
...56. Where's my mom?...
Senja.
Jacinda Nahesswari. Anak hasil dari pengkhianatan Dewo dan Luna. Kehadirannya membuat Senja yang semula ingin memaafkan Dewo, menjadi mantap memutuskan untuk mengakhiri rumah tangga yang memang sudah salah sejak awal.
Setahu Senja, Jecin terlahir tanpa melihat sang Ibu. Ia juga baru bertemu Jecin satu kali, yaitu pada hari di mana mantan ibu mertuanya meninggal. Sempat terkejut mengetahui nama belakang dirinya juga tersemat di nama putri semata wayang Dewo. Namun, hal tersebut tak terlalu ia pikirkan sebab di saat bersamaan ia tengah memiliki masalah yang sama peliknya.
Kini, nama mereka kembali terdengar setelah sekian lama. Kedatangan Jecin membawa petaka bagi keluarga Senja. Ia tak tahu pasti apa yang mendasari perbuatan puri Dewo, yang jelas untuk saat ini Senja ingin menemui mantan suaminya untuk menanyakan secara langsung mengapa dan ada apa.
Diantarkan sopir pribadinya, Senja membelah kawasan kota Jakarta barat menuju perusahaan Yudistira.Tbk. Ia tiba di gedung pencakar langit itu saat matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Entahlah, apa yang memberi dirinya kekuatan hingga memberanikan diri menjumpai pria yang dulu menoreh luka di hidupnya. Ia hanya memikirkan keselamatan keluarga yang sudah diusik oleh Jecin.
“Permisi, saya mau bertemu dengan Pak Dewo yudistira.” ucapnya pada perempuan dari balik meja resepsionis.
“Sudah buat janji, Ibu?”
Senja mengeleng dengan tatapan tak mengenakan. “Katakan saja, Senja nahesswari ingin bertemu, penting!” jawabnya dengan kata penuh penekanan.
“Baik silakan tunggu sebentar.”
Ekor mata Senja mengikuti gerak langkah sang resepsionis yang segera menyambungkan pesawat telpon. Tak lama kemudian wanita tersebut mengisyaratkan agar ia mengikutinya. Ia dibawa menuju lantai 21, mungkin di sanalah kantor Dewo berada. Begitu lift terbuka, aroma dari essensial oil wangi pappermint menyeruak masuk ke lubang hidung. Senja menghirup napas dalam-dalam, ia berharap langkah tanpa izin dari Awan kali ini dapat menyelamatkan keluarganya.
“Pak Dewo sedang menerima tamu, silakan tunggu disini.” ucapnya menunjuk sofa di seberang meja kerja yang terletak papan nama bertuliskan ‘Sekretaris’.
Tak sampai 10 menit. Salah satu pintu kaca dari dua pintu yang berada dilantai itu terbuka. Pertama, perempuan dengan balutan blazer lengkap dengan rok span di atas lutut keluar, diikuti oleh dua pria lainnya. Dan pria tersebut adalah Dewo Yudistira....
“Se-senja???” pekik Dewo seolah tak percaya. Dewo mendekatinya dengan mata berbinar. Nampaknya Dewo senang dengan pertemuan ini, namun tidak dengan dirinya.
“Maaf mengganggu waktu anda, saya kemari karena ada yang ingin saya tanyakan!” ucapnya ketus.
__ADS_1
“Kenapa kamu kaku banget sih, Nja, kaya sama siapa saja. Kita sudah lama nggak ketemu, ngobrol di dalam saja ya,” ujar Dewo, lalu berteriak memanggil perempuan yang duduk di meja sekretaris. “Siska, buatkan minum untuk tamu saya.”
“Baik, Pak.”
Senja mengikuti Dewo masuk ke dalam kantor sembari meremas benda ditangan. Ia sudah tak sabar untuk menyampaikan maksud dari tujuannya.
“Duduk, Nja.” Dewo mempersilahkan ia duduk, namun ditolak olehnya dengan tangan terangkat.
“Aku nggak lama. Cuma mau menanyakan tentang ini,” ujar Senja memberikan benda ditangannya, “Ini benar Jecin anak kamu, ‘kan?”
Mata Dewo sampai memicing demi melihat foto-foto yang ia beri. Sebenarnya Senja tak tega menyampaikan hal ini, mau bagaimana pun Jecin adalah anak Dewo. Namun, perbuatan Jecin sungguh telah meresahkan keluarganya, dan ia perlu tahu alasan dari perbuatan anak tersebut.
“ini memang Jecin anakku, tapi kamu dapat foto-foto ini dari mana?” tanya Dewo.
“Kamu juga perlu lihat ini,” Senja memberikan sebuah flash drive mini pada Dewo. Tak menunggu waktu lama, Dewo langsung menancapkan benda mungil itu pada PC.
Dewo nampak terkejut setelah menonton kumpulan potongan video rekaman cctv dari berbagai tempat, di mana video tersebut menampilkan Jecin tengah berkumpul dengan sekelompok pria berbadan sangar. Selain itu Senja juga menunjukkan aksi Jecin dan orang suruhan dia pada aksi penyekapan di rumahnya.
Senja menari napas dalam-dalam, lalu menjelaskan apa yang ia dengar dari Awan juga Barid. “Beberapa waktu lalu aku mengalami kecelakaan, mobilku ditabrak dari arah belakang. Suamiku menemukan kejanggalan dari cctv jalan yang diperiksanya. Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata anak kamu terlibat atas kecelakaan itu. Pun kecelakaan yang menimpa anak keduaku. Terakhir aksi penyekapan di rumahku yang terjadi kemarin malam.” terang Senja.
Dewo menggeleng-gelengkan kepala seolah tak percaya apa yang baru saja Senja sampaikan.
“Jecin?! Anakku?!” pekik Dewo, “jangan bercanda kamu, Nja! Bagaimana bisa anakku melakukan hal seperti itu sedangkan dia saja nggak mungkin kenal sama kamu!”
“Kalau menurut kamu seperti itu, kamu bisa tanyakan langsung pada Jecin apa alasan dia menyakiti keluargaku.” hardik Senja.
Dewo terlihat gusar. Masih mengulang-ulang cuplikan video seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Mulutnya bergumam hal yang Senja tidak dapat dengar, yang pasti Dewo terlihat syok mengetahui perbuatan anaknya.
“Aku belum percaya kalau ini murni perbuatan Jecin, aku harus memastikan dulu.”
__ADS_1
“Memang itu tujuanku kesini.”
“Senja ....”
“Dengan datangnya aku kesini itu karena aku masih menghargai kamu, meski aku tahu suamiku sudah bergerak melaporkan Jecin, tapi tetap saja ... aku mau kamu tahu perilaku anakmu yang sebenarnya,” ujar Senja, “Aku pamit.”
“Nja ....”
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Dewo.
Puluhan tahun hidup melajang membuat Dewo merasa disergap sunyi setiap kali pulang ke rumah. Keputusannya untuk tidak menikah lagi bukan tanpa alasan. Telah menyia-nyiakan Senja yang di nikahi karena perjodohan membuat ia merasa sangat menyesal. Ditambah meninggalnya Luna setelah melahirkan anak yang ia beri nama jacinda Nahesswari membuat hidupnya semakin berat. Dewo merasa apa yang ia alami adalah karma dari perbuatannya dulu. Oleh sebab itu, ia ingin menebus dosa dengan tidak bahagia bersama wanita mana pun.
Nahesswari ... Ia jelas sengaja menyematkan nama itu untuk putrinya. Sebab kala itu ia merasa terlambat dalam mencintai Senja. Andai saat itu Luna tidak mengalami eklampsia setelah melahirkan Jecin, sudah pasti Luna tak akan menyetujui itu. Namun Dewo tetap melakukannya, sekalipun Luna bangkit dari kubur untuk memaki dirinya atau bahkan mencekik, ia akan tetap memakai nama belakang Senja untuk nama anak mereka.
Dewo membuka jendela kamar kecil di lantai atas yang dulu ditempati oleh Senja. Tidak ada yang berubah dari kamar tersebut. Secuil pun Dewo tak menyentuh barang-barang Senja yang ditinggal. Ia duduk di pinggir kasur menatap dinding dan pintu. Tempat ia menyiksa Senja hanya karena gelap mata. Demi harta ia hampir melenyapkan nyawa Senja.
Dewo berdiri dan menarik laci di meja nakas. Betapa terkejutnya ia menemukan foto-foto Senja yang ia simpan rapi kini acak-acakan. Ia pun mengedarkan pandangan ke seluruh dinding kamar, foto pernikahan dirinya dengan Senja juga sudah tidak berada pada tempatnya.
“Siapa yang merusak ini semua?”
Dewo membuka lemari pakaian dan ....
Braak!!!
Ia mengambil map berwarna merah muda yang terjatuh. Map tersebut berisi salinan akta kelahiran Jecin, kartu keluarga, juga sebuah foto yang membuat ia membelalakkan mata. Foto tersebut adalah foto pernikahan dirinya dengan Senja, di foto tersebut tertulis kata
Where's my mom?
__ADS_1
•Hai bestieee ❤️ pa kabar kalian??? sehat sehat terus ya, emak-emak, teteh-teteh dan seluruh Tim Bikha Ambon. Cuman mau bilang, makasih buat yang udah duku gbkarya aku sampai sejauh ini ... sarangeeee 😘
oh iya, btw aku up 3 bab hari ini. Jan lupa tinggalkan jejak sebelum scroll ya luv 🤗 hatur tingkyuuu