
24. Ummi said : Sweet banget, sih!
“Biru!”
“Mas!”
Jihan dan Kha sama-sama terkejut dengan penuturan Biru. Kedua perempuan itu sampai meneriaki Biru bersamaan.
Namun, Jihan kembali bersikap acuh.
“It's, Ok! Mama nggak masalah kamu mau nikah sama siapa aja. Asal! kalau kamu nggak bisa penuhin syarat yang kedua, pastikan ikutin mau Mama tentang ambil alih jabatan itu,” tegas Jihan. Ia menatap Kha dari ujung kepala hingga kaki lalu kembali naik. “Not bad.” ucapnya lalu pergi tanpa berkenalan dengan Kha.
Biru masih mencekal tangan Kha yang terbungkus jaketnya. Ia menyeringai sembari menggaruk kepala yang tak gatal.
“Lepasin, ih!” Kha menepis tangan Biru, juga melemparkan jaket kepadanya. “Kalau mau manfaatin orang jangan saya dong!”
“Siapa yang manfaatin kamu?”
Kha menggerutu. “Itu tadi dateng-dateng main tarik tangan orang terus bilang saya calon istri Mas, apa?!”
Biru tersenyum manis. “Aku nggak nyentuh kamu langsung 'kan, Kha... Yang tadi itu Mamaku, Mama kandung aku. Aku nggak manfaatin kamu,”
“Terus?!”
“Al isra ayat 32,” ujar Biru.
Kha mengernyit. “Saya juga tahu ayat itu!”
“Aku lagi nggak bercanda apalagi memanfaatkan orang. Karena itu aku nggak berniat bawa kamu untuk melakukan hal yang dilaknat Allah.” Pandangan Biru teralih, pria paruh baya yang berdiri didepan ruko sejak tadi tengah menatapnya tajam.
“Itu Abi sama Ummiku, yang belakang Gamya sama Syamier, adik-adikku.”
Biru tak menjawab, ia justru meninggalkan Kha lalu menghampiri kedua orang tua Kha. Biru menyalami Azzam dan adik-adik Kha kemudian melemparkan senyum sapa kepada Alsea. Ia memperkenalkan diri sebagai tetangga ruko juga partner kerja.
Berbeda dengan Azzam yang banyak diam, Wanita berparas ayu meski diusia yang tak lagi muda itu lebih ramah. Menjawab dan melemparkan pertanyaan tentang apa yang ia kerjakan. Mendengar Azzam berdehem, Biru pamit undur diri kemudian masuk kedalam ruko.
__ADS_1
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Kha.
“Cieee yang betah nggak pernah pulang ke Jogja, ternyata sudah jadi calon istri orang.” goda Syamier.
Kha bersiap mencubit Syamier namun tertahan oleh tangkisannya.
Kha memperhatikan Azzam yang masih duduk tenang dilantai dua setelah menyaksikan aksi konyol Biru terhadapnya. Alsea pun sama. Ia berlari menghampiri Alsea kedapur.
“Ummi...,”
Alsea menyerahkan nampan berisi 4 cangkir teh panas kepadanya. “Ambil ini dan bawa ke depan. Kita bicara didepan ya, Nak.”
Alsea menuruti perintah Ummi, ia meletakkan cangkir didepan Azzam dan adik-adiknya, sedangkan Ummi keluar dengan sepiring bapia patuk yang dibawa dari Jogja.
“Abi...,”
“Teteh pacaran?”
“Terus yang tadi itu?” Kha memainkan tangan dipangkuan nya.
Alsea mengangkat cangkir teh, memberikan pada Azzam. “Minum dulu, Bi... Anak kita nggak mungkin melakukan hal yang tidak baik,”
Kha menjelaskan pada keluarganya tentang dirinya dan Biru yang hanya sebatas tetangga ruko juga partner kerja. Meskipun mereka sering terlibat dalam waktu dan tempat yang sama, Kha menegaskan jika itu hanya tentang pekerjaan, dan tidak ada konteks yang menjurus ke hal seperti pacaran.
“Lalu, yang Abi dengar tadi itu apa, Sayang? Apa cuman sekedar candaan? Apa yang dikatakan pemuda itu?”
Kha mereka ulang percakapannya dengan Biru tadi, semuanya tanpa terkecuali ia ungkapkan kembali pada Azzam dan Alsea.
“Nak... Abi tahu, merintis usaha ditempat asing seperti ini pasti susah. Abi harap kamu tidak sampai melupakan marwahmu sebagai muslimah,”
Kha mengangguk pelan. “Insha Allah, Kha selalu jaga diri, Abi,”
“Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk tidak mudah menjatuhkan hati, kecuali pada dia yang akan menemani ibadah hingga jannah.”
__ADS_1
Mendengar nasehat Azzam, serta merta matanya memanas. Dalam relung hatinya ia merasa sangat bersalah. Ia sendiri masih bimbang tentang perasaanya terhadap Biru. Kha merasa Biru sosok pelindung, orang yang menyebalkan tapi juga membuat dirinya nyaman atas perilaku dan perhatiannya.
“Tapi, Bi... Menurut Ummi, pemuda tadi tidak main-main dengan ucapannya,”
Abi mengernyit. “Maksud, Ummi?”
“Dari cara dia menaruh pembatas agar tak langsung bersentuhan dengan Teteh, memperkenalkan Teteh sebagai calon istri sama perempuan tadi, Ummi rasa pemuda itu tidak sekedar bercanda. Cara dia memperlakukan Teteh terlihat sangat menghargai perempuan,” terang Alsea.
“Kalau menurut, Gam, sih! Teteh sama Aa tadi sama-sama ada rasa, Ummi.” seloroh Gamya. Kha membulatkan mata lalu melemparkan bantal sofa pada adiknya.
Alsea mengusap lembut punggung anak sulungnya. Merapikan lipatan hijab yang sebenarnya sudah rapi. “Betul begitu, Sayang?”
Kha menatap nanar netra Alsea. Harusnya ia bisa menjawab, Tidak! Kha tidak mencintai Biru atau siapapun, Kha masih menjaga hatinya dengan baik. Tetapi, kenyataannya Kha tak mampu menjawab. Lidahnya kelu, ia juga tak bisa menampik bahwa semua perhatian Biru selama ini terhadapnya telah menyentuh relung hatinya.
“Apa yang membuat anak Ummi tidak sanggup menjawab?”
Kali ini Kha menundukkan pandangan. Memang benar dirinya tak mampu menjawab pertanyaan Alsea sebab ia juga sanksi dengan perasaannya sendiri. Kemudian, Dipa yang sedari tadi berdiam di tempat penyimpanan bunga ikut bersuara.
“Mas Biru orang baik, Om, Tante. Beliau sering membantu pekerjaan Teteh dan menjaga Teteh walau dengan caranya sendiri.” ujar Dipa
“Oh ya?” balas Alsea. “Seperti apa cara pemuda itu jagain putri Ummi, sampai si cantik ini diam?” Alsea tersenyum manis melihat anaknya salah tingkah.
Dipa menceritakan semua kebaikan serta perhatian Biru yang selama ini dilakukan. Bahkan ada beberapa hal yang Kha baru ketahui dari Dipa.
“Maafin, Kha, Ummi....”
Alsea tergelak lalu memeluk sang putri. “Aduh, aduh.... Putri Ummi sudah dewasa ternyata. Memiliki rasa cinta terhadap lawan jenis itu tidak salah, Nak, asal tidak berlebihan. Ummi rasa juga pemuda itu tidak asal menyebut Kha sebagai calon istri jika tidak menyukaimu,”
“Teteh tidak tahu kalau dia mencintai Teteh, Dia juga tidak tahu kalau Teteh diam-diam meminjam namanya buat di bicarakan sama Allah. Sweet banget sih, Nak...,”
“Ummi....” Kha membalas pelukan Alsea lebih erat.
“Allah lihat apa yang ada dalam hati Teteh, meskipun orang lain salah paham, Nak. Terima kasih karena telah menjaga diri seperti permintaan Ummi saat Teteh meninggalkan rumah.” Kha mengangguk pelan didalam bahu Alsea.
Sedari tadi Azzam yang diam kemudian berdiri begitu mendengar suara Adzan. “Gam, Syam, Kita jamaah di masjid dekat sini,” ajak Abi. Lalu berbalik menatap Alsea juga Kha. “Kalau pria itu benar dengan ucapannya dan mampu bertanggung jawab, dia akan segera temui Abimu.” ujar Abi.
__ADS_1
Sebelum lanjut scroll tinggalin like ya bestieee... makasih 🤗🤗🤗