
...29. Berbagi cerita dengan Papa....
Biru.
Jarum jam menunjukkan bahwa hari telah berganti. Namun, kedua matanya masih terbuka sempurna, Susana tengah malam yang sunyi dan hening ia jadikan perenungan.
Rasa penasaran tentang masa lalu orang tuanya, mengantarkan Biru mengulik kembali kisah mereka. Tak sulit mendapatkan gambaran, karena pada dasarnya Jihan merupakan public figure yang kesehariannya tak luput dari sorotan kamera.
Rekam jejak digital memang kejam. Rentetan kejadian yang telah terpublikasi akan sangat sulit dihilangkan. Dari rekaman digital beberapa tahun silam, Biru menemukan kejadian dimana sebuah forum mengunggah kehidupan Jihan beserta skandal-skandalnya. Ia menemukan video klarifikasi singkat Awan yang menyatakan hubungannya dengan Jihan telah usai tanpa keterlibatan orang ketiga. Disamping itu, Biru juga menemukan foto-foto kecil dirinya bersama Senja yang saat itu masih berprofesi sebagai guru di sekolahnya dulu, dengan caption yang ia sendiri tak habis pikir.
Kenapa orang bisa dengan mudah menuliskan cerita yang bisa menggiring opini negatif, lalu mematahkan persepsi dan membunuh mental orang lain? Sekejam itukah media sosial?
Biru memejamkan mata. Memijat pelan pelipisnya, harusnya ia membuang rasa penasarannya supaya tidak tertarik dengan kisah yang sudah berlalu. Tapi Jihan, sikap Mama kandungnya itu yang membuat Biru ingin mengingat kembali. Masa-masa dimana ia tak tahu siapa sosok Jihan yang tiba-tiba muncul saat tidak ada perempuan dirumah yang ia panggil dengan sebutan Mama. Yang ia tahu, hanya ada Oma dan Onty Vio disana. Lalu, datanglah Senja dengan semua perhatiannya.
Jemarinya masih bergulir di atas krusor. Kali ini ia menemukan kisah tentang pewaris tunggal PT. Yudistira Tbk. Disana, terlampir jelas unggahan yang menceritakan pria bernama Dewo telah mencurangi pernikahannya dengan sang istri. Kemudian, memiliki anak dari perempuan lain saat status pernikahan masih sah dimata hukum. Satu hal yang membuat Biru menarik napas lega, ternyata Jacinda Laluna Nahesswari bukanlah anak Senja seperti dugaannya.
Dari semua cerita yang Biru dapatkan, ia menyimpulkan bahwa Jihan lebih dulu meninggalkan Awan dan dirinya, demi karier yang saat itu tengah berada dipuncak. Merasa belum menyelesaikan kisahnya dengan Awan yang membuat Jihan terlihat masih menyimpan dendam dengan Senja.
Cklek! Kreeek....
Biru menoleh kearah pintu yang terbuka. Ia melihat Awan berdiri di ambang pintu, dengan reflek cepat ia mengalihkan layar komputer agar Awan tak mengetahui apa yang tengah ia lihat.
__ADS_1
“Belum tidur kamu?” tanya Awan. Pria paruh baya itu masuk lalu duduk disisi ranjang.
“Belum, Pa... Papa sendiri kenapa belum tidur?”
“Papa habis menyiapkan berkas yang akan Papa bawa ke Jogja besok,” kata Awan. Biru mengangguk dan menyusul Awan duduk disebelahnya.
“Gimana? Sudah siap menghadapi orang tua perempuan itu?”
Biru mengulas senyum, jarang sekali Awan menanyakan perihal pribadinya. “Siap!” jawab Biru lugas. “Kalau Papa, gimana dulu waktu pertama kali ketemu sama Akung? Kok bisa Akung ngizinin Mama nikah sama Papa yang garang gini?” Biru terkekeh, membayangkan Orang tua Senja yang berwajah kalem dan baik, pasti bukan hal yang sulit buat Awan.
Awan pun ikut mengembangkan senyum. “Lucu! Gimana Akung kamu nggak setuju kalau Papa minta izin nikahin Mama Senja pagi-pagi buta,”
“Pagi-pagi buta?” Biru sedikit membelalakkan matanya tak percaya. “Serius, Pa?”
Biru membulatkan mulutnya. “Ooh! Ternyata keberanian Biru diturunkan dari Papa,”
Awan tersenyum mencibir. “Yang katanya berani, tapi start nya dicuri sama adik sendiri.”
Biru meringis. Jika bukan karena Barid yang lebih dulu menyatakan perasaannya pada Kha. Jika bukan Jihan yang ingin menjodohkan dirinya dengan Jecin, mungkin ia masih diambang ketidak pastian dengan perasaannya sendiri.
Ia dan Awan menghabiskan malam dengan menceritakan masa lalu. Berbagi nasihat dan petuah untuk Biru yang sebentar lagi akan meminang anak gadis orang. Memberikan contoh pada Biru agar memiliki pondasi yang kokoh untuk membangun rumah tangga. Karena Awan sendiri merasa pernah gagal dengan rumah tangganya, pria itu tak ingin anaknya mengalami hal yang serupa.
__ADS_1
“Istirahat, jangan sampai Mama Senja marah-marah karena kita telat bangun. Siapkan mental buat besok,” nasihat Awan.
“Terima kasih, Pa....” Biru mengharu. Ia menghambur memeluk Awan.
Awan memukul pelan punggung Biru. “Sebentar lagi, tanggung jawab Papa selesai. Mulai saat itu, kamu sendiri yang akan bertanggung jawab atas dirimu dan istrimu kelak. Jadilah suami yang hebat, bukan hanya tentang materi, tapi juga tentang berbagi waktu, karena kebahagiaan perempuan tidak melulu soal dunia. Seorang istri adalah jantungnya rumah, maka jangan buat jantung itu berhenti berdetak. Karena jika jantung rumah berhenti berdetak, tak akan kau temui lagi kebahagiaan didalamnya,”
“Iya, Pa... Biru janji....”
“Satu hal lagi, jangan menjadi laki-laki yang tidak bisa dipegang ucapannya karena seringnya ingkar.” Biru menganggukkan kepalanya dan melepaskan pelukan Awan. “Sepulang dari Jogjakarta, kita bicarakan tentang posisi kamu dikantor,”
“Tapi, Pa....”
“Jangan pancing Jihan, Papa tidak sedang menjelekkan Mamamu, tapi Papa tahu perempuan seperti apa Jihan. Jika hanya jabatan dikantor cukup buat dia puas, lakukanlah! Memang sudah waktunya perusahaan Papa serahkan ke kalian berdua. Papa harap, kalian bisa mengelola dengan baik seperti Papa dan Viona lakukan selama ini,”
Biru menunduk. “Biru hanya sudah terlalu nyaman dengan pekerjaan Biru,”
“Kita bicarakan lagi nanti, tidurlah! Besok kita harus jemput perempuan itu juga, 'kan?"
“Kha, Pah! Namanya Kha! Bukan perempuan itu!” protes Biru.
“Iya Iya! Punya nama, kok, aneh banget, sih! Jangan-jangan orangnya juga aneh!” gerutu Awan sembari keluar dari kamar Biru.
__ADS_1
Biru merasa bahagia. Dibalik perasaannya tentang kisah orang tuanya, dibalik keinginan Jihan yang tak ingin ia wujudkan. Malam ini ia merasa lega dan tenang. Berbagi cerita dengan Papa ternyata tak seburuk itu.