Dear Khadijah

Dear Khadijah
Insiden


__ADS_3

...43. Insiden...


“Terus kamu mau gadaikan pernikahan kita?” ucapan Kha bergetar, dibarengi keluar air mata lagi dan lagi.


“Astaghfirullah! Nggak akan Kha! kamu pikir pernikahan kita apa? buat dapetin kamu aja nggak segampang itu, Sayang,” Biru menarik tangan Kha, kali ini ia sudah duduk bersimpuh berhadapan dengan Kha.


Air mata Kha tak kunjung surut. Ia takut. Menjadi perempuan yang baru beberapa minggu menyandang status sebagai istri dari Biru, ia khawatir tentang janji Biru. Janji seorang putra kepada Ibunya. Dimana anak laki-laki sampai kapanpun milik Ibunya.


“Jangan nangis, Kha....”


“Aku takut, Mas.”


Sejenak hening. Biru menenangkan Kha dalam pelukannya, seiring isakan tangis terdengar semakin lirih.


“Apa kamu nggak bisa kerja di kantor Papa aja, Mas? Studio ada Bang Gentar sama Bang Fadli, 'kan?”


Biru bergeming.


Situasinya bukan seperti Awan dan Viona yang bekerja sama mempertahankan perusahaan peninggalan Opa. Ini tentang Barid dan Biru, dua anak laki-laki pertama dari dua perempuan berbeda. Biru tak ingin serakah. Demi apapun, duduk di ruangan berAC dengan setumpuk berkas-berkas jelas bukan style nya. Ia seorang petualang, yang rela mendaki gunung, menyeberang laut, hingga bepergian ke tempat terpencil sekalipun hanya untuk selembar gambar. Fotografer bukan dunia yang ia tekuni atau inginkan tiba-tiba. Dunia Jihan lah yang menarik dirinya hingga Lensa menjadi hobi serta minat Biru.


Meninggalkan Kha yang masih betah berlama-lama diatas sajadah. Barangkali ia sedang bernegosiasi dengan Tuhan agar garis takdir tak terlalu terburu melewati kerikil. Biru melangkah gontai meninggalkan toko bunga, menuju studio photo.


Brakk!


Gentar melemparkan majalah bisnis di meja tepat setelah bokongnya menyentuh kursi.


“Tante Jihan, ninggalin ini tadi.”


Cover majalah bisnis tersebut menampilkan foto Barid Tanaka dengan gaya bersedekap tangan. Disamping-samping banyak terdapat tulisan iklan mengenai isi dari majalah itu sendiri. Mungkin yang membuat atensi Mama Jihan tertarik adalah, dimana tulisan besar tentang kemajuan pesat perusahaan setelah dipegang oleh Barid.

__ADS_1


Apa yang salah? Barid telah menempuh pendidikan di jurusan Bisnis, wajar bukan kalau dia hebat dalam bidangnya.


Biru mencampakkan majalah tersebut, melihat Kha terus-terusan menangis saja sudah membuat dirinya kalut. Wajar kalau Kha overthingking dengan masalah ini, Biru sendiri belum memiliki jalan keluarnya.


Pengecut?!


Bukan. Biru lebih memikirkan posisi Barid dan perasaan Senja, belum lama ia terlibat perang dingin dengan adiknya lantaran memperebutkan hati Khadijah, dan ia tak ingin masalah ini menimbulkan konflik baru dirumah.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


Malamnya, Biru berlarian sepanjang lorong rumah sakit. Ia bergegas setelah menemukan ponselnya dalam keadaan berdering. Barid, dan Barsha secara bergantian menelponnya, bahkan sampe puluhan kali. Mereka memberi kabar jika Senja mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menjemput Barsha disekolah.


Di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD), Papa dan Barid berdiri sedangkan Barsha duduk tertunduk. Melihat Biru datang, Barsha langsung berdiri menghambur memeluk Biru.


“Abang... Mama, Bang,” ucap Acha. Tangisnya pecah, ia hanya bisa memenangkan adiknya dengan membalas pelukan lebih erat.


Barid mengangsurkan botol minuman, mungkin karena adiknya melihat ia datang dengan napas tersengal.


“Masih ditangani sama dokter, semoga tidak terlalu serius.”


“Kecelakaan tunggal?”


“Papa masih belum tahu soal itu, apakah termasuk kecelakaan tunggal atau tabrakan, karena hanya Mama yang dilarikan kerumah sakit dari kecelakaan ini. Begitu dapat kabar Mama dilarikan kesini Papa sama Barid langsung kesini. Tapi Papa sudah suruh orang-orang Papa buat cari tahu, Kamu duduk saja, kita sama-sama tunggu kabar lebih lanjut.”


Biru membawa Barsha untuk duduk. Ia merogoh saku celana, mengambil ponsel yang tidak juga berhenti berdering. Tante Viona, Om Alan, sampai Kha bergantian menelpon nya. Ia langsung menghubungi Kha, tak ingin membuat hati istrinya semakin pilu, kasian batinnya, seharian ini emosi Kha sudah sangat terkuras.


“Kamu tidur dulu aja ya, jangan tunggu aku. Nanti aku kabari lagi, tolong doakan Mama,” ucap Biru menutup sambungan.


Hampir satu jam mereka duduk gelisah di waiting chair. Barid sudah pulang lebih dahulu membawa Barsha yang sudah sangat kacau karena tak berhenti menangis. Tak selang lama, salah seorang dokter dengan pakaian serba hijau keluar dari IGD.

__ADS_1


“Keluarga Ibu Senja Nahesswari?”


“Betul, Dok. Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?”


“Sudah lewat masa kritis, dan siap untuk dipindahkan ke ruang rawat. Tidak ada yang terlalu serius, Ibu Senja mengalami cidera leher, juga cidera dada. Bisa disebut haemothorax, karena timbul komplikasi yang disebabkan infeksi patah tulang. adanya akumulasi darah di sekitar ruang paru paru yang membuat Ibu Senja masih kesulitan untuk bernapas. Sebab itu Ibu Senja masih membutuhkan penanganan khusus,” terang Dokter tersebut.


“Alhamdulillah, kami serahkan semua kepada dokter, Terima kasih,” jawab Awan. Lantas Awan menyuruh Biru untuk masuk ke ICU, sementara Awan mengurus administrasi dan kamar rawat inap yang akan Senja tempati.


Biru prihatin sekali melihat Senja. Perempuan yang biasanya sangat riang, selalu menyibukkan diri dengan hal-hal remeh, kini terbaring lemah di atas brangkar. Di lehernya terbelit cervical collar untuk menopang. Infus tertancap ditangan dan memakai alat bantu pernapasan. Biru hampir menjatuhkan air mata, tidak tega melihat kondisi Senja.


Notifikasi pesan masuk, dibarengi dengan Awan yang masuk kedalam ruang rawat dengan wajah seperti menahan amarah. Ia ingin menanyakan, tapi urung begitu mendengar notifikasi pesan berikutnya.


Bukan kecelakaan tunggal. Menurut analisis dari tayangan cctv, ada unsur kesengajaan. Mobil Mama ditabrak dari arah belakang saat sedang menepi.


Plat nomor sudah didapat, sayangnya mobil itu bodong dan nomor polisinya palsu.


Ia membaca 2 pesan yang Barid kirimkan dengan seksama. Lalu menoleh pada Awan yang juga tengah gusar dengan ponselnya, mungkin Awan mendapat informasi serupa.


“Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana sampai Mama bangun.”


“Papa mau kemana?”


“Ada yang perlu Papa urus.”


“Papa mau kemana?!” tanya Biru ulang, “Biar Biru yang urus sama Barid, Papa tunggu Mama aja.”


Awan menolak tegas, “Kali ini harus Papa yang urus.”


Biru memperhatikan Awan keluar tanpa mengucapkan apa-apa lagi, langkahnya lebar dan tergesa. Biru mulai khawatir dengan alasan dibalik insiden kecelakaan yang menimpa Mama Senja.

__ADS_1


__ADS_2