
...58. Dear Khadijah....
Khadijah.
Kha terbangun ketika sorot lampu menusuk netranya. Ia merasa tubuhnya sangat lemas tak bertenaga. Matanya memicing begitu sadar ia berada di ruangan yang asing. Aroma tempat itu pun tercium bau obat-obatan.
“Kha, kamu sudah bangun?”
Ia terkejut mendengar suara Barid dari samping tempat ia tertidur. Refleks Kha memeriksa cadar juga hijab yang ternyata masih menutupi kepalannya. Mau bagaimana pun perlakuan Barid dulu sungguh menyisakan trauma.
“Aku di mana?” tanya Kha.
“Kamu di rumah sakit. Tadi pingsan waktu di kantor polisi.” jawab Barid.
Kini Kha ingat. Ia sudah merasakan ada yang aneh dari tubuhnya sejak masuk ke dalam kantor polisi. Entah karena gugup atau takut, ia merasa sangat tidak nyaman berada di tempat itu. Yang membuat dirinya menyesal setengah mati adalah pertemuannya dengan Biru menjadi tidak sesuai dengan bayangannya. Padahal ia sudah bersusah payah dalam perasaan yang membuncah demi melihat reaksi Biru menerima bunga buatannya dan melihat mimik wajah saat memakan masakan hasil olahannya.
Kha menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia menangis tersedu. Kecewa pada diri sendiri kenapa harus pingsan di waktu yang tidak tepat.
“Kha ....”
“Tinggalin aku sendiri, Mas!”
Saat ini ia hanya ingin sendiri. Merutuki tubuhnya yang tidak bekerja sama dengan baik. Harusnya hari ini menjadi hari yang paling bahagia sebab ia bisa melepas rindu dan bercengkerama bersama Biru meski di tempat dan waktu yang terbatas.
“Abang nitip ini, baca kalau kamu sudah mendingan,” Kha melirik Barid yang meletakkan secarik kertas lipat di atas meja nakas. Ia meraih kertas itu dan menunggu Barid keluar dari ruangan.
“Aku tunggu di depan. Kalau butuh sesuatu panggil saja.” ucap Barid.
Kha mengangguk. Pintu tertutup kembali setelah Barid keluar, dan ia mulai membuka perlahan kertas putih dengan sobekan asal di pinggirnya. Belum mulai membaca saja mata Kha telah banjir. Beberapa kali ia harus menarik napas dan menghapus air matanya.
“Huuuft. Bismillah ....” Kha kembali membentangkan kertas, dan mulai membacanya perlahan.
Dear khadijah, istriku ....
Assalamualaikum permata hati. Bidadari surgaku.
__ADS_1
Perempuan langka dan aneh yang berhasil ku persunting.
Tahukah kamu, hari di mana kata ‘SAH’ menggema di setiap sudut rumahmu,
Itu adalah hari terbahagia dari pria pengecut dan menyebalkan ini.
Kamu adalah bentuk dari QS. Thaaha : 39 yang Allah limpahkan padaku.
Sejak saat itu, aku berkomitmen untuk menjadikan kamu satu-satunya perempuan yang boleh menyelaraskan langkah bersamaku.
Khadijahku ....
Aku yakin saat ini kamu dalam keadaan baik-baik saja.
*S**ebab aku pun sama, hanya mungkin hati kita sedang pilu saat ini*.
Tak apa, andai kita ikhlas dan sabar melaluinya, maka hadiah untuk kita pun akan lebih indah.
QS. Ali ‘Imran ayat 125.
Bukan begitu, Kha?
Khadijahku ....
Karena itu aku mohon dengan seluruh kebahagiaanku bersamamu, berhentilah menangisi aku, lalu ganti dengan doa. Sebab hanya doamu yang aku butuhkan sekarang ini.
Setelah itu, aku akan berjuang tanpa rasa takut sedikit pun.
Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk merasakan dahsyatnya AL FATH : 5
^^^Biru.^^^
Ia membaca surat dari Biru yang setiap kalimatnya di iringi dengan buliran hangat dari mata. Kha merasakan Dadanya begitu sesak, seperti tak ada lagi oksigen dalam ruangan yang dapat di hirup. Ia tak menyangka hatinya sehancur ini. Semakin erat ia memeluk surat itu, semakin dalam rasa bersalah yang di rasakan. Baru kali ini ia merasa kecewa dengan tindakannya sendiri.
Andai saja ia tak ceroboh, andai saja ia bisa lebih jujur, mungkin Biru masih berada di sampingnya saat ini. Namun kini Biru yang kala itu berjuang menyelamatkan keluarganya, dan menyelamatkan dirinya dari serangan penjahat itu harus mendapatkan hukuman. Kha merasa ini sungguh tidak adil untuknya. Biru tak sepatutnya berada di tempat penuh ancaman itu.
__ADS_1
Ia miringkan tubuh menghadap kiri. Masih dalam posisi memeluk surat dari Biru. Kha butuh sesuatu untuk menutupi wajahnya agar suara tangisan dirinya tak terdengar hingga luar. Akan tetapi, serapat apa pun ia menutupi dengan bantal, tangisan pilu menyayat hati tetap terdengar hingga keluar ruangan.
Sebab di luar, Awan tengah berusaha menenangkan Senja yang ikut terisak mendengar menantunya menangis. Mungkin bukan hanya Barid dan Awan saja yang terenyuh mendengar tangisan Kha, beberapa orang yang melewati mereka pun melemparkan tatapan iba.
“Kasihan Kha, Pa ... harusnya malam itu aku nggak suruh Acha telfon Abang.” sesal Senja.
“Sabar, Ma, Biru akan segera bebas. Papa akan berusaha bagaimana pun caranya biar Biru pulang dan berkumpul lagi sama kita.”
Satu jam berlalu dan suara tangis Kha masih terdengar, sudah lebih lirih dari sebelumnya namun tetap terdengar sangat menyedihkan. Senja ditemani Barsha yang datang bersama Viona duduk di bangku tunggu luar kamar. Sengaja mereka memberi ruang dan waktu pada Kha agar dapat menenangkan diri sebelum mengetahui kabar selanjutnya. Barid dan Awan sendiri telah kembali ke kantor polisi untuk menyusun rencana mengenai langkah selanjutnya yang harus diambil.
“Sudah sejam lebih. Kha nggak boleh kayak gini terus. Sebaiknya kita masuk dan menenangkan kha.” ajak Viona.
“Iya, Kha harus jaga kesehatannya. Kita nggak boleh biarin Kha terus terpuruk.”
Akhirnya 3 perempuan itu masuk ke dalam kamar rawat setelah sebelumnya saling berjanji untuk tidak meneteskan air mata di depan Kha. Agar Kha tenang, Senja dan yang lainnya juga pun menyembunyikan kesedihannya .
Senja meraih gelas berisi air mineral dari atas nakas. “Kha ... minum dulu ya.”
Kha menggeleng dari balik bantal.
“Kha ....”
Sekian menit Kha masih tidak bergerak dari tempatnya. Membuat Senja tak kuasa menahan tangisnya kembali. Namun buru-buru ia hapus air mata supaya Kha tidak melihat.
“Kha ... mama mohon jangan gini. Mama harap kamu bisa bantu Biru dengan cara kamu kuat dan tabah. Kalau kamu terus terpuruk seperti ini, kamu pikir apa yang akan Biru rasakan? Pasti tersiksa karena tidak bisa mendampingi kamu di sini, ‘kan?”
Rupanya kalimat Senja mengusik Kha hingga menantunya melepaskan bantal lalu duduk bersandar kepala ranjang. Matanya sembab, cadarnya sampai mencetak bentuk wajah sebab basah oleh air mata. Senja serta merta memeluk erat Kha yang masih memeluk surat dari Biru.
“Kamu kuat, kamu harus kuat, Sayang. Ada Mama dan yang lainnya di sini. Ikhlaskan apa-apa yang sudah menjadi takdir kalian. Biarkan Papa berusaha mencari cara untuk membebaskan Biru, kita bantu doa untuk semuanya ya, Kha.”
Kha kembali menumpahkan tangisan dalam pelukan Senja, kali ini bahkan terdengar lebih menusuk relung hati.
“A-aku nggak kuat, Ma ... aku yang salah. Harusnya aku yang di hukum, bukan Mas Biru.”
“Aku rindu mas Biru ....”
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir semua ❤️
Ig. @emyaysel