Dear Khadijah

Dear Khadijah
gerakan pertama


__ADS_3

...70. Gerakan pertama...


Keputusan Biru yang tidak ingin mengajukan banding sedikit membuat Kha kesal dan kecewa. Padahal menurut penjelasan Pak Sarman, andai Biru bersedia untuk mengajukan banding, setidaknya dapat memperkecil angka kurungan. Karena memang pada dasarnya Biru melakukannya dalam keadaan terdesak oleh keadaan, juga fakta bahwa Biru sempat berusaha membantu korban agar tetap bertahan hingga ambulance datang. Tapi Biru tetap menolak, dengan alasan bentuk dari pertanggung jawaban dia atas hilangnya nyawa Hendar yang tertusuk oleh pisau di tangannya.


Sejak saat itu, dunia Kha, semangat Kha tak lagi sama. Seminggu selepas ketuk palu, hari-harinya hanya menyendiri di kamar lantai atas studio photo. Tak sehari pun ia beranjak dari tempat dimana Biru selalu menghabiskan waktu sebelum bersamanya dulu. Semua aktivitas ia lakukan di dalam kamar, kecuali urusan pekerjaan yang lebih dulu di limpahkan pada Dipa.


Mukena menjadi outfit harian yang tak pernah lepas dari tubuhnya. Pun tasbih yang selalu menggantung di tangan. Kha mengikuti saran ummi, senantiasa ber-dzikir sebanyak-banyaknya agar hati tetap tenang.


“Empat tahun enggak akan lama di banding waktu yang akan kamu habiskan bersama Biru setelahnya, Teh.” ucap Ummi melalui sambungan telepon pagi tadi.


“Ya, empat tahun nggak lama Kha, lebih lama itu seribu tahun yang sudah Mas janjikan.” gumam Kha menguatkan diri.


Seribu tahun? Mustahil, bahkan Kha sendiri percaya tidak ada usia manusia biasa yang mencapai angka selama itu. Namun, demi menguatkan diri akhirnya kata konyol yang Biru ucapkan pun ia jadikan menyemangat kala hati mulai rapuh.


Lama Kha duduk bersandar di tepian ranjang, memandang nanar kamar sempit yang penuh berisi banyak barang milik suaminya. Ia sadar tak bisa selamanya terus seperti ini, bersembunyi dari dunia yang sedikit tidak adil padanya. Apalagi ada nyawa di dalam perut yang terus berkembang tanpa peduli seberapa hancur hatinya.


Kha mengusap perut sembari membuang napas. “sayang ... semoga kamu tumbuh kuat seperti ayahmu, pahlawan kita.” lagi, Kha bergumam pada perutnya.


Kha mulai membuka gorden yang tertutup selama ia menempati kamar tersebut, juga membuka pintu balkon kamar. Segar sekali ... kamar sempit itu pun seketika terasa sejuk setelah berhari-hari hanya terasa engap dan dingin, itu juga berkat bantuan air conditioner.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ....


Dari balik pintu yang agak terbuka Dipa muncul membawa 2 koper kosong pesanannya.


“Teh, ini kopernya, aku masuk ya?”


“Iya, Dip, masuk saja.”


Dipa meletakkan koper di depan lemari, “ini mau buat apa?” tanya Dipa.


“Aku mau bawa barang-barang Mas Biru ke rumah. Toko lagi rame nggak?”


“Boleh, aku keluarin baju-baju Mas dulu.”


Hari ini ia berencana memindahkan barang-barang di kamar Biru ke rumah baru. Sejak semalam Kha berusaha mengumpulkan niat untuk kembali bangkit dari keterpurukkan. Harus! Kha nggak boleh sepeti ini terus, ada anak di dalam perut yang harus ia pentingin kesehatannya. Juga karyawan toko yang sudah di tinggal berhari-hari.


Tapi mau bagaimana pun Kha tetap manusia biasa yang tidak selamanya bisa menahan kerinduan pada suami yang baru di nikahi beberapa bulan lalu. Selagi mengeluarkan pakaian Biru, ia mencium wangi aroma khas parfume yang biasa Biru gunakan di pakaiannya, serta merta membuat Kha kembali merindu, terisak lirih nyaris tanpa suara.


“Sabar, Teh, kamu kuat! Harus kuat buat bayi kamu.” ucap Dipa sembari mengusap punggung Kha.

__ADS_1


Kha memeluk hoodie hitam kesukaan Biru, menempelkan pada perut berharap anak mereka merasakan kehadiran sang ayah, sembari mengusap- usapkan hoodie tersebut. Lalu ...


Demi apa pun ia tergeragap kala sentuhannya mendapat respon dari si penghuni rahim.  setelah sekian lama hanya terasa seperti kedutan, kali ini berbeda, Kha merasakan ada yang bergerak menjalar di dalam perut. Rasanya seperti ... wah, luar biasa. Layaknya kehidupan lain di mulai diruang sempit itu, Kha menitikkan air mata haru. Lagi-lagi pikirannya membayangkan andai Biru tahu, lihat, dan merasakan, keajaiban lain yang Allah kasih di tengah ujian hidup mereka.


“Teh, yang ini di taruh mana?” tanya Dipa, namun diabaikan oleh Kha justru lengan Dipa ditarik oleh Kha.


“Dip, coba rasakan.”


Dipa mengernyit sesaat, lalu membelalakkan mata ketika merasakan apa yang Kha rasa, “Teh, ini?


“Gerak, Dip. Anak aku gerak-gerak.”


“Pelan, Teh, pelan ....” ujar Dipa memperingatkan.


Saking senangnya, Kha hampir limbung karena meloncat-loncat. Untung ada Dipa yang sigap menopang tubuhnya. Setelah hari-hari kemarin seperti hidup sendirian di dunia, kini Kha merasa memiliki sosk yang akan menemaninya melukis kisah di sepanjang jalan yang akan ia tempuh.


Pergerakan pertama ....


hai bestieee, kalau semisal karya aku tidak enak kamu baca atau ada yang salah dengan cara penulisan aku, tolong tinggalkan saja komentar tanpa harus melaporkan ya,,, tingkyu

__ADS_1


__ADS_2