
...64. Pahlawan kita....
Setibanya di rumah, Kha membaringkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini sangat menyesakkan, membingungkan juga melelahkan. Sesak dadanya setelah mendengar alasan yang mendorong Jihan mengikuti kemauan Jecin. Bingung apakah ia sanggup menerima alasan dari anak yang hatinya tergores oleh sikap orang tuanya. Lelah ... entah kenapa belakangan tubuhnya sering lelah, lemas, dan siang ini ia merasa tidak beres dengan pencernaannya.
Ia melipat dahi hingga muncul kerutan besar, berharap kepalanya yang berkedut lekas membaik. Akan tetapi yang ia rasakan kini bukan hanya pening, mual kembali menyerang hanya karena seteguk air putih. Ia lari tunggang langgang menuju kamar mandi dan memposisikan diri di depan kloset, sesaat kemudian ia memuntahkan isi perut hingga menyisakan perih pada lambung.
Kepalanya semakin berat. Mulutnya pahit seperti mengunyah obat. Saat ia berdiri, ia merasa sekeliling berputar dan pandangannya kabur, meski begitu ia berusaha kembali menyeret kaki menuju kasur. Semakin ia melangkah kepalanya semakin berdenging dan akhirnya ia limbung sebelum sampai ranjang.
Ia mendengar suara Azzam sedang berbincang dengan Awan. Juga suara sahutan dari Senja menimpali ucapan Awan. Kha ingin memanggil mereka, meminta bantuan pada mereka yang sedang berbincang serius namun mulutnya seolah tercekat, tenggorokannya juga perih bak tergores. Syukur alhamdulillah tak selang berapa lama Azzam naik ke kamar dan menemukan Kha bersimpuh dilantai.
“Teteh! Kamu kenapa?” pekik Azzam.
Kha tak menjawab, seluruh tubuhnya terasa sakit tanpa terkecuali. Bahkan ketika Azzam membantu mengangkat dirinya untuk baring ke kasur, ia merasa sakit di setiap bagian tubuh yang tersentuh Azzam.
“Kamu sakit?” tanya Azzam lagi, dan Kha hanya menggeleng lemah. Azzam memeriksa tubuhnya dan meletakkan telapak tangan di dahi, lalu keluar kamar sembari memanggil-manggil Alsea.
Selang beberapa detik saja kamarnya menjadi sangat ramai. Ditambah suara panik dari Barsha yang mendominasi ruangan. Keriuhan tersebut kembali memancing rasa mual yang membuat dirinya bangun dan berlari ke kamar mandi. Saat berjongkok ia merasa telapak tangan Alsea mengusap lembut punggungnya.
“Oleskan ini, Umi. Kha masuk angin mungkin.” kata Senja.
Kha bangkit lalu duduk di atas kloset, menatap satu persatu wajah panik dari orang-orang yang mengikutinya sampai ke kamar mandi. Menurut Kha hanya tatapan Alsea yang berbeda, sorot mata uminya itu jelas menunjukkan tidak ada kepanikan, tapi justru terlihat seperti orang yang sedang menaruh curiga.
“Umi, pusing banget ....”
“Kapan terakhir kali kamu menstruasi?” tanya Alsea. Spontan membuat semua mata tertuju pada dirinya.
Kha mengingat-ingat kembali hari terakhir menstruasi, lupa sebab seingatnya ia sudah lama tidak absen untuk shalat.
__ADS_1
“Coba ingat baik-baik, Nak.” titah Senja.
Kemudian ia teringat memang selama menikah dengan Biru ia belum sekalipun kedapatan berhalangan. “seingat Kha, waktu sebelum pulang ke Jogja.”
“Artinya sebelum kamu menikah?”
Kha mengangguk, “Iya, Umi, beberapa hari sebelum menikah.”
Dari jawabannya ia melihat reaksi berbeda-beda. Azzam yang menghembuskan napas berat, Awan mengusap wajahnya dengan kasar, mata Senja nampak menganak sungai, sedangkan Alsea menghambur memeluk dirinya. Dari pertanyaan Alsea dan reaksi keluarganya, Kha menyadari sesuatu. Sesuatu yang sama sekali belum ia pikirkan apalagi bahas bersama Biru.
“Umi ... nggak mungkin, ‘kan?” tanya Kha. Suaranya bergetar ketakutan.
“Umi juga tidak tahu, Teh, sebaiknya kita pastikan ke dokter ya.” ajak Alsea.
“Iya, Sayang. Kamu menikah di masa subur, dan pernikahan kalian sudah hampir dua bulan. Besar kemungkinannya, tapi benar kata Umi sebaiknya kita pastikan ke dokter.” ujar Senja.
“Apa yang kamu takutkan? Sedangkan kamu punya kita yang akan selalu menjaga kamu,” Senja membelai ujung hijab Kha, meyakinkan agar Kha tak terlalu khawatir.
Sampai pada akhirnya ia dan semua keluarga tiba di salah satu rumah sakit terbesar di kawasannya. Senja dan Alsea berjalan beriringan menuntun dirinya, Awan bertindak sebagai seorang Ayah siaga yang sigap mengantre untuk mendaftar. Tak perlu menunggu lama ia sudah di panggil oleh seorang suster, berkat orang dalam dari sang mertua pun ia mendapatkan hak privilege.
“Wah, ramai sekali ini, siapa yang mau diperiksa hari ini?” tanya Dokter kandungan, sembari menahan tawa melihat segerombolan orang masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu.
“Ini menantu saya, Dokter. Namanya Kha, Khadijah.” ucap Awan.
“Loh, pak Awan sudah punya menantu? Saya baru dengar.” ujar Dokter terkejut. Awan hanya mengangguk dan tertawa menjawabnya.
“Oke, kita mulai pemeriksaannya ya.”
__ADS_1
Mula-mula Kha diberi sebuah cup dan stick lalu dituntun oleh suster ke kamar mandi. Ia sempat kikuk karena di perintahkan untuk membuang air kecil di tempat tersebut. Setelah selesai ia diarahkan untuk menjalani serangkaian test dengan peralatan yang asing baginya.
“Kondisi Ibu sehat dan siap untuk mengandung, hasilnya masih samar tapi mari kita pastikan lagi.” ucap Dokter.
Kemudian ia disuruh berbaring di atas brangkar. Saat suster hendak menarik ujung baju, Kha langsung menahan sebab di sana ada Gentar dan Barid. Pria- pria bukan mahram untuknya. Azzam mengedipkan mata pada mereka dan akhirnya mereka keluar dari ruangan, hanya Awan yang masih singgah namun berbalik badan.
Suster membantunya lagi menaikkan baju, lalu ditumpahkan sebuah gel ke atas perutnya. Ia di suruh untuk melihat ke layar monitor ketika sebuah benda tumpul ditempelkan ke perut, sembari mendengarkan penjelasan dari Dokter. Kha hanya terlihat sebuah kantung bulat tak sempurna dengan titik hitam di tengahnya, yang menurut dokter ialah calon janin.
Janin ....
Mendengar kata Janin membuat Kha tidak lagi fokus dengan penjelasan Dokter. Pikirannya mulai bercabang, tentang kabar bahagia juga mengejutkan untuknya. Ia duduk kembali di kursi ketika dokter akhirnya mengajak Senja berbincang sebab ia sudah tidak memperhatikan.
“Usia janin 6 minggu, ini normal terjadi Bapak, Ibu sekalian. Karena hpht berdekatan dengan tanggal pernikahan yang artinya saat pertama kali berhubungan Ibu Khadijah sedang dalam masa subur.” terang Dokter.
Ia menerima print out gambar dari monitor tadi. Tangan mungilnya gemetar ketika menerima foto calon anak dirinya dengan Biru. Pikirannya belum juga jernih, ketakutan akan menghadapi semua seorang diri jelas mempengaruhi perasaannya. Sampai ribuan nasehat juga dukungan dari keluarga tak dapat menembus dinding kekhawatiran.
Ingatannya kembali mereka ulang kejadian malam itu. Andai saja Biru tidak cepat tanggap dalam menolongnya, akankah janin dalam perut ia terselamatkan. Andai Biru tahu, saat itu dia tidak hanya sedang melindungi dirinya, tapi juga menyelamatkan calon anak mereka.
“Kha ... tarik napas perlahan, lalu hembuskan,” ia mengikuti titah Senja, “tugas kamu sekarang bukan hanya menjaga diri, tapi menjaga anak kalian. Jangan khawatir, jangan takut, kami semua ada disini buat kamu, Nak.”
Kha mengangguk, namun air mata tak dapat di bendung lagi. Haruskah ia bahagia dengan kehamilannya, atau sebaliknya.
Ia genggam kuat-kuat secarik foto calon anaknya seraya bergumam. “berkembanglah dengan iringan doa dari orang-orang yang menyayangimu, Sayang. Kita tunggu sama-sama pahlawan kita sampai ia kembali.”
"Akan aku ceritakan betapa hebat pahlawan kita, dia mengorbankan seluruh hidupnya hanya untuk menyelamatkan kita."
Tangisan Kha pecah memenuhi mobil yang ia tumpangi. Suaranya begitu menyayat hati membuat semua orang ikut larut dalam kesedihannya.
__ADS_1