
Insiden berikutnya.
Serentetan insiden terus terjadi di keluarga Awan. Dimulai dari Senja dan kini Barid. Membuat perasaan Kha diliputi kegelisahan. Ditambah pesan dari Mama Jihan yang selalu menghantuinya. Kha sudah memantapkan diri untuk memberitahukan Biru tentang isi pesan tersebut. Ia tidak ingin sampai terjadi hal buruk pada suaminya, setidaknya dengan diberitahukan isi pesan itu, Biru bisa lebih mawas diri.
Sudah lewat jam makan siang, namun Biru dan crew tidak kunjung pulang. Hanya ada Gentar yang kembali dengan menggunakan motor Biru. Kha menghampiri Gentar. Menanyakan keberadaan suaminya saat ini.
“Harusnya Fadli yang urus pemotretan di Ancol. Tapi mendadak dapat kabar dari kampung kalau Ibunya sakit. Jadi Biru yang gantikan,” ujar Gentar. Pria itu juga menyampaikan pesan dari Biru agar dirinya pulang lebih dulu kerumah Mama Senja tanpa perlu menunggu suaminya.
Barid masih berada di studio. Ada Fateh, adik Dipa yang menemani dan mengurus keperluan Barid. Memikirkan apa yang Barid alami saja sudah membuat Kha kembali gelisah juga takut untuk pulang kerumah Mama Senja. Untungnya esok hari ada jadwal mendekor untuk acara aqiqah di komplek perumahan yang letaknya tak jauh dari ruko, jadi malam ini Kha akan menggunakannya sebagai alasan. Ia tidak pulang kerumah Senja karena harus mempersiapkan keperluan untuk esok hari.
*****
Kha baru selesai melipat mukena saat suara riuh dari lantai bawah mengusik telinganya. Samar ia mendengar suara Barid memanggil-manggil nama dirinya. Serta Merta ia meraih cadar kemudian diikat asal. Saat Kha membuka pintu, Dipa juga Boim berlarian dari arah tangga.
“Dipa, Boim ada apa? kenapa kalian lari-larian?”
“I-ituu, Teh....”
“Itu apa?! Kalian kenapa, sih? Boim!”
“Kha! Kha!”
Kha lari turun begitu mendengar Barid kembali meneriakkan namanya, disusul Dipa juga Boim yang masih bungkam. Dibawah ia melihat satu persatu pegawai dengan muka pucat pasi.
“Barid. Kenapa?” Barid yang dipapah oleh Gentar menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
“Tapi kenapa?” tanya Kha kesekian kalinya yang masih belum di jawab oleh Barid.
“Sekarang, Kha!” bentak Barid. Sorot tajam adik iparnya membuat dirinya ketakutan. Merah padam namun berair, menyiratkan bahwa ia tengah berusaha menahan air mata agar tak jatuh.
“Cepetan dikit, Tar!” bentak Barid.
__ADS_1
Teriakan Barid memberikan reaksi pada jantung hingga berdetak lebih cepat. Ia dibuat mati penasaran dengan keadaan yang membingungkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang memberitahukan masalah apa yang terjadi sampai dirinya masuk kedalam mobil. Belum dirinya menutup pintu mobil. Gentar sudah menginjak pedal gas dengan kencang.
“Barid... Ada apa ini? Mas Gentar?!”
Barid tak menjawab, Gentar pun sama. Ia merogoh saku gamis. Kosong. Barang yang ia cari masih tergeletak di nakas kamar.
Tanpa sadar air mata Kha bercucuran membasahi cadar.
Pasti ada yang terjadi dengan Biru. Tidak mungkin Barid sebegitu panik dan membawa paksa dirinya jika bukan berkaitan dengan Biru.
Tangisannya semakin kencang. Membuat Barid menoleh ke arahnya.
“Kha...,” suara Barid saja terdengar tercekat. “Abang gak akan kenapa-kenapa. Abang pasti baik-baik saja, Kha. Percaya sama aku.”
“Aku harus percaya apa? Suamiku kenapa saja aku tidak tahu,” Kha terisak. Suaranya bergetar. ”Apa yang terjadi sama Mas Biru? Harusnya dari kemarin aku kasih tahu sama dia pesan dari Mama Jihan.”
Ciiiitt!!
Tiba-tiba mobil berhenti. Kha sampai terpental karena Gentar mendadak mengerem. Barid dan Gentar menoleh bersamaan. Menatap Kha dengan wajah tegang.
Kha tertegun. Ia terlanjur berucap dan ucapannya disadari oleh Barid juga Gentar.
“Kha! pesan dari Jihan apa?!” seru Barid tak sabar.
“.......................”
********
6 jam sebelumnya.
“Loh, Bi, Kok lu yang kesini, Fadli mana?”
“Fadli izin balik kampung, Ibunya sakit, Lu balik ke studio aja. Siapin buat pemotretan prewedding nanti sore, Lu handle semua urusan di kantor. Minta bantuan Moza sama Anggar.” titah Biru pada Gentar. “Sama bilangin ke bini gue, kalo udah kelar gak perlu nunggu gue balik. Suruh langsung pulang ke rumah Mak gue aja.”
“Mak Lu yang mana?”
__ADS_1
Gentar terkekeh melihat Biru mendesis menggigit bibir bawahnya. “Mama Senja, Gentar! Minta di potong gaji nih orang.”
“Kalau bisa mah mintanya ditambahin!” Gentar menyingkir sebab Biru semakin membulat kan mata, “Saya permisi dulu, Pak Bos,” sahut Gentar menyeringai.
Ia menyerahkan kunci motor untuk Gentar kembali ke studio. Ponselnya nonaktif dan sedang ia isi daya, sebab itulah Biru mengirim pesan untuk Kha melalui Gentar.
Sepeninggal Gentar, Biru mulai menyiapkan peralatan kerjanya. Dari menyeting Lensa hingga mengecek semua kelengkapan bersama crew nya. Selama pemotretan berlangsung, Biru larut dalam kondisi tempat resepsi yang ramai. Fokus membidik, memberi arahan, pada mempelai beserta tamu undangan yang ikut berfoto.
Keadaan mulai lengang. Ia mengambil jeda untuk Istirahat. Biru menyambar botol air mineral, menenggak hingga tandas, lalu mengaktifkan kembali ponselnya. Begitu ponsel menyala, ratusan notifikasi pesan masuk berderetan. Ada satu nomor yang menarik atensinya. Satu nomor dengan puluhan pesan.
Saat pesan terbuka, mata Biru membulat sempurna. Botol air pun jatuh dalam genggaman. Tanpa kata ia melemparkan Lensa pada salah satu crewnya dan berlari keluar gedung dengan menenteng jaket.
Biru panik. Sangat panik. Pesan-pesan tersebut membuat dirinya cemas. Ia berlalu lalang di tepi jalan mencari kendaraan yang bisa ia tumpangi, kemudian menghampiri seseorang berjaket hijau yang duduk di atas motor.
“Ojek online ya, Pak?”
“Betul, Mas. Memang nggak kelihatan dari jaketnya?”
“Antar saya tanpa pakai aplikasi bisa?”
“Bisa saja asal harga bagus.”
Biru mengeluarkan beberapa lembar uang untuk diberikan kepada tukang Ojek. “Antar saya ke daerah pondok indah.”
Ia mengenakan helm dari pengemudi ojek. Memerintahkan pengemudi untuk membawa motor dengan kecepatan tinggi sembari menaiki motor.
Selama perjalanan, Biru tak henti-hentinya menyuruh pengemudi untuk menambah kecepatan laju. Berulangkali pengemudi mengingatkan kalau mengebut tindakan yang berbahaya, dan lebih lagi ia takut mendapat teguran dari kantor jika terjadi apa-apa. Namun Biru tak menggubris, yang ia inginkan hanya cepat sampai ke rumah Mama Senja.
Tanpa ba bi bu. Biru melemparkan helm dan berlari ke halaman rumah. Keningnya mengernyit. Gerbang yang selalu dikunci, hari ini terbuka lebar. Di pos satpam juga tidak ada yang berjaga.
“Arrghhhh!!!”
Terdengar suara teriakan dari arah rumah. Ia berlari ke arah pintu utama. Mencari sumber arah sumber suara.
“Acha....”
__ADS_1