
...31.Hari ini siap?...
Biru.
Awan masih sibuk memeriksa pabrik bersama Barid. Senja juga masih mempersulit diri dengan bawaannya yang seabrek. Entah barang apa saja yang ia bawa untuk sekedar bersilaturahmi ke rumah Kha. Biru hanya dapat menggelengkan kepala melihat barang-barang yang terlihat seperti seserahan.
“Bi, sini!” Biru mendekati Senja. Ekor matanya terus mengikuti Senja yang sedang melepas cincin pada jari tengahnya. “Ini cincin yang Mama dapat dari Oma Utari, saat Papa melamar Mama waktu itu. Sekarang saatnya kamu berikan pada gadis pilihanmu, Nak,”
Biru menerima uluran tangan berisi cincin emas putih berhiaskan batu pertama kecil berwarna biru. “Kita 'kan baru mau silaturahmi, Ma? Kenapa harus ngasih cincin Mama buat, Kha?”
“Sayang... Sepengetahuan Mama, gadis seperti Kha ini tumbuh dewasa didalam keluarga yang cukup agamis. Orang tua yang paham agama tidak akan pernah membiarkan anak perempuannya menjalin hubungan dengan lawan jenis diluar niatan baik. Dalam tahap pengenalan atau mereka biasa sebut ta'aruf pun tidak boleh berlangsung terlalu lama,” tutur Senja.
“Mama mau tanya satu hal sebelum semuanya terjadi. Seberapa serius Abang sama Kha?”
Biru mengamati cincin ditangannya. Tidak terpikirkan olehnya sebelum ini. Biru memang menyukai Kha, menyukai kepribadian Kha, dan memiliki rasa ingin melindungi Kha, tapi semua ini jelas berawal dari ketidak sengaja an dirinya mencetuskan kata 'calon istri' didepan Jihan. Demi menghindari permintaan konyol Jihan, lalu berakhir dengan keadaan yang cukup serius.
“Bang... Mama nanya, Kok, malah melamun! Abang gimana? Serius sama Kha nggak? Kita sudah jauh-jauh kesini jangan sampai Abang nggak punya niatan baik buat Kha,”
“Ada, Ma. Biru nggak bisa jelasin seberapa serius Biru dengan Kha. Tapi Biru ada niatan baik, aku mau lamar Kha terus nikahin dia,”
Senja nampak tersenyum lega. Ia dipeluk oleh Senja, pelukan biasa namun kali ini lebih erat dan menenangkan.
“Nggak sia-sia Mama bawa ini semua,” ucapnya menunjuk hadiah yang akan ia berikan pada Kha dan keluarga. Biru sempat terkejut, ternyata sejauh itu Senja bertindak. Menyiapkan semua barang yang biasa dijadikan sebagai barang seserahan seorang diri.
“Sudah siap semua, Ma?” tanya Awan yang baru masuk ke kamar hotel bersama Barid.
“Sudah, ayo kalian juga siap-siap, bantuin Mama turunin semua barang ini ke mobil.”
*****
Sepanjang jalan kenangan
Kita s'lalu bergandeng tangan
Sepanjang jalan kenangan
Kau peluk diriku mesra
Hujan yang rintik-rintik....
“Papa apaan, sih! Nggak jelas banget nyanyinya lagu lawas gitu!” Acha melemparkan protes mendengar Awan bersenandung lagu lawas kepunyaan Tetty Kadi.
Sengaja aku datang ke kotamu
Lama kita tidak bertemu
Ingin diriku mengulang kembali
Berjalan-jalan bagai tahun lalu
“Biarin, Cha... Papa kamu lagi nostalgia,” celetuk Senja.
Awan tersenyum sembari terus mendendangkan lagu, tak memperdulikan anak gadisnya menggerutu. Saat melewati jalan titik nol kilometer, Awan memgerlingkan mata kearah Senja. Membuat risih pandangan ketiga anaknya.
__ADS_1
“Ma... Ingat tempat ini, nggak?” tanya Awan. Senja membuang arah pandang tak menghiraukan candaan Awan.
“Emang kenapa sama tempat ini, Pa?” tanya Barid penasaran. Awan masih tersenyum menggoda Senja, padahal Biru dan Barsha telah memasang telinga ingin mendengar jawaban Awan.
“Start from here, 'kan, Ma?” goda Awan lagi.
Rasa penasaran mereka tak terjawab karena Senja memilih bungkam sepanjang perjalanan. Hingga tiba didepan kediaman Kha, Senja justru nampak panik dan gusar.
“Duh, Abang... Kok malah jadi Mama yang deg-degan gini,” ujar Senja, ia melihat Senja menghirup napas dalam lalu mengeluarkan perlahan.
“Bismillah, Ma....” balas Biru menenangkan Senja.
“Rasa-rasanya baru kemarin Mama nganterin kamu ke gerbang sekolah, sekarang sudah nganterin kamu menjemput takdir.”
Mata Biru menganak sungai. Namun, buru-buru ia usap mata karena tak ingin terlihat siapapun jika dirinya hendak meneteskan air mata. Iya, sebab ingatan masa kecilnya yang hanya berisi tentang hari-harinya bersama Senja kembali terputar. Sampai hari ini, saat ia memutuskan untuk menjemput takdir, hanya Senja seorang yang antusias menyambutnya.
“Kita briefing sebentar, Pa!” Senja menahan tangan Awan yang ingin membuka pintu mobil. “Jadi, pertama kita bawa turun barang yang udah Mama pisah di bagian paling atas. Kalau mendadak keluarganya Kha menginginkan lebih dari silaturahmi, kita baru ambil barang lainnya,” ujar Senja.
“Maksud Mama kalau Orang tua perempuan it--”
“Kha! Papa!” sela Biru dan Senja bersamaan.
“Iya! Papa tahu! Maksudnya kalau orang tua, Kha!!” sengaja Awan beri penekanan pada nama Kha. “Minta mereka langsung tunangan gitu?”
“Gimana kalau langsung nikah aja?" timpal Biru.
Bukan hanya Awan, Senja dan kedua adiknya, bahkan Pak sopir yang sedari tadi menjadi saksi biru pun ikut terbelalak mendengarnya.
Biru membuka resleting tas kamera yang selalu menyangkut pada bahunya. Ia keluarkan kotak perhiasan berisi sebuah gelang cantik dan cincin pemberian Senja siang tadi.
“Waahhh, cantik banget gelangnya....” Barsha mengungkapkan kekagumannya dengan gelang yang diam-diam telah Biru persiapkan untuk Kha.
“Mau sampai kapan kita briefing nya? Lihat itu mobil kita sudah dilihatin sama orang diluar!” semua terdiam, lalu beralih pandang, melihat orang yang Awan sebut. Ternyata Azzam sudah berdiri di depan pintu gerbang, bersama pria yang Kha panggil Ayah Arsean.
Awan turun terlebih dahulu, kemudian disusul Senja, Biru kemudian adik-adiknya. Azzam menyambut hangat kedatangan mereka, pria yang terlihat sepantaran itu saling bertukar sapa.
“Saya kira mobil siapa, dari tadi berhenti tapi tidak ada yang turun,” ujar Azzam.
“Tadi kami sempat bingung yang mana rumahnya.” kilah Awan.
Azzam mempersilakan rombongannya masuk kedalam rumah yang cukup luas dan terlihat segar karena banyak dihiasi tanaman hijau. Biru, dibantu Barid dan Barsha memberikan hadiah kecil untuk keluarga Kha sesuai hasil briefing bersama Senja. Lalu mereka menyusul Awan dan Senja yang sudah lebih dulu duduk manis di ruang tamu.
“Masya Allah, Alhamdulillah akhirnya sampai juga tamu jauh,” sapa Ummi Alsea yang baru keluar dari dalam rumah. “Wahh senang sekali dapat kunjungan dari Mas Biru dan keluarga,” Ummi Alsea memberikan salam Namaste pada Awan, Biru, juga Barid, lalu berjabat tangan dengan Senja dan Barsha.
“Kok, Kayaknya anak kita seumuran semua ya, Bunda Biru....” ujar Alsea.
Senja mengamati ketiga anaknya lalu beralih memandang adik-adik Kha yang baru datang. “ Wah benar juga ya,” sahut Senja.
Beralih menit, seluruh keluarga telah berkumpul dan saling memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya. Awan mengenalkan Senja dan ketiga anaknya. Tanpa canggung, Awan juga mengatakan jika Jihan, Ibu kandung Biru berhalangan hadir dengan alasan tak dapat meninggalkan pekerjaan. Tidak ada raut terkejut dari keluarga Kha, atau mungkin Kha telah menceritakannya lebih dulu. Entahlah....
Dari keluarga Azzam pun sama. Memperkenalkan seluruh keluarga serta keluarga Pak Arsean, Kakak dari Ummi Alsea yang turut hadir dikediaman Azzam.
“Begini, Pak Azzam dan keluarga... Sebelumnya, kami sekeluarga sangat berterima kasih atas undangan Pak Azzam yang disampaikan pada Anak kami, Biru, untuk berkunjung. Akhirnya, saya bisa kembali ke kota sejuta kenangan ini selain alasan pekerjaan,” ucap Awan membuka bincangan serius. “Maaf apabila kedatangan keluarga kami merepotkan Pak Azzam dan istri,”
__ADS_1
“Waah, Kami malah lebih merepotkan. Bapak Awan dan istri juga anak-anak datang segala membawa banyak hadiah buat kami. Kami sekeluarga juga mengucapkan terimakasih untuk kehadiran kalian dikediaman kami,”
Azzam menepuk pelan paha Pakde Arsean. “Ini loh, Mas. Yang bikin aku jantungan pas baru datang ke toko bunganya Teteh Kha,” seloroh Azzam mencibir Biru. “Nggak ada angin, nggak ada hujan, tahu-tahu anak perempuanku satu-satunya dikenalin sama orang tuanya sebagai calon istri,” lanjut Azzam. Semua perhatian terarah pada Biru, tersenyum menggoda Biru yang tertunduk malu.
“Tapi putra Bapak Awan ini ternyata cukup pemberani ternyata. Berani mempertanggungjawabkan ucapannya, dan benar membawa orang tuanya jauh-jauh datang kemari,”
Awan tersenyum bangga. “Biasalah, Pak! Like father like son,” timpal Awan berseloroh.
“Wah, benar- benar. Terlihat juga, kok, Pak,” balas Azzam.
Suasana kembali hening saat Kha dan asisten rumah tangganya masuk membawa minuman dan hidangan. Netra Biru tak melepaskan pandangan dari gadis bermata almond eyes.
“Permisi, Mas... Kok pandangannya pengen di tanya-tanya, ya?” celetuk Arsean menangkap basah tatapan Biru. Ruang tamu pun kembali ramai oleh gelak tawa mereka.
“Ayo, Bi... Sampaikan niat dan tujuan kamu bawa Mama Papa kemari,” pinta Awan.
Biru membenarkan posisi duduknya, kemudian menatap Azzam yang lebih dulu memasang wajah serius.
“Bismillahirrahmanirrahim. Pertama, kedatangan saya membawa serta orang tua dan adik-adik saya kemari bertujuan silaturahmi dengan keluarga Khadijah. Kedua, niat saya membawa keluarga saya kemari, adalah ingin meminang satu-satunya putri Om Azzam, untuk melengkapi keluarga kami. Sekiranya niat dan tujuan kami dapat diterima dengan baik oleh keluarga Kha,”
Azzam nampak terkesima, ia menatap haru pada Biru. Bukan hanya Azzam, bahkan keluarganya sendiri pun nampak terkejut melihat sikap Biru yang begitu tenang pembawaannya.
“Masya Allah. Saya cukup terharu dengan keberanian Nak Biru. Saya jadi penasaran, sikap seperti apa yang Nak Biru tunjukan pada putri kami? Sampai-sampai Kha mengabaikan puluhan kiriman CV ta'aruf, namun dengan kelapangan hati menerima Nak Biru dan keluarga menemui orang tuanya,” Azzam melirik Kha yang tertunduk di sofa yang terletak sedikit lebih jauh.
“Insya Allah, Teteh melihat Mas Biru dengan hati,” sahut Ummi Alsea.
“Bagaimana, Teteh? Apakah Abi boleh menerima pinangan Nak Biru?” Azzam bertanya pada Kha, tapi Kha nampak lama dalam menjawab, tiba-tiba saja perasaan Biru membeku. “Atau Abi harus menolaknya?” sambung Azzam.
Dengan cepat Kha menjawab dengan gelengan kepala. Sontak membuat semua yang berkumpul menertawakan kepolosan Kha.
“Ternyata putri saya malu malu tapi mau,” cibir Azzam.
Awan meletakkan cangkir teh dari genggamannya. “Alhamdulillah. Niat baik hasil baik ya, Pak Azzam,” ucap Awan.
“Betul, Pak Awan. Insya Allah kita sudah sangat tepat mengadakan pertemuan seperti ini,” jawab Azzam. “Untuk selanjutnya, haruskah membicarakan hari baik, Pak?”
“Oh silakan, Pak Azzam. Saya ikut bagaimana baiknya saja,”
“Bagaimana Nak Biru? Setelah pinanganmu diterima, langkah selanjutnya yang ingin kamu lakukan untuk putri kami seperti apa?” tanya Azzam pada Biru.
Dengan lugas Biru menjawab. “Tentu saya ingin memiliki putri Om Azzam secara halal,”
“Kapan itu kira-kira Nak Biru siapnya?”
“Insya Allah saya siap kapanpun, Om,”
“Hari ini, siap??”
Jeng... Jeng... Jeng........
Part terpanjang sepanjang masa
hayuk tandai aku kalo ada yg typo-typo ya....
__ADS_1