Dear Khadijah

Dear Khadijah
Dalang dibalik nya


__ADS_3

...44. Dalang dilbalik nya....


Biru menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tubuhnya lelah, Perasaannya kacau, memikirkan siapa sebenarnya dalang di balik kecelakaan Mama Senja. Ia menyakini kalau Awan tahu, ya Awan pasti tahu siapa orang yang sengaja menabrak Senja, bungkamnya Awan membuat Biru memilah siapa yang paling mungkin terlibat.


tok.. tok... tok....


Ia berdiri meraih knop pintu lalu memutar, seketika senyumnya mengembang melihat istrinya berdiri didepan pintu bersama Dipa.


“Assalamualaikum, Mas.”


Dengan sekali tarikan tangan Biru membawa Kha kedalam pelukannya, menguar rindu pada belahan jiwanya yang sudah 2 hari tak bersua. “Waalaikumsalaam, Sayang....”


Lama. Biru memeluk istrinya sedikit lebih lama. Kekacauan pikirannya lenyap hanya dengan mencium aroma parfum Kha. Ia tahu Dipa memandang jijik dari belakang Kha, tapi ia abaikan. Sampai pada akhirnya Dipa menggerutu protes.


“Bisa ditunda dulu nggak kangen-kangenannya!” sungut Dipa kesal.


“Diem, Dip! kamu nggak tahu rasanya terpisah sama pujaan hati berhari-hari,” jawab Biru tanpa melepaskan pelukan.


“Dua hari doang elah! alay banget kalian berdua,” Dipa menerobos masuk, membuat Biru terpaksa melepaskan Kha. Kemudian ia mengajak Kha masuk.


“Kha....” sapa Senja lirih.


Kha berjalan cepat mendekati Senja, meletakkan buah di atas nakas lalu mencium tangan Senja. “Assalamualaikum, Ma... Mama apa kabar? Maaf Kha baru sempat jenguk Mama, Kha baru pulang dari Bogor.”


Senja mengangguk perlahan, tangannya menepuk punggung tangan Kha. “Nggak apa, Nak. Mama sudah mendingan kok.”


Tak selang berapa lama, Barid dan Awan datang selepas bekerja. Meraka saling menyapa, bahkan Awan sempat meminta maaf pada Kha karena harus menunda jadwal resepsi mereka sampai Senja sembuh.


“Papa mau bicara,” ucap Awan. Biru menepuk Pelang punggung Kha, meminta izin keluar menyusul Awan dan Barid.


Awan berjalan cepat didepan menuju cafe yang terletak di seberang rumah sakit, ia dan Barid beriringan menyusul dibelakangnya.


“Papa lagi selidiki orang yang nabrak Mama,” ujar Awan setelah menyesap gelas expresso.

__ADS_1


“Ada unsur kesengajaan, Pa?” tanya Biru. Barid menoleh dan menganggukkan kepala.


“Dari rekaman cctv, aku rasa ada,” jawab Barid.


Awan menghela napas, nampak sekali guratan kesal dari wajah sayunya. “Papa belum bisa memastikan apakah itu sengaja atau tidak, yang pasti Papa sudah menemukan 1 nama dibalik ini.”


“Siapa?"


“Jacinda.”


“Jacinda? siapa dia?” tanya Barid, namun detik berikutnya Barid melemparkan tatapan padanya, sejurus dengan Awan yang tengah menatap Biru.


“Jacinda siapa? Papa kenal? atau Abang?" tanya Barid ulang.


“Sejak kapan kamu tahu siapa Jacinda?” tanya Awan pada Biru, “Sejak kapan kamu tahu fakta tentang Jacinda?”


Biru masih memasang muka datar. Benaknya berkecamuk, jika Jacin ada di balik insiden ini, tidak menutup kemungkinan jika Jihan juga terlibat.


Biru mengangguk. “Iya, Beberapa kali sempat terlibat projek bareng, tapi sebatas profesional antara Fotografer sama model nggak lebih,” jawab Biru.


“Yang Papa tanyakan sejak kapan kamu tahu siapa Jacinda.”


“Maksud Papa... Siapa Ayah dari Jacin? sudah lama, sejak Papa bicara waktu itu.”


“Jacinda bukan anak Mama Senja.”


Barid berdecak, lalu menyela obrolan Biru dan Awan, “Tunggu-tunggu! Jacinda, Jacin, model, bukan anak Mama Senja, aku nggak ngerti apa yang kalian omongin, Abang bisa jelasin ke aku Jacinda siapa?" pinta Barid.


Biru menimbang. Apa yang harus Biru ucapkan pada adiknya. Jika Biru jelaskan, artinya Barid akan tahu masa lalu tentang Senja. Ia harus hati-hati untuk mengutarakannya.


“Bukan siapa-siapa, dia cuma anak dari pesaing bisnis kita,” ucap Awan tiba-tiba, membuat Barid semakin mengernyit kebingungan.


“Pesaing bisnis? siapa? ada masalah sama kantor?”

__ADS_1


“Abang!!” obrolan mereka terhenti ketika si bungsu Barsha berlarian ke arah mereka. Satu persatu menyambut uluran tangan Barsha, Biru menggeret satu kursi disebelahnya.


“Acha mau makan apa? biar Abang pesenin.”


“Acha udah makan, tapi pengen pesen Croffle. Take away ya, Bang, Acha mau makan bareng Mama, Teteh, sama Mbak Dipa aja,” jawabnya khas dengan suara manja.


Selama ada Barsha mereka tak membahas tentang Jacinda. Barid yang terlihat setengah mati penasaran pun berlaku kooperatif. Setelah pesanan datang Barsha beranjak dari tempat duduknya. Awan meminta Barid untuk kembali bersama Barsha, awalnya Barid enggan, ia merasa masih banyak yang harus ia cari tahu tentang orang yang sudah menabrak Senja, tetapi Awan mana bisa dibantah.


Seperginya Barid dengan muka kecewa dan Barsha. Awan mengeluarkan MacBook dari tasnya. Ia menunjukan Biru sebuah video dan beberapa foto. Ia melihat dengan seksama video detik-detik mobil Senja ditabrak dari arah belakang. Benar memang ada unsur kesengajaan, karena posisi mobil Senja tengah menepi dan penabrak pun langsung melarikan diri. Video berikutnya menunjukan seorang gadis berdiri didepan sebuah bengkel bersama 2 laki-laki berbeda. Foto lainnya hanya menunjukan tangkapan layar zoom gambar dari pengemudi mobil tersangka dan pria yang berdiri bersama gadis tadi.


“Dia bener Jecin,” gumam Biru.


“Iya, Jacinda Nahesswari, anak dari Dewo Yudistira mantan suami Senja.”


“Kalau benar Jecin, apa motifnya? Biru rasa gadis itu juga nggak kenal Mama Senja,” ujar Biru penuh tanya.


“Menurut kamu?”


Biru menatap Awan, ia mulai takut, takut jika apa yang ada dalam pikirannya adalah benar.


“Mama Jihan, Pa?”


“Exactly! Tapi itu baru tuduhan. Papa tahu Mama kamu memang senekad itu, tapi kita tidak boleh asal tuduh tanpa bukti,” ucap Awan sembari menarik kembali MacBook kedalam tas, “Kalau benar itu Jihan, Kamu tahu apa yang menjadi motifnya, Papa harap kamu bisa kerja sama supaya kedepan tidak ada korban lagi. Itu kalau memang benar Jihan dalangnya, karena itu Papa harus memastikan kembali, semoga saja dugaan kita salah.”


Sudah lewat sejam mereka duduk di kafe, Awan mengajak Biru kembali ke rumah sakit. Perasaan kacau yang sempat tertepis berkat kehadiran Kha kini mulai ia rasakan. Bahkan darahnya berdesir panas hingga ke ubun-ubun. Marah, kesal, kecewa entah dengan siapa, Jecin kah atau Mama Jihan.


Langkah Biru terhenti di lobby, Ia meminta kunci mobil Awan karena kunci mobilnya tertinggal di kamar Senja. Ia pikir ia harus pergi untuk memastikan sesuatu. Ia tak ingin menjadi overthingking dijam-jam berikutnya.


“Bi, saran Papa kamu nggak perlu turun tangan langsung. Kita bisa pakai orang suruhan Papa buat cari tahu semua. Sabar sebentar lagi pasti akan terungkap.”


Biru mengabaikan pesan Awan, ia meraih kunci mobil dan berbalik badan. Melangkah lebar menuju tempat yang ia pikir pasti akan menemukan jawabannya.


Terima kasih sudah mampir. Luv ❤️

__ADS_1


__ADS_2