
...40. Don't need to know...
Kha berjalan cepat, tertatih, terseok-seok karena harus menyesuaikan langkah lebar suaminya. Ia masih terkejut dengan sikap Biru dan Mama Jihan yang terkesan jauh dan tak akur. Beda sekali dengan kedekatan Mama Senja dan Biru yang ia lihat selama ini. Dalam pandangan orang lain, melihat perbedaan sikap antara keduanya, mungkin akan terlihat Senja adalah Ibu kandung sedangkan Jihan Ibu tiri.
“Gak perlu libatin Kha dalam hal ini, Ma!” Sentak Biru seketika. Kha terkejut bukan main, sedangkan Jihan tetap bergeming, tak menunjukkan respon kaget atau semacamnya.
Kha mengernyit. Biru sudah berdiri dengan mata terbelalak dan Jihan hanya duduk dengan kaki jenjang terlipat anggun, sesekali menghisap rokok.
Entah janji apa yang sudah Biru sepakati bersama Mama Jihan, ia sendiri tidak bisa memahami.
Sepanjang perjalanan, suasana menjadi hening. Kebungkaman Biru membuat Kha enggan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Hingga mobil masuk ke area parkir ruko, Biru masih tetap diam. Kha mulai khawatir, khawatir tentang apa yang sebenarnya Biru janjikan? Kenapa harus Mama Jihan menagih janji melalui dirinya? Apakah janji tersebut ada kaitannya dengan pernikahan mereka?
Ia menarik napas dan menghembuskan perlahan.
Dari dalam mobil, Kha melihat karyawan-karyawannya berdiri didepan ruko. Dipa berdiri paling depan membawa seikat bunga tulip pink ditangannya. Mungkin Gentar telah memberitahukan tentang kabar kedatangan mereka.
“Welcome to the club” sambut Asti dan kawan-kawan. Dipa menyerahkan buket bunga dan menghambur memeluk Kha, “Selamat menempuh hidup baru, Teh. Aku kesal kamu nikah nggak kabarin kita, tapi aku ikut bahagia.”
“Makasih banyak ya, Dip. Maaf nggak ngabarin kalian karena semua terjadi begitu aja,” jawab Kha sembari mengusap punggung Dipa.
“Teteh... Kamu jahat,” berganti Asti merengek lalu ikut memeluk Kha.
Sambutan yang mengharu biru. Ia mendapat ucapan selamat dari satu persatu karyawannya. Sama seperti dirinya, karyawan Biru pun melakukan yang sama. Namun lebih ke meledek dan mengumpat karena kesal tak diberi tahu.
“Aku masuk dulu ya,” bisik Kha pada Biru yang masih dikelilingi oleh kawan-kawannya.
Biru mengangguk dan berlalu kembali ke mobil.
Kha di seret oleh Dipa dan Asti, di paksa duduk di bangku kasir. Setelah itu mereka pun duduk berhadapan dengannya.
“Teteh utang cerita sama kita!” ucap Asti ketus dengan dagu bertopang tangan.
Kha hanya tersenyum tanpa menghiraukan tatapan Dipa dan Asti yang menuntut.
__ADS_1
“Kok jadi langsung nikah?”
“Yang dekorasi tempat pernikahan siapa?”
“Bisa-bisa nggak ngasih tahu kita, nggak sepenting itu ternyata.”
“Oke nggak ngasih tahu pas akad, tapi 'kan se-enggaknya ngasih tahu pas resepsi, kita juga mau datang.”
Pertanyaan itu Asti dan Dipa lemparkan secara bergantian, lalu Kha hanya menanggapi dengan senyum-senyum. Tak berselang lama, Biru masuk dengan 2 buah paper bag di tangannya.
“Taruh sini saja, Mas.”
Biru meletakkan paper bag di meja kasir sesuai petunjuk Kha, “Sayang, aku langsung jalan sama Gentar ya, mau ninjau lokasi pemotretan buat besok, mendesak soalnya.”
Belum Kha menjawab, Asti, Dipa, tak ketinggalan juga Boim dari ruang showcase menyahut.
“Cie yang sudah sayang!” cibir Boim.
“Minggu lalu masih pasang muka kesel sama si sayang,” sahut Asti, ditimpali oleh Dipa yang berdecih mencibir.
Biru membalikkan badan, memadang Kha dengan tatapan sendu. Mata Kha membentuk sabit karena mencetak senyum dari balik cadarnya.
“Hati-hati ya, Mas. Kabari aku kalau pulang terlambat.”
Biru tak menjawab, tangannya meraih tangan Kha dan diusapnya perlahan. “Jangan pikirin ucapan Mama Jihan. Lain kali aku jelaskan, tapi aku nggak mau kamu kepikiran.”
Tak memungkiri jika Kha sebenarnya sangat penasaran dengan maksud dari permintaan Mama Jihan. Namun ia juga tak ingin menuntut penjelasan sedangkan Biru tak ingin segera memberi tahu. Akhirnya, Ia hanya mengangguk dengan mata terpejam sekilas. Berharap kesepakatan janji tersebut bukan hal yang buruk untuk pernikahannya.
“Aku nggak lama, nanti kamu makan siang dulu sama yang lain nggak usah nunggu aku,” pesan Biru sebelum lengannya ditarik Gentar untuk menjauh.
Ia melambaikan tangan hingga mobil Biru hilang dari pandangannya.
*Ting
__ADS_1
Kha merogoh saku samping gamisnya setelah mendengar bunyi notifikasi pesan.
^^^-Assalamualaikum, Teh. Teteh sampai jam berapa semalam? kok nggak kabari Ummi? Teteh menginap dirumah Bu Senja? Oh iya, sudah sampaikan titipan Ummi buat Bu Jihan?^^^
“Astaghfirullahaladzim... Bisa-bisanya lupa kabari Ummi.”
Ia menekan tombol panggilan setelah membaca pesan dari Ummi.
^^^Assalamualaikum, Teh....^^^
“Waalaikumsalaam, Ummi. Maaf Teteh baru sempat kabari Ummi.”
^^^Nggak apa, Teh. Teteh gimana, semalam sampai jam berapa? ada yang jemput? terus sudah ketemu sama Mama Biru?^^^
“Semalam kami sampai sekitar jam 1 an, dijemput sama sopirnya Papa. Barusan sebelum ke toko juga mampir ke rumah Mama Jihan, titipan Ummi sudah Kha sampaikan.”
^^^Alhamdulillah kalau gitu, Teh. Terima kasih ya... Bagaimana Bu Jihan? Baik sama Teteh?^^^
Kha bergeming. Ia memutar kembali ingatan pagi tadi. Jihan tak menyambut kedatangannya dengan hangat. Pesanan Ummi yang ia angsurkan hanya dicampakkan ke atas meja. Tidak ada sepatah kata pun yang Mama Jihan ucapkan tentang pernikahan, tidak dengan doa maupun harapan untuk rumah tangga anaknya nanti. Tanpa basa basi dan pembicaraan lainnya, tiba-tiba Mama Jihan menagih suatu perjanjiannya dengan Biru melalui dirinya, yang pada akhirnya membuat Biru murka lalu menyeretnya keluar dari apartemen mewah itu.
^^^Halo? Teteh? Teteh masih disitu?^^^
“M-mm Iya Ummi, kejeda barusan, kayaknya signalnya jelek,” kilah Kha. Ia masih belum tahu harus menjawab pertanyaan Ummi bagaimana, haruskah ia berkata jujur?
Tidak! Kha sadar saat ini ia sudah resmi menjadi istri Biru, dimana orang tua tidak perlu mengetahui lebih tentang perasaanya. Lebih tepatnya, Ummi tidak perlu tahu seperti apa perlakuan Mama Jihan terhadapnya. Karena selain akan membuat Ummi kecewa, juga akan mempermalukan suami sendiri. Maybe, Ummi doesn't need to know.
^^^Gimana, Teh?^^^
“Apanya, Ummi? Oh, Mama Jihan... Baik kok, Ummi, Alhamdulillah Mama Jihan baik, tadi juga bilang terima kasih sama titipan Ummi.”
^^^Alhamdulillah, Ummi seneng dengarnya. Ya sudah Teh, Ummi antar makan siang ke kantor Abi dulu. Teteh jaga diri baik-baik ya disana. Ingat pesan Ummi, Teteh harus jadi istri Sholehah yang pintar menyenangkan hati suami dan keluarga. Jaga silaturahmi sama seluruh keluarga Biru. Sama jangan lupa mampir kerumah Om Abyaz, minta maaf karena pernikahan dadakan kalian buat Om Abyaz sama keluarga nggak bisa datang.^^^
Kha menutup telfon. Sekali lagi, ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
Hari ini up dua bab, jangan lupa tinggalin jejak sebelum scroll ya bestieee.. luv kalian ❤️