
...46. Prasangka Jacinda....
Wajahnya memerah, Jihan menggigit bibir bawahnya sampai muncul bercak darah disana. Tangannya sudah terkepal semenjak ia mengambil puluhan foto yang Jecin lempar ke atas meja kerja. Foto-foto dirinya dimana ia tengah menikmati malam bersama beberapa pria berbeda dengan adegan yang sangat memalukan. Memalukan jika dilakukan saat sadar, tapi pada foto tersebut Jihan benar-benar sedang dalam keadaan setegah sadar.
“Maksud kamu apa?!” Jihan melemparkan foto tersebut ke muka Jecin, yang hanya dibalas dengan seringaian licik.
“Tadinya Jecin nggak mau libatkan, Tante, tapi terlanjur karena anak Tante yang sok itu ikut campur... jadi aku butuh pembelaan dong,” ucap Jecin seringan tak memiliki salah baik pada Jihan maupun Biru.
Emosi Jihan semakin tidak stabil melihat ekspresi Jecin yang menyebalkan. Ia masih belum paham apa dan mengapa Jecin melakukan semua ini, dan kenapa pula Jecin melibatkan dirinya dengan dalih butuh pembelaan.
“Jelaskan maksud kamu secara rinci, Jacinda!” ekor mata Jihan tak lepas dari gerak gerik Jecin yang menjadi. Jecin berjalan menuju brangkas dibalik lukisan dinding, setelah membuka dengan menekan password, ia mengambil satu gulungan kertas dan selembar lainya.
Jecin meletakkan benda bawaannya ke atas meja, lalu membuka gulungan kertas yang teryata berisikan foto Senja dan seorang pria yang ia ketahui pria tersebut adalah Dewo Yudistira, Ayah dari Jacinda. Namun dalam foto yang seperti foto pernikahan tersebut, Senja masih terlihat sangat muda, percis seperti Senja yang ia temui pertama kali puluhan tahun silam.
“Senja? Ini Papi kamu, 'kan? Ap....” Jihan tak meneruskan kalimatnya, ia bahkan membekap mulut sendiri seolah tak percaya. Sangat jelas jika itu adalah foto pernikahan, padahal setahu dirinya, Senja yang dulu ia kenal hanya seorang gadis muda, guru dari sekolah dimana Biru menimba ilmu. “Kamu anak, Senja?” sambung Jihan.
__ADS_1
Lalu Jecin membalik kertas lainnya, selembar kertas foto copyan Surat Akta kelahiran. Jihan mengeryitkan dahi saat membaca dengan seksama. Akta kelahiran anak tersebut benar punya Jecin, karena terdapat nama lengkap Jacinda Yudistira, tapi satu hal yang menarik atensi Jihan, tidak ada nama Dewo sebagai ayah disana, hanya tercantum nama Laluna raya sebagai Ibu kandung dari Jecin.
“Bisa kamu jelaskan saja Jecin?? aku nggak paham buat apa kamu menunjukan semua ini! Dari yang aku baca, kamu jelas bukan anak Senja, dan memang setahuku Senja tidak memiliki anak saat nikah sama Awan. Terus ini, foto Senja sama Dewo, aku tahu Senja pernah nikah, tapi tidak tahu kalau ternyata dia Jandanya Papimu.”
“Sekarang jelaskan apa maksud dari semua ini!” ujar Jihan geram sambil menunjuk semua foto dan kertas yang memenuhi meja.
Jihan masih berdiri memperhatikan Jecin yang duduk berputar-putar dikursinya. Ia mulai mengatur napas agar dapat mencerna dengan baik apa yang akan Jecin ungkapkan.
“Aku anak Luna, aku juga anak Dewo,” ujar Jecin pelan sembari menunjuk foto pernikahan Senja lalu FC Akta kelahirannya. “Aku bahkan sampai tes DNA buat membuktikan kalau aku benar anak Papi atau bukan, dan hasilnya 99 persen aku anak Papi.”
Sorot mata Jecin menyiratkan kekecewaan, kemarahan, sekaligus kesepian, membuat Jihan luruh kemudian menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan Jecin untuk mendengar lebih lanjut.
“Aku selalu bertanya-tanya, hubungan seperti apa antara Papi, Mami dan perempuan bernama Senja itu. Seperti apa Senja, sampai-sampai Papi nggak bisa lupain dia walaupun sudah ada Mami Luna dan aku. Papi habiskan waktu puluhan tahun tanpa pendamping hidup hanya karena masih mencintai orang yang sekarang sudah memiliki keluarga sendiri. Susah, sakit, menderita Papi berjuang sendiri. Lalu suatu hari, disebuah kafe aku lihat perempuan yang fotonya ada disemua sisi rumah, sedang bersama pria dan anak-anaknya, bergurau dan tertawa bersama, damn it! the real menari diatas penderita orang lain!” Jecin mengepalkan lembaran foto dengan amarah yang siap meledak.
“Aku benci perempuan ini, aku benci bahagianya, aku benci dia yang bikin Mami Luna nyaris tanpa kenangan. Dia harus rasakan apa yang aku rasakan, Mami Luna pasti sekarang tersenyum bangga lihat Senja menderita! meskipun aku tidak tahu seperti apa kisah mereka, tapi aku yakin Senja sudah buat Mami aku menderita.”
__ADS_1
Jihan benar-benar memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Jecin, ia menangkap bahwa Jecin hanya berprasangka buruk tentang Senja. Akta kelahiran itu adalah bukti nyata jika Jacin lahir diluar pernikahan, karena hanya ada nama Ibu didalam nya dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Senja, atau bisa jadi Senjalah yang menjadi korban disini.
Jihan mengehala napas. Batinnya memonolog seorang diri. Buat apa meributkan tentang masa lalu yang Jecin sendiri tidak mengingatnya sama sekali. Tidak bisakah bocah satu ini melewatkan hal yang tidak penting dan melanjutkan hidupnya sendiri. Dimana letak kepuasannya setelah mencelakai mantan istri Papinya sendiri. Sungguh tingkah laku diluar nalar.
Ia lelah, hampir 30 menit berada di apartemen Jecin hanya untuk membahas masa lalu Senja yang ia sendiri tidak tertarik sama sekali. Jihan sudah mengantongi motif Jecin yang dapat ia sampaikan pada Biru sebagai bukti, yang ia butuhkan saat ini hanya jawaban tentang apa maksud dari Jecin mengambil foto-foto pribadinya saat ia sedang tidak dalam keadaan sadar.
“Whatever sama dendam kamu, aku tidak tertarik sama sekali,” ucap Jihan ketus, ia mengambil foto dirinya dan kembali melemparkan tepat didepan muka Jecin, “Jelasin aja maksudnya ini apa?”
“Ini hanya sebagian yang aku keluarkan, aku masih punya banyak lainnya.”
Jihan menarik sudut bibirnya, “Dasar perempuan licik! anak tidak tahu sopan santun, Untung saja Biru menolak di jodohkan sama kamu, aku nggak kebayang bagaimana jika anakku menerima perempuan licik seperti kamu menjadi istrinya!”
“It's okay, aku juga nggak berminat-minat amat nikah sama fotografer recehan itu. Sorry, kita beda kelas!”
“Aku cuma mau kita kerja sama,” ucap Jecin dengan raut muka yang hampir membuat Jihan memuntahkan semua isi didalam perutnya.
__ADS_1
*whisper