Dear Khadijah

Dear Khadijah
Belum pantas (2)


__ADS_3

...28. Belum pantas (2)...


Khadijah.


“Dia belum pantas mendapatkan rasa cemburuku, Asti.”


Kha mengayun cepat langkahnya masuk kedalam toko kue, lalu memesan beberapa kue untuk diberikan pada para pegawainya juga pegawai studio photo Biru. Ia tak berani lagi menatap keluar toko. Sebab semakin lama melihat Biru, semakin dibuat gundah pula hatinya.


Namun, justru Asti yang terlihat gusar, beberapa kali Kha melihat Asti celingukan di depan jendela. Melihat pemandangan yang sempat membuat langkahnya terhenti beberapa detik.


“Kira-kira cewek yang duduk sama Mas Biru siapa ya, Teh?” tanya Asti penasaran, Kha mengangkat kedua bahu tanpa menjawab pertanyaan Asti.


“Tapi 'kan Mas Biru udah bilang sama Abi Azzam mau bawa keluarganya ke Jogja. Itu artinya Mas Biru mau ngelamar Teteh, 'kan?” lagi-lagi Kha tak menjawab.


“Kenapa Mas Biru belum pantes dapet rasa cemburu, Teteh? Bukannya Teteh sama Mas Biru juga bisa disebut lagi ta'aruf, ya? Berarti Mas Biru itu calon suami Teteh, kok....”


Kha meletakkan jari telunjuk didepan mulut Asti, membuat Asti menutup mulut tak meneruskan ucapannya. “Kita masih tahap saling mengenal, bisa dikatakan begitu. Tapi bukan berarti Mas Biru sudah resmi jadi calon suamiku, jodoh tidak ada yang tahu, Asti... Jangankan yang masih sekedar ta'aruf, yang besoknya tinggal akad saja belum tentu jodoh. Aku bilang dia belum pantas mendapatkan rasa cemburuku, karena belum tentu dia yang akan menyebut namaku diantara bacaan ijab qobul.”


Asti membulatkan mulut mengucapkan kata o-o.


“Semua jadi berapa, Kak?”


“175 ribu, Kak.”


Setelah melakukan transaksi pembayaran, Kha dan Asti keluar dari toko kue. Saat keluar, ia tak lagi mendapati Biru disana. Hanya ada gadis tersebut, itu juga sudah berpindah duduk bersama Mama Biru.


Sebenarnya, timbul rasa Kha ingin menyapa Mama Biru. Setidaknya memberi salam pada perempuan itu, tetapi Kha terlalu ciut untuk menyapa perempuan dengan kelas yang terlihat sangat berbeda itu, ia takut kedatangannya tak akan diterima dengan baik oleh Mama Biru dan teman-temannya.


“Mobil Ujang dimana, As?” tanya Kha saat tak mendapati mobil Ujang di tempat terakhir kali ia turun dari mobil.


Asti celingukan mencari kesana-kemari. “Tadi disini, kok... Apa pindah parkir ya?”


Ketika sedang bingung mencari mobilnya yang dikendarai oleh Ujang, Kha melihat mobil SUV berwarna putih berhenti tepat didepannya. Ia tahu persis siapa pemilik mobil tersebut, karena setiap hari mobil itu selalu berjejer rapi dengan mobil dirinya dihalaman parkir ruko.


“Udah belanjanya? Mau pulang? Ayo masuk!” ajak Biru.


Kha menggeleng. Keningnya mengernyit.

__ADS_1


Bagaimana Biru bisa tahu aku disini?


Apa Biru melihatnya tadi?


Bagaimana perasaan Biru pas tahu aku lihat mereka tapi nggak nyapa dulu.


“Hei! Malah melamun, mau pulang tidak? Ayo buruan keburu sore,”


Kha kembali menggeleng. “Aku pulang sama Ujang saja, Mas,” jawab Kha.


“Ujang udah mau nyampe toko kali,” balas Biru cepat.


Kha membelalakkan mata, “Loh! Mas Biru suruh Ujang pulang duluan?” pekiknya.


Biru tak menjawab, pria itu justru turun dari mobil lalu memutar kemudian membukakan pintu belakang.


“Ayo masuk, As!” Asti menuruti ucapan Biru langsung masuk mobil “Kamu mau pulang nggak?” tanyanya lagi.


“Mas Biru suruh Ujang pulang?” kali ini Biru mengangguk. Ia berdecak lalu menyusul Asti.


Sepanjang perjalanan, suasana menjadi hening. Asti berpura-pura sibuk melihat ponsel, sedangkan Biru fokus menatap jalan. Kha merasa tidak enak, ternyata Biru melihat Kha sejak Kha baru turun dari mobil tadi. Harusnya ia sapa Biru dan Mamanya tadi, bagaimanapun juga mereka saling kenal, tak semestinya berpura-pura tidak melihat.


Kha menganggukkan kepala.


“Kalau yang tadi duduk sama aku, itu juga teman Mama Jihan. Aku duduk disitu karena nggak mungkin gabung duduk sama emak emak, 'kan? Aku sama Jecin udah saling kenal, tapi tadi nggak ngobrol apa-apa, kok! suer, cuman nyapa aja nggak lebih,”


“Aku nggak nanya, Mas,” jawab Kha cepat.


Biru terkekeh, ia sempat menoleh kebelakang sebentar lalu kembali fokus ke jalan. “Aku yang mau ngasih tahu,” jawab Biru sambil tersenyum “Soalnya tadi ada perempuan cantik lewat, padahal lihat tapi pura-pura nggak lihat,” goda Biru.


Kali ini Kha tertunduk malu.


“Maaf....” ucap Kha lirih. “Harusnya aku sapa Tante Jihan tadi,”


Biru kembali menoleh dan melemparkan senyum manis. “Nggak apa, lain kali kalau ketemu lagi kamu bisa sapa Mama Jihan, atau kalau lihat aku duduk sama cewek lain, kamu boleh tegur sekalian siram air ke ceweknya, kayak di film-film gitu, Kha....” seloroh Biru.


Asti yang sedari tadi diam memainkan gawainya pun ikut terbahak mendengar selorohan Biru.

__ADS_1


“Harusnya Mas Biru yang Teteh siram kenapa jadi ceweknya?!” ucap Asti diselingan tawanya.


Biru mengibaskan tangan. “Jangan nanti gantengku ilang, As,” sahut Biru. “Lagian yang dicemburui 'kan ceweknya bukan cowoknya,”


Kha bergidik, lalu membuang muka.


“Tapi kata Teteh, Mas Biru belum pantas mendapatkan rasa cemburunya Teteh, Mas....”


Mendengar ucapan Asti, Biru sampai membulatkan mata. Menatap Asti lewat kaca spion diatas kemudi.


“Wahhh, rasa cemburunya aja belum pantas gimana yang lain, As?”


Asti terkikik pelan. “Halalin segera, Mas,”


Biru membetulkan topi hitamnya sembari berucap. “Siap, laksanakan!”


Kha membuang muka. Terlalu malu karena ternyata dirinya tertangkap basah telah berlaku pura-pura tak melihat.


Sampai di ruko, Kha memisahkan dua kantong plastik berisi kue untuk dibagi dengan pegawai studio photo. Kebiasaan Biru yang selalu berbagi makanan ringan dengan pegawai mereka menjadi kebiasaan Kha pula.


“Ini buat yang lain,” Kha menyodorkan kotak kue kepada Biru.


“Makasih... Oh, Iya! Kamu kapan pulang?”


“Belum pasti. Dipa izin tiga hari, kalau kondisi toko nggak bisa ditinggal mungkin sabtu pagi baru bisa pulang,”


Kha mencebikkan bibir. Jawabannya tak direspon oleh Biru. Pria itu malah asik bermain ponsel didepannya. Ia berlalu tanpa pamit, meninggalkan Biru yang masih sibuk.


Trringg!


Langkahnya terhenti begitu mendengar bunyi notifikasi, ia rogoh Tote bag untuk mendapatkan ponselnya.


Fotografer Blue's studio 2 messages


Pesan pertama berisi sebuah screenshot capture foto bergambar E-tiket penerbangan salah satu maskapai dengan tujuan Jakarta-Yogjakarta. Berisi 6 nama penumpang diantaranya ada Awan, Senja, Biru, Barid, Aurora Barsha, dan yang terakhir nama dirinya.


Disusul pesan kedua berbunyi. Sabtu, pukul 7 pagi. Kita berangkat bareng dari sini.

__ADS_1


Kha menyunggingkan senyum, ternyata ini yang membuat Biru tak merespon ucapannya tadi.


__ADS_2