
...41. Dia Kha! Aishleen Khadijah istriku....
Dua minggu setelah Kha mulai kembali beraktivitas, hampir setiap hari ia keluar toko untuk memeriksa dekorasi ke beberapa tempat. Terkadang ia disatukan pekerjaan dalam satu tempat bersama Biru, namun lebih sering tidak karena Biru memprioritaskan kerja sama antara studionya dengan perusahaan fashion.
Sudah dua malam, ia dan Biru menginap di lantai dua toko bunga, itu pun setelah perdebatan panjang dengan Mama Senja yang tidak mengizinkan dan menginginkan mereka tetap tinggal bersama. Lelah karena harus bolak-balik menjadi alasan terkuat yang mampu meluluhkan hati Mama Senja.
Kha sedikit lega karena pada akhirnya ia tidak lagi harus bertemu Barid setiap pagi dan malam. Bukan menyimpan dendam, Kha hanya merasa canggung dan selalu teringat bagaimana cara Barid melepaskan hijabnya tanpa izin dan menyentuhnya sesuka hati.
“Kita perlu ganti kasur nggak sih, Mas? yang ini kesempitan buat kita,” keluh Kha didepan ranjang berukuran minimalis miliknya.
Biru melongok dari balik laptop, “Kenapa diganti, ini juga masih bagus kok, Sayang.”
“Kurang luas, bikin ruang gerak kita jadi terbatas 'kan.”
“Aku aja yang gerak, kamu nggak perlu.”
Sembari melepaskan cadarnya, Kha menatap tajam Biru. Walaupun tengah fokus memilah foto-foto hasil jepretannya, otak Biru selalu cepat tanggap dengan hal yang berbau sensitif.
“Larinya kesitu, aku lagi bahas apa kamu jawab apa,” gumam Kha lirih.
Mendengar suara serak Kha, Biru meletakkan laptop tanpa menutupnya, menghampiri Kha yang memainkan kaki di ujung ranjang.
Biru duduk disamping Kha dengan melipat satu kaki di ranjang, membelai rambut hitam legamnya yang terurai. “Sementara, biarkan seperti ini saja, Aku janji secepatnya akan memberikan tempat yang layak buat kamu.”
“Ish, maksud aku nggak gitu, Mas... Aku suka kok tinggal disini, dimana aja asal ada kamu,” jawab Kha membuat Biru tersenyum penuh kemenangan, “Aku cuma mikirin tempat tidur kita, biar nyaman, biar waktu istirahatnya maksimal,” sambung Kha dengan suara serak-serak menggoda.
Biru tak kuasa menahan tawa melihat ekspresi lucu Kha yang memajukan bibirnya. Ia tarik katupan bibir Kha dengan gemas.
“Istri siapa sih ini lucu banget.”
__ADS_1
“Istri Albiru Adityawarman! yang cuek, dingin, dan menyebalkan!”
“Tapi kamu suka....” seloroh Biru menggoda.
“Aaak!!” suara teriakan Biru melengking memenuhi ruangan saat cubitan dari tangan Kha mendarat di perut sampingnya.
“Sakit, Sayang!”
“Lagian kamu reseh!” “Nih! Nih! Nih! rasain”
Biru meloncat, merangsek keatas ranjang begitu mendapat cubitan bertubi-tubi dari Kha. Kha terus berusaha mencubit sekenanya tanpa memperdulikan Biru yang berteriak memohon ampun. Namun berhenti saat kedua pergelangan tangannya berhasil di kunci oleh Biru. Detik itu juga Biru menubruk Kha sampai mereka sama-sama terjatuh ke atas ranjang.
(Mon maap sekip yak, maki aja author nya) 😂
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Kha tengah menyapu halaman parkir depan ruko saat mobil MVP premium tiba didepan rukonya. Tadinya ia pikir salah satu pelanggan toko bunga atau studio photo. Namun tak lama setelahnya, dua pasang kaki jenjang nan indah turun dari mobil.
Kha meletakkan sapu ke badan pohon angsana, mengibaskan tangan dengan ujung gamis lalu menghampiri Mama Jihan.
“Assalamualaikum, Ma...,” sapa Kha dari balik mobil yang ditumpangi Jihan.
Jihan menoleh dengan gaya, melepaskan kacamata lalu menanggalkan pada kepalanya.
“Kamu? kirain tadi tukang sapu,” ucap Jihan tanpa menyaring ucapannya.
Kha tak tahu harus bersikap seperti apa, tidak masalah jika Jihan tak melihatnya tadi, tapi ucapan Jihan jelas sedikit menggusarkan hati. Ia menarik kedua sudut bibir, tetap tersenyum meski melihat perempuan disamping Jihan seperti tertawa mengejek.
“Anakku ada, 'kan?”
__ADS_1
“Mas Biru sedang ada pemotretan dibutik Tante saya, Ma. Tapi mungkin sebentar lagi akan sampai, sejam yang lalu bilang kalau pemotretan hampir selesai.”
“Oke, aku tunggu dikantor Biru saja,” ujar Jihan kemudian berjalan masuk studio disusul perempuan tadi, “Oh, Ya! buatkan saya dan tamu saya minum!”
Kha mengangguk lalu mengikuti Jihan berjalan dibelakangnya. Dari dalam studio, Gentar yang melihat Jihan datang mempersilahkan untuk menunggu di kantor Biru. Sedangkan Kha, berlalu menuju pantry untuk membuatkan minum. Ia melihat isi kulkas Biru yang sebagian besar berisi minuman kaleng dan cemilan ringan, Kha pun berinisiatif membuatkan 2 cangkir teh hangat untuk Jihan dan temannya.
“Teh panas? kamu nggak tahu diluar cuaca lagi panas gini? terus kamu malah buat teh?! panas pula!” tegur Jihan, begitu Kha meletakkan cangkir diatas meja.
“M-maaf, Ma... Saya ganti yang lain,” Kha mengambil cangkir teh tersebut dan membawa kembali, di pantry ia bertemu Gentar.
“Bang Gentar mau buat minum? teh aja mau nggak?”
Kha meletakkan teh diatas meja dapur lalu beralih membuatkan minuman dingin dan kembali mengantarkan untuk Jihan. Menit berikutnya, Kha kembali ke pantry mengobrak-abrik isian kulkas, tak ada cemilan disana, hanya snack ringan kepunyaan pegawai studio. Tanpa memperdulikan tatapan Gentar yang mengekori dirinya, Kha berlarian ke toko bunga, mengambil sekaleng biskut dan bolu kukus yang ia buat sendiri tadi. Ia letakkan pada piring kemudian membawa kembali pada Jihan.
Kha berdiri memegang nampan, memandang sendu teman Jihan yang mencibir dengan tawa camilan yang ia sajikan.
“Ini makanan apa sih, Tante? Serius aku nanya, kayak kaleng kaleng yang biasa pembantu aku beli buat THR orang-orang dikampung nya,” perempuan itu menggeser-geser kaleng dengan telunjuknya, lalu mengangkat bolu kukus buatan dirinya. “Ini apa lagi? aman dimakan nggak?”
“Singkirin ini semua! makanan apa sih ini udik banget!” hardik Jihan mengibaskan tangannya.
Kha menunduk, mengangkat kembali kaleng biskut dan piring ke atas nampan, namun saat dirinya membalikkan badan, ternyata Biru sudah berdiri di belakangnya dengan mata merah menyala.
Biru mengambil nampan dari tangan Kha, satu tangan lainnya meraih tangan Kha dan menggenggamnya erat.
“Dia Kha! Aishleen Khadijah istriku yang sah dimata hukum dan agama. Aku menikahinya untuk diriku, bukan untuk dijadikan pesuruh kalian!” ucap Biru pelan namun penuh penekanan, lalu beralih menatap teman Jihan, “Apalagi buat perempuan tidak tahu diri sepertimu!”
“Biru! jaga ucapan kamu ya! dia tamu Mama!”
“Bawa dia pergi dari sini! Dia bukan tamuku dan tidak diterima disini!”
__ADS_1
Dengan kekesalan teramat sangat, Biru menyeret Kha keluar dari studio. Kha di tuntun untuk naik mobil, mata Kha sampai terpatuk ujung topi Biru saat suaminya memasangkan seat belt. Tanpa berbicara, Biru membawa pergi Kha dari halaman ruko.