Dear Khadijah

Dear Khadijah
Penyesalan Jihan.


__ADS_3

66. Penyesalan Jihan


Hari dimana Jihan bersemuka dengan Biru, adalah hari paling melegakan. Ia tak pernah selepas itu menceritakan keburukan tentang dirinya, tak pernah dengan gamblang mengakui kesalahan yang telah ia perbuat. Dan hari itu, menjadi pertama kalinya Jihan berbincang banyak dengan anaknya.


“Mama tahu sekalipun mama sujud nggak akan menghapus dosa mama, Bi. Apa pun yang mama lakukan tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula.”


“Mama nggak perlu minta maaf sama aku.” jawab Biru datar.


“Bagaimana kamu bisa bilang kayak begitu, Bi. Mama benar-benar sudah mengecewakan kamu. Mama tahu semua konsekuensi dari apa yang mama perbuat, tapi tetap melakukannya demi  uang, jabatan, dan menutupi hidup mama yang sudah rusak sejak awal. Kamu nggak salah sekalipun kamu nggak maafin mama, Bi. Memang sudah sepantasnya mama di benci sama kamu.” tutur Jihan.


Biru mengangguk perlahan, “aku memang kecewa sama mama, mungkin ekspektasi aku sama mama berlebihan. Tapi mama nggak perlu minta maaf sama aku, sekalipun lambat seperti siput, pelan-pelan aku pasti akan lupain ini. Tapi, mama harus minta maaf sama Mama Nja, sama istri Biru, sama Barid juga.”


“Pasti. Kalau mama di kasih kesempatan buat ketemu Senja, Khadijah, Barid, mama akan minta sama mereka, Bi. Tapi untuk hari ini, mama hanya ingin kamu memaafkan mama,” ucap Jihan tertunduk, “meski mama tahu berat buat kamu, meski mama nggak pantas dapetin maaf dari kamu. Sekali lagi, izinkan mama egois --”


Ucapan Jihan terpotong ketika tubuhnya tiba-tiba saja direngkuh oleh Biru yang sudah berdiri setengah badan di hadapannya. Jihan berkaca-kaca, ia tak sanggup meneruskan kembali ucapannya. Yang bisa ia lakukan saat seperti itu hanya membalas pelukan Biru lebih erat. Menumpahkan tangis penyesalan dan kebahagiaan yang datang dalam satu waktu.


Ini juga menjadi hal pertama bagi Jihan. Memeluk tubuh tegap anak yang hanya ia lahirkan tanpa ikut merawat sedikit pun. Rasa penyesalannya semakin memupuk, namun di balik itu Jihan juga sangat bersyukur. Bersyukur sebab Biru jatuh pada tangan yang tepat, ia tak sanggup membayangkan apa jadinya Biru jika hidup bersama dirinya.


Jihan berpisah dengan Biru di ruang besuk tahanan. Sebab ia akan dibawa ke rutan wanita, dan mungkin baru bisa bertemu kembali saat sidang atau reka ulang tkp yang akan segera di lakukan.


Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Biru, Jihan mendapat tamu di rumah tahanan wanita. Ternyata orang yang menemuinya sepagi itu adalah Senja, juga menantunya Khadijah. Ia bahkan hampir tak bisa membuka mulut melihat dua wanita berwajah teduh menghampirinya dengan mengulas senyum tulus.

__ADS_1


“Teh Jihan ...,” Senja menghambur memeluknya. menepuk-nepuk pelan punggung seraya berbisik, “jangan menangis,” ucap senja membuat bahu Jihan semakin berguncang.


Tubuh Jihan merosot, dan dengan cepat memeluk kaki Senja, “maafin aku, Nja ... maafin aku.”


Senja menarik pergelangan tangannya, “teteh jangan gini. Bangun, teh.”


“Aku sudah jahat sama kamu, Nja. Dari dulu aku selalu bikin kamu menderita, aku bo doh, aku memang jahat, aku nyesel, Nja.”


Senja menuntunnya kembali duduk di kursi, “alhamdulillah kalau teteh menyesal melakukan tindakan yang merugikan banyak orang lain. Aku harap teteh bisa ambil hikmah dari semua ini.”


“Aku benar-benar menyesal, Nja. Seandainya bisa, aku mau jika harus menggantikan posisi Biru. Biar aku saja yang di penjara, karena memang semua salah aku, biar aku yang menanggung akibat dari perbuatan aku.”


Jihan beralih menatap Kha yang rupanya sudah istiqomah memakai cadar. Terakhir bertemu dengan Kha ketika ia datang membawa Jecin ke studio photo Biru, di sana pun Kha sudah memakai cadar yang menutupi sebagian wajahnya.


Kha merogoh sling bang yang di kenakan, mengeluarkan selembar foto hitam putih lalu di berikan pada Jihan, “ini ... calon cucu mama.” Kha mengucapkannya dengan suara bergetar.


“Kha ... ka—kamu hamil?” tanya Jihan dan Kha mengangguk-angguk.


Jihan menarik napas dan menghembuskan seraya menangis, sampai rasanya mual karena terlalu sesak di dada. Kha hamil, dan karena ketamakannya ia harus terpisah dari Biru. Mendapat maaf dari Biru dan Senja saja sudah sangat menyakitkan, ia lebih ingin di cerca, maki, umpat bahkan di pukul agar rasa bersalahnya berkurang. Kemudian sekarang, ia mendapat kenyataan yang lebih pahit, Jihan menyadari tidak seorang pun yang tidak ia buat menderita saat ini.


“aaakhhh ... Kha, mama harus bagaimana?” ringis Jihan. Ia mengusap kasar wajahnya, lalu menarik rambut sendiri sekencang mungkin.

__ADS_1


“Bang sat! Aku memang bo doh! Harusnya aku yang mati! Harusnya aku saja yang di penjara!” teriak Jihan.


“Stop, Teh! Kamu nggak boleh kayak gini!” sentak Senja.


“Bunuh aku, Nja! Aku nggak pantas hidup, orang tua macam apa aku, Nja ....”


“Mama ....”


Jihan ingin meraih tangan Kha, namun tubuhnya tiba-tiba lunglai sekaligus merasakan kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya buram serta telinganya berdenging keras, di detik berikutnya Jihan tak sadarkan diri.


Jihan tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, ketika membuka mata yang ia lihat hanyalah ruang kesehatan sempit yang sering ia sambangi beberapa hari terakhir. Ya, ruang kesehatan di rumah tahanan wanita.


Jihan terisak. Tak tahu harus berbuat apa, yang ia lakukan saat ini hanyalah menangis, menyesali perbuatannya, dan meratapi nasib Kha yang kini sedang berbadan dua tanpa adanya suami. Tubuhnya masih sempoyongan saat ia memaksakan diri bangun dari ranjang. Lalu seorang petugas datang membawakan papper bag berwarna coklat.


“Ini ada titipan dari tamu kamu yang tadi.” ucap petugas tersebut.


Jihan membuka perlahan bingkisan itu. Ia mengeluarkan 2 buah buku karya novelis ternama. Dari sampulnya ia membaca buku berjudul ‘SELAMAT TINGGAL’ dan ‘GOOD HABITS BAD HABITS’. Di atas buku itu tertempel foto USG yang tadi di berikan oleh Kha. Juga beberapa kotak makan siang berisi masakan rumahan.


‘tebus semua kesalahan yang sudah teteh buat dengan cara berubah jadi ibu dan calon nenek yang baik, gunakan waktu di dalam sana sebagai perenungan. Semoga kita bertemu kembali dalam keadaan sudah menjadi orang-orang yang layak di jadikan panutan oleh anak cucu kita kelak.’ -SENJA.


‘ma ... semoga mama sehat terus agar bisa mendoakan mas Biru dan calon cucu mama, setelah bebas nanti, Kha harap mama bisa dedikasikan semua waktu dan kasih sayang mama buat cucu mama’ -KHA.

__ADS_1


Jihan kembali menangis membaca dua lembar kertas yang di tempelkan di masing –masing kotak makan. Ia mengangguk-angguk seraya bergumam, “Iya ... aku janji akan perbaiki diri, aku akan tobat dan belajar menjadi orang baik untuk kalian semua.”


__ADS_2