Dear Khadijah

Dear Khadijah
Pesan Abi


__ADS_3

...37. Pesan Abi....


Seminggu setelah hari pernikahan, Biru dan Kha memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Sudah terlalu lama mereka meninggalkan pekerjaan masing-masing, dan juga banyak pekerjaan yang terpaksa harus mundur dari jadwal yang telah ditentukan. Sebelumnya, Kha telah membawa Biru menjelajahi sudut-sudut kota Jogja yang menawan, merekam memory pertama sebagai pasangan halal, serta membeli beberapa oleh-oleh yang akan mereka bagikan kepada karyawannya nanti.


“Teteh, bawaanya banyak gini apa nggak sebaiknya pakai pesawat saja biar nggak repot?”


Biru menelinga dari balik kamar, selagi membereskan lensa serta MacBook ke dalam tas jinjingnya. Sebenarnya ia sudah memboking pesawat untuk mereka berdua, tapi Kha ingin menggunakan transportasi kereta api, mau tak mau Biru pun membatalkan tiket yang sudah ia pesan tanpa sepengetahuan istrinya.


“Cuma koper Mas Biru sama Koper jajanan kok, Ummi. Kha nggak bawa apa-apa, Insya Allah nggak repot.”


Alsea masih terus membujuk Kha, takut jika hal buruk kembali menimpa putrinya. Biru mendengar, terakhir Kha menggunakan KA dan hampir saja kena jambret. Mungkin saat mereka bertemu di stasiun bersama Dipaya, tapi Kha tetap kekeuh pada pendiriannya untuk berangkat ke Jakarta menggunakan KA. Tak mau hal ini menjadi perdebatan, Biru pun keluar kamar untuk meyakinkan Alsea.


“Nggak apa, Ummi, 'kan sekarang sama aku.”


“Kamu yakin enggak kerepotan sama semua bawaan ini?” Alsea menunjuk 2 buah koper dan tambahan 1 kardus besar entah berisi apa.


“Bisa ditaruh bagasi atau kompartemen, Ummi, Nggak akan repot.”


Alsea menghela napas berat. Seberat ia mengizinkan Kha pergi.


Dari tirai bambu yang menjadi sekat antara living room dan dining room, Gamyabmenyahut.


“Teteh sama Mas Biru mau membuat kisahnya sendiri, Ummi. Nggak kayak Abi sama Ummi yang menjadikan bandara tempat keramat,” ujar Gamya terkekeh.


“Tempat keramat gimana maksudnya?” tanya Alsea tak paham.


Gamya terbahak sebelum menjawab, lalu terdiam kala Alseae membulatkan mata. “Gam tahu di bandara Ummi dipertemukan sama Abi, Gam juga tahu drama ketinggalan dompet jadi jodoh.”


Seketika Alsea membelalakan mata mendengar cerita Gamya.


“Tahu dari mana Mas Gam?” tak meneruskan kalimatnya, Alsea menerka sendiri, “Pasti Om Abyaz, nggak mungkin Pakde Sean.”


Kha dan Biru masih saling menatap melihat obrolan Gamya dan Alsea.

__ADS_1


“Jadi bener Ummi? tragedi ketinggalan dompet jadi jodoh?” seloroh Gamya.


Alsea terdiam. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan mengatur barang yang akan Biru dan Kha bawa.


“Bener, Ummi? Teteh juga penasaran ini mau denger ceritanya.”


“Sok tahu saja kamu itu!” suara Azzam terdengar menyahut, mendekati Gamya yang duduk di ruang makan. “Bukan di Bandara pertama Abi lihat Ummi kalian, tapi dipesawat. Pas Abi mau kesini sama Om Rizwan, eh ternyata ada bidadari berwajah sendu duduk di samping Abi.”


“Ciee Ummi, Bidadari berwajah sendunya Abi.”


Kerlingan mata Azzam sontak membuat gaduh. Kha yang mencie cie kan Umminya serta Gamya yang bersorak geli.


*****


Alsea dan Azzam sendiri yang mengantarkan mereka ke Stasiun Tugu Yogyakarta. Kha berpamitan dengan memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.


“Jaga diri baik-baik. Jadi istri Sholehah, yang menuruti setiap perkataan baik suamimu. Ciptakan rumah tangga yang sakinah, yang selalu menyertai Allah apapun keadaannya,” Kha mengeratkan pelukan bersama Alsea. Biru pun membantu Kha agar tak terlalu sedih dengan mengusap lembut punggung istrinya.


“Kenapa, Abi?”


Azzam mengulas senyum, ia di rengkuh oleh Azzam, di peluk dan di tepuk punggungnya.


“Abi titip anak perempuan Abi satu-satunya. Didik dia agar menjadi istri yang berbakti bukan hanya kepadamu, tapi kepada orang tua kamu tanpa melupakan orang tuanya. Jaga Khadijahnya Abi sebagaimana Abi menjaga selama ini. Jika Kha melakukan kesalahan, tegur dia secara halus, Abi yakin Kha akan mengerti.”


“Baik, Bi. Insya Allah aku jaga Kha sebaik mungkin.”


“Abi tidak menginginkan ini terjadi, tapi jika suatu saat terjadi, maka dengarkan kata Abi. Jika suatu saat kamu sudah tidak sanggup menjaga anakku, jangan sakiti dia, jangan ucapkan apapun kepada dia, kembalikan langsung kepada Abi tanpa harus melukai anakku.”


“Naudzubillahimindzalik, Bi. Aku pastikan tidak akan pernah melakukan apa yang Abi Khawatirkan. Menikahi Kha adalah suatu berkah besar yang aku terima, tolong ikhlaskan putri Abi aku jaga selayaknya Abi menjaga selama ini. Mungkin tak akan sebaik Abi, tapi aku pastikan dapat setulus Abi.”


“Abi percaya kamu, Nak.”


Perpisahan yang cukup mengharukan, lambaian tangan Kha disertai deraian air mata membuat pemilik almond eyes membasahi sebagian hijabnya.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju peron dengan masing-masing dari mereka menggeret koper, serta tangan lain Biru menjinjing kardus besar. Dibangku peron Biru dan Kha duduk bersebelahan, menunggu kereta mereka datang.


“Aku baru kali ini naik kereta, ramai juga ternyata,” aku Biru.


Kha tersenyum manis mendengar pengakuan suaminya. “Jadi ini pengalaman pertama, Mas?”


Biru mengangguk.


Tidak seperti bayangan Biru, suasana stasiun yang ramai membuat dirinya harus berdiri bersisian dengan para calon penumpang lainnya. Ia mengedarkan pandangan, menelisik setiap orang yang menunggu kereta dengan ekspresi wajah berbeda-beda. Disamping Biru duduk seorang Ibu tengah memangku anaknya, serta berdiri dua orang laki-laki didepannya. Beberapa orang juga tampak duduk lesehan didepannya. Selama ia mengamati sekitar, salah satu pasang mata membuat Biru sedikit mengernyit.


Ada seorang pria beransel, stylenya mirip Barid jika ingin pergi mendaki. Bersandar di tiang besar tak jauh dari tempat mereka duduk, sorot matanya tertuju ke sebelahnya, Biru melihat Kha tapi ternyata istrinya tak menyadari jika sedang di tatap pria lain.


Awalnya Biru mengabaikan, namun lama kelamaan menjadi jengah saat tatapan pria itu makin intens. Belum lagi bibirnya selalu melengkung setiap memandang Kha.


Biru membuka tas jinjing miliknya, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan.


“Ada yang ketinggalan, Mas?” tanya Kha.


Biru tak menjawab, ia mengeluarkan masker penutup wajah dari dalam pouch beserta konektor lalu memberikan pada Kha.


“Kamu pakai ini.”


“Masker? memang kenapa?”


Biru masih tak menjawab, matanya melirik pria yang sedari tadi masih menatap Kha. Kha mengikuti ekor mata Biru, lalu menyadari pria yang berdiri tak jauh darinya melemparkan senyum terhadap dirinya.


Jadi???


“Aku nggak suka orang lain lihat kamu begitu, pakai maskernya,” perintah Biru.


Kha pun mengikuti kemauan Biru dan memakai masker yang dikaitkan dengan konektor. Dari balik masker ia tersenyum bahagia.


Ternyata seperti ini rasanya dijaga.

__ADS_1


__ADS_2