
Part 54
Khadijah.
Awan membawa semua keluarga ke rumah Oma Utari yang kini di tempati Tante Viona juga suaminya, Om Alan. Sebab rumah mereka kini di jadikan TKP. Police line melingkari semua sisi bangunan rumah. Pun menurut kuasa hukum Awan yang mengatakan sebaiknya mereka meninggalkan rumah tersebut sampai proses penyelidikan dan penyidikan berakhir.
“Benar atau salah, perbuatan melukai sampai menghilangkan nyawa seseorang termasuk tindakan kriminal yang bisa di pidana,” ucap Om Alan. “Cctv bagaimana? Sudah di amankan?” tanya Alan. Semua mata tertuju pada Barid juga Agus yang terlilit perban juga kasa di bagian tubuh.
“Cctv sudah di amankan sama Pak Agus, Om. Kata Barid, pihak polisi juga minta salinannya.”
“Bagus, banyak saksi juga ada rekaman cctv, kalau kasus ini sampai naik pun banyak bukti yang bisa meringankan hukuman.”
Mendengar kata hukuman yang di lontarkan Alan membuat bulu kuduk Kha berdiri. Jemarinya terus bergetar karena thermor. Meski Senja selalu mengusap punggungnya, tak mengurngi rasa khawatir juga gelisah.
“Hukuman?? M-maksud, Om, Mas Biru bakal di penjara?”
Semua terdiam. Kha memalingkan muka ke kiri dan kanan. Menatap satu persatu keluarga suaminya. Kemudian Awan beralih duduk ke sampingnya, mengambil tangannya dan diusap perlahan. Kha membiarkan Awan melakukan hal tersebut sebab seorang ayah mertua juga termasuk mahram bagi dirinya.
“Nak, seperti yang Alan bilang tadi. Biru sudah membunuh orang dan itu tindakan kriminal.”
Kha kembali meneteskan air mata ketika Awan menyebut kata pembunuh. Sekeras apa pun ia menyangkal, memang benar bahwa kenyataannya Biru telah melenyapkan nyawa penjahat itu. Tapi untuk sebutan pembunuh, rasanya amat kejam disematkan pada pria yang sudah mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan keluarga.
“Kamu nggak perlu khawatir karena Papa akan berusaha sekuat mungkin membawa Biru pulang. Lihatlah....” Awan mengangkat dagu ke arah seorang pengacara yang duduk di seberangnya, “Kita punya kuasa hukum handal. Pak Sarman Lubis dan teamnya memiliki track record yang baik dalam membela klien dalam perkara pidana.”
“Tapi, Pa, Mas Biru nggak salah....” suara Kha bergetar, ia menunduk menutup wajah dengan telapak tangan. Tangisannya lirih namun terdengar begitu menyayat hati. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Biru jika benar harus di penjara, sudah pasti ia akan menyalahkan diri sendiri.
Senja mendekat, merengkuh tubuh Kha kuat-kuat, “Semua salah aku, Ma... mas Biru kayak gini gara-gara aku.”
“sabar, Kha, kita hadapi bersama ya, Sayang.”
__ADS_1
Kha mengusap air mata. Cadar putih gading yang ia kenakan telah basah oleh air mata. Mengangkat wajah setelah beberapa kali Barid memanggil namanya.
“Ceritakan pada semua tentang pesan yang kamu dapat,” perintah Barid.
Kha terdiam sejenak, lalu mengambil napas panjang. Setelah dirasa benar-benar tenang, ia mulai menceritakan pada semua orang. Mengenai pesan dari Jihan yang memperingatkan dirinya juga Biru untuk menjauh dari keluarga, serta melarang agar tidak tinggal satu rumah dengan Senja untuk sementara waktu.
Kha mendengar dengan jelas Awan menggeram halus. Pria paruh baya itu sama seperti Biru ketika mengekspresikan emosi, berkali-kali menyugar belahan rambut serta membuang napas kasar. Bukan hanya Awan, yang terlihat lebih terkejut justru Senja. Ibu mertuanya sampai menutup mulut karena terperangah dengan ungkapannya.
“Dari yang Mama Jihan katakan, aku rasa kecelakaan Mama sama Barid juga ada kaitannya.”
“Teteh Jihan??!” pekik Senja heran. Karena sejauh ini antara Senja dan Jihan memang tak memiliki masalah, mungkin masalah hanya ada pada diri Jihan. “Apa alasannya, Teh Jihan sampai hati melakukan ini semua? Selama ini kita baik-baik saja, bukan?”
“Barid??” kali ini semua orang beralih memandang Barid. Barid mengangkat kaki yang terpasang gips.
“Karena itu kamu bohong soal mengecek pabrik ke Jogja?!” tegur Awan.
“Maaf, Pa. Tadinya aku sama Abang mau coba cari tahu sendiri.”
Sedari tadi Pak Sarman mengamati obrolan mereka untuk mencari duduk perkaranya. “Jadi menurut Pak Barid semua ini ulah Bu Jihan?” tanya Sarman.
Barid menggelengkan kepala perlahan. “Saya tidak yakin. Karena jika benar ini ulah Tante Jihan, sudah pasti Abang tidak tinggal diam.”
“Tapi bukankah menurut pengakuan Ibu Khadijah tadi Bu Jihan sempat melarang Pak Biru agar tidak datang ke rumah ini? Artinya apakah Bu Jihan tahu jika hal ini akan terjadi?”
“Bisa jadi,” jawab Barid.
“Maaf, Pak, menyela,” ucap Agus. Satpam yang menjadi saksi sekaligus korban atas penyerangan dan penyekapan di rumah Awan. , “tapi yang saya lihat tadi, hanya ada satu perempuan muda di dalam mobil yang sama dengan para penjahat itu. Saya tidak lihat Bu Jihan. Tadi den Biru juga menanyakan pertanyaan yang sama.
“Artinya Biru juga sempat berasumsi kalau Jihan terlibat,” sahut Alan.
__ADS_1
“Satu perempuan muda,” gumam Awan sembari membuka lama pencarian pada gawainya. “Apa perempuan ini?” Awan menunjukkan layar ponsel ada Agus.
Agus sampai memicingkan mata untuk mengamati dengan seksama. Bukan hanya Agus, yang lain pun turut melongok pada layar.
“Betul, Pak. Itu perempuan yang tadi saya lihat sama penjahat tadi.”
“Mukanya kayak nggak asing,” ucapan Barid menarik atensi Kha. Sama seperti adik iparnya, Kha juga merasa pernah melihat perempuan itu di suatu tempat.
“Dia seorang model,” ujar Awan, “Namanya, Jecin. Jacinda Naheswari,” sontak semua mata memandang Senja yang sama terkejut.
“Nama belakangnya sama kayak nama Mama?” tanya Barid.
“Nggak mungkin, dia nggak mungkin anak....”
“Bener, Nja. Kalau kamu menduga dia anak Dewo, itu memang benar.”
“Artinya kita memiliki dua orang terduga tersangka,” tanya Sarman dan Awan mengangguk.
“Untuk sementara kita sudah memiliki gambaran kasar pelaku namun motifnya belum jelas. Kalau begitu, sekarang saya akan temui Biru di kantor polisi untuk menyelaraskan praduga, supaya tidak simpang siur saat Biru nanti menjalani penyidikan.”
………………
Biru.
Biru menyeka wajah dengan tangan. Menghapus air mata yang tak berhenti menetes semenjak dirinya meninggalkan halaman rumah bersama petugas polisi. Biru sempat menengok dari dalam mobil. Melihat Kha menangis bersimpuh di jalan membuat hatinya hancur bak disayat sembilu.
Dari sekian banyak problematika di hidupnya, Biru merasa hal ini adalah hal terberat yang ia alami. Bukan sebab ia di tahan akibat tindakannya yang sudah menikam orang, namun karena berpisah dengan Kha ternyata seberat itu. Meski usia pernikahan mereka masih seumur jagung, Kha adalah berkah terbesar yang ia terima setelah mendapat ibu sambung luar biasa. Siapa yang akan menyangka seorang introvert seperti dirinya dapat mempersunting gadis sholihah, baik, mandiri, dan berasal dari keluarga yang baik pula.
Dalam benaknya ia berperang. Takdir macam apa yang harus ia jalani ke depannya? Masihkah ada harapan untuk seorang pembunuh?
__ADS_1
Lalu... Inikah kali terakhir ia dapat melihat Aishleen Khadijah?