Dear Khadijah

Dear Khadijah
Label spesial.


__ADS_3

...17. Label spesial...


Khadijah.


مولاي صل و سلم دائما أبدا


على حبيبك خير الخلق كلهم


مولاي صل و سلم دائما أبدا


على حبيبك خير الخلق كلهم


يا ربي صل عليه، يا ربي صل عليه


يا ربي صل عليه، صلوات الله عليه


البدر كطلعته وجه جميل


والشمس كبسمته ظل ظليل


هو عبد الله سيد الخلق و مصطفاه


وحبيب الله خير مبعوث لوحي الله


(Mawlaya, Maher Zain.)


Kha berdiri di balkon. Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Ia hirup udara segar sebanyak mungkin, agar kadar oksigen dalam darah membuat aliran darah menjadi lancar.


Lagu salawat Mawlaya yang dibawakan penyanyi asal Lebanon itu membuka harinya yang cerah. Tubuhnya sedikit lebih segar daripada kemarin. Rasa kecewa berkaitan dengan lepasnya hijab dari kepala memang menyisakkan perih dihati. Hanya itu diluar kendalinya, selesai shalat taubat Kha menjadi sedikit lebih tenang. Mengikhlaskan kejadian yang tidak bisa ia perbaiki.


“Teh....” Dipa memanggil dari ujung tangga. “Kamu udah enakan betul?”


“Alhamdulillah sudah, Dip.”


“Kalau gitu aku bilang sama satpam dulu,”


“Satpam??”


Dipa menunjuk ke luar jendela. Dari tangga terakhir Kha dapat melihat Biru duduk dibangku kayu, Bangku yang beberapa hari lalu sengaja Gentar letakkan dibawah pohon angsana.

__ADS_1


“Kata Boim dari tengah malem tadi Biru duduk disitu, bilang ke Boim buat kabarin dia kalau Teteh kenapa-kenapa.”


“Boim nginep disini juga?” tanya Kha. Karena biasanya hanya Dipa, Asti, atau Fateh yang menginap di rukonya.


Dipa mengangguk. “Takut Teteh pingsan lagi.”


Kha terharu. Saat datang ia hanya sendirian disini, karena tak ingin sering merepotkan Om dan Tantenya, Kha memutuskan untuk menginap di ruko. Lalu hari ini, matanya dibuat menganak sungai lantaran kebaikan dari orang-orang sekitar yang menyentuh. Benar kata Ummi, Jika kita baik, maka sekitar juga akan baik.


“Di pantry ada persediaan apa, Dip?”


Kha berinisiatif membuatkan sarapan untuk Biru dan pegawai yang sudah menemaninya hingga rela begadang. Di dapur ruko ia hanya mendapati nasi, sayuran dan bumbu dapur.


“Bikin nasi goreng aja, Teh.” usul Dipa sembari menunjuk telur ayam.


Kha setuju, ia mulai meracik bumbu untuk membuat Nasi goreng ala Ummi. Entah rasanya akan diterima atau tidak, yang penting ia tulus membuatnya.


Kha mengambil satu sendok lalu disuapkan pada Dipa. “Gimana?” Kha mengamati ekspresi wajah Dipa. Dipa hanya mengangguk dengan mata melirik keatas.


“Gimana, Dip. Kurang apa?” tanya Kha tak sabar.


Diap mengacungkan kedua jempolnya. “Enak. Asin, gurih, pedes, manisnya Pas.” mendengarnya, Kha mengambil lagi satu sendok dan memakan sendiri.


Lumayan.... Gumamnya, tapi tetap saja selera orang berbeda-beda.


Biru sedikit terperanjat melihat kehadirannya. Pria itu berdiri dan mengambil alih nampan dari tangan.


“Kamu udah sembuh?”


Kha mengangguk. Namun Biru mengernyit.


“Terima kasih buat kemarin, aku bikin nasi goreng semoga kalian suka.”


“Suka! Nasi goreng buatan Teteh bakal aku habiskan, kalau bisa sepiring-piringnya aku habiskan,” seloroh Boim sembari mengambil satu piring nasi goreng.


Kha terkekeh. Boim salah satu pegawainya yang jenaka.


“Kamu buat sendiri?” Kha mengangguk, menanti reaksi wajah datar Biru yang selalu tak dapat ditebak.


“Pantes ada label spesial.”

__ADS_1


Kha memalingkan wajah demi menyembunyikan seri merah jambu pada pipinya.


Biru mengembalikan nampan setelah mengambil piring lalu duduk kembali bersama Boim. Kha masih berdiri, mengamati Biru juga Boim yang makan dengan lahap nasi buatannya. Senang karena ternyata seleranya tidak seburuk itu.


“Masuk gih, kamu juga makan terus minum obatnya.” Kha pun beranjak pergi setelah Biru menyuruhnya masuk.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


Biru.


Dulu, Oma sering bilang. Biru mempunyai sifat persis seperti Almarhum Opa. Kalau Papa cenderung cuek dan bossy, sedangkan Biru lebih ke besar perhatian sama orang-orang disekitar. Saat Barid kecil, Biru akan ikut terjaga ketika adiknya sedang sakit, menemani Mama Senja menjaga Barid yang rewel semalaman. Begitupun Ketika Barsha lahir, Biru dengan senang hati membantu Senja merawat Barid agar adik laki-lakinya tak merecoki Senja saat sibuk mengurus Barsha.


Melihat Kha sakit, mengingatkan dirinya dengan Senja, perempuan yang rela menahan sakit melahirkan sampai mengurus adik-adiknya. Ia khawatir, hingga mata enggan terpejam sepanjang malam. Biru putuskan untuk keluar studio. Duduk dibangku bersama pegawainya Khadijah.


“Kopi, Im.”


“Wuiih, Abang tahu aja apa yang lagi aku butuhin.” Boim menerima secangkir kopi buatan Biru.


Matanya menerawang. Melihat cahaya lampu dari balik tirai.


“Gimana keadaan, Kha?”


Gentar menyesap kopi panas. “Kata Asti pulas tidurnya, tadi sempat bangun shalat terus tidur lagi.”


Lega.


Kha sudah bisa melaksanakan kewajibannya, artinya keadaan perempuan itu sudah ada perubahan.


Duduk bersama orang yang bekerja masih dalam satu bidang tak membuat mereka mati kata. Ada saja hal yang bisa dibicarakan. Hingga tak terasa adzan subuh telah berkumandang. Boim mengajaknya shalat di mushola yang letaknya tak jauh dari ruko.


“Habis ini sekalian nyari sarapan, Im.” Boim mengangguk setuju.


“Kalau Bang Biru doyan, biasanya pagi-pagi gini ada ketoprak Mataram gerobak lewat depan ruko. Enak, Bang.”


“Boleh dicoba.”


Selesai dengan kewajibannya, Biru dan Boim kembali ke ruko. Kembali menyesap kopi gelas ketiga sembari menunggu penjual ketoprak yang dimaksud Boim. Namun, sebelum penjual ketoprak lewat, Kha lebih dulu keluar dengan nampan ditangannya.


Alhamdulillah.

__ADS_1


Biru lega melihat wajah Kha yang kembali berseri. Menandakan sang pemilik raga telah pulih dari sakit.


Melihat Boim makan nasi goreng buatan Kha dengan lahap, membuat cacing diperut Biru ikut berseru. Ia memakan masakan Khadijah, dan rasanya enak, persis buatan Mama Senja.


__ADS_2