dalam ruko yang penuh bunga. Selain memasak makanan kesukaan Biru, ia juga menyempatkan diri merangkai bunga untuk diberikan pada suaminya. Beberapa bunga mawar merah, bunga lily, juga bunga matahari kecil ia rangkai dengan gaya kontemporer.


“Duh, yang mau ketemu sama Ayank semangat banget.” goda Dipa.


Kha tersenyum simpul dari balik cadar. Menunjukkan buket bunga buatannya pada Dipa. “bagus nggak, Dip?”


“Bagus-bagus. Yang buat florist handal ditambah bikinnya pakai bumbu cinta.” seloroh Dipa.


Kha bernapas lega. Kabar dari Awan tak hanya membawa kegembiraan bagi dirinya, tapi juga untuk pegawainya dan karyawan di studio photo.


“Semoga semuanya cepat selesai ya, Teh, dan mas Biru cepat pulang kesini.”


“Aamiin aamiin Ya Allah. Doakan kami bisa melewati ini semua ya, Dip.”


“Bisa, Teh. Kamu orang yang sabar dan hebat, mas Biru juga. Aku yakin kalian bisa melewati masalah ini.”

__ADS_1


Kha berpelukan cukup lama dengan Dipa. Mengurai resah yang menghinggapi dirinya dua hari ini. Ia belum berani menceritakan pada Ummi juga Abi, sebab itu Kha hanya memiliki dukungan dan doa dari orang-orang sekitar. Ia melepas pelukan Dipa lalu bergegas keluar ruko ketika Barid dan Awan datang menjemput.


“Kamu siap, nak?” tanya Awan.


“Insya Allah siap, Pah.”


Awan membukakan pintu mobil belakang yang ternyata sudah ada Senja di dalam.


“Assalamualaikum, Mah. Mama sehat?” sapa Kha.


“Waalaikumsalam, sayang. Alhamdulillah mama sehat,” Senja mengelus lembut puncuk kepala Kha, “Kamu bawa apa itu?”


“Kha bawa rendang daging sama nasi goreng kemangi buat mas Biru.”


“Papa kebagian sedikit.” jawab Kha dengan gerakan ibu jari dan telunjuk didekatkan.


Gaya jawaban Kha membuat seisi mobil tertawa lepas. Obrolan ringan yang mampu menepis gundah dari dalam hati. Bukan hanya dirinya, Kha yakin jika Awan, Barid, dan Senja pun sama dilanda rasa khawatir. Hanya saja mereka semua pandai menyembunyikan supaya suasana tidak terlalu tegang.


Barangkali efek dari rasa rindunya yang membuat perjalanan di mana hanya memakan waktu 20 menit menjadi terasa sangat lama. Begitu mobil terhenti, Kha tak dapat lagi menahan diri. Satu persatu bulir bening jatuh dari pelupuk matanya. Senja yang melihat Kha terdiam, mengusap punggungnya berkali-kali.


“Kalau Kha belum siap, kita bisa tunda jengguk Birunya.” ucap Senja.


Kha menggeleng cepat. Meski takut setelah melihat suasana kantor polisi, Kha tak ingin membuang percuma kesempatan untuk melepas rindu bersama suaminya. “Enggak, Ma, Kha mau ketemu mas Biru. Kha rindu mas Biru ....”


Awan berjalan di depan bersama Barid, lalu Kha dan Senja menyusul di belakangnya. Kakinya mendadak lemas melihat hiruk pikuk suasana kantor polisi. Ia dapat mendengar jelas orang ramai beradu argumen tentang siapa yang salah dan benar. Ada pula para remaja yang dibawa polisi dengan tangan terikat satu sama lain. Melewati ruangan ramai itu, Kha dibawa masuk melalui pintu beri bertuliskan ‘Ruang tahanan, selain petugas dilarang masuk!’

__ADS_1


Setelah pintu besi itu tertutup, suara riuh dari depan sudah tidak terdengar lagi. Berganti dengan suasana sepi sunyi mencekam. Senja menggandeng tangannya masuk ke ruang besuk tahanan. Ruangan berukuran sempit berisi 1 meja dan 4 kursi yang berhadapan. Di dalam ruangan tersebut sudah ada Pak Sarman, pengacara Awan.


“Bagaimana Pak Sarman, Proses pemeriksaan Biru sudah terlaksana?” tanya Awan.


“Sudah selesai pagi tadi. Pak Biru diperiksa selama 6 jam dengan 30 lebih pertanyaan. Posisi sekarang masih di periksa sebagai saksi.” jawab Sarman.


“Lalu bagaimana dengan langkah selanjutnya?”


“Mungkin pihak penyidik akan memanggil para saksi. Ibu Senja, dan semua yang berada di tkp akan di panggil satu persatu.”


Kha masih mendengarkan dengan seksama percakapan antara Pak Sarman juga Papa ketika pintu terbuka. Ia menoleh sebab Senja menangis tersedu dan berlari ke arah pintu.


“Mas Biru ....”


Sebesar apa pun rindunya kepada sang suami, Kha memberi kesempatan untuk Senja terlebih dahulu menikmati waktu pertemuannya dengan Biru. Air matanya tak kunjung berhenti, apalagi melihat penampilan Biru masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu.


Melihat Biru bersujud mencium kaki Senja membuat Kha semakin rapuh. Tubuhnya limbung hingga ia terjatuh di kursi. Saat bersamaan Biru menghampirinya dengan wajah panik.


“Kha,” Biru memeluk tubuh Kha yang sudah tidak stabil. “Jangan menangis. Kumohon ....”


Sekuat tenaga Kha mengangkat tangan untuk membalas pelukkan Biru. Namun, ia merasakan tubuhnya semakin tak karuan. Ruangannya terlihat berputar. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Penglihatannya juga menjadi kabur ditambah suara denging di kepala yang memekakkan. Sampai Biru pun terlihat menjadi berbayang .


“Kha! Khadijah!”


“Kha ... bangun sayang.”

__ADS_1


__ADS_2