Dear Khadijah

Dear Khadijah
Bidadari bucin


__ADS_3

...59. Bidadari bucin...


Khadijah.


3 hari sudah Kha di rawat di rumah sakit. Senja menemaninya saat siang hari, bergantian dengan Dipa yang menginap di rumah sakit setelah toko tutup. Ia baru saja selesai berbincang dengan Alsea melalui sambungan telepon, ternyata Awan sudah memberitahukan pada Azzam mengenai musibah yang menimpa Biru. Banyak pesan yang Alsea sampaikan padanya, salah satunya yaitu agar ia mengikhlaskan apa yang terjadi, dan membantu mengurangi beban Biru dengan tidak menunjukkan kesedihan baik di depan suami maupun keluarganya.


Secarik kertas yang mulai lusuh masih ia genggam erat. Meski membuka sedikit saja membuat dirinya kembali meraung, tapi ia tak ingin melepaskan coretan menyayat hati yang Biru tulis. Batinnya merintih, bagaimana Biru tega mengatakan jika bukan dia lagi yang akan menemani dirinya.


“Aku sudah terbiasa sama kamu, dan aku nggak mau membiasakan diri tanpa kamu, Mas.” gumam Kha seraya menatap surat itu.


Semalam, Senja mengatakan jika hari ini ia akan dibawa kembali ke kantor polisi. Kedatangannya kali ini bukan sekedar menjenguk Biru, melainkan guna memenuhi panggilan polisi sebagai saksi. Kha bergegas mengambil pakaian yang telah Dipa siapkan sebelum pergi pagi tadi. Ia mau membersihkan diri sebelum Awan atau Senja datang seperti biasanya.


Walaupun selang infus menghambat ruang geraknya, ia berusaha tak merepotkan orang lain untuk merawat dirinya. Hampir 30 menit ia berada di kamar mandi, namun saat keluar mertuanya belum juga datang. Sembari menunggu Awan juga Senja, Kha menyalakan televisi supaya tidak terlalu sepi.


Braak!!!


Kha menjatuhkan remote tv ke lantai hingga benda kecil itu terpental ke kolong sofa. Pandangannya fokus pada acara tv yang tengah menayangkan berita tentang Biru. Di layar kaca terpampang jelas foto biru bersanding bersama foto Jihan dengan caption “Anak model ternama membunuh bodyguard rekan kerjanya”


Kha memejamkan mata. Ia merasa kesulitan untuk bernapas, dadanya begitu sesak. Ia mundur beberapa langkah, menjatuhkan diri ke sofa karena merasa lututnya sudah tak mampu menopang beban tubuh. Thermor juga menyerang kaki dan tangan. Ia sama sekali tidak menyangka kalau kasus biru akan di beritakan di tv.


Baru-baru ini kasus krisan menyebabkan kehebohan di jagat maya. Anak laki-laki dari model ternama dikabarkan membunuh bodyguard rekan sejawatnya. Berita tersebut menjadi trending topik di berbagai media sosial. Akun pribadi sang model pun tak luput dari serangan warga internet. Saat ini kasus masih dalam tahap penyidikan.

__ADS_1


“Kha!” Awan segera berlari mendekatinya, memungut remote tv lalu mematikan.


“Ma ... kenapa jadi seperti ini,” Kha menghambur memeluk Senja, menumpahkan tangais yang tak tertahan.


“Sabar, Kha ... kita sama-sama berdoa ya.”


Setelah merasa sedikit tenang, Kha dan Senja menyusul Awan yang sedang mengurus administrasi. Sebelumnya ia meminta pada Senja untuk mampir ke ruko terlebih dahulu. Mengambil beberapa barang yang mungkin Biru butuhkan. Selama di rawat Kha mencari tahu tentang kehidupan orang dibalik jeruji besi melalui laman pencarian, pada siang hari ada saja kegiatan yang dilakukan para tahanan, karena itu Kha ingin membawakan sesuatu yang berguna untuk malam harinya.


“Kamu mau bawa apa buat Biru, Kha?” tanya Senja.


“Mau bawa buku-buku, sama baju ganti,” jawab Kha tertunduk. Ia tahu, saat ini pun pasti Biru telah mengenakan baju tahanan, setidaknya ia bisa membawakan kaos dalam dan celana pendek.


Awan dan Senja tak ikut turun dan hanya menunggu di mobil. Ia sendiri tidak masuk ke toko bunga melainkan langsung ke studio sebab pakaian Biru belum semuanya berpindah tempat. Saat dirinya masuk, ternyata Asti dan Dipa sedang berada di studio, berkerumun mengelilingi entah apa.


“Waalaikumsalam, Teteeehhhh! Aku kangen.” Asti menghambur memeluknya.


Kha mengelus lembut pegawain ya yang sudah ia anggap seperti adik sendiri, “sama, As, teteh juga kangen kalian. Oh ya, kalian lagi apa di sini?”


“Lagi lihat Aming habis lahiran.”


Kha setengah terkejut mendengar ucapan Asti, pasalnya selama ini Kha berpikir bahwa kucing milik Biru adalah jantan. Mungkin bukan hanya Kha, orang lain pun pasti akan berpikir sama bila mendengar nama kucingnya adalah ‘Aming’.

__ADS_1


“Kok bisa? Bukannya aming cowok?” tanya Kha setengah tak percaya.


“Tadinya aku sama mbak Dipa pikir juga si aming cowok eh ternyata cewek.”


Kha mendekati storage bag tempat mereka meletakkan kucing. Benar saja, aming sedang menyusui dua anak kucing berwarna putih dan yang satu memiliki warna orange. Induk kucing itu terlihat sedikit gemuk, ternyata selama ini ia kurang memperhatikan piaraan milik suaminya.


“Memang di sekitaran sini ada kucing lain ya?” tanya Kha.


“Mangkanya kalau punya piaraan jangan ditinggal mulu!” sahut Gentar dari arah tangga. Kha mengerucutkan bibir dari balik cadar, “kamu sudah sehat? Ada yang perlu diambil?” sambung Gentar.


“Alhamdulillah. Aku mau ambil buku atau sama pakaian ganti buat mas Biru.” jawab Kha.


“Teteh, kucingnya mau dikasih nama siapa?!” tanya Dipa.


Seraya meniti anak tangga menuju lantai kamar di lantai atas Kha menjawab, “BIKHA SAMA KHABI.”


Kha menelisik setelah melemparkan jawaban, melihat seisi studio saling berpandangan sembari menahan senyum. Syukurlah ia dapat menguasai diri seperti pesan Alsea yang ingin ia tak terlalu bersedih di depan banyak orang.


“Bucinnya bidadari is another level banget ya!” cibir Gentar. Kha hanya tersenyum mendengarnya tanpa menimpali.


Tiba di depan kamar Biru, Kha nyalang memperhatikan sekitar. Ruangan yang dulu hangat dan terang seolah kehilangan cahaya. Sama seperti ia yang kehilangan separuh semangatnya. Kha menarik napas dalam-dalam, meyakinkan diri sendiri jika ia dapat melewati semua masalah ini. Meski di balik ketegarannya ada hati yang mulai rapuh.

__ADS_1


Tinggalkan jejak sebelum scroll pliiiiisssssssss 🤧


__ADS_2