Dear Khadijah

Dear Khadijah
Hopeless


__ADS_3

Khadijah


Waktu terus bergulir, tanpa sadar hari telah berganti minggu, dan minggu berotasi ke bulan. Kha pikir, semua akan terlewati dengan mudah. Namun ternyata waktu berjalan begitu lambat. Seolah menegaskan penyiksaan rindu yang teramat menekan batin. Jika Biru terhukum penjara, dirinya terhukum rindu. Sungguh menguras emosi dan menyiksa batin. Sekujur tubuhnya kembali meremang manakala mengingat insiden menegangkan yang membuat ia terpisah dengan suaminya. Setiap kali terlintas, kucuran air mata pun berjatuhan tanpa permisi.


Sudah berbulan-bulan, dan Biru masih belum juga mengizinkan Kha mengunjunginya di lapas. Sebenarnya apa hanya karena merasa seolah menjadi pecundang sebab Biru tak mau menemui Kha, atau ada alasan lain? Entahlah ... We never know.


Kini usia kandungan Kha menginjak minggu ke 25. Perutnya semakin besar, bahkan orang-orang mengira Kha mengandung anak kembar sebab perutnya terlihat lebih menonjol untuk ukuran kehamilan pertama. Ternyata setelah menjalani pemeriksaan menyeluruh, Kha hanya memiliki janin tunggal. Perut tebal di tambah janin yang berukuran besar membuat perut Kha terlihat sedikit lebih besar. Meski begitu, ia tetap beraktivitas seperti biasa. Dengan perut besarnya ia masih berkerja bahkan hingga ke luar kota. Sebab jika ia hanya berdiam diri dirumah, maka harinya bisa di pastikan mengabu dan hanya berisi tangis kesepian.


“Persiapan buat ke Solo sudah beres, Dip?” tanya Kha.


“Sudah, Teh. Tinggal masukin bunga segarnya saja. Kamu gak ikut ke Solo, 'kan?”


“Kok gak ikut? Memang kenapa?” ucap Kha heran dengan pertanyaan Dipa.


Dari ambang pintu tiba-tiba Barid muncul lalu menyela, “kamu mau ke Solo, Kha? Dengan keadaan begini?” tunjuk Barid pada perutnya.


“Memang kenapa sama perut aku.”


“Yang ngawur saja! Sudah, mulai hari ini urusan kerjaan di luar Jakarta kamu serahin ke karyawan kamu saja. Lagi pula kamu masih bisa pantau dari sini. Bukannya di sini juga kerjaan banyak.”


“Aku gak apa, kok! Aku masih sanggup ke luar negri sekali pun.”


“Yang di bilang bang Barid bener, Teh. Aku bisa sendiri, tolong percayakan sama aku dan teman-teman yang lain. Lusa juga ada pemotretan prewedding di sini, yang ngatur dekorasinya siapa?”

__ADS_1


“Tetep gak bisa Mbak Dipa, setahu aku ada 5 titik lokasi dan salah satunya di pegunungan.” timpal Asti.


“Tuh, kan! Terus aku ngapain.” keluh Kha.


“Pergi sama aku belanja baju bayi.”


“Gak!”


“Ya sudah aku tinggal bilang sama mama kalau kamu tolak ajakan Mama.” ancam Barid.


Kha mengerucutkan bibirnya dari balik cadar. Selama ini hanya Mama dan Barid yang menemaninya kemana pun, mulai dari periksa kandungan, atau sekedar senam ibu hamil. Hal-hal sepele yang membuat malam Kha menjadi semakin tersiksa, sebab apa yang selama ini ia lakukan bersama orang lain, baginya Biru lah yang seharusnya menemani.


“Tunggu!” ucap Kha lalu menghilang di balik pembatas tangga.


Ucapan yang pernah Biru katakan padanya adalah salah. Biru bilang ia tak akan kesepian sebab berada di tengah keluarganya yang hangat. Namun, kini pernyataan Biru di bantah keras Kha, nyatanya meski berada di tempat ramai dan di temani keluarga dari suaminya pun Kha masih merasa kosong. Kemana pun ia melangkah seolah tak berpijak, apalah daya seorang istri pergi tanpa izin dari suami. Keadaan yang memaksa ia harus menerima dan menjalani.


“Karena kamu gak mau lihat gender bayinya, kita beli pakaian yang bisa di pakai buat bayi cewek sama cowok ya, Kha.” ujar Senja.


“Terserah Mama saja.” jawab Kha pasrah.


“Loh, kok gitu? Ini kan buat kebutuhan anak kamu, harus semangat dong milihnya.”


Manik lentik Kha berkaca melihat pemandangan di dalam toko perlengkapan bayi itu. Ia melihat senyum lebar dari para calon Ibu yang tengah sibuk memilih belanjaannya, tentu saja bukan hanya itu yang membuat Kha merasa iri. Namun, senyum bahagia itu juga tercetak jelas di wajah para calon ayah yang menemani istrinya belanja.

__ADS_1


Lalu ... Kata-kata itu pun terngiang kembali di benaknya. Harusnya Mas Biru disini,


Harusnya Mas Biru yang menemani belanja,


Harusnya Mas Biru yang mengantarkan cek kandungan,


Harusnya ....


“Kha, jangan melamun! Jangan berharap sesuatu yang dia sendiri gak inginkan. Kamu hanya perlu fokus sama kamu dan bayimu.” ucap Barid dengan tegas, membuat kedua kening Kha mengkerut.


“Dia? Maksud kamu, Mas Biru?”


Sorot mata Barid begitu tajam. Napasnya terdengar memburu seolah tengah menahan emosi. Sembari melangkahkan kaki mendekat padanya, Barid bergumam, “apa aku salah? Bukankah kamu berharap ada Abang Biru di sini? Percuma Kha! Dia saja tidak ingin.” cibir Barid.


“Bukan Mas Biru tidak ingin! Aku paham dengan alasannya mengapa harus seperti ini!” jawabnya tak kalah lantang. Kha merasakan dadanya begitu sesak. Bukan karena cibiran Barid, bahkan apa yang Barid katakan memang ada benarnya.


Biru yang tidak ingin bebas! Biru menolak naik banding!


Batinnya menjerit, ingin membenarkan pernyataan Barid. Namun, ia telah memasrahkan semua keputusan pada Biru, berbulan-bulan telah ia coba untuk memahami situasi dan keadaan Biru yang terbatas. Memaksakan diri mengikuti kemauan Biru yang ingin bertanggung jawab menjalani hukuman dengan ikhlas. Bagi suaminya, hanya itu bentuk tanggung jawab yang bisa ia beri kepada keluarga korban.


Kha berbalik badan kemudian meninggalkan toko tanpa berpamitan dengan Senja. Ia berjalan cepat sembari terus mengusap kucuran air matanya. Mengabaikan panggilan Senja yang samar terdengar.


“Maafin Kha, Ma ....” gumam Kha tanpa menoleh, lalu menghilang dari balik pintu lift.

__ADS_1


__ADS_2