Dear Khadijah

Dear Khadijah
Tabayyun


__ADS_3

...49. Tabayyun...


Biru


Tak biasanya. Hal baru bagi Biru dimintai pertolongan oleh Barid. Biasanya adiknya itu selalu menghindar berurusan dengannya entah apapun itu. Terlebih sejak pernikahan dirinya dengan Kha, Barid seolah hilang radar. Menyibukkan diri di kantor Papa tanpa pernah terdengar kabar.


Dan malam ini, Barid bahkan menghubunginya sampai belasan kali. Meminta pertolongan agar ia datang ke suatu tempat.


RS Mayapada. Abang jangan kasih tau Papa.


Begitu pesan yang di kirim oleh Barid. Dengan motor sports nya, Biru meninggalkan Kha tanpa izin untuk menemui adiknya yang berada disalah satu rumah sakit di bilangan Jakarta Selatan.


Kenapa Barid. Apa yang terjadi sampai bisa berada di rumah sakit. Sepanjang perjalanan Biru terus memikirkan kemungkinan apa yang terjadi pada Barid masih ada kaitannya dengan kecelakaan Senja.


Lengangnya jalan membuat jalan Biru bebas hambatan. Hanya butuh waktu 30 menit dan ia sudah berada di halaman parkir rumah sakit. Dengan langkah panjangnya Biru menapaki lorong menuju UGD. Lalu yang membuat matanya tercengang begitu sampai, dibalik tirai putih itu terbaring Barid dengan kepala di ikat perban, lengan dan lutut pun tak luput dari balutan perban.


“Rid....”


“Abang.”


“Kenapa bisa gini?” Biru membantu Barid yang berusaha duduk bersandar. Ia seret kursi besi di samping brangkar lalu duduk berhadapan dengan Barid. “Kenapa, Rid. Apa yang terjadi?”


“Ada orang yang sengaja nabrak aku, Bang. Aku rasa orang yang sama seperti kecelakaan Mama.”


“Kamu yakin?”


Barid mengangguk pasti. “Aku sama Pak Lukman sudah tahu dari masih di daerah Dago Bandung. Ada mobil yang sengaja ngikutin kita. Di Tol beberapa kali hampir nyerempet. Kita sampai masuk ke lajur padat buat menghindar. Tapi gitu keluar Tol, dari belakang di tabarak kencang sampai mobil hilang kendali terus guling.”


Biru terperangah. Napasnya memburu. Pertama Senja lalu sekarang Barid. Sama-sama kecelakaan dan di tabarak oleh mobil. Pertanyaan yang melintas dibenaknya saat ini hanya tentang samakah ini perbuatan Jecin juga Jihan.

__ADS_1


“Pak Lukman gimana keadaannya sekarang?”


“Pak Lukman Aman, untungnya ada airbag. Cuma luka ringan di pelipis juga pakai harus pakai collar,” ujar Barid


“Jangan kasih tau Papa atau Mama. Aku nggak mau mereka khawatir,” sambungnya.


“Terus sekarang gimana? Papa pasti bakal nyari kamu buat urusan kantor.”


“Sementara Pak Lukman biar istirahat di rumahnya. Bantu aku buat selidiki kasus ini. Aku yakin pelaku punya orang dalam dan punya motif yang sama. Sama satu lagi, bawa aku tinggal sama kalian.” Biru besedekap tangan mendengar Barid memintanya untuk dibawa pulang bersama.


Setelah negosiasi panjang. Lalu diputuskan Barid akan tinggal di studionya untuk sementara waktu. Biru mengurus administrasi Barid juga Pak Lukman, setelah itu mencarikan kendaraan untuk mengantarkan Pak Lukman pulang ke kampung halaman. Barid ke studio menggunakan taksi sedangkan Biru menggunakan motornya.


Khadijah.


Didalam ruko, Kha berlarian kesana kemari. Tanpa menggunakan hijab juga cadar, ia menghidupkan lampu di setiap ruangan sembari memanggil-manggil nama suaminya. Matanya sudah penuh oleh cairan bening yang berjatuhan. Sudah sejak beberapa menit ia terjaga dan tidak mendapati Biru disampingnya.


“Mas!!” teriakan Kha sangat nyaring sampai terdengar hingga luar. Begitu mendengar suara motor Biru, Kha berlari menuruni anak tangga kemudian membuka pintu kaca dan pintu harmonika.


“Mas!”


“Kamu kemana, aku takut....”


“Kamu nggak baca pesan dari aku ya?” Kha menggeleng. Ia mengusapkan hidung di dada Biru. “Maaf ya, tadi nggak tega mau bangunin kamunya,” sambung Biru.


Saat ia melepas pelukan Biru dan berbalik badan. Ia baru sadar ternyata ada Barid di depan ruko. Duduk dengan Kaki, tangan, serta kepala terbalut perban. Kepalanya otomatis menoleh dan memeriksa seluruh tubuh Biru. Memastikan apakah suaminya juga terluka atau tidak.


Helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Lega karena suaminya baik-baik saja.


“Kamu masuk dulu. Aku antar Barid ke atas,” Kha mengangguk dan menuruti perintah suaminya.

__ADS_1


Mendadak perasaannya kembali gelisah. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Barid. Tapi jika dilihat luka-lukanya, sudah pasti Barid baru mengalami kecelakaan. Kha menjadi khawatir karena teringat kembali pesan dari Jihan. Apakah ini ada hubungannya dengan kecelakaan Senja. Wallahualam Bissawab.


Ia naik kembali ke lantai atas setelah menutup pintu harmonika. Melaksanakan kewajiban yang sempat tertunda akibat panik mencari keberadaan Biru. Setelahnya, ia membuat sarapan untuk Biru dan Barid dengan bahan seadanya di kulkas.


Kha mendengar suara pintu harmonika terbuka. Biru datang tepat saat sarapan selesai dibuat. Kha tersenyum saat Biru menghampirinya dengan senyuman hangat. Memeluk sembari mengecup keningnya.


“Kalau mau kemana-mana di biasakan pamit ya, Mas. Biar aku nggak khawatir.”


“Iya maaf ya, sebenernya tadi udah kirim pesan, pasti kamu belum lihat,” jawab Biru. Ia sedikit terkejut saat Biru meletakkan kening di keningnya hingga hidung mereka bersentuhan. Biru menghela napas seperti orang yang menanggung beban berat. Kha bisa merasakan itu. Ia ingin bertanya namun jarum jam terus bergulir dan Biru belum menunaikan shalat.


Setelah Biru shalat subuh, Kha mengajaknya untuk sarapan bersama sebelum Biru pergi membawakan Barid dan Gentar sarapan buatannya.


“Kenapa dengan Barid?” tanya Kha.


“Kecelakan di pintu keluar tol. Mobilnya di tabrak dari belakang.”


Kha menunduk. Benar saja Barid mengalami kecelakaan. Apa ini juga menjadi alasan Jihan melarang dirinya dan Biru berada disekitaran keluarga Awan. Wajah murung dari balik cadar disadari oleh Biru. Perlahan Biru menarik dagunya hingga mereka bersitatap.


“Kenapa?”


Kha menggeleng pelan lalu menjawab lirih. “Kayak Mama Senja.”


Kha menatap Biru yang tiba-tiba mengalihkan pandangan. Seperti orang yang ingin menyembunyikan sesuatu, Biru menghindarinya dengan menyelesaikan sarapan cepat kemudian pergi ke studio photo membawa sarapan.


Kha duduk di sisi ranjang. Membuka tutup pesan yang dikirimkan Jihan kemarin. Perasaannya masih cemas dan gelisah. Jika benar ini ulah orang yang sama, bukan tidak mungkin Biru akan menjadi sasaran berikutnya.


Bagaimana jika Biru mengalami musibah serupa.


Bagaimana caranya untuk menjaga Biru agar tetap aman.

__ADS_1


“Apa sebaiknya aku beri tahu Mas Biru tentang pesan dari Mama Jihan?” gumam Kha, “Setidaknya agar Mas Biru selalu wasapada dimanapun dia berada.”


Kha mengangguk mantap. Ia merapikan cadar lalu turun ke lantai bawah. Nanti setelah Dipa, Asti dan yang lainnya datang, ia akan mengajak Biru duduk berdua membicarakan masalah ini. Semoga bisa bertabayun bersama.


__ADS_2