
...13. Resah...
Khadijah.
Mata lentik Kha mengantarkan Barid mengayuh langkah beratnya. Bukan hanya Barid, sebenarnya ia telah melihat puluhan punggung pria yang berjalan gontai usai penolakan darinya. Bahkan puluhan CV ta'aruf yang di sampaikan oleh Ummi Saidah, dari salah satu pondok pesantren di Jogja pun hanya tergeletak di meja belajar. Lantaran tidak ada satu dari puluhan CV ta'aruf itu mampu menyentuh relung hatinya.
Ribuan doa yang di langitkan sejauh ini hanya tentang keluarga dan usaha. Perkara jodoh, sama sekali belum terbayangkan. Ditambah Ummi dan Abi tidak pernah sekalipun menyuruh atau sekedar menanyakan perihal pernikahan, membuat Kha tak terlalu memikirkan jodoh.
“Kasihan... Ternyata selama ini beli bunga karena ada maksud tertentu.” ujar Dipa menatap keluar ruko.
Kha tersenyum hambar. Ia tak merasa bersalah, karena pada dasarnya dirinya tidak pernah memberi atau menaruh harapan untuk Barid.
“Tadi Mas Gentar kesini ada perlu apa?” tanya Kha mengalihkan perhatian Dipa. Padahal ia sendiri mendengar percakapan Dipa dengan Gentar saat ada Barid tadi.
“Kita siapin bunga buat pesanan besok.” lalu meninggalkan Dipa yang masih duduk di meja kasir.
Dari lantai dua, Kha menilik kembali kebawah. Sudah tidak ada mobil Barid disana. Netranya menerawang lampu jalan yang sebagian telah menyala sore itu.
“Huuuft, Astaghfirullahaladzim.” perasaan Kha baik, tapi juga tergambar sedikit rasa yang ia sendiri tidak dapat menerka. Sesaat Almond eyes nya melirik kembali kebawah. Kali ini dua sudut bibirnya terangkat, melihat Biru berdiri disamping mobil sembari meraba bagian saku-saku jaket dan celana. Sudah dapat dipastikan pria itu sedang mencari kunci mobil. “Dasar ceroboh!” ejek Kha lirih.
Bibirnya kembali mengatup, begitu sadar Biru juga sedang memandang ke atas. Buru-buru Kha menutup tirai dan berbalik badan.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Biru.
__ADS_1
Biru meletakkan tas kamera di meja kerja, lalu menuju pantry untuk membuat kopi. Sengaja ia memakai sistem kerja mandiri, tidak ada office boy atau girl yang akan membantu melayani para karyawan. Biru hanya memakai jasa Fateh, adik dari Dipa untuk bersih-bersih setelah studio tutup.
Ini hari yang panjang dan melelahkan. Setelah pemotretan di acara gender reveal, Biru meeting bersama salah satu perusahaan yang ingin mengontrak jasanya untuk acara peluncuran produk baru Minggu depan.
Demi merintang penat, Biru menyesap kopi buatan sendiri yang ia buat dengan mesin drip.
Mengirup halus aroma kopi dari kepulan asap panas.
“Hmmm,” bergumam merasakan nikmatnya kopi.
Biru mengambil kamera dari tasnya, lalu mulai memindahkan foto ke dalam laptop. Segera ia mulai bekerja, memilah semua foto dan video yang akan di edit.
“Bi, katalog pesanan Bu Mia selesai cetak. gue minta alamat buat kirim barang.” pinta Gentar.
Biru diam sejenak, lalu berdiri mensejajarkan diri dengan Gentar “Biar gue aja yang kirim, Tar. Sekalian mau lihat responnya. Kalau nggak puas biar bisa gue edit ulang.”
Biru mencari secarik kartu nama Tante Mia untuk melihat alamat butiknya. Sementara Biru memasang alamat pada maps, Gentar menceritakan apa yang ia dengar siang tadi. Seperti ragu Gentar menanyakan. “Adek Lo suka, Kha?”
Aktivitasnya terhenti, guratan kening terlihat jelas ketika Biru menautkan alis. “Maksudnya?”
“Fateh udah dua hari nggak masuk, tadi gue samperin Dipa mau nanyain adeknya kemana? Kok dari kemarin Dipa terus yang bersih-bersih.” cerita Gentar “Tapi pas gue lagi ngobrol sama Dipa, gue denger Barid ngundang Kha ke wisudanya nanti. Barid bilang Kha orang yang penting, jadi harus datang.” sambungnya.
Biru memijat pelipisnya. Ternyata alasan Barid selama ini sering berkunjung adalah Kha. Sampai diundang ke acara wisuda yang biasanya hanya dihadiri oleh keluarga. Bahkan Biru sama sekali belum mendengar tentang acara wisuda Barid. Benarkah Barid menyukai perempuan yang terpaut usia beberapa tahun diatasnya?
“Gue nggak tahu, Tar.” Biru lesu. Entah apa alasannya, tapi mendengar cerita Gentar membuat semangatnya luntur. “Lo terusin ngedit. Gue anterin barang dulu.”
__ADS_1
Biru menanggalkan tas dan hanya membawa ponsel serta dompet. Dari halaman parkir ia melihat pantulan Kha di lantai dua ruko. Perempuan itu tersenyum kearahnya. Ingin sekali ia menghampiri Kha, menanyakan perihal undangan Barid. Namun Biru rasa itu terlalu melewati batas, Biru pun membalas senyuman lalu pergi dengan mobilnya.
***
“Masya Allah. Bagus banget hasilnya, Mas. Deskripsinya juga tepat nggak ada yang keliru.” ujar Mia takjub melihat hasil katalognya.
“Tante Bisa lihat hasil videonya disini,” Biru meletakkan flash drive di meja kasir.
“Hmmm, nggak perlu dilihat. Hasilnya juga pasti sama memuaskan, kalau begini Tante bakal langganan pakai jasa Mas Biru.”
“Silakan, Tante. Dengan senang hati.”
Setelah melakukan transaksi, Biru ingin pamit undur diri. Tapi urung dilakukan saat salah satu anak kembar Tante Mia datang membawa nampan berisi cangkir teh dan camilan.
“Diminum dulu, Mas.” perempuan itu meletakkan cangkir dan sepiring camilan.
Biru mengulum senyum. Mengucapkan terima kasih lalu menyeruput teh hangat.
“Bunda. Biar Aludra yang cek videonya.” ucap sikembar yang ternyata bernama Aludra. Tante Mia menyerahkan flash drive pada anaknya.
“Boleh dilihat dulu, Kak. Kalau memang ada bagian yang kurang sreg biar bisa saya edit ulang.” Aludra melemparkan senyum manis kepada Biru kemudian berlalu menuju meja kerja.
Biru menunggu dengan perasaan gelisah. Sudah berpuluh kali ia menyetel ulang video hasil suntingannya, ia pun merasa puas. Tapi kembali lagi bahwa selera orang tidak semua sama. Belahan rambut juga turut menjadi korban kegelisahannya. Ia terus saja menyugar rambut lalu menutup kembali dengan topi. Detak jantungnya juga mendadak maraton melihat Aludra berjalan mendekat.
“Waaaah... Memang nggak perlu diragukan lagi skill Mas Biru. Aludra suka sama hasilnya, Bun. Habis ini bisa langsung aku posting di akun sosmed butik.” Biru menghela nafas lega. Ucapan Aludra bak oasis ditengah gurun pasir.
__ADS_1
“Kalau begitu saya pamit dulu, Tante Mia.” Tante Mia dan Aludra mengantarkan Biru hingga depan butik. Sebelumnya Tante Mia juga memberi dua kotak kue buatannya, dan meminta tolong menitipkan satu kotak lagi untuk Kha.
“Terima kasih buat kerja kerasnya, Mas Biru. Semoga kelak kerja sama kita terus berlanjut.” ucapan Aludra mengiringi langkah panjang Biru hingga ia menghilang kedalam mobil.