Dear Khadijah

Dear Khadijah
52


__ADS_3

...Part 52. ...


“Lepaskan kawanku, atau kubunuh Ibumu!” ancamnya sembari menaruh pisau di leher Senja. Seketika kedua tangan Biru terangkat ke atas. Memandang Senja yang tertekan dengan keadaan. Saat itu pula lutut belakang Biru ditendang hingga ia terhuyung dan jatuh bertumpu.


“Abang!!!” pekik Senja dan Barsha bersamaan.


Biru menganggukkan kepala, tersenyum pada Senja agar Mamanya itu tak khawatir. Lalu memberi isyarat pada Pak Agus agar tak sembarangan dalam mengambil tindakan. Mereka hanya perlu mengikuti arus sembari mempelajari keadaan untuk kembali merebut peluang. Biru memekik keras ketika kedua tangannya ditarik ke belakang oleh pria yang tadi menjadi lawan Pak Agus. Ia diseret ke ujung tembok lalu di ikat tangannya menggunakan tali tambang.


Selesai mengikat Biru, pria itu menghampiri Agus, menghajarnya tanpa ampun. Biru hanya bisa mengumpat tanpa melakukan pembelaan, seperti yang ia pikirkan, setiap langkahnya harus terencana agar bisa mengeluarkan semua orang dalam keadaan selamat.


“Amm-pun, Bang....” ucap Agus lirih setelah dipukuli dengan brutal. Kini mukanya hancur lebam, bahkan keluar darah segar dari hidung dan mulut Agus. Biru tak tega melihatnya, namun lagi-lagi ia tak dapat berbuat banyak.


Puas dengan Agus, pria itu membiarkan Agus tergeletak lemah di lantai. Ia mengambil segelas air lalu di siram pada tubuh Agus yang dalam posisi telungkup. “Satu kecoa beres, Bos! Kita apakan yang satunya,” ujarnya sembari melirik Biru.


“Itu urusan, Bos besar. Kita tunggu perintah saja.”


Lebih dari 15 menit Biru tak berkutik dari posisinya. Agus masih tergeletak pingsan, ia sedikit lega karena masih bisa melihat punggungnya bergerak naik turun, artinya Agus masih bernapas. Senja dan Barsha sudah terlihat sangat mengenaskan. Mereka duduk berdua, berpelukan dan tak henti-hentinya menangis.


Ketika satu di antara pria itu tampak keluar dari ruang tengah, Biru langsung ambil kesempatan untuk membuka ikatan tangannya dengan menggesekkan tali pada ujung nakas. Sedikit lagi. Ikatan pada tangannya sudah sedikit longgar. Meski ia merasakan perih luar biasa pada pergelangan tangannya, biru tetap berusaha untuk melepaskan diri.


Hal pertama yang harus Biru lakukan adalah membawa Senja dan Barsha ke tempat yang lebih aman, selanjutnya biar Biru sendiri yang akan menangani mereka. Pria lainnya menyusul kawannya ke ruang depan, kesempatan emas bagi Biru untuk mengambil tindakan. Dengan sekali tarikan kuat, akhirnya tali tersebut terlepas dari pergelangan tangannya. Tak lagi ia rasakan luka akibat gesekan tali kasar itu.


Biru mengendap-endap mendekati Ibunya, ia langsung berlari membawa Senja dan Barsha ke ruang belakang yang terhubung ke kamar art dan juga sebuah ruang kosong. Melalui connecting door mereka masuk. Begitu tiba di dalam kamar, kedua perempuan itu langsung menghambur memeluk Biru.


“Abang... Acha takut....”


“Maafin Abang telat datengnya,” ia melepaskan pelukan Barsha, beralih memeluk Senja, meniti satu persatu tangan Senja yang sama terluka, “Maafin Biru, Ma....”


Mereka bertiga terisak, Biru mengecup kedua tangan Senja. Hancur hatinya melihat kondisi luka di kedua perempuan yang ia sayangi.


“Mereka siapa, Bang? Kenapa melakukan ini sama keluarga kita.”


Biru terdiam. Tidak mungkin ia menceritakan siapa dalang di balik semua kejahatan ini. Ia tidak mau Senja tahu alasan sebenarnya adalah sebuah ketamakan dari sang ibu kandung.


“Mama sama Acha tunggu di sini, jangan keluar sebelum Biru sendiri yang jemput kalian,” perintahnya, ia merogoh saku celana, mengambil ponsel lalu di berikan pada Senja, “Hubungi Gentar atau Barid buat minta pertolongan.”


“Tapi Barid lagi urus kerjaan ke luar negeri, Bang.”


Biru kembali terdiam. Bukan waktu yang tepat untuk menceritakan apa yang terjadi pada Barid. Itu hanya akan menambah beban pikiran Senja.

__ADS_1


“Mama hubungi saja. Jangan berani keluar sekalipun kalian mendengar suara dari depan,” Senja mengangguk paham, begitu pula dengan Barsha.


Biru keluar setelah memeluk dan mengecup dua wanita kesayangannya. Lalu mengunci pintu penghubung dan menaruh kunci di antara dish rak. Ia kembali jalan mengendap ke ruang tengah. Saat kembali, ternyata Agus sudah bangkit dan tengah mengintip keadaan di luar.


“Pak Agus,” bisik Biru.


Agus terperanjat, ia mengira telah ditinggal seorang diri, “Astaga, Den... saya kira Aden sudah pergi sama Ibu dan non Acha. Kenapa kembali kesini? Sudah Aden pergi saja, Bawa Ibu sama non Acha. Mereka biar saya yang hadapi.”


Biru mengusap bahu Agus, “Kita hadapi bersama, Pak. Terima kasih sudah jagain Mama sama Acha.”


“Saya yang lalai, Den. Saya kira mereka tamunya Pak Awan.”


“Hanya mereka berdua atau ada orang lain, Pak?”


“Awalnya ada satu mobil, yang turun perempuan. Terus pas gerbang sudah saya buka, ternyata dua orang itu turun langsung nyerang saya. Posisi Pak Awan baru saja keluar, berangkat ke Bandung.”


“Perempuan siapa? Mama saya?”


“Bukan, Den, Bukan Bu Jihan.”


Di tengah obrolannya bersama Pak Agus, dua pria berkepala plontos itu masuk kembali ke ruang tengah. Mereka terkejut melihat dirinya sudah terlepas dari ikatan dan Agus terbangun dari pingsannya. Salah satu dari mereka mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Ibu dan adiknya yang tadi menjadi sandera mereka.


Biru dalam keadaan waspada begitu pria tersebut menyerang. Ia di tendang lalu di tinju pada bagian muka. Biru terhuyung hingga terjatuh, kepalanya terbentur meja nakas. Untung Agus membantunya dengan menyerang balik dari belakang. Naasnya pria tersebut memang sangat kuat, Agus pun di buat jatuh dalam sekali pukulan.


Prangg!!!


Kepala Agus terbentur meja. Vas bunga jatuh dan pecah. Seketika Biru panik melihat pria tersebut mengambil potongan vas bunga dan diarahkan ke Agus. Sekuat tenaga ia memaksa bangun lalu menghampiri Agus yang berada dalam kungkungan penjahat itu.


“Arrrggghhhh!!!!!”


Bug!


Biru berlari, menendang punggungnya hingga pria itu terjatuh. Lalu membantu Agus untuk kembali bangkit. Ia menyingkirkan potongan vas bunga itu dengan kakinya.


“Aden!!”


Saat Agus berteriak. Ia langsung melihat pria itu dan menghindar ketika kembali diserang. Biru melihat ada pisau kecil dalam genggamannya. Ia memberi tahu Agus agar berhati-hati. Pria itu kembali maju untuk menyerang, Agus menyandung kaki pria itu hingga terjatuh terjerembap. Secepat kilat Biru mengambil alih pisau lipat yang terlempar.


“Beraninya main keroyokan kalian!” hardiknya, “Satu-satu sini lo maju! Hendar!!!” pria itu memanggil kawannya yang sedang berkeliling mencari keberadaan Senja juga Barsha.

__ADS_1


Pria yang bernama Hendar lari tergopoh turun dari lantai atas. “Nggak ketemu, Bos! Nggak ada dimana-mana.


Di waktu bersamaan, Biru dapat mendengar dengan jelas keributan dari arah depan. Matanya terbelalak begitu mengetahui suara siapa yang memanggil dirinya. Sedang di belakangnya Agus sudah mulai adu jotos dengan pria yang di panggil Bos.


“Mas!!”


Kha....


“Kha! Pergi!!”


Melihat Hendar mengambil kayu kaso yang tergeletak di lantai, Biru teriak sekencang mungkin agar Kha urung masuk ke dalam rumah. Sayang, teriakkan nya justru memancing Kha berlari menghampiri. Ia berlari ke arah Kha saat tangan Hendar sudah berada di atas memegang kayu kaso.


“Mas!!”


“Kha, Awas!!”


Dag!


Hendar memukul bahu Kha dengan kencang sampai Kha teriak kesakitan. Kha terjatuh sembari memegang bahu kirinya. Biru membungkuk melindungi Kha dari pukulan Hendar yang membabi buta.


“Biru!!”


Semua tatapan beralih ke Gentar yang datang sembari memapah Barid. Hendar bergantian menyerang Gentar juga Barid. Biru melepaskan istrinya lalu menghampiri Gentar. Baku hantam pun kembali terjadi. Barid limbung dan terjatuh. Gentar membantu dirinya menghajar Hendar. Lalu Biru pula ikut terjatuh karena tendangan kaki Hendar yang kuat menghantam perutnya. Ketika Gentar tengah menarik dirinya, ekor matanya menangkap pergerakan Hendar yang tertatih bangkit lalu mengambil kembali kayu kaso di sampingnya. Ia terperanjat begitu menyadari yang di tuju Hendar adalah Kha.


“Ya!!!!”


Biru berdiri lalu berlari mengejar Hendar.


Dan....


Jlebb!


“Aaarrrrkkkk”


“Mm-mas....”


Napas Biru tesengal. Ia melepaskan tangannya perlahan. Biru benar-benar tidak sadar jika dirinya masih menggenggam pisau lipat. Ia mengalami thermor, matanya menganak sungai melihat darah di telapak tangan.


Biru menusuk Hendar dengan pisau lipat......

__ADS_1


__ADS_2