Dear Khadijah

Dear Khadijah
A new fantastic POV


__ADS_3

“Kamu kapan buat podcast lagi? Sudah ditanyain sama Biru.” tanya Gentar di sela kesibukan Kha memotong tangkai bunga mawar segar.


“Buat apa?” tanya balik Kha dengan sarkas.


Ia melirik sekilas, menatap Gentar yang terdiam dengan alis bertaut. “Kok buat apa? Ya karena rindu kamulah, pasti.”


“Kalau rindu itu temuin, Mas! Bukan hanya sekedar ingin tahu bagaimana keadaan aku melalui suara.” ucap Kha sedikit menaikan nada bicaranya, “ini, di sini, ada anak dia yang In sya Allah akan keluar tak lama lagi. Tapi, sekali pun mas Biru tidak punya niatan untuk melihat atau sekedar menyentuh.”


“Tapi 'kan, Kha ....”


“Tapi apa? Aku masih harus sabar? Harus ngertiin keadaan mas Biru? Lantas?! Apa mas Biru mau mengerti keadaan aku?” air mata mulai menggenang di pelupuk. Sepulang berdebat dengan Barid kemarin, Kha sudah mencoba untuk tak terlalu overthinking dengan keputusan Biru. Pun mencoba berdamai dengan keadaan yang memaksa ia harus 'sendiri'. Namun, percakapannya dengan Gentar kembali membuat dadanya terasa sesak.


“Aku ikhlas jika harus berjauhan dengan suami, kalau memang dengan cara ini mas Biru bisa merasa lega. Tapi apa harus seperti ini? Sampai kapan aku diam, menunggu mas Biru sudi menemui aku lagi? Sejujurnya ... Aku mulai lelah dengan semua ini.”


“Kha! Kamu gak boleh kayak gini. Biru sampai seperti ini juga karena melindungi kalian.” bentak Gentar.


“Karena itu juga kita semua di sini gak diam! kita berusaha semaksimal mungkin buat cari bukti serta cara supaya mas Biru bisa bebas, bukan?” jawab Kha. “jangan aku. Mas Biru tidak perlu melihat aku, tapi lihat usaha Papa sama Mama sejauh ini. Apa yang sudah mereka lakukan untuk mas Biru, untuk aku agar aku tak pernah sendiri. Tidak bisakah dia menghargainya sedikit?”


“Kamu jelas tahu alasan Biru lakuin ini, Kha.”


“Gak, Mas. Aku gak tahu. Yang aku tahu, aku adalah satu-satunya orang yang gak mau di temuin sama Mas Biru. Kenapa? Ada apa sama aku? Gak mungkin mas Biru cuma ngerasa malu, 'kan. Atau ... Apa karena dia mau pisah sama aku?”


“Kha! Aku kesini cuma mau tanya tentang podcast, kenapa jadi ngaco gini pembahasannya!” sentak Gentar terkejut dengan ucapan Kha, “asal kamu tahu, kamu itu bentuk pencapaian tujuan hidup yang paling penting buat Biru. Pisah sama kamu? Gak mungkin ada di pikiran dia, Kha!”


Kha mengernyitkan dahi. Mulutnya berdesis. Ia merasa ada yang aneh dari dalam perutnya, itu seperti mengeras dan kram. “pergilah, Mas. Aku mau istirahat. Katakan saja pada mas Biru aku sibuk tak sempat membuatnya, tapi kalau mas Biru mau ketemu, aku pasti akan datang.” ucap Kha lalu berbalik badan. Naik ke lantai atas dengan langkah tertatih sembari menopang perut dengan tangannya.

__ADS_1


Ia merebahkan tubuh miring ke kiri. Tangannya tak berhenti mengelus perut yang terasa kaku. Kha tak terkejut dengan gejala itu, sebab sering kali ia merasa perut kram dan pergi ke dokter. Namun, lagi-lagi hanya gejala kram biasa karena terlalu banyak bergerak atau stress.


Tidak ada lagi hasrat mengupayakan sesuatu hal yang hanya untuk di nikmati Biru sendiri. Jika Biru rindu, Kha juga sama. Jika Biru tersiksa Kha juga sama. Semakin kesini Kha merasa apa yang Biru lakukan sangatlah egois. Karena itu ia memutuskan untuk berhenti memberi kabar pada Biru entah melalui apa saja. Ia ingin menegaskan pada suaminya jika ia juga berhak bertemu dengannya. Di balik insecure yang Biru rasakan, tapi kenapa hanya Kha yang tidak ingin di temui, sedangkan anggota keluarga yang lain bebas kapan saja untuk bertemu.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


“Sorry, Bi, lagi-lagi Kha gak sempet buat,” ujar Gentar pada Biru di ruang besuk tahanan, “tapi dia sehat, kok, gak ada yang perlu dikhawatirkan. Perutnya udah gede banget, kalo lo lihat Kha pasti pangling, solanya yang gede bukan cuma perut tapi sebadan-badan.” sambung Gentar terkekeh.


“Tar, apa mungkin Kha ....” Biru menggantung kalimatnya, lalu menggelengkan kepala mengusir pikiran buruk yang mengusik.


Ini sudah kesekian kalinya Gentar datang tanpa membawa apa yang ia rindukan. Terakhir Kha mengatakan jika usia kandungannya sudah 19 Minggu, itu pun sudah 2 bulan yang lalu. Tanpa suara Kha, Biru merasa sepi, sunyi, dan kehilangan semangat. Lalu, pikiran buruk mulai mengusik batin, ia takut jika Kha merasa lelah, bosan, atau bahkan ingin menyerah dengan keadaan mereka.


“Bi, kalau boleh gue kasih saran, apa gak sebaiknya lo izinin Kha buat datang?” ucap Gentar sembari menatap tatapan kosong mata Biru.


“Belum siap?” sahut Gentar memotong ucapan Biru. “Bi, lo mikir gak? Kha lagi hamil anak lo, apa lo gak penasaran kayak apa Kha sekarang? Gimana perkembangan anak kalian? semenjak sidang putusan lo bahkan gak kasih Kha kesempatan buat datang.”


“Gue ngerti, gue paham banget perasaan lo, Bi. Cuman, pertanyaan gue sama kayak Kha, sampai kapan? Gue, Om Awan, Tante Senja, Barid, bahkan Barsha bisa bebas datang. Lah ini bini Lo sendiri sampe gak di kasih waktu sehari aja gitu!”


“Gue masih takut, Tar. Pasti Kha kecewa banget sama keputusan gue, apalagi dia hamil harusnya gue ada di sebelahnya, nemenin dia, Tar.”


Hening. Biru tenggelam dalam pikirannya sendiri.


“Bi, bersyukurlah Lo punya istri seperti Kha. Dia perempuan kuat, hebat, sabar. Tanpa gue bicara lo pasti tahu itu, kalau lo masih kekeuh buat ngejalanin hukuman, se-enggaknya kasih kesempatan Kha buat ketemu. Dia cuma mau itu, Bi.”


Kini, Biru tertunduk menyembunyikan kepala pada lipatan tangan. Isakan tangis terdengar lirih namun terasa sekali pilunya. Jauh di lubuk hati Biru, mana mungkin ia tidak ingin bebas dan kembali ke keluarganya. Namun, lagi-lagi bayangan keluarga korban yang ia bunuh menghantui pikirannya.

__ADS_1


“Gue harus gimana, Tar?”


“Bi, coba pikirin baik-baik saran gue ini. Lo emang salah, tapi balik lagi sama perbuatan korban juga gak bener. Dia aja tega ngasih makan keluarga dengan uang haram hasil jadi pembunuh bayaran. Bayangin udah berapa nyawa yang dia hilangkan selama jadi pembunuh bayaran? Kita gak tahu. Jangan mikir bertanggung jawab sama keluarga korban harus dengan lo membusuk di penjara. Coba pakai opsi lain.” ujar Gentar mencoba mencari solusi untuk keputusasaan Biru.


“Opsi lain?” tanya Biru.


“Hmm, Lo bisa bertanggung jawab sama anak istrinya Hendar dengan menggantikan posisinya.” tawar Gentar.


“Bang**sat, Lo! Maksudnya gue nikahin bininya Hendar?” teriak Biru.


Gentar tertawa terbahak mendapat respon lain dari maksud ucapanya, “Nah kan, bukan burung lo doang yang karatan, ternyata otak lo juga ikut karatan!” cibir Gentar, “maksud gue, Lo gantiin posisi sekedar jadi pemberi nafkah lahir! Lahir nih ya, lahir! Gak sama batinnya!”


“Oh-- maksudnya, setiap bulan gue kasih uang ke mereka, sebagai bentuk tanggung jawab pengganti gitu?”


“Iya! Itu juga bisa lo masukin ke pengajuan bebas bersyarat.”


Biru mengangguk paham, lalu menarik napas sedalam mungkin kemudian di hembuskan perlahan.


“Gue kasih saran kayak gini buat kebaikan semua, Bi. Buat elo, Kha, keluarga, juga usaha lo. Jangan sampai keputusan yang menurut lo baik, tapi malah bikin kapal-kapal karam. Inget! Lo itu nahkoda dari dua kapal. Satu rumah tangga, dan satunya lagi usaha yang udah lo bangun make air mata, keringet darah juga.”


“Apa gue gak egois kalo ngambil jalan itu, Tar?” tanya Biru masih dalam kebimbangannya.


Gentar menggelengkan kepala, ia menepuk pelan bahu Biru, “Gak ada yang egois di sini, Bi. Kalo lo ambil saran gue, justru akan menguntungkan dua belah pihak.”


“Gue ... Masih belom yakin.”

__ADS_1


__ADS_2