Dear Khadijah

Dear Khadijah
kata mereka, aku egois!


__ADS_3

BIRU POV


Pilihan. Pada dasarnya memang hidup selalu tentang pilihan, termasuk bagaimana cara kita memilih dalam menjalani takdir. Lalu, hukuman kurungan 4 tahun pun termasuk sebuah pilihan. Selama itulah hukuman yang harus kuterima untuk sebuah tindak kejahatan. Meski semua orang berseru jika aku tidak sepenuhnya bersalah, dan menyarankan untuk segera mengajukan banding, tapi aku memilih untuk menolak dan ikhlas menerima hukuman dari hakim.


Sebab setelah melewati malam panjang untuk merenung dan berdoa, jawabannya tetap sama. Sepertinya akan lebih tenang jika aku mendapatkan hukuman setimpal dan menjalaninya, meski bisa dikatakan hukumannya tidak sebanding dengan rasa kehilangan orang yang dikasihi.


Terlepas dari sudut pandang kaca mata hukum, yang hasil presentasinya lebih besar menyatakan bahwa sudah sepantasnya aku mendapatkan kebebasan bersyarat. Namun, pilihanku tetap tak ingin lagi kuubah. Semua ini adalah bentuk tanggung jawabanku kepada keluarga korban yang ditinggalkan. Bagaimana pun juga aku adalah laki-laki, memiliki istri dan segera menjadi seorang ayah, tak adil rasanya berbahagia dengan keluargaku di atas penderitaan keluarga Hendar yang kehilangan si pencari nafkah.


Teng ... teng ... teng .... bangun! Bangun!


Suara nyaring berasal dari 2 bilah besi yang bertabrakan menjadi suara pertama yang ku dengar setiap pagi. Sebelum suara adzan subuh berkumandang, sipir terlebih dahulu membangunkan para napi termasuk aku. Seperti biasa, warga binaan dibangunkan pada pukul 04.40 untuk mulai kegiatan yang telah disediakan oleh lapas.


“Bangun! Yang bagian piket kerjakan tugas sebelum ke lapangan!” ucap salah seorang sipir.


Hari ini, giliranku yang mendapatkan jadwal piket. Membersihkan kamar sekitar blok dan mck dalam, membersihkan kamar berisi 1 ranjang single dan 1 ranjang tingkat yang ku tempati tidaklah sulit. Aku menempati sel bersama 2 kawan lainnya, masing-masing dari mereka mendekam di penjara dengan kasus berbeda. Beruntungnya teman satu sel ku tidak ada yang berulah atau biasa di sebut monster penjara.


“Sarapan apa kita hari ini?” tanya Wardi, salah satu teman satu sel.


“Semoga saja bukan telur rebus lagi, bisa-bisa kamar mandi keluar bau keringat mayat busuk, nanti.” sahut Kang Nden, napi tertua di antara kita bertiga. Kami bercanda ringan sembari berjalan menuju kantin lapas.


Prang!!


“Mau jadi jagoan Lo di sini?!”


Baru tiba di kantin, kami di sambut kericuhan yang terjadi di tempat. Orang-orang binaan senior selalu saja membuat kegaduhan dengan menindas para napi junior. Biasanya mereka yang merasa lebih lama tinggal di dalam sel bersikap seolah merekalah empunya tempat. Apa pun permintaan mereka harus di turuti dan ikuti. Bersyukur aku di tempatkan bersama orang-orang yang benar-benar menjadikan tahanan adalah sebuah pembinaan untuk merubah diri menjadi lebih baik.


“Siapa lagi di sini yang berani melawan perintah gue!” bentak napi berbadan kekar dengan tato menutupi di seluruh bagian tubuhnya.

__ADS_1


“Kalau ada diantara kalian yang berani melawan gue, nasib kalian akan sama seperti dia!” sambungnya dengan meletakkan kaki di kepala napi yang tersungkur di lantai.


“Jangan hiraukan! Jangan ikut campur agar hidup kita tetap aman disini. Kita cari tempat makan di ujung,” ucap Kang Nden mengingatkan. Sebenarnya tidak tega melihat mereka yang selau menjadi bulan-bulanan napi senior. Tetapi benar ucapan Kang Nden, lebih baik menjaga diri untuk tidak terlibat dalam kericuhan.


“Disini, tidak ada lagi kata memanusiakan manusia. Rasa empati sudah mati sejak lama. Lebih baik menjadi asing supaya bisa menyelesaikan masa tahanan dengan baik tanpa perlu berurusan dengan monster seperti mereka. Salah satu syarat agar kita mendapatkan remisi ya berkelakuan baik. Makanya sebisa mungkin kita jangan sampai terlibat dengan orang-orang seperti itu.” sambung Kang Nden.


“Benar. Susah sebenarnya, karena kita gak bisa terang-terangan ngehindar saat kepapasan di lapangan. Karena itu lebih baik kita ambil kegiatan binaan yang berbeda dengan mereka.” sahut Wardi.


Ya. Seperti yang mereka katakan aku harus segera menyelesaikan masa tahanan agar bisa segera berkumpul dengan keluargaku, dan syaratnya harus berkelakuan baik serta menghindari tinta hitam pada buku catatan napi.


Selesai sarapan, semua napi berkumpul di lapangan untuk senam bersama. Setelahnya, di lanjutkan dengan kegiatan masing-masing. Aku sendiri hanya mengambil kegiatan rohani dan menggali potensi dengan mengolah barang bekas menjadi pernak-pernik layak jual.


“Tahanan 3057, Ada tamu!” panggil sipir yang bertugas mengawasi lapangan.


Tahanan 3057 adalah panggilanku di lapas. Memang seperti ini, jarang yang mengetahui nama kita satu sama lain. Nomor yang tertera pada bajulah sebutan untuk diri kita. Berjalan melewati lorong, aku masuk ke dalam ruang besuk tahanan, dimana sudah ada Papa dan Barid di sana. Keluarga memang rutin menjenguk setiap minggunya, semua bergantian kecuali Kha yang masih ku larang untuk datang.


Dengan seutas senyum aku menggeleng mantap, “enggak, Pa, keputusanku sudah bulat.”


“Keadilan itu masih ada, Bi, kalau kamu mau perjuangkan. Kamu punya bukti kuat lainnya yang bisa melepaskan kamu dari sini.” ucap Awan.


Aku tetap menggeleng, seberat apa pun bukti yang akan melepaskan aku dari sini, pembunuhan tetap tak dapat di benarkan.


“Gak apa, Pa, aku baik-baik saja.”


“Bagaimana dengan istrimu, Papa gak tega lihatnya. Jadi ibu hamil saja sudah berat, ini di tambah gak ada kamu di sampinginya.”


“Karena itu Biru minta tolong sama Papa Mama buat selalu jagain, Kha. Biru ngrepotin banget ya, Pa.”

__ADS_1


“Cuma jagain mantu satu gak jadi soal, papa hanya khawatir sama mental Kha. Bisa jadi di depan mama sama papa dia bisa nunjukin kalo dia baik-baik saja, tapi apa Kha tetap baik-baik saja kalau lagi sendiri?”


Blamm!


Kalimat Papa seperti lemparan bola yang mengenai tepat pada sasaran. Benar juga, aku sendiri selalu tersiksa begitu malam tiba, lalu bagaimana dengan Kha? Ia juga pasti sama tersiksanya. Apalagi sikap Kha yang kurang terbuka sama orang lain, aku takut Kha hanya menyembunyikan luka di balik kata baik-baik saja.


Aku beralih menatap Barid yang sedari tadi memandang sarkas ke arahku. Menatap tajam mata yang mulai menghitam itu.


“Dulu, aku ngalah ngebiarin Abang nikahin Kha karena aku pikir Abang lebih layak buat Kha. Terus sekarang? Apa Abang masih berpikir kalau Abang memang layak buat Kha?! Abang egois!”


“Rid!”


“Apa aku perlu gantiin posisi, Abang?”


“Barid!!” aku membentak seraya berdiri meraih kerah kemeja Barid. Kali ini Barid sungguh keterlaluan, bisa-bisanya dia punya niatan untuk merebut Kha dariku.


“Apa!!! Dulu Abang bicara tentang pria yang layak buat Kha! Terus sekarang apa?!! Abang aja gak becus jadi suami! Kami mati-matian cari cara dan bukti biar Abang bisa bebas atau setidaknya meringankan hukuman, tapi Abang lebih memilih menerima putusan hakim yang gak masuk akal tanpa peduli sama istri yang lagi hamil!” teriak Barid tepat di depan mukaku.


“Barid, Biru, cukup!!!”


“Barid, hormati keputusan Abang kamu.” ucap Papa, Aku melepaskan cengkraman kerah bajunya, juga Barid yang menghempaskan tanganku.


Barid terlihat merapikan kemejanya, mengambil handbag lalu hendak pergi dari ruangan, namun sebelum beranjak ia menatapku lagi sembari berdecak. “Jangan khawatir, Kha akan baik-baik saja, aku pastikan Kha akan bahagia sekalipun tanpa Abang! Itukan yang Abang mau?”


Setelah mengatakan itu, Barid keluar dari Ruang besuk dengan membanting pintu. Seketika hatiku memanas, sungguh aku tidaklah merasa cemburu. Aku hanya semakin merasa telah gagal menjadi suami, seorang pecundang yang tak memikirkan perasaan istriku.


Kha ....

__ADS_1


Bel ruang berbunyi tanda waktu besuk telah usai, Papa pamit pulang setelah menyerahkan beberapa lembar foto Kha yang di ambil secara candid. Puas melihatnya, kumasukkan foto tersebut ke saku dan kembali ke dalam sel.


__ADS_2