Dear Khadijah

Dear Khadijah
Janji Biru


__ADS_3

...42. Janji Biru...


Biru menggenggam erat tangan Kha, ia tahu pasti jika istrinya terluka oleh ucapan Jihan. Mata Kha boleh membentuk bulan sabit, namun tetap tak dapat menyembunyikan luka dibalik senyumnya.


Kha perempuan baik, berhati lembut, bagaimana bisa ia masih tetap tersenyum setelah diperlakukan seperti seorang pembantu oleh mertuanya sendiri. Yang membuat Biru semakin tidak habis pikir, bisa-bisanya Jihan membawa Jacin ke studio photo nya. Maksud dan tujuan Jihan sudah pasti tidak jauh dari persoalan janji dirinya untuk mengambil satu posisi penting di perusahaan Awan.


Beruntungnya saat Gentar menghubungi, ia sudah berada dekat area ruko.


Sepanjang perjalanan baik Kha maupun Biru senyap tak berbahasa, tidak ada pembahasan yang baru saja terjadi. Biru malu untuk sekedar bertanya, sedangkan Kha mungkin sedang menata kembali hati yang sempat tergores. Puluhan kali Biru mengecup punggung tangan Kha yang ia genggam. Meski Kha selalu mengingatkan bahwa itu bahaya, Biru tetap tak mau melepaskan tangan istrinya.


Mereka masuk ke area komplek perumahan yang berjarak kurang lebih 7 kilometer dari ruko mereka. Deretan rumah setengah jadi yang terbagi menjadi dua jalur dari gerbang utama, merupakan kawasan yang belum lama diresmikan. Biru mengajak Kha keluar mobil setelah tiba di halaman rumah tanpa pagar paling ujung.


“Ini rumah siapa, Mas?”


Biru masih bergeming. Ia menggandeng Kha memasuki halaman rumah yang sangat berantakan, dimana alat pekerja proyek masih berserakan. Ia menekan tombol password key rumah dan seketika pintu rumah tersebut terbuka.


“Mas! Ini rumah siapa?” tanya Kha ulang.


Biru berdiri dibelakang Kha, memeluk istrinya dari belakang.


“Dirumah kecil ini, kita akan bertukar cerita, bertukar rasa sedih dan kecewa. Melepas rindu setelah seharian terpisah oleh pekerjaan, membangun puing-puing kebahagian lewat doa mustajab kamu dan orang tua kita.”


Air mata Kha menggenang di pelupuk, mendesak perih ingin segera mata berkedip agar terjatuh.


“Mas....”


“Ini rumah, Mas?”


“Rumah kamu, Sayang... Aku beli rumah buat kamu, buat kita. Maaf ya, masih belum beres seluruhnya.”


Kha lantas menghambur memeluk Biru, menumpahkan tangis yang sebenarnya sudah ia tahan sejak tadi. Bahunya berguncang dalam pelukan Biru, mungkin kini kain cadarnya telah habis basah oleh air matanya. Biru membiarkan itu untuk beberapa saat, Kha perlu menangis untuk menghilangkan sesak dalam dadanya.


“Nangis aja gapapa, biar kamu tenang setelah ini,” ucap Biru sembari merengkuh tubuh Kha yang masih naik turun.


“Aku gagal nggak sih, Kha. Jadi suami nggak bisa jagain istrinya.” Biru meletakkan ujung dagu diatas kepala Kha sembari menerawang, masih dalam hitungan hari dan ia sudah membuat Kha menjatuhkan air mata kesedihan.

__ADS_1


Kha berhenti menangis, mengeringkan air mata dengan ujung lengan. Kha kembali membenahi hijabnya yang sedikit berantakan. Lalu mendengus memukul pelan dada Biru, “Kata siapa Mas gagal? jangan bicara yang enggak-enggak!”


“Yaudah, aku ngomong yang iya-iya aja,” ucap Biru menahan tawa.


Ia membawa Kha berkeliling di rumah dua lantai. Hanya ada 1 kamar dilantai satu dan 2 kamar di lantai dua. Rumahnya tak terlalu besar, tapi cukup untuk ukuran keluarga. Minimalis, cantik dan segar karena terdapat taman mini serta kolam kecil dibagian belakang dapur.


“Aku baru bisa kasih hunian kecil kayak gini ke kamu. Maaf ya, aku cuma ingin kasih ke kamu semampuku, bukan semampu orang tuaku.”


Mata Kha masih menyisakan titik-titik cairan bening, ia menelusuri semua sudut ruangan dengan tatapan bahagia.


“Ini udah lebih dari cukup, Mas. Lebih banget! Harusnya kamu bilang sama aku, biar kita urus bareng-bareng.”


Biru mengecup sekilas bibir Kha yang tertutup cadar. Lalu menyeret tubuh mungil itu kembali ke pelukannya. Kali ini cukup lama, cukup sampai Biru merasakan detak jantung Kha sudah kembali normal dari sebelumnya.


“Aku nggak tahu aku harus minta maaf atas sikap Mama Jihan atau gimana. Harusnya aku bisa antisipasi ini dari awal,” ucap Biru masih dengan memeluk Kha.


Tangan Kha mengusap-usap punggung Biru, memberikan kenyamanan bagi Biru yang terasa gelisah.


“Sebenarnya, janji seperti apa yang kalian sepakati?” Kha melepaskan pelukan dan menatap serius. Terdengar Biru menarik napas kasar dan menghempaskan kembali.


“Janji apa, Mas?” Kha sampai mengulnag pertanyaan dan Biru masih diam.


“Apa perjanjian antara kamu sama Mama Jihan ada hubungannya dengan pernikahan kita? apa dampaknya buruk?”


“Sayang....”


“Terus apa? kamu jangan diam aja, Mas. Kita sudah menikah, masalah kamu juga masalah aku, 'kan?” Kha terus mencecar pertanyaan dengan deraian air mata.


Biru kembali memeluk Kha, “Jangan nangis, Please... Kamu kayak gini buat aku lemah.”


“Kita pulang ya, kita bicarakan dirumah. Nggak apa, nggak ada yang perlu di khawatirkan.


Mereka masuk dalam mobil dan kembali ke ruko, berharap Jihan dan Jacin sudah pergi dari studio. Sepanjang perjalanan Kha hanya diam, membuang pandangan ke luar jendela. Sunyi, tidak ada pembicaraan sampai mereka tiba di halaman ruko.


Kha jalan lebih dulu, melangkah ke ruko dan naik ke kamar. Hanya mengucapkan salam, tanpa menyapa pegawainya yang menatap penuh tanya. Disusul Biru dibelakangnya, ia mengangguk pada Dipa tanda menyuruh mereka untuk kembali melakukan aktivitas mereka.

__ADS_1


Sampai kamar, Kha sudah bersiap untuk melaksanakan shalat.


“Tunggu sebentar, aku ambil wudhu,” ucap Biru saat melihat Kha tengah menggelar sajadah.


Selesai shalat, Biru tak langsung beranjak. Ia duduk bersandar pada ranjang, dan Kha masih merapalkan dzikir.


“Aku nggak tahu ini termasuk janji aku atau bukan. Karena sama sekali belum pernah aku ucapkan,” ucap Biru menghentikan kegiatan Kha.


“Mama Jihan pernah minta ke aku, buat ambil alih jabatan dikantor Papa.”


“Terus?” tanya Kha penasaran karena Biru terdiam cukup lama.


“Kha... Sebelumnya aku mau kamu tahu, Mama Jihan bukan orang sebaik Mama Senja, tapi mau bagaimana pun, dia tetap Ibuku, Ibu yang melahirkan aku.”


“Maksud, Mas?”


“Dia licik, tapi cukup aku yang membencinya, kamu jangan. Aku tahu dia berbuat seperti ini juga untukku.”


Kha mengernyit. “Aku makin nggak ngerti, Mas.”


“Mama Jihan minta aku buat milih, ambil satu jabatan di kantor Papa, atau menikahi perempuan pilihan Mama Jihan.”


Deg!


Jantung Kha bertalu, mendengar Mama Jihan yang ternyata sudah lebih dulu memiliki perempuan untuk dijodohkan dengan Biru. Apakah perempuan yang tadi dibawa kemari? Lantas kenapa? Haruskah Biru bekerja di perusahaan keluarga? Bukankah pekerjaan Biru saat ini sudah bagus?


Kha menggeleng tak percaya, sembari bergumam istighfar.


“Aku nggak bisa ke kantor, selain bukan passion aku, juga ada Barid disana. Aku nggak mungkin rebut posisi dia 'kan?”


“Terus kamu mau gadaikan pernikahan kita?”


Sebelum scroll, tinggalin like sama coment nya dulu ya bestieee.


from author with Luv ❤️

__ADS_1


__ADS_2