Dear Khadijah

Dear Khadijah
I can't, how about you?


__ADS_3


I can't, how about you?



“A-apa! Barusan lo bilang apa?”


“Udah gue duga, reaksi lo pasti bakal bikin orang overthinking!” gerutu Gentar.


“Tar, lu-lu nggak lagi becanda, ‘kan?”


“Lo kira gue se bang sat itu, hal begini gue jadiin candaan!” sungut Gentar, “bini lo hamil, kata dokter udah sekitar 6 minggu, makanya gue kasih tahu duluan. Takutnya kalau Kha yang ngomong duluan ke elo, terus liat reaksi lo kayak gini, bini lo bakal mikir yang nggak-nggak!”


Biru mengusap kasar wajahnya. Ia jelas dapat mencerna setiap kalimat yang Gentar sampaikan, namun satu kalimat yang mampu membuat detak jantungnya bertalu ialah ...


Kha sedang mengandung ....  


Ya! Seandainya Gentar tidak lebih dulu menyampaikan berita ini, mungkin reaksi terkejut dirinya akan membuat Kha kecewa. Bisa jadi Kha berpikir bahwa kehadiran anak bukanlah harapannya. Padahal dibalik itu Biru teramat sangat bahagia. Setelah diberi istri salihah, kini ia juga akan dikaruniai buah hati, bagaimana mungkin tidak bahagia. Namun, keadaan saat ini yang membuat kebahagiaan itu justru menjadi beban.


“Lo nggak seneng, Kha hamil anak, lo?”

__ADS_1


Biru berdecih, “pertanyaan macam apa itu. Gue cuma khawatir, Tar. Lo tahu gue nggak mungkin lolos dari sini meski Jecin sama nyokap gue udah ketangkep, terus sekarang siapa yang jagain Kha selama gue disini.”


“Gue nggak bisa bilang apa-apa soal hukuman lo, yang pasti bukti sama saksi buat di persidangan udah cukup buat meringankan hukuman. Masalah Kha, lo harus bersyukur punya keluarga dan mertua seperti mereka, Kha nggak akan kesepian. Lo juga boleh ngandelin gue.”


Biru tersenyum, memang sudah sepantasnya ia bersyukur di beri keluarga yang luar biasa. Ya ... walaupun minus Ibu kandung yang justru dengan tega membuat dirinya menderita seperti ini.


“Lo tahu apa tentang orang hamil.” cibir Biru.


Gentar membalas cibiran dengan tawa sarkas, “seenggaknya gue orang pertama yang sudah di kerjain sama ngidamnya bini lo! Gue sampe muterin Jakarta buat nyari garang asem, emang asem tu bidadari bucin.”


Biru mengernyit sesaat lalu mengerucutkan bibir. Ia baru saja mendengar kabar kehamilan Kha, tapi Gentar sudah memamerkan jika dia yang telah memenuhi permintaan ngidam Kha untuk pertama kalinya. Biru merasa kecewa juga iri, karena seharusnya ialah yang berada disisi Kha pada saat seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, takdir menginginkan mereka harus berpisah sampai waktu yang ia sendiri tak tahu sampai kapan.


****************************


Biru juga melihat gurat kekhawatiran Kha setiap melihat luka pada sudut bibir juga pelipisnya yang robek. Namun, beruntungnya Kha tidak menanyakan hal itu, sebab jika Kha bertanya Biru pun bingung akan menjawab apa. Tidak mungkin jika ia harus menceritakan tentang adanya penghakiman di dalam penjara.


Siang ini, sidang perdananya akan digelar. Biru sudah memberi pesan pada Awan agar Kha tak perlu diberitahu dan dibawa ke pengadilan. Awalnya Biru merasa kesehatan Kha semakin drop setelah ia di tahan, namun yang ia dengar dari Gentar pagi tadi justru kabar kehamilan Kha yang mengejutkan dirinya.


Sidang hanya di hadiri Pak Sarman selaku kuasa hukum. Selain itu Awan, Azzam dan Gentar turut hadir untuk menyaksikan jawaban hakim tentang pengajuan penangguhan penahanan yang diajukan oleh kuasa hukum.


“Sebagai hakim yang memprioritaskan diri untuk melayani masyarakat, saya percaya penahanan saudara Albiru akan menguntungkan kestabilan sosial. Dari hasil peninjauan legalitas maka diputuskan pada penahanan terdakwa.”

__ADS_1


Kalimat putusan oleh hakim yang menyatakan menolak penangguhan penahanannya serta merta meruntuhkan pondasi kekuatannya. Menjadi terdakwa dari kasus pembunuhan sungguh berat ia terima. Meskipun aksinya dilakukan semata-mata untuk membela diri dan menyelamatkan istrinya, tetap saja perbuatannya telah melenyapkan nyawa seseorang.


Ia tertunduk di meja. Berdiri setelah polisi menarik lengannya untuk dibawa kembali ke rumah tahanan. Disela itu Azzam sempat mendekatinya dan memberikan nasehat untuk menguatkan diri. Betapa remuk hatinya kala suara bijak Azzam memenuhi pikiran, padahal ia tidak menepati janjinya kepada orang tua Kha untuk selalu menemani dan menjaga putri tercintanya.


“Papa rasa kamu sudah dengar dari Gentar, bawalah ini,” ucap Awan sembari menyelipkan selembar foto ke saku baju tahanannya, “Jangan khawatir, istrimu ada kami yang jaga. Kamu jaga diri baik-baik di sana, jangan sampai terlibat pada hal-hal yang bisa saja memberatkan di persidangan nanti.” sambung Awan.


Biru dibawa kembali menggunakan bus darurat kementerian kehakiman. Di dalam mobil ia meraih foto pemberian Awan yang ternyata adalah hasil print out usg kehamilan Kha. Matanya memanas dan meremang, sejauh ini ia merasa tak memiliki titik kelemahan yang dapat mempengaruhi dirinya. Namun, kali ini ada Kha dan juga calon anaknya yang membuat dirinya merasa selayaknya seorang pecundang.


“Maafin aku, Kha ...” desis Biru lirih.


Biru menatap atap berusaha untuk menahan air matanya agar tak jatuh. Namun, sekeras apapun ia berusaha, tetap runtuh saat menatap pilu selembar foto hasil usg. Hatinya hancur sehancur-hancurnya, ia merasa telah gagal bertanggung jawab sebagai seorang suami.


Andai saja malam itu tak pernah ada, mungkin malam ini ia tengah berbahagia merayakan kehamilan Kha, atau mungkin saja sudah heboh untuk menyiapkan hadirnya sang calon buah hati ke dunia. Akan tetapi situasi telah berubah, dibalik rasa syukur Biru ada rasa ketakutan dengan anak yang akan Kha lahirkan. Pertanyaan-pertanyaan konyol pun mulai menguasai otaknya.


Bagaimana jika keputusan pada persidangan terakhir nanti tidak membawa kabar baik.


Bagaimana jika Kha harus melewati masa kehamilan tanpa ditemani dirinya?


Pantaskah ia mendapat gelar ‘Ayah’ oleh anak yang bisa saja tak akan pernah ia temui.


Lantas ... bagaimana nasib anak mereka, yang akan lahir dengan menanggung beban sebagai anak dari seorang mantan narapidana.

__ADS_1


Kha ... Pantaskah aku?


__ADS_2