
...62. Gotcha!...
Awan.
Sejak hari dimana istri dan anak-anaknya menjadi korban penyekapan, Awan menyerahkan semua urusan kantor kepada Viona dan Alan. Ia memfokuskan diri untuk turun langsung menyelidiki kasus yang menimpa Biru. Karena ia pikir jika hanya mengandalkan polisi saja maka akan memakan waktu lebih lama, sebab satu dari penjahat yang berhasil ditangkap sampai sekarang masih bungkam meski bukti sudah terkumpul cukup untuk menjeratnya.
Sempat terkejut mendengar anak buahnya melaporkan bahwa Senja diam-diam menemui Dewo. Namun, ia tahu kemana pun langkah Senja sudah pasti untuk urusan anak-anak. Kini, disinilah ia berada. Kafetaria khusus di gedung perkantoran yang di kelola oleh Dewo. Sejak kemarin siang ia sengaja meminta sekretarisnya membuat janji temu bersama Dewo untuk membicarakan permasalahan antara anak Dewo dengan keluarganya.
“Pak, pak Dewo sudah datang.” ucap seorang perempuan dari ambang pintu kaca.
Awan berdiri menyambut kedatangan Dewo. Tidak ada tegur sapa apalagi ramah tamah antara mereka. Baik awan mau pun Dewo membawa satu pendamping pada pertemuan ini. Tak ingin membuang waktu, Awan mengeluarkan sejumlah foto jepretan maupun screenshot dari cuplikan rekaman cctv. Ia jejerkan foto tersebut di atas meja menghadap Dewo. Diluar dugaan, ternyata jajaran foto tersebut tak sedikit pun menarik atensi Dewo. Awan mengernyit, mencoba memahami mimik wajah Dewo yang datar tak terbaca.
“Aku sudah lihat semua foto itu dari Nja.” ucap Dewo.
Nja?? Hah sungguh menggelikan! Awan tersenyum sarkas mendengar Dewo menyebut nama istrinya.
“Saya tidak tahu apa yang mendasari anak Anda berbuat jahat kepada keluarga saya. Tapi yang pasti perbuatan Jecin telah melukai istri dan anak saya, lalu sekarang Jecin juga menyebabkan anak saya terlibat dalam masalah yang dibuat anak Anda,” Dewo menyimak dengan baik apa yang Awan katakan, “karena ini menyangkut hilangnya nyawa orang, maka dari itu saya penutup pintu damai demi proses hukum yang berlaku.”
Dewo mengangguk-angguk, terdengar helaan napas panjang darinya. “Saya paham. Entah ini benar atau tidak, saya rasa alasan yang mendorong Jecin melakukan hal sekeji ini adalah dari saya sendiri. Andai saya lebih peka pada tumbuh kembangnya, mungkin hal semacam ini tidak akan terjadi.”
Awan bergeming. Ia rasa hubungan Dewo dan Jecin tak dekat layaknya anak perempuan yang selalu manja dengan ayahnya. Melihat muka Dewo mengiba tak membuat Awan terenyuh sedikit pun, mau bagaimana pun Jecin salah telah menyebabkan kegaduhan hebat di ranahnya.
“Polisi masih dalam upaya pencarian Jacinda dan Jihan yang diketahui pergi bersama setelah kejadian di rumah saya. Apabila anda tahu keberadaan Jecin, saya harap anda kooperatif.”
__ADS_1
Dewo menerima tumpukan kertas dari pria di sampingnya, lalu menyerahkan lembaran kertas itu pada Awan. Lembar kertas berisi alamat tempat-tempat seperti villa dan beberapa nomor kamar resort di berbagai daerah.
“Kemungkinan perempuan yang bernama Jihan itu pergi bersama Jecin. Namun sayangnya, sejak kemarin saya tidak dapat melacak transaksi maupun keberadaan mereka sebab ponsel, atm, juga paspor Jecin tidak dibawa, semua barang miliknya ditinggal di apartemen.” terang Dewo.
“Kalau begitu, bukankah Jecin masih berada di Indonesia?” tanya Awan, dibalas anggukan kepala oleh Dewo.
“Saya tulis lengkap semua alamat villa keluarga juga resort di berbagai daerah. Saya tidak yakin, tapi mungkin Anda dapat meminta bantuan pada pihak kepolisian setempat untuk memeriksa.”
Awan membaca semua alamat-alamat yang di beri Dewo. Dari semua alamat yang tercantum, keseluruhannya berada di daerah yang sebagian besar menjadi lokawisata. Total ada 12 alamat tersebar di seluruh provinsi, seperti Bali, lombok, jawa barat, jawa tengah, bahkan sampai NTB dan masih banyak lainnya.
Awan memijat pelipis, dari banyaknya tempat yang kemungkinan menjadi tempat persembunyian Jecin juga Jihan, artinya banyak juga jaringan kepolisian yang akan ia mintai bantuan. Awan dan Dewo mengakhiri pertemuan itu, masih sama tanpa akhir kata apalagi sekedar pamit. Dewo bangkit dari kursi lalu meninggalkan Awan, begitu juga dengan diri Awan.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
2 pekan sudah berlalu, dan petugas terkait masih mengupayakan pelacakan posisi target melalui Global positioning system atau GPS setelah menghimpun informasi terkait ip address macbook yang di bawa Jecin. Sayangnya, gps nonaktif saat masih berada di daerah Jakarta. Karena itu polisi sedikit kesulitan mendapatkan informasi lokasi yang akurat. Kendati demikian, pihak polisi mencari cara lain dengan melacak melalui Base Transceiver Station { BTS} atau menara pemancar sinyal seluler yang terhubung ke seluruh perangkat yang digunakan Jecin.
Melalui BTS, polisi akhirnya mendapatkan lokasi target. Tempat terakhir yang terlacak berada di daerah jawa tengah, tepatnya di daerah wisata dataran tinggi dieng. Awan memberikan berkas dari Dewo kepada pihak polisi, dari situlah mereka mendapatkan alamat lengkapnya.
Pagi tadi, Awan diberi kabar jika surat penangkapan untuk Jecin dan Jihan telah terbit dan polisi akan segera melakukan prosedur penangkapan. Awan ditawari untuk ikut serta dalam upaya penangkapan Jecin dan Jihan yang kini namanya telah ditetapkan sebagai buronan. Dengan senang hati Awan ikut serta bersama Alan juga Barid.
Awan dan yang lainnya menunggu pihak polisi di luar gedung saat tim gabungan yang akan berangkat tengah mematangkan persiapan dalam rencana penangkapan tersangka buronan. Karena dirasa buronan tidak terlalu membahayakan, maka tidak ada backup dari tim yang lainnya. Sebelumnya Awan juga diberitahu untuk memakai mobil yang tidak mencolok agar pergerakan tidak bocor.
“Masih lama, Pa?” tanya Barid.
__ADS_1
“Masih jauh. Mereka bilang perjalanan memakan waktu hampir 12 jam.” jawab Awan.
Awan menembus jalan lebih dari 11 jam. Sudah dini hari saat mobilnya mulai masuk ke jalan yang agak terjal, juga hawa dingin yang menembus pakaiannya. Artinya tak lama lagi mereka akan tiba di tempat yang diduga menjadi lokasi persembunyian. Rupanya tempat tersebut berada di sebuah daerah agrowisata dan hanya merupakan homestay biasa. Begitu tiba di lokasi, Awan diminta hanya menonton penggerebekan dari jarak jauh. Ia menurut, dapat melihat dua wanita dalang kegaduhan diringkus polisi saja sudah cukup puas baginya.
Kehadiran polisi turut menarik atensi warga sekitar, membuat beberapa orang yang dini hari itu masih terjaga atau memang sudah siap melakukan aktivitas ikut menghambur menyaksikan.
“Ono opo, Kang, kok rame polisi, ono sek ngumbe-ngumbe yo? Opo ngobat narkoba?” tanya salah satu warga setempat. { ada apa, Pak, kenapa banyak polisi, ada yang minum-minum ya? Atau narkoba?}
“Iyo, ojo-ojo mancen ngobat, nek ora ngono, polisi ora rame!” sahut pria lainnya. {iya jangan-jangan memang narkoba, kalau bukan, polisi nggak akan ramai.}
Awan hanya merespon dengan senyuman serta gelengan kepala sebab ia pun tak mengetahui bahasa jawa. Tak hanya satu, dua, bahkan beberapa orang dengan kain sarung di selampai di bahu berbondong-bodong dan bertanya dengan bahasa yang sama.
“Kita ikut masuk saja, disini terlalu ramai.” ajak Alan, Awan pun mengikutinya.
Dari luar jendela kaca tinggi yang hanya tertutup tirai tile, Awan dapat melihat dengan jelas dua perempuan tengah tertidur di atas bean bag menghadap ke perapian. Dadanya bergemuruh melihat penampakan salah satu wanita yang sangat ia kenali.
“Bisa-bisanya dia kabur ke tempat seperti ini. Tidur pulas tanpa memikirkan dinginnya sel penjara yang lagi di rasain sama Biru.” geram Awan.
Awan memperhatikan polisi yang dengan cekatan membuka pintu dengan satu alat kecil lalu menerobos masuk.
Gotcha!
“Angkat tangan!!!”
__ADS_1