
feel weird!
Langit masih gelap juga hembusan angin yang terasa segar belum terkontaminasi polusi udara saat Kha selesai menjalankan shalat subuh. Kha duduk di kursi rotan yang tergantung di teras balkon, pandangannya terlempar jauh entah ke mana. Saat ini, suasana di luar sana semakin terasa asing, kosong seperti pikiran juga hatinya. Tidak ada satu waktu pun ia habiskan dengan suka cita semenjak itu, semenjak luka datang tanpa tanda dan menghempas suka tanpa jeda.
Keadaannya dengan Biru belum berubah masih belum bertemu maupun komunikasi, Kha benar-benar berhenti membuat podcast. Mertua dan orang tuanya pun akhir-akhir ini jarang mengunjunginya di toko, mereka hanya berkabar via telepon. Kesibukan apa yang sedang mereka jalani sehingga membuat Kha kesepian di tengah serangkaian kegiatannya.
“Makan buah saja ini, jangan melamun terus.” tegur Dipa yang menginap di rumah sejak kandungan Kha kian membesar.
“Tidak lapar, Dip.”
Dipa duduk di depan Kha, mengusap lembut perut yang kian membulat sempurna. Ketakjubannya bukan hanya dengan kehamilan Kha, tapi juga dengan kesabaran serta kekuatan yang Kha miliki.
“Sudah hampir waktunya, 'kan?” tanya Dipa sembari masih mengusap perut Kha.
“Akhir minggu ini perkiraannya. Semoga tidak meleset, aku sudah tidak sabar ketemu anakku.” Kha tersenyum getir, tersirat kesedihan di setiap inci lebar senyumannya.
“Jangan stres, ada aku yang bakal temani kamu melahirkan.” sahut Dipa menguatkan Kha.
Kha mengusap telapak tangan Dipa yang berada di atas perut dengan mata berkaca-kaca. “terima kasih banyak sudah ikhlas jaga aku, temani aku, dan menguatkan aku selama ini, Dipa.”
“Teh, yang aku lakukan buat kamu sekarang ini belum apa-apanya kalau di bandingkan sama apa yang sudah kamu kasih ke aku dan Fateh. Jangan pernah sungkan buat minta tolong ke aku, sekarang aku bisa di sini dan begini juga karena kebaikan kamu. Ingat tidak? Padahal dulu aku tidak pakai pikir dua kali buat jahat sma kamu, yang penting aku bisa pulang bawa uang buat makan Fateh sama bu Idah, seandainya waktu itu kamu laporkan aku ke polisi mungkin ceritanya bakal lain, aku tidak akan pernah lihat Fateh masuk ke universitas, aku juga tidak akan bisa penuhi janji aku ke Ningsih buat jaga ibunya sampai akhir. Aku banyak belajar sama kamu, mungkin apa yang aku dapat dari sini tidak akan cukup hanya dengan ucapan maaf dan terima kasih.”
Manik mata Kha meremang mendengar cerita Dipa saat pertemuan pertama mereka. Pemikirannya saat itu di rasa tepat meskipun ada sedikit kekesalan karena ulah Dipa, namun setelah mengetahui alasan di baliknya, bahkan Kha berulang kali berdecak kagum.
“Kok malah nangis?” tanya Dipa.
“Kamu banyak ngomong banget, masih pagi ih jangan bikin orang sedih.”
Dipa meringis, menikmati diri yang kini semakin bebas bercerita tentang banyak hal dengan Kha, “aku cuman ingin teteh tahu, ada aku yang tidak akan pernah tinggalkan teteh sampai Biru kembali,” ucap Dipa sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Sekali lagi terima kasih, Dipaya.”
*****
Kha mulai memberanikan diri mengendarai mobil sendiri dari rumah menuju rukonya, ya ... Walaupun jaraknya tak terlalu jauh apalagi dari pada mobil Biru tergelatak lebih baik ia pergunakan. Sebenarnya sudah sejak lama ia bisa menyetir mobil, namun tak pernah ia gunakan keahliannya. Baru-baru ini saja Kha berani membawa mobil, itu pun terpaksa setelah mertuanya, Barid, juga Gentar yang selalu absen mengantar jemput dirinya.
“Ini apa, Teh?" Tanya Dipa melihat sebuah koper dan storage box dengan ukuran cukup besar tergeletak di bagasi mobil.
“Itu pakaian aku sama beberapa keperluan bayi, jadi sewaktu-waktu aku rasa ada kontraksi biar tidak keteteran jadi bisa langsung jalan ke rumah sakit," Jawab Kha sembari masuk ke dalam mobil.
“Sebenarnya ... Mama, Papa, pada sibuk apa ya, Dip? Bentar lagi aku sudah mau melahirkan tapi mereka malah tidak pernah jenguk aku. Gentar sama Barid juga, Oh iya! Aku juga tidak pernah lihat Gentar di studio, iya ‘kan?”
Dipa yang duduk di kursi samping sedikit gugup menjawab pertanyaan Kha, “sibuk kali, Teh. Lagi banyak pemotretan di luar mungkin.”
“Iya, juga sih.”
“Assalamualaikum, Om. Tumben pagi-pagi kesini?”
“Waalaikumsalam, Teh, sudah datang? Ini Om ada perlu sama Mas Gentar.”
“Tante Mia mau pemotretan lagi?”
“Emm, iya mungkin nanti, Om ke dalam dulu, Teh, mau bicara sama Mas Gentar sebentar.”
Kha memiringkan kepala, segalanya terasa aneh menurutnya. Semua orang mendadak sibuk dengan urusan masing-masing tanpa pedulikan ia seperti sebelumnya. Rasa khawatir segera menggelayuti, bagaimana tidak sedang kondisi dirinya saat ini membutuhkan lebih banyak support system.
“Hmmm bismillah, tidak akan terjadi apa-apa.” gumam Kha mengusir jauh rsa gelisahnya, demi banyaknya pesanan bunga serta acara mendekor yang padat.
Tiba-tiba ...
__ADS_1
“Teteh kenapa?” tanya Asti dari balik pintu kaca, menatap khawatir Kha yang sedikit membungkuk meraba perut bagian bawah.
“Tidak apa, As, agak kram saja.” jawab Kha seraya mulutnya berdesis.
“Naik saja, Teh, Istirahat di kamar dulu ya.”
Dengan langkah penuh hati-hati Kha melangkah di tuntun oleh Asti menuju kamar atas. Merebahkan tubuh di kasur berharap kram segera mereda. Namun, satu dua jam setelahnya kram di perut bukan mereda namun justru menjalar hingga pinggang, Kha merasa nyeri di seluruh tubuh hingga kesulitan untuk bernapas. ia ingat dan sudah mempelajari ini sebelumnya, seperti tanda-tanda akan melahirkan.
“Dip, bantu aku sebentar,” pinta Kha pada Dipa melalui ponsel, mendengar suara Kha yang menghawatirkan membuat Dipa berlari menuju kamar atas.
Dipa melihat Kha tengah membungkuk bertumpu tangan di meja, dengan satu tangan memegang pinggang sebelah kiri.
“Kenapa, Teh? Ada yang sakit?” Kha tak menjawab, mukanya merah padam, menyeringai juga mendesis kesakitan. Dipa menuntun Kha duduk di atas kasur, meletakkan bantal untuk bersandar juga membatu Kha menaikkan kaki.
“Huhh huuh huuuh” Kha mengatur ritme tarikan napasnya, sedikit reda, sakitnya menghilang setelah beberapa saat.
“Kamu kenapa, Teh? Mau ke dokter saja tidak?” Kha menggelengkan kepala dengan mata tertutup.
“Nanti saja, Dip, sakitnya sudah hilang.” namun tak berselang lama nyeri itu datang kembali, dan lebih sakit dari sebelumnya. Kha menyerah dan meminta Dipa untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit.
Asti dan Boim yang melihat Dipa memapah turun Kha segera menghampiri untuk membantu.
“Boim tolong kamu panggil mas Gentar atau siapa saja yang ada di sebelah buat antarkan Teteh ke rumah sakit, habis itu kamu tutup toko.”
“Oke!”
Sembari menuntun Kha masuk ke dalam mobil, Dipa memerintahkan Asti agar tetap stand by di toko untuk mengerjakan pesanan yang sudah terlanjur di terima.
“Kha kenapa Dipa?”
__ADS_1