Dear Khadijah

Dear Khadijah
Titik temu takdir


__ADS_3

...38. Titik temu takdir....


Ternyata seperti ini rasanya dijaga....


Kha mengharu mendapati kecemburuan samar Biru. Pria disebelahnya benar-benar ingin menjaganya dari pandangan pria lain. Ia mulai berpikir sesuatu hal yang di inginkan selama ini, namun belum ia laksanakan.


Kha menggeser tubuhnya merapat pada Biru. Menautkan satu tangan kedalam lengan, dan menyandarkan kepala di bahu suaminya.


“Mas... Aku boleh minta sesuatu?”


“Selama aku mampu, kamu boleh minta apa saja.”


“Apa aku boleh pakai cadar?”


Biru terdiam sejenak, tatapannya masih terarah kepada pria yang tadi, dan kini telah berdiri memunggungi mereka. Ia meraih tangan Kha lalu menggenggam erat.


“Aku rasa kamu tahu, seluruhnya yang ada sama kamu itu punya aku, punya aku seorang, Kha... tidak ada sepasang mata pun yang boleh menikmati kecuali aku. Aku izinkan, Sayang.”


Senyum Kha mengembang sempurna dari balik masker, ia semakin mengeratkan genggaman tangan Biru dan menyandarkan kepalanya kembali. Namun kenyamanan tersebut tak berlangsung lama, karena terganggu oleh announcements keberangkatan.


Kha duduk disebelah jendela, tempat favoritnya setiap menaiki kereta api, sedangkan Biru masih mengatur barang bawaannya ke dalam kompartemen. Tepat sebelum suara lengkingan panjang dari peluit berbunyi, Biru telah duduk ditempatnya.


Kereta mulai merangkak perlahan, meninggalkan stasiun dan petugas peron yang memberikan salam hormat dari masing-masing sisi peron. Semakin lama laju kereta semakin cepat, menjauh dari stasiun kota gudeg.


“Kapan terakhir kali kamu naik kereta?” tanya Biru, sembari menarik tangan Kha.


“Mmm, saat pertama kali pergi ke Jakarta sendiri.”


“Pas ketemu aku?”


“Mas, masih inget?” tanya Kha, dan Biru mengangguk.


Dulu, hal yang sangat ingin ia lihat dalam perjalanan menuju Jakarta adalah gambaran sore hari yang cerah, guratan awan berwarna orange menghiasi ujung ujung langit, namun semua sirna karena anomali cuaca tak berpihak padanya. Kemudian terwujud saat bersama laki-laki yang tak pernah ia sangka akan menjadi suaminya.


“Cantik langitnya,” gumam Kha memandangi pemandangan di luar jendela.


Biru mendekatkan wajahnya, membisikan kalimat yang sukses membuat pipi Kha merona dari balik masker.


“Tetep kalah cantik sama kamu.”


“Recehnya... Suami aku.”

__ADS_1


“Tapi kamu suka.”


“Banget!” jawab Kha sembari meletakkan kepala di pundak Biru.


Mereka menghabiskan setengah malam dalam perjalanan, dan tiba di Jakarta tepat tengah malam. Saat masih dalam kereta, Biru mendapatkan notif pesan dari Senja jika Mamanya mengirimkan Pak Lukman untuk menjemput mereka di stasiun.


“Kita ke parkiran mobil, Pak Lukman sudah nunggu disana,” ajak Biru.


Biru berjalan mendahului Kha dengan satu tangan menggeret koper dan tangan lainnya mengangkat 2 tumpuk kardus yang diikat menjadi satu, sedangkan Kha berjalan cepat disampingnya, mensejajarkan langkah panjang Biru sembari tertatih menggeret koper pakaian suaminya.


Keluar dari pintu koridor yang terhubung langsung ke tempat parkir, langkah Biru terhenti membuat Kha ikut berhenti. Ia meletakkan kardus ke jalanan dan menarik lengan istrinya.


“Ingat tempat ini?”


Kha tersenyum, tanpa dipaksa untuk mengingat pun ia sangat ingat tempat itu. tempat dimana takdir mempertemukan ia dengan Biru yang kini menjadi suaminya, serta Dipaya yang kala itu hampir merampas tasnya, namun ia jadikan karyawannya kini.


“Titik temu tadir,” ucap Kha.


“Ya! Titik temu takdir kita setelah supermarket jaman kita masih kecil,” timpal Biru membuat keduanya terkekeh bersama.


“Mau juga nikahin aku, padahal udah ngatain aku aneh dan menyebalkan,” Biru menggigit bibir bawahnya saat mendapat cibiran dari Kha. “Padahal sama-sama menyebalkan, dan nama juga Mas lebih aneh, untungnya bukan hijau,” ucap Kha tertahan tawa, “Takut kalau marah jadi hulk.”


“Setidaknya kamu mengakui kalau kamu juga dulu menyebalkan, bukan?”


Biru kembali mengangkat kardus dan meneruskan jalan, “Iya iya, wanita mah nggak pernah salah, 'kan,” jawab Biru mencibir balik.


Kha mengerucutkan bibirnya dan berjalan mendahului Biru.


Tak jauh dari mobil Pak Lukman berlarian menghampiri Biru dan Kha, mengambil alih koper dari tangan Kha.


“Nunggu lama ya, Pak?”


“Nggak, Den Biru, Saya juga belum lama sampai.”


Pak Lukman membawa Biru dan Kha kembali kerumah, sesuai permintaan Senja yang ingin mereka tinggal dirumah untuk sementara waktu. Tiba dirumah, Senja dan Barsha masih terjaga, menyambut kedatangan mereka dari teras rumah.


Senja memeluk Biru sangat lama, sembari terisak ia mengucapkan kata-kata rindu. Bergantian Barsha yang khas dengan suara rengekan. Setelah itu, Kha mencium takzim tangan Senja juga berpelukan.


“Papa sama Barid udah tidur?”


Senja menggeleng, Papa dan Adiknya tak ikut menyambut mereka lantaran keduanya tengah dinas keluar negeri. Senja menggiring mereka naik ke lantai dua, mengantarkan anak dan menantunya ke kamar Biru.

__ADS_1


“Kamarnya Mama renovasi sedikit, nggak apa 'kan, Bang?”


Biru melihat sekeliling, kamar yang biasanya dominan dengan warna gelap, kini berubah menjadi cerah. Tembok yang dipenuhi kumpulan foto hasil jepretannya masih terpajang rapi, hanya saja kini berubah warna menjadi putih gading. Juga kasur lesehan berukuran sigle berganti dengan king size.


“Mama tahu yang Biru butuhkan,” jawab Biru.


“Kalian sudah makan?”


“Sudah tadi di kereta.”


“Ya sudah, kalau gitu kalian langsung istirahat saja, pasti capek.”


“Baik, Ma.”


Biru menutup pintu setelah Senja dan Barsha pergi meninggalkan mereka berdua, tak lupa juga ia memutar anak kunci untuk memastikan tidak akan ada yang tiba-tiba masuk kamar seperti Barid. Meskipun ia tahu Barid sedang tidak berada dirumah, tapi ia tetap harus berjaga-jaga.


“Tinggal kita berdua,” Biru berucap lirih seraya memainkan matanya.


“Terus?”


Biru mengedipkan mata nakal seraya menarik ujung hijab Kha. “Masak gitu aja nanya.”


Kha memutar mata, berbalik badan dan meletakkan asal Sling bag nya diatas ranjang.


“Jangan menolak, aku pernah dengar dari kanal Youtube Ibnu ummar atjeh, Buya Yahya mengatakan jika istri yang menolak ajakan suami untuk melakukan berhubungan badan adalah berdosa dan tidak akan dimaafkan oleh Allah SWT ”


“Terus dijadiin senjata sama, Mas?!”


Biru tak memperdulikan istrinya yang mengerucutkan bibir, ia menarik Kha ke dalam kamar mandi dan berhenti di depan kran air.


“Gih, ambi wudhu dulu, suami ngajak sholat jamaah malah gitu,” goda Biru.


Kha mengernyit, menyipitkan mata menatap Biru dengan tatapan tak percaya.


“Bener cuma sholat malam?”


“Kalau mau dilanjutkan aktivitas yang lain juga boleh.”


Kha kembali mengerucutkan bibirnya, menciptakan segenggam air ke arah Biru, sampai membuat Biru meloncat-loncat menghindari air.


Adegan selanjutnya boleh dibayangin sambil cengar-cengir. Author nggak nanggung akibatnya 😂

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir, silahkan tandai jika ada typo-typo.


Luv bestieeee ❤️


__ADS_2