Dear Khadijah

Dear Khadijah
Nahesswari??


__ADS_3

...26. Nahesswari??...


Biru.


Biru menyanggupi permintaan Azzam untuk membawa orang tuanya berkunjung ke Jogja dalam waktu dekat. Ia tersenyum mencibir diri sendiri sepanjang anak tangga, ucapannya yang tak terencana telah membawa ia membuka jalan lebih panjang. Entah maksud dari ini adalah penerimaan atau tidak, Biru tetap akan mengawalinya dengan membawa Awan menemui Azzam.


“Saya belum paham dengan maksud, Mas,” ucap Kha.


Biru menghentikan langkahnya, menatap Kha yang menundukkan pandangan. “Maksud yang mana?”


“Maksud Mas Biru tiba-tiba bilang sama Mamanya kalau saya ini calon istri, Mas!”


“Maaf, Kha. Memang awalnya aku tidak ada rencana buat bilang ke Mama, nggak tahu aja lihat kamu bikin aku punya ide kayak gitu,”


Mata Kha menyipit, jawaban Biru sama sekali diluar dugaan. “Jadi Mas Biru cuma bercanda?”


Biru menghela napas. “Aku sudah katakan berulang kali, ucapan aku bukan sekedar bercanda,”


“Lalu?”


“Kenal, ta'aruf, khitbah, akad, punya anak, bahagia, sukses dunia akhirat. Ada yang punya cita-cita kayak aku?”


Mendengar itu, Kha mendongak demi melihat raut wajah Biru. “Sejak kapan, Mas punya cita-cita seperti itu?”


“Sejak ketemu sama, kamu!” jawab Biru santai. Ia menghadang Aming yang menyusup sela diantara mereka. Menggendong kucing itu lalu berjalan menuju studio.


Dari pantulan pintu kaca, Biru melihat Kha masih berdiri melihat dirinya. “Jangan menerka apapun, karena aku hanya mengikuti takdir kemana membawaku berjalan. Simpan jawaban kamu buat nanti, saat aku membawa keluargaku ke Jogja.” ujar Biru dari ambang pintu studionya, lalu masuk dengan kaki mendorong pintu kaca.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


“Astagaaaa!”


Bukan hanya Barid yang terkejut dengan ucapan Biru, Awan dan Senja pun sama.


“Belum sebulan loh, Kha nolak gue! Lu udah minta restu mau kawin aja! jadi Abang bang ke banget, nggak ada rasa empatinya sedikitpun!” sungut Barid.


Biru terkekeh sembari menangkis lemparan bantal sofa dari sang adik. “Baru mau silaturahmi, Rid. Kalau suasananya mendukung ya sekalian khitbah. Atau kalau keluarga Kha menerima ya sekalian akad,”


“Abang! Astaghfirullah! Orang ngomong kayak gini dadakan! Ini serius nggak sih, ih!” ujar Senja tak kalah kesal.

__ADS_1


Barid beralih duduk disamping Senja, lalu berbisik. “Jangan, Mah! Jangan mau diajak ke Jogja,” Biru melemparkan bantal kembali kearah Barid.


“Bayangin aja tiap hari gue bakal ketemu sama mantan crush eh ternyata jadi ipar, nyesek tau!” Barid masih saja menggerutu dengan ide Biru yang ingin membawa Awan dan Senja menemui keluarga Kha.


“Nikah bukan perkara gampang, Abang... Semua harus dipersiapkan sebaik mungkin, Abang sudah yakin sama Khadijah? Terus, Kha nya sudah nerima, Abang? Jangan kita jauh-jauh ke Jogja malah hasilnya bikin Abang kecewa.”


Biru selalu punya cara tersendiri untuk bercakap dengan Mama-mamanya. Ia tak pernah melupakan telapak tangan mereka saat mereka tengah berbicara. Sesekali ia usap atau dikecup punggung tangannya. Kebiasaan ini ia terapin setelah melihat Senja sering melakukan hal yang sama.


“Mama nggak usah khawatir, aku sudah ketemu sama orag tua, Kha,”


Senja membulatkan mata terkejut. “Loh, sudah ketemu?”


“Tadi di studio. Ceritanya panjang, tapi intinya Abinya Kha mau aku berkunjung ke Jogja sama Papa, Mama,”


Awan yang sejak tadi diam ikut menimpali. “Kapan mau ke Jogja? Minggu depan Papa mau check pabrik disana, sekalian bawa Barid biar kontrol langsung kesana,”


“Boleh, Pa. Minggu depan sekalian, Jadi Biru bisa atur ulang jadwal kerjaan disini,”


Senja berlarian ke dalam kamar, lalu kembali membawa buku serta pulpen. “Kita perlu bawa apa saja? Biar Mama siapin dari sekarang,”


Barid menendang pelan kaki Biru, beranjak pergi sembari bergumam. “Makin nggak ngerti sama perempuan! Dikasih aku yang baik, malah milih manusia yang menyebalkan!”


“Nggak usah repot bawa ini itu, Ma. Nanti biar Biru yang siapk....”


“Ya nggak bisa gitu, dong!” ucap Senja memotong ucapan Biru. “Kalau tujuannya cuma silaturahmi Mama juga nggak mau repot ini itu, tapi Mama tahu kamu, kamu kalau sudah ada maunya pasti harus terpenuhi,”


“Mangkanya Mama mau sedia payung sebelum, hujan! Nanti kamu bilangnya cuma silaturahmi begitu sampai sana mau langsung khitbah Kha. Bisa malu Mama kalau nggak bawa apa-apa!" Sambung Senja.


Senja menulis list barang apa saja yang ingin dibawa, Biru hanya bisa melihat sembari menggelengkan kepala. Padahal belum tentu kedatangannya ke kediaman keluarga Kha itu akan diterima atau tidaknya.


“Biasanya florist itu seleranya tinggi dalam memilih barang,” gumam Senja.


“Oh, Iya! Kamu jangan lupa kabari Mama Jihan, kalau dia bisa ikut kamu ajak sekalian ya , Nak.” Biru tersenyum dan mengangguk, betapa luasnya hati yang dimiliki Senja, sedang ia tak tahu bagaimana penilaiannya dimata Jihan.


Biru tak ingin mengganggu Senja yang sedang asik mendaftar beberapa barang yang ingin dibawa ke Jogja. Ia meninggalkan Senja dan menghampiri Awan diruang kerja.


*****


“Pa... Ada hal yang Biru ingin Papa tahu,” Awan meletakkan pena diatas map lalu melepas kaca matanya.

__ADS_1


Biru menceritakan tentang pertemuannya dengan Jihan, bagaiman kronologinya sampai tercetus kata 'calon istri' untuk Kha karena menghindari syarat dari Jihan. Antara mengambil jabatan di kantor atau menikahi salah seorang putri dari pemilik perusahaan.


“Anak dari pemilik perusahaan apa?!” pekik Awan. Biru sedikit terkejut melihat reaksi Awan yang kaget.


“Yudistira.Tbk,” jawab Biru.


Jelas sekali perubahan raut wajah Awan yang merah padam. Ia semakin penasaran karena Awan terlihat gusar dan membuang napas berat.


“Rupanya Jihan tidak tahu siapa pemilik perusahaan itu!”


“Memangnya siapa, Pah? Mama sama Papa kenal?”


“Sudahlah! Bukan urusan kamu, Papa belum tahu siapa Kha dan seperti apa orangnya, tapi kalau Jihan mau kamu menikah sama anak pemilik perusahaan itu, Papa nggak akan ijinkan. Lebih baik kamu menikahi perempuan yang kamu sama Senja sudah kenal.”


Kegusaran Papa membuat Biru sedikit penasaran. Tetapi Awan sudah lebih dulu mencegahnya untuk tidak lebih banyak tahu tentang siapa keluarga dari perempuan bernama Jacinda itu.


“Kalau begitu, kamu harus bergabung di perusahaan, bukan?” tanya Awan. Biru menunduk, sejatinya tidak ada satupun dari syarat Jihan yang ia inginkan. Bagaimanapun Jihan hanya memikirkan tentang kehidupan mewah yang harus ia dapat dari harta keluarga.


“Nanti aku pikirkan lagi, Pah,”


Untuk sementara, Biru hanya ingin fokus pada dunianya, dunia yang ia pusatkan pada keluarga, pekerjaan, dan kali ini ada Kha yang akan ia tarik untuk menjadi salah satu pengisi dunianya.


Tentang jabatan di kantor, Biru berharap jika suatu hari Jihan bisa melihat potensinya dalam bisnis yang sedang ia tekuni, Ia mampu berdiri meski tanpa perusahaan Awan.


Minggu depan, tunggu aku dan keluargaku Minggu depan. Doakan semua lancar.


Selesai mengirim pesan pada Kha, ia melangkah lega keluar dari rumah. Semua rencana untuk bertandang ke Jogja sudah disiapkan semua oleh Awan dan Senja.


Satu hal yang masih membuat ia penasaran. Ia alihkan layar ponsel dari aplikasi pesan singkat, kemudian mencari apa yang membuatnya penasaran sedari tadi.


Profil biodata lengkap pemilik PT. Yudistira Tbk


Dari sekian banyak informasi yang tertera, Biru hanya fokus pada nama anak dari sang Direksi.


Pemilik perusahaan yang bernama Dewo Yudistira, memiliki anak perempuan tunggal bernama Jacinda Laluna Nahesswari.


Nahesswari? Kenapa nama belakangnya seperti nama Senja?


Slow update ya, kalo bosen nunggu boleh pada timbun bab dulu. Maklum musim PAS si emak lagi jadi guru private. jangan lupa like nya ya... boleh tandai kalau ada typo-typo... makasih semua 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2