Dear Khadijah

Dear Khadijah
Dia istriku.


__ADS_3

...34. Dia istriku. ...


Biru mengatupkan bibirnya. Teriakan Gamya otomatis membuat mereka melangkah mundur untuk memberi jarak. Satu usaha pendekatan pun gagal dilakukan. Akhirnya mereka berdua memutuskan keluar, melaksanakan kewajiban yang sempat tertunda.


Setelah selesai, Kha pamit ke kamar terlebih dahulu, sedangkan Biru dipanggil Azzam untuk ikut masuk ke dalam ruang kerja. Ia melihat banyak tumpukan buku disana, mulai dari buku bersejarah, buku tentang bisnis, dan masih banyak lainnya tertata rapi di rak buku.


Di dalam ruangan yang tak terlalu luas, Biru duduk berhadapan dengan Azzam.


“Kamu masih terkejut dengan pernikahan dadakan ini, bukan?” tanya Azzam.


Ia tersenyum tipis. Mustahil Biru tak terkejut, sampai detik ini pun ia masih belum percaya jika dirinya telah resmi menikahi gadis yang selalu ia sebut 'gadis dari toko sebelah'


“Apa kamu menyesal?”


Kali ini Biru menggeleng cepat, “Sama sekali tidak, Abi. Justru saya sangat bersyukur.”


“Alhamdulillah kalau begitu,” balas Azzam lega, “Karena memang pada dasarnya, niat baik harus disegerakan. Kita tidak pernah tahu apa saja yang bisa terjadi didepan untuk menghalangi niatan baik.”


Azzam menceritakan bagaimana perjuangan dirinya menikahi Alsea. Dari situ Biru tahu, sebab kenapa Azzam ingin dirinya lekas menikahi Kha. Karena tak ingin niat baik urung karena godaan dari luar.


Tak terasa, mereka berbincang hingga tengah malam. Azzam belum menunjukkan tanda-tanda akan menyudahi obrolannya. Mereka masih membahas tentang rencana mengadakan acara resepsi saat Alsea datang menegur keduanya. Andaikata Alsea tidak datang, mungkin Biru akan menghabiskan malam pertama dengan Azzam bukan Kha.


Ia kembali naik ke kamar Kha, perlahan ia membuka pintu agar tak mengganggu kalau-kalau sang pemilik kamar sudah tidur. Benar saja, begitu pintu terbuka, terlihat punggung Kha yang membelakanginya menghadap tembok.


Rambut hitam legamnya tergerai apik menutupi bahu hingga punggung. Cantik! Hanya melihat siluet tubuh Kha dari pantulan bayangan saja membuat dadanya berdesir. Hembusan napasnya teratur, menandakan Kha dalam keadaan pulas. Biru mengambil bantal lalu meletakkan di kasur lantai yang sudah dipersiapkan oleh Kha.


Geraman halus keluar dari mulutnya, akhirnya ia bisa meregangkan punggung setelah perjalanan panjang hati ini. Ia memiringkan tubuh, menatap punggung Kha yang belum berubah.


Dia istriku.


Senyumnya samar, lalu merangkak naik ke kasur sekedar meninggalkan kecupan lembut dikepala Kha.


Sudah halal. Itu yang terlintas saat Biru meninggalkan kecupan pada kening istrinya, namun Biru enggan mengganggu tidur Kha yang terlihat begitu nyenyak. Akhirnya ia pun tetap tidur di kasur lantai.


Selamat Tidur, Kha....


...🌼🌼🌼🌼🌼...

__ADS_1


Khadijah.


Kha terjaga disepertiga malam. Entah kenapa malam ini ia sangat menikmati waktu tidurnya. Tubuhnya terasa ringan, mungkin karena terlalu lelah dengan hari kemarin. Ia menyibakkan selimut, ingin turun dari ranjang tapi terkejut setelah mendapati laki-laki tidur lesehan dibawah ranjang.


“Astaghfirullahaladzim....” gumamnya dengan tangan membekap mulut.


Ia raih selimut bekas pakai dirinya untuk menyelimuti tubuh Biru yang tertidur meringkuk di bawah. Masih menggunakan Koko bekas akad semalam, hanya di timpa dengan Hoodie hitam andalannya.


“Makasih, Tar,” ucap Biru dengan suara parau. Ia terkekeh, seringnya tidur dengan Gentar, Biru menganggap kawannya lah yang memberi selimut.


“Suamimu belum bangun, Teh?” tanya Ummi.


“Belum, Ummi. Semalam Kha nggak tahu Mas Biru masuk kamar jam berapa,” balasnya tersipu malu.


“Kelakuan Abi kamu itu, kalau sudah ngobrol sampai lupa waktu!” gerutu Ummi, “Biarkan Biru istirahat dulu, pasti capek banget.”


Hanya Ummi, Syamier, dan dirinya yang bangun sholat malam. Abi sendiri sudah melaksanakan sebelum tidur tadi.


Syamier kembali ke kamar setelahnya, Kha sendiri menyusul Ummi yang tengah menyesap teh hangat di meja makan. “Ummi nggak tidur lagi?”


Kha mengalungkan tangan ke lengan Alsea, merebahkan kepala di bahu Umminya.


“Sudah jadi istri orang, masih mau manja-manjaan?”


Kha menenggelamkan wajah dilengan Alsea. “Teteh kangen, Ummi.”


“Puasin kangennya sama Ummi,” ucap Alsea mengusap lembut pipi Kha. “Jadi istri yang baik ya, Teh. Yang bisa menyenangkan hati suami. Ingat, ketaatanmu pada suami akan mengantarkan kamu menuju surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki. Yang bisa mengerti keadaan suami. Mampu bertahan dalam keadaan terburuk sekalipun.”


“Iya, Ummi. Doakan rumah tangga kami ya, Ummi.”


“Selalu, Nak. Doa Ummi akan selalu menyertai rumah tangga kalian.” jawab Ummi dengan meninggalkan kecupan di dahi Kha. “Oh, Iya. Jangan lupa, sampai dijakarta nanti, silaturahmi sama Ibu kandung Biru ya, Teh.”


“Insya Allah, Ummi. Nanti Kha bilang sama Mas Biru.”


Masih dengan mukena, Kha membuka jendela-jendela rumah dari lantai bawah hingga atas. Menyambangi kamar Gamya dan Syamier untuk membangunkan adik-adiknya agar tak terlambat berjamaah ke masjid. Terakhir, ia masuk kedalam kamarnya sendiri, melihat apakah suaminya sudah bangun atau belum.


Ternyata yang dicari sudah tidak ditempat. Alas tidur bekas pakainya juga sudah terlipat rapi disudut lemari, bahkan selimut yang ia berikan untuk Biru terlipat rapi diatas kasur. Rupanya Biru tengah berada didalam kamar mandi, terdengar dari suara gemericik air.

__ADS_1


Saat melihat Biru keluar dari kamar mandi, Kha terkesiap. Pandangannya membatu sekejab. Muka bantal tak terlihat meski Biru kurang tidur, malah terlihat segar karena tetesan air dari helai-helai rambut.


“Sudah halal, Kha. Boleh dilihat terus tapi kita jeda dulu ya....” seloroh Biru. Ia sempat mengernyit, merasa Dejavu dengan kalimat yang diucapkan suaminya.


“Silakan duduk, eh- berdiri di sebelah suaminya, Mbak Khadijah,” sambung Biru. Tak lama ia teringat dengan godaan Ustadz Ahmad saat menggoda Biru semalam.


“Ish! Receh!”


“Ish! Receh!” ucap mereka bersamaan.


“Kok, bisa tahu aku mau ngomong apa?”


“Namanya juga jodoh!” ucap Biru menggoda.


Lagi, Kha merasakan jantungnya berdetak lebih cepat seperti semalam. Begitu Biru memangkas kembali jaraknya lalu mendaratkan tangan di pipi, ia terbuai. Pria yang biasa ia lihat setiap harinya tanpa perasaan apapun, kini berubah menjadi pria pemacu adrenalinnya.


Sentuhan selanjutnya dari pria pertama


Wajar saja. Selama 26 tahun ia hidup, hanya Biru seorang yang dengan berani menghadap Azzam, lalu membawa kedua Orang tuanya jauh-jauh datang ke Jogja. Padahal, bukan tidak ada pria yang menginginkan Kha untuk dijadikan istri sebelum Biru. Ada puluhan CV ta'aruf datang bahkan pinangan lewat perantara tokoh ulama pun banyak tersampaikan kepada Azzam.


Hanya saja Kha pernah berpesan pada Azzam.


Siapapun itu, yang berani datang kerumah menemui Abi dengan niatan baik, tanpa harus melalui kiriman CV maupun salam lewat perantara. Insya Allah Kha siap menerima.


Dan ternyata, Birulah orangnya.


(Delete soon)


Assalamualaikum. hai bestieeee ❤️ apa kabar?


semoga kalian dalam keadaan sehat dimanapun kalian berada (Aamiin)


maafkan aku yang tiba-tiba menghilang 😢 sebenernya gak tiba-tiba juga sih, karena aku selalu membagikan kegiatan atau informasi melalu Instagram aku (emyaysel).


jadi aku mendadak libur up karena habis sakit, berurutan dari suami, anak 1, anak 2, terakhir aku sendiri yang tumbang 🤦🏻‍♀️


I'm so sorry. ngecewain kalian karena gak tepatin janji buat rajin up. maaf yaaaa

__ADS_1


__ADS_2