
...71. Banyak jalan menuju roma...
Tanpa terasa kini kehamilan Kha telah menginjak usia 4 bulan. Bertepatan dengan ini, Kha mengadakan pengajian tasyakuran 4 bulanan. Kalau orang Jawa sih, bilangnya 'ngapati', di daerah kalian namanya apa?
Demi mendoakan anak pertama, sekaligus cucu pertama bagi dua keluarga, semua keluarga berkumpul tanpa terkecuali. Bahkan Nini dan aki, orang tua dari Abi Azzam pun turut hadir ke Jakarta khusus untuk Kha.
Rumah minimalis yang setiap harinya hanya dominan oleh suara Aming, Bhika, dan Khabi, kini penuh sesak serta riuh karena pertemuan dua keluarga besar. Momen seperti ini, seharusnya menjadi momen bahagia buat Kha. Namun, apalah arti bahagia tanpa hadirnya pemeran utama. Bukan cuma janggal, tapi juga hambar. Iya, Hambar! Seperti Teh tanpa gula atau kopi tanpa susu, atau mungkin seperti sayur tanpa garam. Nggak lengkap!
Sedih? Jangan di tanya, deh. Dunia Kha meng-abu setelah pusat dunianya melarang untuk di besuk. Biru, sejak 2 Minggu yang lalu tidak lagi mengizinkan Kha mengunjungi dia di lapas. Kata Gentar, semakin melihat perutnya membesar, semakin Biru merasa seperti pecundang.
Astaghfirullahaladzim, Mas Biru .... Kenapa dia bisa berpikir seperti itu, padahal Kha selalu menjadikan dirinya sebagai sosok pahlawan yang sudah melindungi dirinya dan anak mereka.
“Kasih Biru waktu, Teh. Mungkin Biru ngerasa kalau dia sudah gagal jadi suami,” ujar Umi menenangkan, “yang penting, Teteh jangan menyerah buat kasih perhatian ke Biru, tunjukin kalau kamu bahagia menjadi istrinya meski Biru di dalam sana.” sambung Umi.
“Perhatian? Gimana mau nunjukin perhatian kalau Mas Biru aja nggak izinin Kha datang?!” balas Kha dengan nada kesal.
__ADS_1
Padahal waktu Kha ingin memberitahukan bahwa mulai ada pergerakan di perutnya, ia sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin dari rumah. Berdandan secantik mungkin meski hanya nampak pada bagian mata saja, tapi Kha tetap ingin totalitas setiap kali bertemu Biru. Dengan menenteng sedikit kue kesukaan Biru, Kha berjalan riang di lapas. Menunggu kedatangan Biru di ruang besuk saja hatinya gelisah tidak sabar. Tidak sabar memberitahukan kabar bahagia tentang tumbuh kembang anak mereka.
Namun, reaksi Biru sungguh di luar dugaan. Kha pikir suaminya juga akan excited ketika mendengar kabar itu. Ternyata, Biru merespon dengan wajah datar dan dinginnya. Pertemuan singkat itu pun di akhiri dengan kalimat Biru yang membuat Kha luar biasa kecewa, dan marah.
“Pulang, Kha. Istirahat jangan capek-capek. Oh iya, kedepannya kamu nggak perlu datang ke sini terus. Kalau ada yang mau disampaikan, beri tahu saja lewat Gentar, atau Papa.” ucap Biru waktu itu.
Kha keluar dengan membawa luapan emosi yang ia tahan sejak melihat punggung Biru berlalu. Tanpa pamit, tanpa kecupan di kening, bahkan tanpa menyentuh perut dimana anak mereka berada.
Setelah hari itu, Kha kembali mengurung diri di kamar. Menutup diri dari semua orang yang bertamu ke rumahnya, bahkan Dipa yang datang dengan urusan pekerjaan sekalipun.
Akhirnya Kha keluar setelah Awan menggedor-gedor pintu tanpa henti. Dengan mata bengkak Kha menemui Awan yang datang bersama Senja dan Gentar di ruang tamu. Sebenarnya, ia malas bertemu dengan orang yang akan membahas masalahnya dengan Biru. Bagaimanapun, Biru sudah melukai perasaannya.
“Kha ... Mau sampai kapan kamu terus kayak gini?! Kamu nggak kasihan sama anakmu?” tanya Awan.
Kha bergeming.
__ADS_1
“Kamu nyiksa diri kamu sama halnya kamu siksa anak di dalam kandungan kamu, Nak.” sambung Awan.
Kha masih bergeming. Ia menunduk dengan wajah sendu memainkan ujung hijabnya.
“Tar, sampaikan sama Kha, apa yang kamu dengar dari Biru.” ucapan Awan berhasil menarik atensi Kha, ia menoleh menatap Gentar dengan wajah harap-harap cemas.
“Hmmm, kemarin Biru bilang, kalau setiap kamu datang dia selalu ngerasa bersalah banget, Kha. Bersalah karena udah buat kamu nanggung beban berat sendirian.” terang Gentar.
“Maksud Mas Biru, anak aku beban begitu?” balas Kha ketus.
“Bukan Gitu ... Udah pasti Biru bahagia banget kamu hamil, tapi Biru itu laki-laki, Kha. Lihat kamu berjuang sendiri merawat diri dimana kamu lagi hamil otomatis buat Biru sedih. Dia mulai mikir gimana kalau kamu lahirnya nggak ada dia, terus kalau suatu saat anaknya besar apa bisa menerima Biru yang seorang narapida. Pikiran Biru sejauh itu, Kha, itu sebabnya dia kalut, sedih setiap lihat kamu.”
Kalimat panjang Gentar membuat Kha sedikit mulai memahami perasaan Biru. Kha merasa menjadi dirinya sangatlah berat, tapi ternyata menjadi Biru yang hanya terkurung di tempat sempit itu justru lebih berat sebab menanggung beban pikir seorang diri. Wajar jika Biru merasa sedih, khawatir, alih-alih berbahagia dengan kehamilannya.
Setelah itu, Kha mulai membiasakan diri berhenti menemui Biru. Sesekali ia tetap mengirim makanan walau melalui Gentar. Oh iya, Kha juga belajar membuat podcast. Podcast yang ia buat juga hanya berisi ocehan tak penting, seperti cerita harian Kha yang ia lewati tanpa Biru, atau tentang tumbuh kembang si janin. Sesekali ia sisipkan suara detak jantung anak mereka. Setidaknya, meski tanpa melihat Biru harus tetap merasakan keberadaannya.
__ADS_1