
68. Musik instrumental terindah.
Untuk mas Biru, separuh semangatku yang sedang ditangguhkan.
Assalamualaikum, Mas ... apa kabar?
Mas, aku rasa aku belum sempat meminta maaf
untuk semua yang terjadi, pada kesempatan ini dengan tulus aku minta maaf
atas sikap tidak jujurku.
Bagaimana rasanya di sana? Pasti melelahkan dan menyiksa.
Sama, aku pun tersiksa.
bedanya kamu karena tempat dan aku karena keadaan.
Setiap malam aku berusaha meyakinkan diri
Bahwa semua akan baik-baik saja.
Oh ya, ada yang mau aku beri, sudah kamu terima?
Itu foto usg sama mp3 player, isinya ada rekaman suara yang pasti bikin kamu bahagia.
Dengerin dulu ya ....
Bagaimana? Sudah dengerin? Kamu nangis nggak kayak aku?
Iya, itu suara detak jantung bayi.
Anak kita, Mas. Aku hamil anak kamu.
Alhamdulillah ....
Meski suaranya berisik, tapi detak jantung yang kencang itu
adalah musik instrumental terindah dan merdu yang pernah aku dengar selama ini.
Sebelum tahu aku hamil, setiap malam aku selalu lihat kamar kita, sambil bilang
‘seperti biasa, nggak ada yang menarik hari ini’
Tapi setelah tahu ada anak kita di sini, ucapanku berubah
‘Good job for today, kita istirahat mari besok kita petualangan lagi’
🥰🥰
__ADS_1
Mas, apapun keputusan pengadilan nanti, aku harap kita bisa sama-sama ikhlas.
Jangan terbebani dengan hadirnya calon anak kita, karena berkat kamu pahlawanku,
sudah menyelamatkan kita berdua.
Meski raga kita jauh, aku yakin doa kita selalu bertemu di peraduan.
Mas ... aku tunggu kamu sampai di titik terbaik menurut takdir.
^^^Love, khadijah.^^^
Biru selesai membaca surat dari Kha yang disampaikan oleh Gentar. Sama seperti isi suratnya, Biru pun mengulang rekaman suara detak jantung berkali-kali. Wajahnya berbinar meski air mata tak dapat terbendung. Terbayang hari-hari berat Kha yang di lewati tanpa adanya dirinya.
Kini Biru memiliki dua foto usg di tangannya, satu dari Gentar dan satu lagi dari Kha. Foto yang tampak berbeda sebab pemberian Kha sudah terlihat bentuk janinnya.
“Anak gue cowok apa cewek ya, Tar?”
“Semoga saja cewek biar kayak emaknya.” jawab Gentar mencibir, Biru hanya membalas dengan tatapan tajam.
“Sampai kapan kamu alasan ini itu buat nggak ketemu sama Kha? Kamu nggak rindu sama istrimu atau setidaknya ingin tahu bentukan Kha yang sudah mulai bengkak gegara garang asem.”
Seketika pertanyaan Gentar membuat Biru terdiam. Tatapan tajam kini berubah menjadi sendu. Kha adalah titik kebahagiaan sekaligus titik kelemahannya. Pertemuan dengan Kha selalu saja menyisakan penderitaan. Biru rindu, ingin memeluk Kha, mengecup keningnya, tapi semua itu terhalang oleh keadaan. Membuat Biru lemah atas setiap tetes air mata yang keluar dari mata lentiknya Kha.
“Besok, setelah semua selesai aku akan temui Kha.” jawab Biru datar.
Sidang terakhir membuat Biru merasa iba dan sangat bersalah, setelah mengetahui bahwa korban meninggalkan seorang istri dan 2 anak, salah satunya masih batita. Meski perbuatannya jahat, tetap saja dia adalah seorang pencari nafkah untuk keluarga.
Sepanjang malam Biru memandang foto usg anaknya. Sesekali tersenyum, tapi detik berikutnya berubah menjadi isakkan. Karma kah? Ia sudah memisahkan seorang Ayah dari anak-anaknya sekarang ia pun harus terpisah dengan Kha dan calon anaknya.
“Tidur, Bro! Besok lo sidang, ‘kan?” ucap salah satu teman berbagi ruangnya.
Biru hanya mengangguk dan mengulas senyum, kemudian merebahkan badan dengan memeluk foto usg juga surat dari Kha.
Keesokan harinya....
Biru turun dari mobil yang membawanya dari rumah tahanan ke pengadilan. Sebelum masuk ke ruang sidang, ia diperbolehkan untuk menemui anggota keluarganya. Di situlah Biru bertemu Kha setelah sekian lama. Melenceng dari dugaannya, Biru pikir Kha akan menangis seperti sebelum-sebelumnya. Namun, kenyataannya berbeda Kha berjalan riang sembari tersenyum lebar ke arahnya. Meski tertutup cadar, mata yang membentuk bulan sabit itu menandakan seberapa besar senyum Kha pagi itu.
“Aku kangen,” ucap Kha manja, membuat Biru gemas tak tahan untuk mengecup kening lalu merengkuhnya erat.
“Bismilah ya, Mas.”
“Hmmm, Bismillah. Doakan Mas, ya.”
Tubuh Biru merosot tanpa melepaskan pelukannya, lalu berjongkok tepat di depan perut Kha. Membisikkan doa lalu mencium perut istrinya.
Robbi habli milladunka dzurriyyatan thoyyibatan. Innaka samii’uddu’a. [3 : 38]
“Wahai Rabb-ku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau maha Pendengar doa.”
__ADS_1
“Maafin Ayah ya, Nak, baik-baik di perut Ibu.” bisik Biru lalu mengecup perut Kha.
Biru berdiri, memeluk Kha sesaat. Ia mengamati perubahan tubuh pada istrinya dari ujung kepala hingga kaki. Benar kata Gentar sekarang Kha sedikit lebih berisi dari saat pertemuan terakhirnya.
Kha menuntun tangan Biru lalu di letakkan di perut ratanya, mengarahkan agar biru mengusap merasakan kedutan di bagian perut.
Biru tersenyum merasakan ada kedutan dari perut istrinya, “sakit, nggak?”
Kha menggeleng.
“Setiap pagi pasti mual ya.”
Kha kembali menggeleng, “enggak, kok. Aku nggak morning sikcness, awalan saja pas belum tahu aku hamil.”
“Ngidam apa?”
Mendapat pertanyaan dari Biru mengenai ngidam sontak membuat Kha menoleh ke arah Gentar yang ternyata juga sedang menatap dirinya.
“Dari selera makanannya sih gue yakin 100% kalo itu anak lo, Bi.” cibir Gentar membuat Kha memberengut.
“Orang enak, kok!” sanggah Kha.
Semua yang berada di ruangan mendadak menahan tawa, sebab di antara mereka hanya Barsha yang belum merasakan makanan dari tempat makan yang menjadi favorit Kha setelah hamil.
“Enak kok, enak. Nanti begitu adik sudah lahir kamu makan lagi ke sana, ya,” saran Awan berbalut sindiran.
“Tentu saja, Pa!” jawab Kha lugas.
Suasana hangat dari canda tawa keluarga yang selalu Biru rindukan setelah berminggu-minggu mendekam di balik jeruji besi, akhirnya kembali ia rasakan. Biru bersyukur, dari segala keterbatasannya, Kha mendapat tempat yang akan selalu memberikan kenyamanan untuknya. Sedikit membuat ia tenang sebab keluarganya tak akan pernah membuat hari Kha kosong dan sepi.
“Sebentar lagi giliran kita masuk.” ucap Pak Sarman mengubah suasana menjadi sedikit dingin.
Kha menggenggam tangannya erat seraya berbisik, “bismillah, Insya Allah hasilnya baik.”
“Sidang sebelumnya ... sidang putusan untuk Jacinda Nahesswari dan Ibu Jihan Atkhan.” sambung Pak Sarman.
Biru mengedarkan pandangan, menatap satu persatu keluarga yang berada di tempat dengan perasaan cemas, “ha-hasilnya bagaimana, Pak?” tanya Biru ragu.
“Jacinda di jatuhi hukuman kurungan dan denda, 8 tahun, Bi.”
“Kalau Ma--”
“Bu Jihan terbukti hanya mengikuti perintah Jecin karena di ancam, beliau di jatuhi hukuman kurungan 3 tahun dikurangi masa percobaan.”
Awan menepuk punggung Biru, “nggak usah khawatir, kita sudah berusaha memberikan kesaksian dan bukti untuk meringankan, selebihnya kita pasrahkan saja.”
Di pembatas pintu ia melepaskan pelukan satu per satu keluarganya dengan berat, terutama pada Senja dan Kha. Waktu peradilan akan segera di mulai dan perasaan Biru semakin kalut. Kenyataan Jihan yang hanya terpaksa mengikuti jalannya Jecin saja mendapat angka 3, membuat dirinya semakin pesimis untuk mendapat udara segar setelahnya.
“Bismillah.” bisik Kha berulang kali melepas kepergiannya.
__ADS_1