
...27. Belum pantas...
Biru.
Dua hari ini, Biru telah mengorek habis informasi tentang pemilik PT. Yudistira Tbk. Tak dipungkiri, Nama Nahesswari yang tersemat dibelakang nama Jecin sedikit mengusiknya.
Biru sangat terkejut mendapati kenyataan tentang Senja yang pernah memiliki suami selain Awan. Terlebih mantan suami Senja adalah Dewo Yudistira, selaku CEO pada perusahaan tersebut. Lalu, apakah Jecin anak dari Senja atau bukan, itu yang masih menjadi pertanyaan pada benak Biru. Jika kekesalan Awan kemarin ada sangkut pautnya dengan nama Nahesswari, ini jelas akan menjadi hal pertama yang Biru tahu dibalik kisah Senja.
Ia menarik tuas mobil lalu berbaur kedalam kemacetan kota metropolitan, menuju apartemen Jihan untuk berpamitan sekaligus meminta restu.
Sampai di apartemen, ia dibuat jijik dengan penampilan Jihan yang hanya menggunakan selembar kain tipis ditutup dengan kimono satin, apalagi ia sempat berpapasan dengan laki-laki yang kemungkinan berusia sama dengannya di pintu masuk. Mungkin hal seperti inilah yang membuat dirinya tidak tersinggung ataupun marah ketika mendengar Barid menyebut Sang Ibu seperti Ja Lang.
“Bawa kabar apa kamu datang sepagi ini?” tanya Jihan.
Biru tak menjawab, pikirannya masih berperang melawan kenyataan yang selalu ingin ia hindari setiap datang ke apartemen Jihan. Ia berlalu menuju dapur, mengambil Vas kaca kemudian memasukkan bunga pemberian Kha pagi tadi.
“Aku minta restu, Ma. Aku sama Papa mau ke Jogja, Insya Allah mau lamar, Kha,”
“Lamar?” tanya balik Jihan. “Gadis yang kamu kenalkan tempo hari?” Biru mengangguk.
“Ternyata selain tidak pintar dalam urusan bisnis, selera kamu tentang cewek juga biasa aja,” cibir Jihan. “Sudah betul Mama kenalkan sama Jecin. Cantik, karirnya cemerlang, anak tunggal yang sudah jelas masa depannya, kok malah tertariknya sama perempuan macam ibu-ibu pengajian,” tandasnya.
Mendengar nama Jecin, Biru tertarik untuk mencari tahu lebih tentang gadis itu.
“Mama kenal Jecin sudah lama?”
Jihan tersenyum mencibir. “Kenapa? Berubah pikiran? Sekarang bisa lihat mana wanita yang lebih menarik dan menjanjikan?”
“Cuma penasaran.”
Nihil! Ternyata Jihan tidak tahu menahu tentang Jacinda Laluna Nahesswari seutuhnya. Yang diketahui Jihan dari seorang Jecin hanyalah anak tunggal dari pengusaha sukses ditanah air, tanpa mengetahui apa yang tersembunyi dibaliknya.
“Habis ini temani Mama keluar sebentar ya, Bi. Mama ada janji temu sama teman-teman Mama,”
__ADS_1
“Iya.”
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Khadijah.
Hari ini, Abi dan Ummi lebih dulu pulang ke Jogja, mereka tak bisa singgah terlalu lama karena pekerjaan dan sekolah adik-adik Kha. Kha akan menyusul dua hari kemudian, sehari sebelum Biru datang ke Jogja seperti yang telah pria itu janjikan.
Innalillahi wa innailaihi rajiun. Iya enggak apa, Dip. Kamu boleh izin buat beberapa hari kedepan, kamu sama Fateh yang sabar ya, Insya Allah nanti aku sama yang lain dateng ke rumahmu.
Kha menutup telponnya, lalu menghampiri Boim dan Ujang dibawah.
“Im, aku minta tolong buatkan bunga papan ucapan belasungkawa buat Dipa, ya. Nama yang meninggal Ibu Raidah,”
“Loh, yang meninggal siapa, Teh? Bukannya Kak Dipa yatim piatu?” sahut Asti.
“Iya, Dipa memang yatim piatu, tapi dia juga merawat Ibu dari salah satu temannya yang sudah meninggal dunia.” Asti dan Boim saling berpandangan, lalu mengangguk-anggukan kepala.
Tidak dinyana memang, penampilan Dipa yang tomboi dan sedikit urakan ternyata memiliki hati yang besar serta tinggi solidaritas.
“Teteh kapan balik ke Jogja?”
“Harusnya dua hari lagi, tapi Dipanya izin paling nggak tiga hari katanya, mungkin aku balik sabtu paginya aja.”
Biarlah pikirnya, Biru juga belum memberikan jawaban yang pasti kapan pria itu akan membawa keluarganya ke Jogja. Ia hanya mengirim teks terakhir kemarin, mengatakan jika Minggu depan ia akan datang.
*****
Ditemani Asti dan Ujang, Kha mengunjungi rumah Dipa. Ini kali pertama mereka berkunjung semenjak saling kenal. Mereka sempat tertegun, melihat keadaan kampung Dipa yang ternyata terletak dipinggiran kota, dimana banyak orang-orang seperti pengamen, pemulung, sampai pedagang cilik tinggal. Ujang bahkan hanya bisa membawa mobil sampai ujung gang. Selebihnya, mereka berjalan kaki sampai rumah Dipa.
Ujang mengecek ponselnya, memeriksa kembali alamat yang dikirim oleh Dipa. Mereka tampak ragu, karena rumah yang diketahui milik Dipa tak terlihat ramai ada pelayat atau setidaknya kibaran bendera kuning seperti pada umumnya.
“Bang Ujang! Bener ini bukan rumahnya?” tanya Asti.
__ADS_1
“Dari nomornya sih, bener! Tapi kok sepi ya?”
Saat Kha hendak menanyakan pada anak kecil yang lewat, disana Dipa dan Fateh datang bersama seorang laki-laki tua.
“Teh....” Kha tersenyum, ia lekas memeluk Dipa yang nampak murung tak seperti biasanya.
“Sabar, ya....”
Dipa mengusap air matanya. “Makasih udah pada datang,”
Asti dan Ujang bergantian mengucapkan belasungkawa kepada Dipa dan Fateh.
“Ini Pakde Warno,” ujar Dipa menunjuk pria tua dibelakangnya “Dia satu-satunya tetangga yang sudah seperti sodara,”
Singkat cerita, ternyata memang seperti ini keadaan kampung Dipa. Meski hidup berdampingan, jiwa sosialnya sangat minim, mereka terlihat saling acuh meski tetangga sebelah tengah berduka. Sebab itu, mereka tak akan mendapati satupun tamu sebagai pelayat. Jangankan itu, proses pemakaman juga mereka lakukan sendiri, dan hanya pihak TPU yang membantu.
“Aku janji bakal masuk sebelum Teteh berangkat ke Jogja, aku cuma mau beresin barang-barang Mbok Idah.” ujar Dipa.
Kha dan yang lain pamit undur diri sebelum matahari semakin naik. Mereka tak bisa lama-lama karena saat ini kondisi toko bunga sedikit lebih sibuk sebab Dipa yang biasanya mengkoordinir pesanan harus izin untuk tiga hari kedepan.
“Jang, kita mampir ke toko kue depan ya,” perintah Kha. Ujang menghentikan mobilnya tepat didepan toko kue yang bersebelahan dengan kafe.
Sejak keluar dari mobil, arah pandang Kha tertuju pada sosok pria yang baru kemarin duduk berhadapan dengan Abinya.
Disalah satu meja kafe sebelah toko kue. Seorang pria tengah duduk berdua bersama gadis yang sangat cantik. Dimeja sebelahnya, Kha juga melihat perempuan yang tempo hari Biru sebut Mama, saat mengenalkan dirinya sebagai calon istri. Mungkinkah gadis itu juga keluarganya? Entahlah....
Dari bahasa tubuhnya, gadis itu sama sekali tak nampak seperti keluarga. Tangan indah itu menjulur lurus kearah Biru, memainkan sendok di meja. Meski Biru menyembunyikan tangannya dibawah meja, tetap saja itu bukan pemandangan yang menarik buat Kha.
Kha mengalihkan pandangan. Terlalu lama melihat Biru duduk dengan perempuan lain membuat hatinya sedikit risau. Risau tentang perasaan yang sejatinya masih abu-abu. Risau dengan rencana Biru yang terkesan tiba-tiba.
“Teteh lihat ada Mas Biru disana, 'kan?” tanya Asti. “Teteh nggak cemburu?”
“Dia belum pantas mendapatkan rasa cemburuku, Asti.”
__ADS_1
like dulu sebelum lanjut sayang-sayangku 😘