Dear Khadijah

Dear Khadijah
55


__ADS_3

Part 55


Biru.


Sebelum di bawa masuk melewati pintu bertuliskan RUANG TAHANAN, Biru sempat melihat Gentar sedang berbincang dengan salah satu polisi yang tadi ikut menangkap dirinya. Ia hanya mendengar samar petugas itu berkata pada Gentar untuk sementara Biru tidak dapat ditemui sebelum proses penyidikan dimulai, kecuali oleh penasihat hukumnya. Sebelum petugas itu selesai berbicara, pintu yang ia lewati telah tertutup kembali.


Ia berjalan diiringi polisi dari depan dan belakangnya. Melewati banyak ruangan terpisah yang jelas tertera fungsi-fungsinya pada palang di atas pintu. Selain ruang petugas, dan ruang besuk tahanan, ada banyak lagi ruangan tertutup. Petugas di depannya masih berjalan, melewati lorong lalu masuk melalui pintu teralis besi yang warnanya mulai memudar. Dari situ ia melihat banyak ruangan bersekat dengan pintu teralis besi. Masing-masing ruangan memiliki whiteboard bertuliskan keterangan penghuni ruangan. Biru dibawa melewati sel-sel yang berisi para tahanan, tatapan mengintimidasi mereka mengikuti sampai tiba disalah satu sel bertuliskan RUANG TAHANAN SEMENTARA.


Pria sangar tanpa seragam yang berjalan di belakangnya mengeluarkan kunci dari saku, lalu membuka borgol dari tangan Biru sebelum memasukkan dirinya ke dalam sel. Ia bernapas lega karena di tempatkan di sel yang tidak berpenghuni, setidaknya ia masih diberi ruang untuk sendiri. Sebenarnya dalam perjalanannya melewati lorong tadi, ia sedikit khawatir akan di tempatkan bersama penghuni sel lama. You now lah... Adegan pada film-film yang menunjukkan sikap bossy tahanan lama terhadap tahanan baru itu fakta.


Di ruangan berukuran 2,5 m x 1,6 m hanya berisi tikar pas satu badan dan terdapat ruang kecil tak berpintu yang ternyata toilet. Ia duduk membelakangi teralis besi, menyandarkan punggung yang terasa kebas. Jam sudah menunjukkan waktu dini hari, biasanya di jam seperti ini, ia sedang menikmati waktu malam panjang bersama istrinya, namun malam ini... tidak ada Kha, tidak ada kamar ruko yang sempit namun hangat. Hanya ada tembok tanpa jendela, panas, pengap, dan mengerikan.


Kemarin ia masih menjalankan profesinya sebagai fotografer di sebuah acara pernikahan. Acara dengan dekorasi simple bertema serba putih, yang ia rasa cocok dengan kepribadian istrinya. Kha pasti suka dengan dekorasi seperti itu batinnya.


Biru mengulas senyum. Ia membayangkan Kha akan sibuk memasang dekorasi sendiri untuk acara resepsi mereka. Sudut bibir melengkung itu tak bertahan lama. Memikirkan acara resepsi yang masih ia tunda pelaksanaannya sampai Mama Senja pulih justru membuat hatinya miris. Karena kenyataannya, saat ini ia malah terdampar di sebuah ruangan yang memiliki vibes penuh ancaman. Kebahagiaannya terasa tergadaikan.


Seperti ini ternyata rupa sel tahanan, baru berapa detik masuk saja sudah sangat menyiksa. Bagaimana mereka yang menjalani hidup di ruang sempit ini hingga bertahun-tahun lamanya. Sanggupkah aku melewati semua ini?

__ADS_1


“Sodara Albiru!” panggil seorang petugas seraya membuka gembok selnya, “Kuasa hukum anda ingin beretmu.”


Kuasa hukum?


Tangannya kembali di borgol, lalu di tuntun melewati lorong yang tadi ia lalui. Para tahanan yang tadi menyambut kedatangannya dengan tatapan intimidasi kini telah terlelap berjejer-jejer. Melihatnya, ia merasa bahwa dirinya akan segera mengalami hal serupa.


Memasuki ruangan bertulisan Ruang besuk tahanan, ia dapat melihat dua orang pria bertubuh atletis mengenakan setelan jas rapi, lalu lainnya hanya mengenakan kaos berkeras dengan banyak berkas ditangannya.


“Pak Albiru adityawarman, perkenalkan saya Sarman lubis,” Biru menyambut uluran tangannya, “per malam ini, saya telah ditunjuk oleh Pak Awan untuk menjadi penasihat hukum anda.”


Biru mengangguk. “Baik, Pak. Terima kasih.”


“Apa ini sesuatu yang direncanakan, Pak?”


“Melihat kenyataan bahwa Ibu Jihan mengirim pesan agar anda menghindari area rumah Bu Senja, besar kemungkinan iya.”


“karena itu, kedatangan saya kemari untuk menyelaraskan pernyataan saksi agar ketika besok Pak Biru menjalani penyidikan memiliki dasar yang kuat.”

__ADS_1


Biru menyugar rambut gelisah. “Kasus saya... sudah pasti naik. Kira-kira, berapa lama masa kurungan saya, Pak?” meski berat, biru memberanikan diri untuk menanyakan hal yang masih tak dapat ia bayangkan.


“Tindakan yang Pak Biru lakukan adalah tindakan kriminal yang dapat di pidana. Tapi, tindakan tersebut juga bisa disebut noodweer atau pembelaan diri, tertera di pasal 49 ayat (1) KUHP.”


Biru mengangguk-angguk lesu. “Saya siap menjalani hukuman buat menanggung kesalahan saya.”


“Anda tidak perlu khawatir. Saya dan tim juga keluarga anda sudah mengantongi beberapa bukti juga saksi yang dapat meringankan hukuman.”


Ia sempat terdiam beberapa saat, “Orang yang saya bunuh namanya Hendar, Pak Sarman bisa tolong saya buat carikan informasi apakah ada keluarga yang ditinggalkan. Tolong bantu saya, Pak.”


“Baik, Pak. Begitu mendapat informasinya, segera saya kabarkan pada Pak Biru.”


Biru menyeret kaki untuk kembali ke dalam sel tahanan. Semua kalimat Pak Sarman tadi tidak sedikit pun memberi angin segar. Bagaimana pun ia tetap bersalah, meski tidak sengaja melakukannya, tetap saja ia telah merenggut nyawa seseorang, dan ia harus bertanggung jawab dengan menerima hukuman yang setimpal.


Tubuhnya teramat lelah setelah hampir semalaman berkelahi untuk menyelamatkan keluarganya dari aksi penyekapan. Artinya seharian penuh ia belum mengistirahatkan badan. Namun matanya justru nyalang menekuri dinding sel yang dipenuhi coretan dan cat yang terkelupas di sana sini.


Dalam hitungan menit, hidupnya berubah. Kebahagiaan yang baru ia dapat bersama sang istri terpaksa harus ia tanggalkan. Entah apa yang akan terjadi kedepannya.

__ADS_1


Maafin aku, Kha....


__ADS_2