Dear Khadijah

Dear Khadijah
Pesan dari Jihan


__ADS_3

46. Pesan dari Jihan


Sekuat tenaga Jihan melangkah, memaksa menyeret kaki untuk berjalan menjauh dari apartemen Jecin, sejauh mungkin andai bisa. Ia sudah muak dengan perangai si anak tunggal kaya raya yang tidak memiliki sopan santun, bahkan menganggap hal kecil menjadi besar, dan semuanya bisa diselesaikan dengan uang orang tuanya.


Memasuki mobil, Jihan menelungkupkan kepala di kemudi. Bayangan Biru kecil menari dalam ingatannya, Biru yang baru ia jumpai setelah anaknya itu mendapatkan calon Ibu pengganti. Sesaat kemudian perasaan bersalah menyelimuti dirinya.


Senja orang baik. Sebagai Ibu yang bertanggung jawab untuk Biru, Senja bisa saja menjauhkan ia dengan anaknya. Tetapi Senja tidak, perempuan yang dulu pernah ia lempari scandal demi mendapatkan obsesinya justru mendekatkan Biru dengannya.


Manik mata Jihan berair, kala ingatanya terbang ke waktu saat Biru kecil mengunjunginya setiap weekend. Biru berceloteh menyampaikan apa saja yang Senja ceritakan tentang dirinya, tentu saja cerita yang baik-baik. Awalnya, Semua berjalan sempurna, tanpa masalah. Biru bahagia dengan Awan dan Ibu barunya, dan ia bahagia Biru dapat menerimanya kembali sekaligus cita-citanya yang tercapai.


Seiring berjalannya waktu, Ia sadar Awan memiliki anak laki-laki lain yang terlahir dari pernikahannya dengan Senja. Disitu Jihan mulai memandang Biru khawatir. Dapatkah Awan berlaku adil, bisakah Senja menyayangi Biru setelah kehadiran anak lelakinya. Kekhawatiran itu semakin menggunung setiap harinya, ia jelas tidak ingin Biru tersisihkan dalam segala hal.


Kemudian, keegoisan dan ketamakan dirinya yang selama ini menguasai mulai menumbuhkan rasa dengki pada Senja. Ia mulai protektif terhadap Biru. Acap kali Jihan meminta Biru untuk mengambil sekolah bisnis agar kelak anaknya lah yang akan mewarisi perusahan Awan, tapi keinginannya tak berbanding lurus, sebab Biru justru tertarik dengan dunia fotografi. Dunia yang juga selama ini menemani sepanjang perjalanan karirnya.


Tok... tok....


Jihan terperanjat mendengar suara ketukan pada kaca mobil. Ia bisa melihat dengan jelas Jecin menyeringai puas, menertawakan titik kelemahan dirinya yang telah Jecin dapatkan.


“See you, Tante....” ucap Jecin melambaikan jemari lentiknya.


“Brengsek! Dasar gadis licik!” gumam Jihan mengumpat pada gadis yang beberapa jam lalu bahkan masih menikmati segelas wine hadiah dari klien bersamanya.


Jihan melajukan mobilnya, membaur ditengah keramaian jalan metropolitan. Tadinya, setelah mendapatkan bukti tidak terlibatnya ia dengan ulah Jecin, ia akan menemui Biru dirumah sakit segera. Namun saat ini keadaan berbeda, ada satu hal yang ingin ia simpan, jangan sampai Biru melihat dan mengetahui seperti apa dunianya yang sebenarnya.


Tiba di tempat yang ia tuju, Jihan parkirkan mobil jauh diseberang. Ia berjalan cepat sembari mengendap agar kedatangannya tak disadari oleh orang-orang yang bekerja di studio Biru. Ya, Jihan mengunjungi toko bunga Kha meski ia tahu Kha pasti sedang tidak berada ditempat.


Triiiing.


Semua mata pegawai toko terpusat pada pintu kaca yang terbuka setelah lonceng diatas pintu berbunyi. Jihan tertegun, ia sendiri tak tahu harus apa.


“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” tegur salah satu pegawai perempuan bergaya tomboy.

__ADS_1


Jihan menoleh kesana-kemari, memastikan menantunya berada ditempat atau tidak.


“M-mm, Atasan kalian ada dimana?” tanya Jihan ragu.


“Maksud Ibu, Teteh Kha?” Jihan mengangguk. “Teteh Kha sedang berada dirumah sakit, ada perlu apa, Bu?”


“Saya mau minta kartu nama yang ada nomor ponsel pribadinya.”


Meski sempat dipandang ragu dan curiga oleh pegawai toko bunga, akhirnya Jihan mendapatkan nomor ponsel pribadi Kha, setelahnya ia meninggalkan toko bunga tanpa pamit.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


Seminggu berlalu, Senja sudah diperbolehkan pulang meski masih terbalut gips di tangan kanannya. Selama seminggu pula Biru dan Kha bolak-balik ke rumah sakit untuk bergantian menemani Senja.


“Kha, sebelum rumah kalian jadi, sebaiknya kamu sama Biru tinggal disini dulu, jangan maksa tinggal ditoko,” ujar Awan pada Kha. “Biru telat bilang sama Papa, kalau bilang dari awal Papa akan sediakan rumah yang lebih layak buat kalian,” sambungnya.


Kha tersenyum dari balik cadar, hingga membuat matanya membentuk bulan sabit. “Rumah yang sekarang juga sudah bangus, Pa, sangat bangus malah. Kha suka semua gaya dan interior rumah pilihan Mas Biru.”


Selesai menyiapkan sarapan untuk suami dan mertuanya, Kha bergegas mengambil makanan untuk dibawa ke kamar Senja. Ya, seminggu ini Kha selalu mendampingi dan menjaga Ibu mertuanya.


“Ma... Sarapan dulu, ya....”


Kha sangat telaten mengurus Senja, tulus dan tanpa pamrih. Baginya, Senja dan Jihan sudah selayaknya Ummi yang harus ia sayang, meski Ibu mertua satunya pernah mengecewakan dirinya, Kha sama sekali tak menaruh benci pada Jihan.


“Makasih Sayang udah bantu Mama. Maaf ya, gara-gara Mama kamu jadi harus sering ninggalin toko.”


“Nggak papa, Ma... Kha seneng jagain Mama, kapan lagi 'kan, Ma... Di toko juga ada Dipa sama Asti yang urus.”


Senja mengusap jemari Kha, matanya mengabur menggambarkan betapa ia amat berterima kasih. “Mama seneng kamu yang Biru nikahi, Kami beruntung punya mantu seperti kamu, Sayang.”


“Kha yang lebih beruntung bisa menjadi bagian keluarga ini, Ma....”

__ADS_1


Kha memberikan pelukan tulus sebelum akhirnya meninggalkan kamar Senja untuk bersiap-siap berangkat ke toko. Dipa mengabari jika dirinya harus pergi ke satu tempat untuk memeriksa dekor bersama Asti, sedangkan puluhan pesanan buket bunga sudah menanti untuk hari ini. Hari ini ia berangkat bersama Biru menuju toko.


Dalam perjalanan, Kha menyandarkan kepala pada kursi mobil. Buaian angin dari AC membuat matanya sayu dan lengket. Mungkin karena beberapa hari ini ia sering terjaga demi memeriksa keadaan Senja, membuat dirinya mengantuk padahal hari masih pagi.


“Sayang, ponsel kamu bunyi terus,” Biru mengguncangkan lengan Kha, setelah bunyi panggilan pada ponsel tak kunjung membuat Kha terbangun.


Kha sempat kaget merasakan Biru membangunkan dirinya. Lalu fokusnya terpecah begitu sadar ponsel dari dalam tas tak berhenti berbunyi.


“Maaf ya jadi ngebangunin kamu, aku takut panggilannya penting,” ujar Biru. Kha mengangguk dan menunjuk ponsel meminta izin untuk mengangkat.


“Halo, Assalamualaikum.”


Kamu cukup dengarkan dan ikuti kataku. Aku mau kamu menjauh dari rumah Awan, jangan biarkan Biru berada dirumah. Jangan biarkan Biru terlibat dengan apa yang terjadi sama keluarga itu. Jaga Biru, jangan sampai kita kehilangan Biru, kamu ngerti?! Ini perintah, Kha! Dan Biru nggak perlu tahu soal ini!.


Ia tahu betul suara siapa diseberang sana. Seketika perasaannya kalut, kata-kata itu membuat Kha merinding setengah mati. Kehilangan Biru? ia saja baru seteguk merasakan bahagia bersama Biru, bagaimana ia mau kehilangan suaminya.


Lalu apa yang Jihan maksud dengan kata-kata itu, apakah ada sangkut-pautnya dengan kecelakaan Senja?


Sebab ia tahu jika Ayah mertua, suami, juga adik iparnya tengah menyelidiki siapa yang sudah menabrak Senja.


Kha melirik Biru, dan ternyata Biru juga sedang menatap dirinya.


Biru nggak perlu tahu soal ini!


Biru nggak perlu tahu soal ini!


“Haa--lo, iya... Wassalamualaikum.”


“Siapa? penting?”


“B-bukan siapa-siapa, Mas. Orang pesan bunga.”

__ADS_1


__ADS_2