
...14. Senyummu... mengalihkan duniaku....
Biru.
Penuturan Gentar tentang Barid yang akan segera wisuda membuat Biru memutuskan untuk membelokkan mobil kerumah. Seperti biasa, kehadirannya selalu disambut rengekan Barsha dengan serentetan keluhan.
“Abang lupa jalan pulang?!” Barsha memanyunkan bibir dengan pertanyaan sinisnya. Biru mengacak-acak poni rambut Barsha yang terikat kuda.
“Abang sibuk, Cha.” kilah Biru.
Barsha kembali menarik lengan setelah Biru menyalami Senja dan Awan. Gadis kecil itu bergelayut manja. “Sok sibuk! Sebanyak apa kerjaan Abang sampai nggak punya waktu buat pulang?!”
Biru terkekeh, kemudian ia menarik dompet dan mengambil beberapa lembar uang, lalu diberikan pada adiknya. “Sebanyak Abang bisa beliin semua album K-Pop kesukaan kamu.”
Mata Barsha sampai membola melihat uang dan mendengar tentang album. “Yeyy! Ini beneran Acha boleh beli album, Bang?!” mata Barsha berbinar-binar mendapat anggukan Biru.
“Disogok album sampai lupa cara merajuk?” Senja mecibir anak gadisnya. Barsha tak hiraukan, ia mengecup pipi Biru dan berlalu setelah mengucapkan terima kasih.
Biru kembali duduk diruang tengah setelah kepergian Barsha.
“Papa dengar usaha kamu semakin maju?” Awan bertanya tanpa memalingkan muka dari notebook didepannya.
“Hmmm... Alhamdulillah.” Senja tersenyum. Perempuan berwajah teduh itu mengusap bahu bidangnya.
“Mama siapkan makan malam dulu ya, Bang.” Senja beranjak pergi, tak lupa ia membawa jaket Biru yang tersampir di kursi.
“Kamu sudah pandai memprospek bisnis. Berani mengambil tantangan, dan sudah handal menangani resikonya.” ujar Awan. “Kalau kamu bisa membuka setidaknya 2 sampai 3 cabang di kota ini, Papa pastikan tidak akan memaksa kamu bertanggung jawab pada Perusahaan kita.”
Sebelum Biru menjawab, Barid yang datang dari lantai dua menyahut terlebih dahulu. “Memang tidak,” kata Barid.
Awan dan Biru sama-sama menoleh kearah Barid. Adik laki-lakinya duduk disebelah Awan tanpa mengeluarkan tangan dari saku celana.
“Untuk kedepannya, Papa bisa andelin Barid buat urus perusahaan.” sambung Barid.
Awan menatap Biru sekilas, lalu memfokuskan kembali pada notebook. Pun tidak ada niat Biru untuk menjawab. Gaya bicara Barid yang satire membuat Biru enggan meneruskan obrolan.
“Bukan hanya kamu, Nak. Perusahaan peninggalan Opa, ya menjadi tanggung jawab anak-anaknya. Jika dirasanya Papa sudah nggak sanggup ngurus, Kalian anak-anak Papa yang harus meneruskan perjuangan mereka. Abang Biru, Abang Barid, syukur-syukur nanti Barsha dan anak-anak Onty Viona juga ikut saling bahu-membahu demi mempertahankan kelangsungan perusahaan.” ujar Senja panjang lebar sembari meletakkan sepiring bakwan panas di meja.
Biru bergeming. Ia juga tak menjawab ucapan Senja. Tujuannya kerumah setelah beberapa hari tidak pulang bukan untuk kembali membahas tentang siapa yang lebih pantas atau berhak menggantikan posisi Awan dikantor.
__ADS_1
“Abang denger kamu mau wisuda, Rid? Kapan?” sengaja Biru mengalihkan topik pembicaraan.
“Minggu depan.” jawab Barid singkat. Bibir Biru tersenyum tipis. Ia sangat berharap Barid akan melanjutkan ucapannya. Tapi selang beberapa menit Barid tetap terdiam.
“Minggu depan luangkan waktu buat datang ke wisuda Barid ya, Bang.” Dan kata-kata yang ingin ia dengar dari Barid, justru Mama yang mengatakan.
“Insya Allah, Mah.”
Setelah makan malam bersama. Biru pamit kembali ke ruko. Barsha merajuk meminta Biru untuk tidur dirumah, namun ia teringat masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini. Barid kembali ke kamar, tidak ada lagi pembahasan soal acara wisuda. Juga tidak ada satu katapun dari Barid agar Biru datang dihari pentingnya, padahal Barid menyatakan jika Kha orang penting yang harus hadir di acara pentingnya. Kedudukannya sebagai anak tertua dirumah sama sekali tidak diindahkan.
****
“Hmmm... Harum banget, jadi kangen kue buatan Ummi.” Kha menerima kue titipan Tante Mia. Ekor mata Biru terus mengikuti langkah kecil gadis bergamis yang senantiasa tertutup apron. Lalu kembali membawa beberapa piring kecil, garpu dan pisau kue.
Biru masih berdiri dengan senyum mengembang. Melihat Kha yang riang seakan mengikis kesedihannya sepanjang jalan tadi.
“Dipa... Nyemil dulu, nih.” seru Kha. Dipa datang dari ruang tengah. Mengambil piring kue diletakkan di nampan lalu membawa masuk untuk dibagikan ke crew yang lain.
“Ini buat Mas Biru,” Kha menyodorkan piring kedepannya.
Namun Biru justru mendorong piring itu kembali. “Kamu makan aja, aku juga dikasih sama Tante Mia tadi.”
Akhirnya Biru mengalah, duduk di kursi lipat krisbow dan mengambil sepotong kue tanpa garpu. Matanya melirik keatas seolah tengah merasakan rasa kuenya.
“Enak?”
Biru mengangguk dan memasukan potongan terakhir. “Enak.” jawab Biru dengan mulut penuh.
Kha mengambil dua botol air mineral dan mengasongkan yang satu untuk Biru.
“Makasih.” Biru menenggak air hingga tandas tak tersisa. “Besok ada jadwal kemana?” tanya Biru.
“Dekor buat acara pertunangan. Terus mau meeting sama Tante Risa sorenya.” jawab Kha.
“Bareng.” Biru terkekeh melihat Kha mengernyit. “Maksudnya pas meeting bareng.” sambung Biru.
“Besok Mas Biru jadwal pemotretan dimana? Nggak ditempat yang aku dekor?”
Sembari berdiri, Biru menggeleng. “Pengennya kerja bareng sama aku terus, ya?” tak menjawab pertanyaan Kha. Biru senang melihat Kha mengerucutkan bibir ketika ia ledek.
__ADS_1
“PD banget!”
“Besok pagi ada technical meeting sama perusahaan yang menyewa jasaku menjadi fotografer lepas. Buat acara pertunangan itu juga aku, cuman nanti Fadli sama Gentar yang urus.”
“Perusahaan apa, Mas?”
“Z fashion. Akhir-akhir ini merk itu lagi naik daun kayaknya.” Biru masih menatap Kha. Perempuan itu sesekali menganggukkan kepala, selalu membuang pandangan ketika berbicara dengannya.
“Wah... Mas Biru bakal foto model-model cantik,” kata Kha.
Biru terkekeh. “Dan seksi.”
Kha mengibaskan tangan. “Pulang gih! Sudah malam, toko mau tutup. Terima kasih sudah dibawakan kue titipan Tante.” usir Kha.
“Tadi nyuruh duduk, sekarang ngusir.”
“Toko kami tidak menerima pria berotak kotor kayak Mas Biru!”
Gelak tawa Biru mengudara. Membuat karyawan toko bunga melongok dari balik pintu. Biru membuka pintu kaca dan menahan sebelum kembali menutup.
“Nanti aku minta Tante Mia buat kerja sama lagi, biar bisa foto kamu aja.” goda Biru.
“Tidak. Terima kasih!”
Biru kembali menyeringai. “Ya udah aku foto model cantik sama seksi aja. Model amatirnya masih jual mahal.” ledek Biru lagi.
Kha melotot dan menunjuk garpu kearahnya. “Pergi dari sini, Mas! Aku nggak mau temen-temenkku terkontaminasi otak kotor kamu.”
Biru menyerah. Tak ingin membuat muka putih Kha semakin memerah. Malam ini Kha banyak tersenyum, membuat binar bahagia mengembang diwajah Biru, sejauh perkenalannya dengan Kha, malam ini pertama kali mereka dapat ngobrol panjang dan santai.
Senyummu... mengalihkan duniaku.
“Aku balik, Kha. Mau siap-siap buat besok.” ucap Biru sembari terkekeh. Ia masih melihat Kha berkacak pinggang seraya mengucap istighfar dari balik meja kasir. Lalu tersenyum saat Biru melambaikan tangan.
Yang ngelike jangan lupa koment.
Yang koment jangan lupa like 🤭
Terima kasih sudah mampir bestieeee. ❤️
__ADS_1