Dear Khadijah

Dear Khadijah
WHOLE NEW WORLD


__ADS_3

WHOLE NEW WORLD


*Beberapa tahun berlalu.


Keluarga ini semakin ramai dengan kehadiran anak-anak Biru dan Kha. Biru resmi bebas sesaat sebelum anak pertamanya lahir. Keputusan Biru untuk naik banding kala itu membawa berkah bagi pihak yang disebut korban maupun tersangka. Karena dengan kebesaran hati almarhum Hendar, kini istri Hendar dan anak-anaknya yang menjadi tanggung jawab Biru justru malah ikut membantu bekerja di toko bunga juga studio miliknya.


Setelah kembali dinaungi Biru, blue’s studio berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Keberhasilan karier Biru dimulai ketika ia mendapatkan kepercayaan untuk menampilkan karyanya pada majalah tahunan The Art. Majalah tersebut juga menampilkan karya ALBIRU ADITYAWARMAN pada artikel spesial tentang Indonesia.


Tidak sampai di situ. Selain sering kali dipercaya menjadi fotografer untuk iklan produk-produk lokal ternama dan produk internasional, kini Biru sedang menggelar banyak workshop dan seminar tentang fotografi, juga tengah disibukkan dengan menerbitkan buku tentang fotografi.


Seperti sekarang ini, Biru sedang dalam perjalanan ke salah satu kampus besar dan ternama di kota Bandung untuk mengisi acara seminar fotografi sebagai pembicara atau narasumber. Ditemani Fateh, asisten pribadi sekaligus partner kerja pengganti Gentar yang sudah vakum sejak setahun lalu.


Biru dan Fateh bergegas turun dari mobil menuju gedung serba guna tempat seminar berlangsung. Melewati koridor panjang dengan pilar-pilar tinggi yang menghiasi sisi-sisi jalan langkah panjang Biru dengan cepat memangkas jarak.


“Selamat pagi Pak Albiru,” sapa Mandira seorang staf yang mengkoordinasi acara seminar tersebut.


Biru menjabat tangan Mandira, merangkul dan menepuk pelan bahu teman sejawatnya, “pagi Pak Mandira, bagaimana kabarnya? Sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu.”


“Seperti yang Pak Biru lihat, sangat sehat dan bahagia karena dapat bertemu kembali dengan Anda.”


“Waah tersanjung saya. Oh, apakah kami terlambat?”


“Tidak-tidak ... Santai sedikit, beberapa mahasiswa yang menjadi peserta seminar juga baru terlihat masuk ke gedung,” jawab Mandira lalu membawa Biru juga Bagas memasuki ruang ganti dibalik panggung, bergabung dengan kru dan narasumber lain.


Dalam seminar ini dihadiri pula Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Pengurus Cabang Jawa Barat (IJTI) Ilham Gani bersama Fania Syakila, Alumnus mahasiswa jurusan fotografi di kampus ini.


Senyum Biru benar-benar merekah tatkala melihat gedung dipadati sekitar 200 orang yang didominasi oleh Mahasiswa Film dan Televisi juga Mahasiswa jurusan Fotografi hadir dalam seminar ini. Bahkan kesuksesannya saat ini tidak pernah dengan berani ia bayangkan atau impikan setelah kasus yang menimpa dirinya.


“Beberapa kali saya memiliki kesempatan untuk mengisi seminar bareng Pak Biru, setiap kesempatan itu pula saya selalu penasaran dengan ekspresi wajah Pak Biru saat sedang menyampaikan materi tentang dunia fotografi,” ujar Ilham Gani sang Jurnalis dibalik panggung setelah acara seminar berakhir sukses.


Biru tersenyum sendu, lalu menjawab dengan perasaan haru, “Sejujurnya, setelah apa yang saya perbuat dimasa lalu, saya tidak pernah terbayangkan akan berada dititik ini, Pak Ilham. Saya sangat terharu bahwa background saya yang seorang mantan narapidana bisa diterima dengan baik di kalangan masyarakat,” Biru meraih selembar tisu untuk menyusut air mata yang tak tertahan.


“Saat sedang membagikan materi dan melihat peserta benar-benar menyimak sampai mencatat materi yang saya sampaikan, atau saat peserta dengan antusias mengikuti sesi tanya jawab selalu berhasil menggelitik hati saya. Sebaik itu dunia terhadap saya.”


“Sebagai seorang jurnalis, tentu saya sangat mengikuti perkembangan kasus Pak Biru, bahkan pada saat itu saya ingat saya sendiri yang meliput berita sampai ke kota wonosobo tempat Bu Jihan dan Jacinda tertangkap,” ungkap Ilham, “kalau diingat lagi, daripada Pak Biru yang terjebak oleh Ibu kandungnya sendiri sampai menjadi tersangka, saya lebih tidak tega dengan istri Pak Biru yang saat itu ternyata sedang mengandung,” cerita Ilham menarik ingatan Biru kembali ke masa-masa sulit mereka, “perjuangan istri Bapak juga tak kalah luar biasa.”


“Dan semua itu yang membuat saya sangat amat bersyukur dengan keadaan saya sekarang, Pak Ilham, tanpa istri dan keluarga , mungkin saya tidak akan pernah berdiri dititik ini.”


“Benar, semua berkat kebesaran Allah, kun fayakun terjadi sebab doa orang tua juga istri.”


Wajah Biru tak berhenti mengulas senyum sejak pembicaraan dengan Ilham Gani tentang takdirnya dan kuasa Allah. Ia melaju pasti meninggalkan kota kembang sejuta doa dan kenangan dan bersiap menemui keluarga kecil yang senantiasa menantinya.


“Kata Kak Dipa, seharian Cena nangis nanyain Abang,” ujar Fateh setelah membaca pesan dari kakaknya.


“Jangan katakan kita kembali hari ini, aku mau buat kejutan,” sahut Biru melirik paper bag di kursi belakang.


“Oke, Bang!”

__ADS_1


*****


“Ibu ... Ibu ... Abi kapan pulang?” tanya Cena terbata karena sesegukan setelah menangis seharian. RU'YA AZUCENA anak perempuan pertama Biru dan Kha.


“Kenapa habibatinya Ibu? Kangen Abi, ya?” Cena mengangguk sambil menahan air mata agar tak jatuh terus.


“Sini peluk Ibu,” Kha merengkuh tubuh anak berusia 5 tahu itu ke dalam pelukannya, “kita baca doa sama-sama buat Abi, ya ...” ajak Kha dan Cena menyetujui dengan anggukan kepala.


“Allahumma fighfirlii wa liwaa lidhayya warham humma kamaa rabbayaa nii shokhiroon,” lantunan doa dari mulut mungil Cena diiringi oleh Kha.


“Aamiin ....”


“Abiiiiii,” panggil Cena begitu menyadari siapa orang yang meng-aminkan doanya.


“Masya Allah tabarakallah anak Abi rindu ya,” Cena mengangguk di ceruk leher Biru, kembali menumpahkan tangis setelah bertemu dengan orang yang dirindukan, “maafin Abi yang sering kerja di luar kota ya, Sayang, in sya Allah minggu ini Abi bakal temani kakak Cena di rumah.”


“Benar, Bi?” mata Cena berbinar, “Abi bakal antar jemput Cena ke madrasah? juga bacakan dongeng tentang Nabi pas Cena sama Adik bobo?”


“Iya, dong. Minggu ini Abi punya kakak Cena sama adik,” jawab Biru semangat membuat Cena gembira.


“Buat Ibu kapan?” seloroh Kha membuat Biru menggendong Cena, membawa berdiri dan berbisik ditelinga Kha.


“Malamnya giliran buat Ibu,” Kha mencubit perut Biru hingga suaminya mengaduh.


“Ini apa, Bi?” tanya Cena saat Biru menyodorkan paper bag yang sedari tadi ditenteng.


Tepat setelahnya, BARRAQ ACHAZIA IZZAZ, yang baru berusia 5 bulan digendong oleh Mama Jihan keluar dari kamarnya.


“Assalamualaikum, Ma,” Biru menyalami tangan Jihan yang saat ini ikut tinggal bersamanya, “Izz rewel?”


“Tidak, Izz ke-bangun waktu Cena teriak panggil kamu barusan.”


Lalu Izz, berpindah ke gendongannya setelah Cena sibuk mengobrak abrik isi paper bag dengan girang.


“Ma, barusan Mama Senja bilang acaranya pengajian empat bulanannya dimulai habis ba’da isya, kita makan malam di rumah dulu saja ya, Ma,” ucap Kha memberitahukan informasi yang didapat dari Senja pada Jihan. (Spoiler alert!)


“Ya sudah, kita makan malam di rumah saja, Biru sana bersihkan badanmu lalu makan.”


“Siap!” Biru memberikan Izz pada Kha dan bersiap untuk makan malam bersama.


“Kue yang Mama pesan bisa sekalian diambil kan, Kha?”


“Bisa, Ma, nanti kita ambil sekalian jalan ke rumah Mama Senja.”


“Kenapa acaranya diadakan di rumah Senja, bukan rumah sendiri?”


“Kata Mama Senja, acaranya sekalian syukuran Barsha lulus kuliah.”

__ADS_1


Usai makan malam, mereka semua pergi ke rumah Senja untuk menghadiri acara tasyakuran 4 bulanan sekaligus kelulusan Barsha. Sejatinya, baik Biru maupun Jihan sama-sama berat tiap kali menyambangi rumah ini. Rumah dengan kenangan getir yang sempat memecahbelahkan antara mereka. Rumah yang menjadi saksi di mana kebodohan serta ketamakan menjadi tuas penghancur paling mengerikan.


“Assalamualaikum ...”


“Waalaikumussalam ... akhirnya yang ditunggu-tunggu dari tadi datang juga. Teteh, ayo masuk gabung sama yang lain,” seru Senja yang selalu heboh saat kedatangan cucunya, “Mana baby Izz, Nena mau gendong dong!”


“Nena sayangnya sama adik doang, Gak sayang sama kakak!” protes Cena lalu berlari menghampiri Awan dengan bibir tercebik mengadu pada kakeknya.


“Uluh-uluh cucu kakek merajuk lagi?”


“Kakek, Nena sayangnya sama Adik, gak sayang Cena!”


“Eh-eh, kata siapa? Sayangnya Nena mah tetap the one and only Kakak Cena dong ... baby Izz sih kebagian remah-remahnya saja,” seloroh Senja mengambil Cena dari pangkuan Awan dan memeluk cucunya yang sudah pandai merajuk.


“Remahnya segede apa, Nena?”


Senja melirik ke langit-langit dengan ekspresi gemas, “mmm, remahnya segede badannya baby Izz.”


Cena terbahak geli, “Izz badannya kecil!”


“Mana sih si tukang merajuk, mana?” Barid datang menghampiri keponakan lucunya yang selalu ingin ia goda, “baru punya adik satu saja sudah cemburuan! Gimana nanti kalau baby yang diperut tante launcing? Makin jadi kamu ya tuan putri ...” cibirnya seraya menggelitik perut Cena.


“Hahaha ampun Om Ayid, geli! Jangan lagi nanti Cena ngompol!”


“Kita foto dulu yuk mumpung semuanya sudah kumpul,” ajak Biru sembari menyiapkan kamera pada tripod.


Seluruh keluarga berkumpul membentuk barisan berdiri buat perempuan dan sebagian pria jongkok sesuai arahan Biru.


“Fateh kenapa kamu malah di situ! Sini buruan gabung!”


Biru menarik lengan Fateh untuk jongkok bersamanya dan saat bersamaan suara shutter camera mulai berderik beberapa kali tiap jeda sesaat.


“Yey! Full formasion!”


Biru mengecup kening Kha yang memeluk dirinya, menatap satu persatu senyum bahagia keluarga yang dulu sempat retak.


“Kamu menangis, Mas?”


Biru menggeleng, “Aku bahagia, Sayang. Terlahir menjadi anak Papa dan Mama, memiliki malaikat luar biasa seperti Mama Senja, ditambah ...” Biru bergantian menatap anak-anaknya, “dititipkan anugerah paling mulia yaitu kamu, Cena, juga Izz.”


Badai selalu datang tak peduli seberapa jauh kaki melangkah. Dan Hidup tak selalu adil bagi sebagian orang. Iya, sebagian orang yang tidak padai menelisik setitik celah untuk bersyukur terhadap ketetapan takdir yang sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz bahkan jauh sebelum seluruh anak adam diciptakan.


Hai, kalian yang sangat aku sayangi, maaf untuk menunggu terlalu lama karena ketidakmampuan diriku. Aku bersyukur melalui Azzam-Alsea, Awan-Senja. Dan Biru-Kha, dapat memiliki keluarga seperti kalian yang sebagian aku tidak tahu dari mana asalnya. Terima kasih tak terukur atas kesempatan berbagi kisah fiksi ini, tanpa respon kalian, aku tidak akan pernah merasa bahwa menulis adalah hobi yang menyenangkan dan bermanfaat.


Sekali lagi, Terima kasih dan maaf jika akhir cerita ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian. Love you all para pembaca yang baik hati, semoga hari-hari kalian selalu bahagia dan penuh syukur.


---END---

__ADS_1


__ADS_2