Dear Khadijah

Dear Khadijah
Colong-colongan Start.


__ADS_3

39. Colong-colongan Start


“Ummi nitip ini buat Mama Jihan,” ujar Kha menunjuk salah satu dari kedua kardus yang mereka bawa dari Jogja. “Kapan kita kerumah Mama Jihan, Mas?” sambung Kha.


Biru yang baru selesai mandi hanya melirik Kha sekilas sembari mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tangannya. Biru diam bukan karena tidak mendengar pertanyaan Kha, ia hanya sedang memikirkan apa yang akan Jihan katakan saat bertemu Kha, Mamanya itu selalu tak terduga dalam segala situasi. Terlebih dengan segala kalimat yang mungkin akan Jihan ucapkan, yang bisa saja merubah pandangan Kha tentang Ibu kandungnya.


“Mas....”


“H-mm?”


“Jadi??”


“Kamu mau kesana?” pertanyaan ambigu Biru hanya di jawab dengan telunjuk tangan mengarah ke tumpukan makanan ringan khas Jogjakarta oleh Kha.


“Sebelum ke ruko kita mampir ke rumah Mama Jihan dulu ya, Mas....” Biru masih enggan menjawab, ia hanya melemparkan senyum dari balik pantulan cermin.


Setelah memastikan Biru mengenakan pakaian yang ia siapkan, Kha kembali turun ke dapur, membantu Senja yang masih berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Memasak bersama Senja, membantu Kha mendapatkan banyak informasi tentang Biru, dari makanan kesukaannya, alergi makanan yang biru alami, sampai makanan yang harus Biru hindari.


Senja juga banyak bercerita tentang Barid dan Barsha. Menghabiskan pagi bersama mertuanya tak membuat Kha canggung, mungkin karena Senja tidak beda jauh dengan Alsea yang perhatian dan lemah lembut, karenanya Kha merasa seperti berbincang dengan Senja sama nyamannya dengan Alsea.


“Ma! Ada Bang Gentar nih!” seru Barsha dari ruang tengah. Senja yang telah usai merapikan dapur bersama Kha, menanggalkan celemek lalu menghampiri Gentar ke depan.


“Tar! Kamu dateng? tumben pagi-pagi, ikut sarapan sekalian ayo!” terdengar Senja mengajak Gentar untuk bergabung sarapan bersama. Disaat bersamaan pun Biru turun dari lantai atas.


Kha mengernyit malu saat tiba-tiba Biru menghampirinya dan mendaratkan kecupan di kening, untungnya tidak ada yang menyadari, buru-buru Kha mendorong tubuh Biru agar menjauh sembari bergumam yang sudah pasti tak akan terdengar oleh Biru.


“Sayang... Sarapannya sudah siap, ajak Gentar sekalian,” ucap Mama Senja.


Biru tak menjawab, ia mengurungkan diri untuk duduk di kursi lalu berjalan menuju ruang tamu. Dari ruang makan terdengar jelas Biru dan Gentar tengah berdebat kecil, saling mengumpat dan mengejek, membuat Kha dan Senja tersenyum-senyum.

__ADS_1


Prrakk!


Bunyi suatu benda terjatuh. Rupanya Gentar melemparkan kunci mobil pada Biru.


“Dasar temen bang ke! lu susah-susah aja sama gue, giliran kawin nggak ngajak-ngajak!” terdengar suara Gentar mengumpat Biru.


“Ngapain gue kawin ngajak elu, mau jadi juru rekam lu! Nggak boleh, masih dibawah umur, 'kan,” timpal Biru


“Astagaaa... Gue udah bisa main bola, Mak bapak lu baru on proses bikin elu, Bi! Gimana ceritanya dibawah umur! yang ada elu kurang ajar udah ngelangkahin gue!”


Biru kembali ke ruang makan, disusul Gentar dibelakangnya masih dengan menggerutu.


“Bilang aja lu takut kesalip gue 'kan? lu takut tuh selendang bidadari gue dulu yang comot, mangkanya lu curi start dari gue! apa jangan-jangan lu trauma karena start nya udah dicolong sama Barid?”


Biru tak menggubris, suaminya itu justru menyodorkan piring pada Kha untuk di isi nasi. Kha sendiri terlihat kikuk bertemu dengan Gentar, pasalnya pernikahan mereka yang serba dadakan memang tidak memberi tahu baik karyawannya maupun karyawan Biru.


Kha tersenyum dari balik cadar, menatap Gentar sekilas yang juga tengah menatap dirinya.


Gentar tak menjawab, justru melongo lalu bertepuk tangan perlahan, “Wahhh emejing bin warbiyasah sohib gue satu ini, dulu bilang ogah, terus kicep sama bokapnya, abis itu diem-diem kawin, ujungnya jadi suami bucin, bininya langsung ditutup rata begitu.”


Mendengar Gentar tak juga menyudahi kekesalannya, Mama Senja ikut bersuara, sembari meletakkan sepiring nasi untuk Gentar.


“Kalian masih mau pada berantem?!” Biru dan Kha tersenyum melihat Gentar diam setelah mendengar ucapan Mama Senja yang lantang, “Makan dulu, berantemnya diterusin besok-besok, nanti juga Gentar bakal nyusul Biru, dapet jodonya nggak lama-lama,” sambung Senja.


Gentar mencebikkan bibir, “Nyari yang modelan gini susah Ma Senja, limited edition!” Keluh Gentar.


“Karena itu yang bisa ngedapetin juga cuma orang-orang terpilih,” sahut Biru mencibir, detik berikutnya ia meringis mendapat tendangan kaki dari bawah meja.


Mendapat tatapan tajam dari Mama Senja, membuat Gentar dan Biru duduk diam tanpa suara, menikmati sepiring nasi goreng kemangi buatan Mama Senja yang hangat dan nikmat.

__ADS_1


Selagi Kha membantu asisten Senja membereskan meja makan, Biru mengajak Gentar mengobrol diruang tengah. Selesai dengan dapurnya, Kha naik ke kamar Biru lalu turun kembali beserta 2 tumpuk kardus di tangan mungilnya. Kha meletakkannya di atas meja dapur. Ia meminta asisten untuk menyimpan di lemari pendingin cemilan yang tidak tahan lama, dan menyimpan ditempat lain untuk makanan kering.


Sedangkan satu kardus lainnya ia biarkan teronggok di atas meja, karena kardus tersebut yang akan ia bawa ke rumah Mama Jihan sebelum pergi ke ruko nanti.


Biru masih terlibat pembicaraan serius saat Kha selesai mempersiapkan diri. Sembari menunggu suaminya selesai, Kha duduk di dapur, berbincang dengan para maid nya Mama Senja.


“Kamu udah siap?” tanya Biru tak selang lama.


Setelah pamit berangkat ke Mama Senja, Biru bertukar kendaraan dengan Gentar. Dari yang Biru katakan dalam perjalanan menuju rumah Mama Jihan, Kha mengetahui jika jadwal pemotretan suaminya sangat padat hingga penghujung bulan.


“Nanti kamu koordinasi sama Dipa, sepadet apa jadwal kamu, biar kita bisa milih hari yang tepat.”


“Maksud, Mas... Mas lagi ngomongin tentang resepsi pernikahan kita?”


“Iya, Sayang....”


Kha mengangguk. Seminggu tidak bercengkerama dengan Asti dan Dipa membuatnya semakin merindukan toko bunga. Apa saja yang terjadi seminggu terakhir? Apakah mereka mengalami kendala? Apa semua karyawannya juga mengetahui kabar pernikahan ia dan Biru. Bagaimana reaksi Dipa? Kha tersenyum membayangkan, kehebohan yang akan terjadi saat ia tiba-tiba datang ke toko nanti.


Tapi sebelum semua itu terjadi, Kha lebih dulu merasakan ketegangan.


Di sofa leter L sebuah apartemen mewah, Kha duduk berhadapan dengan wanita cantik, super model yang setiap hari wara-wiri di televisi, bahkan kiprahnya di dunia entertainment sudah sampai berkibar ke negara tetangga.


Kha sama sekali tak pernah menggambarkan sosok Jihan, ia hanya melihat ketegasan dari raut wajah ayunya. Memang tak seramah Senja, tapi setidaknya tidak bersikap dingin dengannya. Biru sendiri duduk menautkan kedua tangan diatas paha, terlihat sangat tidak nyaman. Seperti bukan pertemuan Ibu dan anak, hal itu pula yang membuat Kha semakin canggung.


“Kha!”


“I-Iya, Ma....”


“Sampaikan sama suamimu, Aku sudah ikuti mau dia, sekarang giliran Biru yang harus tepati janjinya sama Mama.”

__ADS_1


“M-maaf, Ma... Maksudnya?”


Belum sempat revisi bestieeee. tandai kalo ada typo-typo yaaaa. ❤️ luv kalian semua 😘


__ADS_2