
...6. Kerja sama...
Biru.
Biru menarik kakinya kembali masuk kedalam ruko. Awalnya Ia ingin mengambil Aming yang ditebak pasti keliaran ke ruko sebelah. Biru masih tidak tahu alasan kenapa kucing itu betah sekali kabur ke toko bunga, padahal disana pun tidak ada tempat untuknya bermain. Tapi urung dilakukan ketika samar mendengar percakapan antara Barid dan Kha.
“..., Atau mau bunga tulip? Sama seperti yang Mas Biru pesan buat Ibu kalian kemarin?”
“Dia pesan buat Ibunya, bukan Ibuku.”
Deg!
Hatinya mendadak mencelos. Bukan masalah sebenarnya, memang seperti itu faktanya. Hanya saja, nada Barid saat berbicara seperti ada rasa ketidaksukaan. Biru ingin menepis anggapan tersebut, tapi tingkah Barid didepan dirinya sejak tahu kebenaran tentang silsilah keluarga mereka juga tak dapat dipungkiri.
Biru juga tidak mengetahui atas dasar apa sikap sarkas Barid terhadapnya. Jika bukan karena sering mendapat teguran dari Mama Senja, mungkin Barid tak lagi sudi walau sekedar mengobrol dengannya. Yang membuat Biru heran, keberadaan Barid di ruko belakangan ini. Biasanya adiknya itu tidak betah berlama-lama bersama dengan dirinya. Kali ini justru sebaliknya, Barid selalu datang setiap hari setelah selesai kuliah. Belum jelas apa maksud dan tujuannya.
“Katanya mau ambil Aming?” tanya Gentar.
“Ntar juga balik sendiri dia.” jawabnya acuh sambil berlalu kelantai atas.
Apa maksudnya ngomong ke Kha begitu!
Biru mengobrak abrik benda apapun yang ada diatas meja kerja, lalu menaruh kembali ke sembarang tempat. Perkataan Barid kepada Kha membuat sedikit gusar. Harus banget di deklarasikan?! Selama ini Biru tidak pernah membicarakan tentang keluarganya. Bagi Biru, keluarga mereka baik-baik saja, Sempurna dan tampak harmonis tanpa cacat. Sampai Biru tidak pernah merasa menjadi anak broken home, meski kedua Mamanya mempunyai cara sendiri-sendiri dalam mendidik. Meski terkadang menimbulkan kebingungan dalam dirinya, antara mengikuti keinginan Mama Jihan atau selalu menjadi diri sendiri seperti yang dikatakan Mama Senja.
“Bi!” Biru terlonjak kaget. Menoleh seraya mendengus kesal, panggilan Gentar dari ambang pintu mengejutkan dirinya. Biru bertanya hanya dengan mengangkat dagu.
“Dibawah ada Tante nya Kha, nyariin elu tuh.”
Ia mengernyit. Tantenya Kha??
Lalu turun menyusul Gentar.
Biru melihat Kha duduk bersama Tantenya, juga Barid.
Perempuan berhijab itu berdiri begitu menyadari kedatangannya. “Mas Biru lagi sibuk ya? Maaf saya ganggu.”
“Enggak kok, Tante. Ada perlu apa ya?”
“Begini, saya berencana membuat katalog dan e-katalog untuk butik kami. Jadi kedatangan kami kemari ingin meminta tolong pada Mas Biru dan Tim untuk membantu, bisa?”
Biru agak menimbang. Membuat katalog fashion tentu menjadi hal baru untuknya. Ia takut hasilnya tak akan memuaskan. Tapi... “Bisa bisa, Tan. Jadi kapan kita bisa lakukan pemotretan?”
__ADS_1
“Lebih cepat lebih bagus, Mas.”
“Bagaimana dengan modelnya?”
Tante tersenyum seraya melirik Kha. “Sebenarnya... Kita biasa memakai model sendiri, ada anak kembar saya, juga....” Kha tampak menautkan alis saat Tante terkekeh ringan. “Kalau kurang kita bisa pakai Kha.” jawabnya.
Mata Kha membulat sempurna, jari telunjuknya menunjuk kearah sendiri dan berbisik Kok aku?. Biru ikut tersenyum melihat interaksi mata Tante dan keponakan didepannya.
Tante Mia. Ia ketahui nama Tante Kha dari secarik kartu nama yang diperoleh tadi. Kesepakatan berakhir dengan jadwal pemotretan yang ditentukan akan dilakukan di dua tempat yang berbeda, yaitu outdoor dan indoor. Untuk jadwal pemotretan indoor akan dilakukan esok hari di studio dan lusa di taman Menteng.
“..., Mau make konsep minimalis tema Rustic. jadi aku butuh bunga yang sesuai tema. Ada saran?” tanyanya. Biru berencana memakai bunga untuk dekorasi agar menambah kesan manis
Kha tampak menilik sekitar, mencari bunga yang Ia pinta. “Ada bunga limonium, Dahlia, sama Astilbe untuk bunga segar. Kalau pakai bunga kering ada pampas, langurus, cotton flower, sama setaria. Mas mau pakai yang mana?”
“Siapin semua yang kamu sebutkan tadi.” jawabnya singkat.
“Iya, Mas. Mau sekarang atau besok pagi?”
“Nanti saja sebelum toko kamu tutup, Biar nanti malam Gentar setting dekor backgroundnya.”
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Khadijah.
“Digunting lancip ujungnya! Biar gampang di tancepin!” cetus Dipa tegas pada Gentar karena asal memotong ujung tangkai bunga.
Gentar mencebikkan bibir seraya mengulum senyum. “Mbak Kha... Ini temannya habis makan apa? Kok mulutnya pedes banget.”
“Sup darah pedas! Ngapa nanya-nanya?!” sahut Dipa.
“Pantes! Seblak level sepuluh saja kalah pedes.” cibir Gentar.
Kha hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar keributan kecil antara Dipa dan Gentar. Sesekali netranya melirik Biru yang tampak sibuk hilir mudik membawa perlengkapan yang terlihat asing baginya.
Setelah membawa dua tripot berbeda ukuran, kini Biru menyiapkan meja kecil dan meletakkan laptop beserta perintilannya. Pria itu tampak fokus cek ricek Lensa dengan berbagai variasi, kamera yang tampak bagus, lalu tiang dengan payung dilengkapi flash yang biasa Ia lihat di studio-studio foto lainnya.
Dia pesan buat Ibunya, bukan Ibuku!
Ucapan Barid kembali terngiang. Memang jika dilihat-lihat, Biru dan Barid sama sekali tak ada kemiripan. Biru dengan perawakan tinggi, putih, dan agak pendiam. Berbeda dengan Barid, adiknya itu tidak terlalu tinggi, memiliki wajah manis dan ramah. Sejak mereka bersebelahan, bisa dihitung dengan jari berapa kali berbicara dengan Biru. Sedangkan Barid, justru hampir setiap hari menyapanya.
Esok harinya...
__ADS_1
Aludra dan Adara juga Tante Mia, datang dengan 3 koper pakaian. Kha sempat tercengang melihatnya. Padahal dari obrolannya bersama Tante semalam, hanya ada lima model pakaian rancangan terbaru dari butik. Ia berdecak kagum melihat desain baju gamisnya. Betul kata Umi, Tante Mia yang handal menggambar membuat butik Umi semakin maju.
“Kha kamu juga bantuin Alu sama Dara ya! Kurang kayaknya kalau cuma pakai dua model.” Titah Tante.
Kha menggeleng cepat. Ia tak pernah percaya diri jika harus difoto orang. Galeri foto pada ponselnya saja hampir tak ada foto bergambar dirinya. Bahkan seingatnya hanya dua kali Ia dan keluarga foto bersama yang menggunakan jasa fotografer. Dan sekarang, Tante Mia menyuruhnya untuk menjadi model fashion? Tidak! Kha menolak tegas.
“Alu sama Dara saja, Tan. Aku nggak usah.” balasnya. “Malu....” sambungnya lirih.
Tante Mia menyilangkan tangan didepannya. Mengatakan jika Ia tak menerima penolakan. Setelah berganti pakaian model pertama, tangannya ditarik paksa oleh Tante menuju studio foto sebelah. Dimana Biru maupun Gentar sudah siap dengan alat tempur mereka.
“Siap semua?” tanya Biru hanya dianggukin sepupunya namun Ia tetap menggeleng ragu. “Dipa saja deh, Tante....” bujuk Kha. Kemudian semua mata memandang Dipa yang ditunjuk oleh Kha.
“Enak saja! Tidak!” tolak Dipa tegas. “Aku nggak biasa pake kerudung begitu. Gerah!” ucap Dipa.
Dahinya mengkerut dan menggigit bibir bawah. Kha benar benar tidak siap dan tidak bisa melakukan pemotretan yang sama sekali tak pernah Ia lakukan.
“Tante punya cadar?” tiba-tiba Biru bertanya pada Tante. “Kalau malu, Kha pakai cadar saja.”
“Oh iya, bener kamu! Tunggu disini, Tante bawa beberapa warna di mobil.” Jawab Tante kemudian berlari kecil menuju mobil untuk mengambil cadar.
Kha sedikit mengulas senyum. Lumayan! Mungkin bisa sedikit mengurangi rasa malu meski tetap saja tak nyaman.
Pemotretan dimulai. Diantara mereka memang hanya Kha yang terlihat kaku. Tidak seperti sepupunya yang dengan dengan mudah berputar-putar, mengibaskan ujung gamis, bergaya sesuai arahan sang fotografer. Sedangkan ia hanya bisa berdiri tanpa gaya, tanpa ekspresi karena ia juga memakai cadar.
“Rileks Kha. Rileks....” tak terhitung berapa kali Biru mengingatkan dirinya untuk lebih santai dan bergaya senatural mungkin. Tapi high heels nya dipakai juga terasa tidak nyaman.
Astaghfirullahaladzim....
Berulangkali Kha mengucap istighfar. Ini sudah baju kelima yang Ia kenakan, artinya sedikit lagi pemotretan selesai.
“Canggung? Baru pertama kali?” tanya Biru mengejutkan. Ia mengangguk sembari memijit mata kaki.
Belum juga menjawab, Biru telah masuk kembali kedalam ruko setelah mengantarkan Tante Mia dan anak-anaknya pergi. Kha meringis, tumitnya terasa perih, tertatih ia masuk kedalam ruko.
“Kenapa, Teh?” tanya Dipa. “Kakinya sakit?”
“Perih, Dip....” ucapannya terhenti saat Biru masuk kedalam ruko membawa kotak P3K ditangannya.
“Obati dulu kakinya, jangan sampai infeksi!”
Biru melemparkan kotak itu keatas pangkuannya lalu pergi begitu saja. Kha mengernyit, saling melempar tatapan aneh dengan Dipa kemudian terkekeh bersama.
__ADS_1
To be continued.