Dear Khadijah

Dear Khadijah
Seribu tahun ....


__ADS_3

...69. Seribu tahun .......


“Sekalipun aku tidak sengaja melakukannya, aku tetap salah. Tindakanku telah membuat seorang istri kehilangan suami, dan anak kehilangan ayahnya. Jangan berharap lebih tentang vonis yang  akan aku terima, karena semua itu sudah melalui banyak pertimbangan.”


Kha menyeka air matanya yang tiba-tiba menganak sungai. Teringat kalimat Biru di detik-detik pertemuannya tadi. Ya, Biru tetap dinyatakan bersalah karena telah merenggut nyawa orang jahat, kendati demikian keluarga hanya menginginkan yang terbaik untuknya.


Langkah Kha melemah setelah mendengar hakim ketua membuka sidang putusan untuk Biru dari luar ruangan. Sejak Awal, Papa Awan sudah menghalangi Kha agar tidak usah mengikuti jalannya persidangan. Namun, setelah menunggu 1 jam lebih amar putusan tak kunjung turun, membuat  kesabarannya diambang batas oleh rasa penasaran yang terus memuncak. Pada akhirnya Kha memutuskan untuk masuk ke ruang  sidang.


Tubuh Kha beringsut berdiri di belakang para kameramen yang tengah meliput sebab persidangan dibuka untuk umum. Menurut perkataan Barid, wartawan hari ini meningkat jumlahnya karena bersamaan pembacaan sidang putusan 2 model ternama, yaitu Jacinda juga Jihan. Ia berdiri di sudut kiri, dimana Biru Bisa melihatnya dengan jelas. Satu tangannya mengepal memegang dada ditopang dengan tangan satunya, dadanya bergemuruh hebat ketika hakim ketua mulai membacakan amar putusan.


“Pengadilan telah meninjau argumen pengacara dengan seksama. Mengenai bukti yang terkumpul serta keterangan para saksi dapat di terima oleh pihak penyelidikan. Pengadilan telah memutuskan bahwa penyelidikan dan dakwaannya sudah cukup dan masuk akal, serta Pak Albiru Adityawarman alias Biru secara objektif bersalah atas dakwaan yang diajukan terhadapnya.”


“jadi, berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh serta saksi dan bukti-bukti terkait, pengadilan telah memutuskan bahwa Pak Albiru Adityawarman alias Biru bersalah atas pembunuhan saudara Hendar triyanto. Dengan ini pengadilan menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara, dan denda sebesar lima juta rupiah.”


Tok tok tok!


“Pengadilan memberikan hukuman 4 tahun penjara. Lebih ringan dibandingkan oleh jaksa penuntut umum yang mengajukan 10 tahun 4 bulan masa kurungan penjara.”


Kha sangat terkesiap mendengar keputusan pengadilan sampai membungkam mulut.


“Mas Biru ....” bibir Kha bergetar, air mata yang sempat mengering kembali bercucuran.


Bayangan-bayangan masa depan langsung berputar seperti piringan kaset yang memutar lagu kelabu. Bagaimana dirinya nanti akan menjalani semua tanpa sosok pahlawannya. Bisakah suaminya ikut menemaninya saat proses persalinannya meski sekejap. 4 tahun? Apa yang akan ia katakan pada anak mereka ketika nanti mengetahui lahir dan tumbuh tanpa ditemani oleh sang Ayah.

__ADS_1


Kha melihat dengan jelas saat Biru mendesahkan napasnya ke udara, seolah keputusan hakim begitu berat di terima. Ia maju beberapa langkah ketika melihat Biru mengedarkan pandangan. Mencolok karena busana yang Kha kenakan berbeda dari yang lain membuat netra Biru dengan cepat menangkap dirinya.


“Sayang ... maaf.” lirih Biru dengan mata meremang.


Kedua tangannya mengepal tali sling bag, batinnya menguatkan langkah hingga sampai di pagar pembatas. Saat semakin dekat, ia dapat melihat dengan jelas gurat kesedihan dari wajah suaminya. Sekuat apa pun Biru menutupi, Kha dapat melihat dengan jelas. Sangat jelas.


“Mas ....” Biru mengangguk, mengulas senyum seakan memberitahukan padanya bahwa semua baik-baik saja.


“Kha ... maafkan aku. Jaga dia dan katakan bahwa aku sangat menyayangi dia,” ucap Biru sembari mengusap lembut perutnya, “berbahagialah ... meski takdir sekarang tidak berpihak pada kita untuk bersama, tapi suatu saat nanti aku yakin kita bisa, Kha. Berkumpul kembali ... aku, kamu, dan anak kita sampai seribu tahun lamanya.”


Dari hanya terisak, kini tangis Kha semakin meraung. Dadanya sangat sesak menerima kenyataan jika di sinilah ia akan berpisah dengan suaminya dalam waktu yang tidak singkat.


“Mas ... jangan tinggalin aku. Terus bagaimana anak kita ....”


“Mas!!” Kha berteriak sampai Biru menghilang dari pintu ruang persidangan.


Saat tubuhnya hampir limbung, Awan berlari menangkap dan menopang. “Kha yang kuat, Nak.”


Awan dan Senja menuntun dirinya keluar dari ruang sidang. Ia duduk di kursi tunggu dan merebahkan kepalanya bersandar pada bahu Senja.  Sembari terus menenangkan dirinya dengan mengusap-usap punggung, Senja juga membisikan kalimat-kalimat agar Kha tetap tenang.


“Pah, bukannya kita bisa naik banding?” tanya Barid.


“Kita tunggu Pak Sarman keluar, bagaimana keputusannya nanti harus tetap melalui persetujuan Biru.”

__ADS_1


Lama mereka menunggu, sampai entah berapa menit Kha memejamkan mata. Bukan hanya tubuh dan matanya saja yang lelah, perasaan yang sudah campur aduk dari pagi pun luruh di bahu mungil Senja. Kemudian terjaga oleh suara lantang Pak Sarman.


“Biru tidak menginginkan naik banding, beliau mau menerima amar putusan yang sudah di tetapkan oleh pengadilan.” ucap Pak Sarman.


Kesadarannya masih tercecer ketika lamat-lamat Pak Sarman menyampaikan keinginan Biru. Lalu dipaksa sadar oleh pertanyaan-pertanyaan Awan yang membuat matanya kembali memanas.


“Biru tetap ingin menjalani hukuman ini, Pak Awan. Beliau mengatakan, tidak akan sanggup hidup dihantui rasa bersalah. Beliau juga menitipkan permintaan tolong pada keluarga, agar menyantuni anak juga istri dari almarhum Hendar.” terang Pak Sarman.


Awan tak menjawab kalimat Pak Sarman, ia menarik tangan Kha lalu di gandeng menyusuri lorong yang menghadap jalan keluarnya mobil tahanan yang membawa Biru. Awan menunjuk ke arah mobil yang beranjak keluar dari gerbang tinggi.


“Tunjukkan pada Biru kalau kamu dan anak kalian akan baik-baik saja.” ucap Awan.


“Pah! Bagaimana kita baik-baik sa--”


Awan menggeleng memotong kalimatnya, “Kha ... percayalah, Biru juga ingin bebas, dia mau nemenin kamu. Tapi, Nak, sebagai pria yang bertanggung jawab, ini adalah jalan terbaik yang memang harus ia terima.”


Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Kha mengangguk perlahan. Ketika mobil yang membawa Biru hendak melintas, ia pun mengikuti perintah Awan. Kha tersenyum hingga matanya menyipit, ke arah Biru yang tengah duduk di dalam mobil. Melambaikan tangan dengan menatap wajah Biru penuh damba meski lelehan air mata membasahi cadarnya.


“Seribu tahun ....” bisik Kha sembari terus melambaikan tangan.


“Aku dan anak kita, akan menunggu hingga seribu tahun itu di mulai.”


Selamat menjalankan ibadah puasa bestieeee.

__ADS_1


aku nggak kejam 'kan? iya 'kan? cuma 4 tahun kok, betarlah... kita tunggu mas biru sambil mam cilok yak. luvv kalian semua 😘😘


__ADS_2