
...8. Ngeselin vs Nyebelin...
Biru.
“Harus jadi siapa-siapa biar kamu nggak ngeselin?!”
Biru tak tahu harus menjawab apa. Bagi Biru, justru perempuan itu yang ngeselin, susah diatur, buang waktu, ditambah kurang pandai dalam menjaga diri. Ia ingat kemarin Kha membiarkan begitu saja tumit yang memerah dan lecet, lalu tadi juga terlihat cuek dengan pakaiannya yang setengah basah. Padahal baju yang dikenakan berwarna putih dan berbahan Chiffon, sudah pasti langsung menempel pada badan jika terkena air.
Biru lebih memilih mengabaikan pertanyaan Kha dan kembali kedalam ruko untuk meneruskan kembali pekerjaannya. Daripada berdebat dengan perempuan yang sudah mengatainya 'ngeselin'.
CK! Kenal deket aja belum, udah ngatain ngeselin!
“Lu mau balik?” tanya Gentar lemas.
“Iya, dari kemaren blom liat nyokap. Nanti lu tolong sunting foto sama video punya Tante Mia ya, Tar. Biar besok gue check, tinggal naik cetak.”
“Okidoki!” Gentar membawa Aming keatas ranjang, Kucing itu mengibaskan ekor, terlihat nyaman di pelukan Gentar.
“Kita ditinggal berdua lagi, Ming. Cuman kamu satu-satunya yang mengerti daku,” Biru bergidik melihat interaksi mereka. “Nanti Bang Gentar bawa neng Dipa kesini ya, biar kita ada temennya.” racau Gentar mendapat lemparan bantal dari Biru.
Sampai rumah, Ia melihat mobil Barid dan Papa sudah terparkir rapi dihalaman.
“Pulang Den?” tanya Lukman.
Ia menaruh helm kedalam kotak perkakas ditempat parkir. “Papa sama Barid dirumah, Pak?”
“Den Barid iya dirumah. Kalau Tuan tadi pergi lagi sama Non Viona.”
Dari ruang tamu, suara rengekan Barsha menyambut kedatangannya, seutas senyum tercetak di bibirnya. Kali ini apalagi yang membuat anak abegeh itu sampai mengeluarkan jurus rengekannya.
“Mama nggak mau! Lagian buat apa sih beli-beli begitu! Kalau cuman buat mainan, sana pinjam stick lamp lalin punya pak Lukman.” ujar Mama.
“Ish beda Ma! Ini tuh biasa dibawa buat nonton konser. Beliin ya, Ma....”
Mama menyadari kehadirannya lantas berlarian menghampiri. “Alhamdulillah anak Mama dateng juga.” Biru mencium tangan Senja dan memeluk sekilas. “Tuh urusin adik kamu, Mama pusing sama dia, ngrengek mulu!” ucap Senja lalu pergi kedalam dapur.
“Beliin adek stick Exo,” mata Barsha mengerling lentik sembari bergelayut manja di lengannya. Entah barang apa lagi yang Barsha sebut, sudah pasti printilan merchandise dan goods. Barang official keluaran Agensi yang menaungi salah satu boy grup asal negeri ginseng itu.
Ia lantas mengeluarkan uang sejumlah tujuh lembar lalu diberikan pada Barsha. “Cukup?” tanyanya.
__ADS_1
Barsha mengangguk cepat. “Makasih Abang... you're the best!” ucapnya langsung mengambil uang yg disodorkan olehnya.
“Ini sih cukup buat binder, sticker, postcard, sama photo card.” gumam Barsha cekikikan.
“Bang... Mandi dulu habis ini makan ya....” teriak Senja dari dapur. Biru pun gegas naik kelantai atas menuju kamar untuk membersihkan diri.
Jika didalam banyak cerita, Ibu tiri digambarkan dengan seorang wanita yang galak, jahat bin sadis. Tapi tidak dengan Senja, Wanita yang telah bersama Papa Semenjak dirinya berusia enam tahu itu, mematahkan stigma negatif tentang beringasnya Ibu tiri.
Terkadang Biru justru berpikir, peranan Jihan dan Senja sebagai Ibu seperti terbalik. Jihan yang ia harapkan bisa menjadi panutan, justru sikap temperamennya membuat dirinya sungkan. Setiap bertemu dengan Ibu kandungnya, selalu perihal harta Papa yang menjadi pembahasan. Hal itu sangat menyiksa dan memberi penekanan tersendiri. Tanpa Jihan sadari, obsesinya dengan dunia photography Ia dapat dari dunia Ibunya.
Sedangkan Senja, dia bukan Ibu yang suka memaksakan kehendak anak. Baginya, setiap anak berhak mempunyai cita-cita untuk diraihnya, asalkan bisa konsisten dan tanggung jawab dengan segala konsekuensinya.
“Bi, teman Mama yang buka jasa Wedding organizer, dia lagi butuh fotografer buat kolaborasi dengan WO nya. Terus dia minta tolong sama Mama buat bilang ke kamu, kali aja kamu mau.”
“Boleh juga sih, Ma. Cuman Biru masih nyari tambahan karyawan dulu.”
“Kamu buka lowongan atau ajak teman kamu yang seprofesi.” saran Senja. Kemudian menarik kursi disebelah Biru. “Oh ya, Karena teman Mama juga butuh florist juga, Mama kasih rekomendasi toko bunga disebelah studio kamu.”
“Kha???”
“He'em. Kha de'florist. Emang kenapa?”
“Mama lihat-lihat anaknya kalem, cantik, sopan.”
Keningnya mengernyit heran. “Maksud Mama apa?”
“Nggak ada maksud apa-apa, Mama cuma suka aja lihat perempuan kayak Kha. Adem dilihatnya.”
Adem dari mana. Perempuan nyebelin gitu.
“Kamu kenapa?” tanya Senja heran.
“Nggak apa, emang kenapa?”
“Itu kenapa mukanya jadi nggak asik gitu habis ngomongin florist sebelah?”
“Biasa aja!”
“Hati-hati... Kalau cerita di novel-novel yang Mama baca. Biasanya yang cuek lama-lama jadi suka.”
__ADS_1
Ia mengangkat bahu sembari menggelengkan kepalanya.
Nggak mungkin banget suka sama perempuan nyebelin kayak gitu.
Hari berganti, Pagi ini Biru berangkat menggunakan SUV putih milik Papa, terpaksa motornya disimpan dirumah. Semua gara-gara Barid yang menolak permintaan Mama untuk membawa kue kering bikinan Mama untuk diberikan kepada Iyang dan Oma. Setelah sebelumnya mampir kerumah Iyang dan Oma, Biru pun menarik kembali tuas mobil dan berlalu menuju studio.
“Ck!” Ia terus berdecak sebal. Melihat dua kotak kue di jok samping. “Ngapain juga Mama bawain buat Kha segala?!”
Biru membawa turun kotak kue pemberian Senja, Ia sempat hilir mudik didepan toko bunga, antara mau dia yang berikan atau tunggu Gentar bangun, biar Gentar yang kasih.
Bug!
“Astagfirullah.” pekik Kha. Biru menabrak Kha yang tengah membawa pot bunga matahari keluar toko.
Biru terlonjak, sesaat kemudian Ia menarik tangan Kha namun ditepis kasar oleh Kha. “Jangan sentuh aku!” ucap Kha.
Ia tak tahu. Niatnya cuma ingin menolong, tapi reaksi Kha itu dianggapnya berlebihan. Apa salahku? Sejak kemarin dia masih saja bersikap menyebalkan!
Kemudian Ia bangkit tanpa lagi mempedulikan Kha yang masih terduduk dilantai, masuk kedalam toko bunga menghampiri Dipa.
“Dip, titipan dari Mamaku buat kalian.” ucapnya kemudian pergi begitu saja. Melewati Kha yang masih duduk membersihkan sisa tanah berserakan di lantai. Bahkan Biru lupa dengan niatnya untuk menyampaikan pesan dari Mama tentang kolaborasi florist dan WO teman Mama.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Khadijah.
“Loh kok berantakan gitu?” Ia menoleh kearah parkir mobil, Suara Barid ternyata.
Barid segera mengambil sapu dan pengki dari studio lalu membantunya membersihkan sisa sia tanah yang tumpah dari pot.
“Terima kasih, Mas Barid ”
“Nggak perlu sungkan Kha... Kalau butuh bantuan apa-apa kamu boleh bilang ke aku.” ucapnya sembari melemparkan senyum.
Kha menghela napas. Pikirannya kembali mengingatkan tentang ucapan Barid. Mungkin memang karena mereka berbeda Ibu, itu sebabnya kepribadian mereka berdua juga bertolak belakang.
“Sebelah kasih kue kering, katanya titipan dari Mamanya.” ujar Dipa setelah Kha masuk kedalam toko, meninggalkan Barid yang masih duduk didepan.
“Mamanya?”
__ADS_1
Oh mungkin perempuan cantik yang waktu itu menyapaku. Perempuan itu terlihat mirip Barid, pantas saja Barid baik, Ibunya juga baik.