Dear Khadijah

Dear Khadijah
Meredam & Memanas.


__ADS_3

...22. Meredam & Memanas....


Biru.


“Jadi tuh, Bang, Kalo cowok Korea yang usianya udah 18 sampai 28 tahun terus kondisinya sehat harus wamil. (wajib militer) Mangkanya aku tuh sedih banget bias aku pada wamil, 'kan jadi nggak konser-konser lagi.” Barsha merengek, mengadu tentang boygrup favoritnya.


“Wamil itu apa? terus bias siapa?”


Plakk!


Barsha memukul pelan punggung Biru. “Wamil itu semacam kegiatan militer gitu, kalo bias kayak idol yang jadi favorit kita.” terang Barsha “Misal nih, bias aku tu Chanyeol Exo, Acha suka banget sama Park Chanyeol, udah ganteng, tinggi, putih....”


“Ganteng, tinggi, putih... Ciri-cirinya mirip tukang galon air langganan Mama.” sahut Biru.


Biru tertawa, sedangkan Barsha meradang. Kesal idolanya disamakan dengan tukang galon langganan Senja, Barsha memukul Biru dengan bantal dan guling disampingnya.


*****


Andaikata tangan Biru dapat berbicara, bagian tubuh itu pasti akan mengeluh lelah, sebab hampir setiap menit Biru mengangkat tangan sekedar untuk melihat jarum jam yang bergulir.


Ia sedikit khawatir dengan Senja dan Barid yang meminta dirinya pergi karena ingin berbicara terlebih dahulu. Mengingat pertikaian mereka terakhir kali yang saling teriak dan menangis.


Langkah Biru menyepat begitu mendengar suara mobil sport memasuki pekarangan rumah.


Barid.


Namun adik laki-lakinya itu turun sendirian tanpa membawa serta Senja.


“Mama mana?” tanya Biru.


Barid duduk di sofa tengah lalu melepaskan sepatu. “Mama masih dirumah Iyang mungkin,”


“Mungkin? Kenapa nggak balik bareng? Papa lagi di Solo, loh! nggak ada yang jemput Mama.”


Barid masih memasang wajah datar. Adiknya itu tak merespon pertanyaan dirinya, tapi malah menepuk kursi kosong disebelahnya. Biru menuruti, namun ia lebih memilih duduk di kursi seberangnya.


“Maaf, Bang. Aku salah,”


Biru bergeming. “Kamu nggak punya salah sama aku,”


“Aku salah, aku udah ngehina Tante Jihan, Maaf.”


Giliran Biru yang tak merespon. Entah kenapa, mendengar Barid menyebut Jihan sebagai wanita ja lang tak memberi efek sakit hati atau sekedar risih, meskipun memang benar Jihan adalah Ibu kandungnya. Karena faktanya, acap kali Biru melihat Mamanya pergi bersama teman, baik laki-laki maupun perempuan dengan pakaian yang tak elok dipandang mata. Skandal tentang hubungan percintaan Jihan juga kerap muncul disitus pencarian. Sebab itu, Biru tak terlalu memikirkan ucapan Barid.

__ADS_1


“Tentang, Kha... ternyata sulit membawa perempuan itu untuk masuk kedalam koridor takdirku. Pilihannya jatuh pada laki-laki menyebalkan.” Barid menunduk lalu tersenyum sinis.


“Menyebalkan,” ulang Biru “Siapa laki-laki beruntung itu?”


Barid memutar bola matanya, ucapan Biru terdengar seperti mencibir.


“Aku kehilangan diriku ketika sibuk memikirkan apa yang Abang punya tapi aku tidak. Aku melukai hati banyak orang karena emosi sesaat ini.”


Biru menganggukkan kepala. Mencermati setiap kata yang Barid ucapkan.


“Ternyata lumayan sakit ditolak cewek....”


“Nggak ada yang nyakitin kamu, kamu hanya terluka sama harapan kamu sendiri.” balas Biru.


“Aku boleh tanya?” Biru mendongakkan kepala, mempersilakan Barid untuk bertanya. “Standar seorang istri untuk Abang itu seperti siapa?”


Biru mengulas senyum. “Mama... Mama seperti punya timbunan stok kesabaran. Abang belum menemukan perempuan sebaik Mama Senja diluar sana,”


“Kha?”


Biru menggeleng. “Sekalipun itu, Kha. Belum ada yang bisa menyamai Mama,”


“Pantes menang! padahal belum layak.”


“Terus kamu sudah melayakkan diri buat tempat tujuan takdirmu?”


Barid mengangkat bahu, “Kalau Abang kasih izin, Barid mau bantuin Papa dikantor.”


Biru berpindah tempat duduk tepat disebelah Barid. “Bagus! Terima kasih sudah menyelamatkan aku.”


“Maksudnya?”


“Tenggat waktu yang Papa kasih ke aku, aku rasa belum bisa buka cabang dalam waktu setahun kedepan. Kalau sudah ada kamu yang urus perusahaan, Papa nggak butuh aku lagi, 'kan....”


“Buwangke! Aku dijadiin umpan ternyata!”


Barid menarik kepala Biru dengan kedua tangannya, memiting kepala Sang Kakak sampai Biru memohon ampun.


Tak!


Bunyi benda jatuh menyudahi aksi bercanda Kakak beradik yang baru mencairkan suasana. Sontak keduanya menoleh kearah sumber suara.


“Mama....” ucap Biru dan Barid bersamaan.

__ADS_1


Senja berjalan cepat mendekati mereka, lalu merengkuh kedua anak laki-lakinya kedalam pelukan.


Disertai kucuran air mata, Senja berucap lirih. “Mama seneng, Mama bahagia lihat kalian akur,” ucapnya sembari mengelus lembut punggung keduanya.


“Sampai kapanpun, kalian tetap saudara. Jangan sampai kesalah pahaman membuat kalian jadi jauh.”


Biru dan Barid pun menghimpit tubuh Senja dalam pelukan mereka.


“Achaa mau peluk juga....”


Barsha menubruk tubuh Ibu dan Kakak-kakaknya. Seketika suasana rumah diselimuti tangis keharuan dan kebahagiaan.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


Hari demi hari berlalu. Pada malam akhir pekan lalu, keluarga Adityawarman telah mengadakan rapat keluarga. Termasuk Viona, Alan, dan keempat anak mereka. Adapun hasil dari rapat keluarga adalah menetapkan Barid untuk menjadi salah satu pemegang perusahaan. Barid ditunjuk menjadi Direktur dikantor pusat. Kesepakatan itu berakhir dengan tanda tangan perjanjian kemudian acara makan malam bersama.


Entahlah, Biru sama sekali tidak tertarik untuk ikut andil dalam memajukan perusahaan peninggalan Opa. Perpaduan antara Lensa dan keindahan telah merayu dan menariknya lebih dulu untuk terjun ke Dunia fotografer.


Brakk!!


“Apa-apaan ini!” teriak seorang perempuan.


Semua mata tertuju pada perempuan berbusana anggun dengan heels yang membuat perempuan tersebut semakin jenjang. Penampilannya selalu dapat mengintimidasi orang sekitar.


Jihan. Ibu kandung Biru datang untuk pertama kali ke Studio setelah sekian lama. Namun kedatangannya tidak karena rindu kepada anak laki-lakinya, atau ingin menengok usaha yang sedang dirintis. Melainkan membuang murka pada Biru atas berita yang ia lihat pada majalah.


Hari ini, Setelah pelantikan Barid pada RUPS (Rapat umum pemegang saham), berita tentang diangkatnya Barid menjadi Direktur PT.Adityawarman rilis diberbagai media online maupun cetak. Kabar bahagia untuk dirinya, ternyata berbanding terbalik dengan Jihan.


Biru menatap Jihan yang baru saja membanting majalah di meja kerjanya, memungut majalah tersebut dan melihat apa yang ingin Jihan tunjukan padanya.


Di bagian cover, terdapat foto Barid dengan caption 'Pelantikan Direktur baru, PT.Adityawarman.'


“Bisa-bisanya kamu nggak dengerin Mama, Biru! Seharusnya kamu yang ada disini! bukan anak perempuan sialan itu!” bentak Jihan dengan tangan menunjuk cover majalah bisnis itu.


Biru memijit pelipisnya. Ia tahu cepat atau lambat Jihan akan mengetahui, namun tidak menyangka terjadi secepat ini. Biru berdiri dan melihat pegawai yang juga sedang menatap dirinya.


“Tar, urus ini.” Biru menunjuk monitor, meminta Gentar untuk meneruskan pekerjaannya.


“Kita bicara diluar.” ucap Biru pada Jihan kemudian meraih jaket dan kunci mobil.


Dipintu masuk, ia melihat Kha juga Dipa tengah berdiri mematung dengan sebuah buket bunga ditangan. Biru menatap Kha sekilas lalu melanjutkan langkahnya.


Mata sepet blom sempet revisi, tolong tandai kalo ada yang typo-typo ya bestieee... Love you all. 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2