
Part 53
Khadijah.
Ia meringkuk di tangga selasar. Lututnya yang ia peluk seakan tak memiliki tenaga untuk berdiri maupun mengayuh. Di belakangnya, Senja menangis tersedu, berpelukan dengan Barsha yang tak kalah histeris. Barid sendiri sama seperti dirinya, duduk dan sibuk menghubungi semua orang.
Beberapa menit yang lalu, keadaan di depan matanya seperti neraka. Situasi yang sama sekali tidak pernah terbayangkan akan ia alami. Sungguh dirinya belum sepenuhnya dapat mencerna keadaan malam ini.
Ia ingat dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Barid menelepon polisi untuk meminta bantuan. Namun keadaan menjadi di luar kendali. Berkali-kali Kha menyalahkan diri sendiri atas tindakannya yang kurang perhitungan. Karena kecerobohannya, membuat penjahat itu melihat titik kelemahan Biru, menjadikan dirinya sasaran yang berujung tragedi penusukan.
Bodoh! Benar-benar bodoh. Harusnya ia mendengarkan ucapan Gentar yang melarang dirinya lari menemui Biru. Harusnya ia mengikuti saran Barid untuk menunggu polisi datang lebih dulu. Namun rasa takutnya membuat ia bertindak impulsif. Kha menganggap semua kemalangan yang terjadi pada suaminya, berawal dari tindakannya yang dengan sengaja menyembunyikan, hingga menunda menyampaikan pesan dari Jihan.
Ketakutannya berlanjut ketika ia mendengar suara sirine mobil polisi tiba di halaman rumah. Disusul mobil ambulance di belakangnya. Di saat seperti itu, ia yang hanya menjadi korban saja tidak dapat berpikir jernih. Mungkin jika berada diposisi Biru, ia sudah kabur tanpa berpikir. Akan tetapi, apa yang suaminya lakukan sungguh di luar dugaan.
Kha tertegun melihat Biru masih berusaha menyelamatkan penjahat itu. Setelah sebelumnya, suaminya telah menelepon Ambulance, lalu mengajak berbicara agar pria yang ditusuk tetap tersadar sampai bantuan datang. Namun naas, tusukan benda tajam itu mengenai leher pria bernama Hendar. Mengakibatkan korban kehilangan banyak darah dan meninggal sebelum sempat polisi maupun ambulance datang.
Lalu... bagian yang paling ingin ia lewati dari malam ini adalah....
Ketika Biru dibawa orang-orang berseragam cokelat. Diikat kedua lengannya ke belakang dengan sebuah borgol. Para pria itu mengatakan bahwa Biru akan dibawa ke Polres setempat.
“Mas... jangan tinggalin aku, aku mohon....” Kha mencengkeram lengan Biru, memohon pada suaminya agar tak pergi meninggalkan dirinya. Ia menahan namun dua polisi di sampingnya terus mendorong Biru sampai depan mobil.
Kha menarik tangan salah satu petugas lalu berteriak, “Kenapa suami saya dibawa!”
“Suami Anda melakukan tindak kejahatan.”
“Tidak! Dia nggak salah! Penjahat itu yang salah!”
“Permisi, jangan halangi tugas kami. Silakan jelaskan nanti di kantor.”
__ADS_1
“Mas!!”
“Sayang... aku harus pergi.”
“Kenapa harus! Kamu nggak salah, mereka penjahatnya, mereka yang sudah celakai keluarga kita!” Kha menjadi sangat tidak sabar. Ia kalut. Tidak siap harus berpisah dengan suaminya.
“MASUK!!” gertak salah satu pria sangat berseragam cokelat.
Mungkin karena mendengar dirinya teriak histeris, Biru meminta izin pada petugas untuk berbincang dengannya. Begitu petugas mengangguk, Biru maju berapa langkah menghampirinya.
Biru mengecup kening Kha sekilas. Lalu menempelkan dahi ke dahinya. Napasnya berhembus kasar, hingga terasa di kulit wajah Kha walau terhalangi cadar.
“Kha... aku melenyapkan nyawa orang, a-aku....” kalimat Biru terhenti, berganti dengan suara isak tangis. Sangat pelan, andai tak membuka mata bahkan ia tak akan tahu Biru tengah menangis.
“Kamu gak salah, Mas, kamu melakukannya gak sengaja. Kamu ngelakuin itu buat ngelindungin aku, ‘kan.”
Biru mengangkat kepalanya lalu mengulas senyum. “Tetap saja, Sayang. Karena itu aku harus tanggung jawab.”
“Apapun alasannya. Aku harus bertanggung jawab.”
Biru kembali mendaratkan kecupan di kening. Turun ke bibir yang tertutup cadar, lalu berakhir di bahu kiri. Lebih dari sekali, Biru bahkan mencium bahunya yang terluka sampai berkali-kali, juga meniup pelan.
“Pulanglah. Obati bahumu, lalu istirahat.”
“Nggak, Mas. Aku nggak mau. Aku mau sama kamu....”
“Sayang... ini perintah. Bersihkan diri kamu, lalu....” Biru menjeda ucapannya, menengadah ke atas seolah menghalau air mata agar tak keluar, “Mungkin Allah lagi menguji keluarga kita. Karena itu, adukan semua pada Nya. Jika Ia tak mendengar doaku, mungkin mau mendengar doamu.”
“Tapi, Mas....”
__ADS_1
“Kun Fayakun, Kha... ini sudah kehendak Nya yang nggak bisa kita cegah.”
Biru berjalan mantap meninggalkan Kha. Ia bersimpuh di depan gerbang. Menangis histeris melihat punggung Biru di dorong paksa oleh petugas polisi masuk ke dalam mobil.
“MASSS!!!!”
Biru menengok ke belakang. Tatapan sendunya membuat hati Kha semakin teriris. Jalannya tersuruk sebab ditarik kasar, sampai Biru tiba di depan mobil berwarna hitam. Lalu, yang membuat dirinya semakin rapuh, dalam keadaan se genting ini, lagi-lagi Biru masih sanggup melemparkan senyuman padanya. Matanya mengedip seraya mengangguk. Entahlah, Kha tak bisa dan tak mau mengartikan dari bahasa tubuh itu. karena ia paham, Biru melakukan itu hanya untuk menguatkannya. Mengatakan bahwa dia baik-baik saja lewat senyum palsu.
Aku yang salah. Harusnya aku yang dibawa bukan kamu....
Ia menyeret kaki kembali ke selasar rumah setelah mobil yang membawa Biru hilang dari pandangan. Saat bersamaan, penjahat satunya juga tengah diseret petugas polisi. Juga penjahat yang menjadi korban penusukan pun di bawa menggunakan kantong jenazah.
“Jenazah akan kami bawa ke rumah sakit terdekat guna menjalani autopsi,” ucap petugas ambulance pada Senja. Senja pun tak dapat berkata apa-apa, mungkin perempuan paruh baya itu juga masih syok dengan apa yang terjadi.
Kha duduk meringkuk. Mengambil napas sebanyak mungkin untuk menenangkan hati sendiri. Ia harus belajar dari tindakan sebelumnya. Sebab demi apapun ia sangat menyesali keputusannya yang tidak menyampaikan pesan itu. Padahal sudah jelas-jelas Jihan memperingatkan dirinya agar membawa Biru menjauh dari rumah Senja, tetapi ia gegabah dengan menggunakan cara sendiri tanpa memberitahu Biru.
“Kha....”
Ia menggeser duduk kala Barid mendekat padanya.
“Jangan Khawatir, aku sudah telepon Papa sama pengacara. Gentar juga ikut ke kantor polisi buat pantau keadaan Abang. Kita akan berusaha keras buat keluarin Abang secepatnya,” ucap Barid seakan membawa angin segar baginya. Ya, ada Papa Awan yang tidak akan membiarkan anaknya meringkuk di balik jeruji besi.
“Lalu aku... aku harus apa?”
“Katakan semua yang kamu ketahui soal pesan juga telepon dari Tante Jihan,” Kha mengangguk paham.
Kha menarik napas dalam, lalu menghembuskan perlahan. Pertama-tama, ia harus mengikuti perintah Biru tadi. Ia masuk ke dalam rumah bersama mertua juga adik-adik iparnya. Lalu saling tolong-menolong membersihkan luka di seluruh bagian tubuh mereka.
“Kita jamaah dulu,” ajak Senja. “Kita pasrahkan semua pada Sang pemberi takdir. Selebihnya kita doakan Abang juga orang-orang yang akan membantu Abang agar secepatnya kembali sama kita.”
__ADS_1
Benar kata Biru. Jika doanya tak terdengar, mungkin doa dirinya juga Senja akan dikabulkan.