Dear Khadijah

Dear Khadijah
Pesan dari Jihan (2)


__ADS_3

...48. Pesan dari Jihan (2)...


“Siapa? penting?”


“B-bukan siapa-siapa, Mas. Orang pesan bunga.”


Kha bungkam. Jihan tak berkata banyak tapi begitu lugas ditelinga nya. Kata, Biru tak perlu tahu soal ini pun seolah menghipnotis dirinya untuk mengikuti perintah Jihan.


Pikirannya lebih sibuk merangkai ucapan Jihan dengan kasus Senja, hingga tak memperhatikan jika Biru tengah menatap penuh tanya.


“Are you okay, Sayang?”


Kha setengah gelagapan menerima pertanyaan Biru, haruskah Biru bertanya disaat seperti ini, kenapa ia tak cuek saja seperti sebelum mereka menikah. Ia benar-benar membutuhkan sikap Biru yang dulu.


“Sayang....”


“Aku nggak papa, Mas. Lagi bingung aja. Iya bingung, banyak banget pesanan masuk buat hari ini soalnya,” kilah Kha.


Buru-buru ia rangkum jemari Biru untuk disalami dan dikecup, lalu turun dari mobil sembari melambaikan tangan. Kha ingin segera mungkin mengakhiri kegundahan hatinya didepan Biru.


“Teh, kemarin ada yang dateng, Ibu-ibu minta nomor hp kamu,” ujar Asti saat Kha masuk ke toko. Dari sekian pegawai toko, memang hanya Dipa yang tahu soal siapa Jihan.


Dipa mendekatinya, berbicara setengah berbisik didepan muka Kha. “Bu Jihan, minta nomor kamu, kayaknya urgent. Udah ngabarin?”


“Udah, Dip,” Kha mengangguk seraya melanjutkan langkah menuju lantai atas. Ia perlu memeriksa kembali ponselnya, karena selain panggilan, ia melihat notifikasi pesan masuk dari nomor yang sama.


Benar, ternyata benar Jihan juga mengirimi ia banyak pesan. dan dari banyak pesan tersebut nadanya sama percis dengan apa yang di ucapkan pada telfon tadi.


Mendadak hatinya mencelos, Haruskah ia beri tahu Biru? Jika memang hal ini berbahaya buat Biru, bukankah sebaiknya Biru tahu agar suaminya dapat berhati-hati dimanapun ia berada?


“Astaghfirullahaladzim.”

__ADS_1


Kha memutar anak kunci, ia melepaskan cadar lalu mengambil air wudhu. Sebab tempat ternyaman untuk menenangkan hati hanyalah sajadah semata. Kali ini cukup lama Kha menengadahkan tangan, berdoa dan memohon untuk keselamatan suaminya. Kendati demikian ia sendiri tak tahu apa sebab musabab dari bahaya yang dimaksud Jihan.


******


Kha merampungkan pesanan buket bunga ke 11 hari ini, buket bunga Angelica yang dipesan khusus oleh pelanggan untuk melamar sang kekasih menjadi pesanan terakhirnya.


Sejatinya, bukan masalah pesanan bunga ia betah berlama-lama di toko. Bisa saja Kha kerjakan tugas tersebut lebih cepat dan segera kembali ke rumah mertuanya.Tetapi, ucapan Jihan tentang Biru harus menjaga jarak dari keluarganya menjadi alasan Kha untuk terus mengulur waktu.


“Sayang, masih banyak pesanan?” Biru turun dari lantai dua, wajahnya berseri, lembab oleh sisaan air wudhu, wajah teduh yang selalu Kha sukai dari suaminya.


“Pesanan terakhir,” jawab Kha mengangkat buket bunga Angelica ditangannya. “Aku kasih Boim buat dianterin dulu ya.”


Kha memberikan pesanan bunga terakhir pada Boim untuk diantarkan kepada pemiliknya, sekalian Boim jalan pulang karena searah. Dengan diantarkan pesanan terakhir itu, selesai sudah pekerjaan Kha malam ini.


Ia sempat tertegun beberapa saat didepan, bersandar pada folding gate hingga punggung Boim lenyap dari radar pandangan. Lalu....


Sreeek... Sreeekkkk.


“Loh, Kha, kok ditutup? kita nggak pulang kerumah?”


Ia menggigit bibir bawahnya, pandangannya tertunduk tak berani menatap Biru. Kha belum memiliki bahasa yang tepat untuk disampaikan pada suaminya, tapi pesan dari Jihan jelas tak boleh di kesampingkan.


Kepalanya masih tertunduk saat kedua kaki Biru berada didepan kakinya. Dengan gerakan yang teramat lembut, Biru mengangkat wajahnya hingga mereka beradu pandang.


“Sayang....”


Kha sisipkan tangan kebawah lengan Biru, sengaja ia pendarkan kebahagiaan dari manik matanya. Selembut mungkin ia menarik tubuh sampai kepalanya bersandar pada bahu Biru. “Aku rindu,” ucap Kha setengah berbisik.


Biru mengulum senyum dan menyambut uluran tangan ketika Kha menengadah melihatnya. “Jadi ada yang rindu setelah seharian cuekin aku?” Kha menganggukkan kepala, menepis malu demi sebuah keselamatan.


“Malem ini mau tidur disini?”

__ADS_1


“Boleh?”


Biru mengecup kepala Kha sekilas, lalu membawa tubuh istrinya kedalam gendongan. Kha menjerit tertahan, hampir saja kakinya menyenggol vas bunga di ujung rak.


“Mas!”


“Maaf.”


Kha memejamkan mata, masih dalam pelukan Biru yang sama-sama tengah mengatur napas setelah mencurahkan segenap gulungan rindu yang tertahan. Biasanya Kha sangat sensitif terhadap sentuhan, tapi putaran jemari Biru diatas perut ratanya tak dapat mengalihkan sekelumit pikiran. Malam ini ia bisa menghindar untuk tidak pulang kerumah Senja, lalu besok? dengan alasan apa lagi ia bisa menahan Biru agar terus berada disampingnya.


“Kamu kayak yang lagi banyak banget pikiran,” jemari Biru terus merangkak keatas hingga menyentuh rahangnya. Menyelipkan anak rambut yang berserakan di sekitar tulang pipi.


Matanya enggan terbuka, ia tersenyum lalu mengecup lembut telapak tangan Biru. “I'm okay, Mas....”


Biru tak lagi menyahut, hanya sentuhan-sentuhan lembutnya yang mengantarkan Kha ke alam mimpi. Benar, ia harus segera tidur, setidaknya meminimalkan waktu berbincang bersama Biru. Karena jika ia terus membuka mata, bukan tidak mungkin pesan dari Jihan akan sampai ke telinga Biru.


Desiran napas Biru menjadi pengantar terakhir sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap, lalu ucapan “Selamat malam.” menjadi kata terakhir yang ia dengar.


...🌼🌼🌼🌼🌼🌼...


Biru meringkuk memeluk Kha dari belakang, semalam terlalu lelah hingga mereka sama-sama tertidur setelah membersihkan diri. Tubuhnya hanya terbalut selembar selimut membuat Biru tak kuat menahan dinginnya terpaan AC.


Matanya mengerjap beberapa kali, menatap cahaya ponsel yang berpendar diatas nakas. Ia beranjak meraih ponsel, melihat nama Barid tertera dilayar, lalu melirik jam dinding.


Baru jam 3 pagi, Barid nelfon?


Melihat Kha terusik tidurnya karena ponsel terus berbunyi, Biru keluar kamar untuk menerima panggilan dari Barid.


Tak selang lama, ia kembali masuk ke kamar. Bukan untuk kembali tidur, melainkan meraih jaket serta kunci motor. Sebenarnya Biru ingin membangunkan Kha dan berpamitan secara langsung, namun urung begitu melihat istrinya tertidur sangat pulas. Ia hanya mendaratkan kecupan di kening dan pergi meninggalkan Kha seorang diri.


Ia sengaja mendorong motor agak jauh dari ruko, takut bisingnya suara knalpot motor membangunkan Kha. Sebelumnya ia juga menyempatkan diri mengetik pesan untuk istrinya.

__ADS_1


Mata sepet banget, maapkeun kalo banyak typo 🥺


__ADS_2