Dear Khadijah

Dear Khadijah
hadiah di hari terindah


__ADS_3

hadiah di hari terindah


“Kha kenapa Dipa?” Gentar berlarian menghampiri mereka setelah mendengar Boim teriak meminta bantuan.


“Mau melahirkan sepertinya, tolong antarkan ke rumah sakit.”


 Tanpa ba bi bu Gentar segera masuk ke kursi kemudi mobil Kha, dari spion dalam Gentar melihat tampilan Kha yang sedikit berantakan, jilbab yang sudah tidak simetris juga sebagian sisi basah akibat peluh. Bibir pucat Kha pun terus mendesis kesakitan.


Tiba di rumah sakit Kha langsung di bawa menuju ruang observasi guna di periksa lebih lanjut, dari ambang pintu seorang perempuan degan pakaian serba biru menghentikan langkah Gentar juga Dipa. “Maaf, pasien akan di periksa terlebih dahulu jadi hanya boleh di dampingi seorang saja, mungkin suaminya boleh menyemangati pasien?”


“Sa-saya bukan suaminya, Dok!” tukas Gentar.


“Biar saya saja yang menemani,” sahut Dipa, “Mas, lo kabari saja orang tua teteh sama Biru, oh ya, Biru bagaimana?”


“Masih ada beberapa hal yang perlu di lakukan, gue kabari yang lainnya dulu.” jawab Gentar berlalu dari pintu ruangan yang bertuliskan ruang observasi itu.


Kha mendengar, Kha jelas mendengar Dipa melempar pertanyaan pada Gentar menyebut nama suaminya. Ia tak tahu pasti namun Kha mulai khawatir, kenapa dengan Biru? Apa yang di maksud Dipa dengan kata bagaimana? Ia ingin menanyakan namun kontraksi yang makin intens membuyarkan konsentrasinya.


Di ruang observasi ternyata bukan hanya Kha seorang, beberapa dipan yang berjejer di antara sekat tirai sudah terisi penuh atau sekitar 4 – 5 orang sedang menunggu untuk di tindak lanjuti. Kha dipasangi sejenis sabuk yang terhubung dengan alat Electrocardiograph atau CTG untuk mengontrol denyut jantung bayi juga kontraksi.


“Sssttt sakit, Dip, astagfirullah ....” Kha meringis kesakitan, tangannya menggenggam erat telapak tangan Dipa.


“Sabar-sabar tahan ya, Teh.”


Hanya itu yang dapat Dipa katakan pada Kha, rasanya tidak tega melihat Kha terus meringis, entah seperti apa rasa sakit orang mau melahirkan bahkan Kha yang terbiasa menahan sakit seorang diri kini meraung tak tahan.

__ADS_1


Dipa menyingkir dari tempat ia duduk saat dua orang perawat kembali datang untuk memeriksa, satu di antaranya memeriksa kondisi Kha mulai dari mengecek suhu tubuh hingga tekanan darah, sedangkan suster lainnya entah tengah memeriksa apa, Dipa hanya melihat kaki Kha diangkatnya sembari berucap “tarik napas ya ibu ....” suster itu mengulurkan tangan ke bagian inti dan saat bersamaan Kha mendesis dengan mata terpejam.


“Pasien hampir mencapai pembukaan lengkap dan akan segera di pindah ke ruang bersalin, apa suaminya sudah datang? Atau anda yang akan menemani?” tanya suster.


“sebentar, Sus, saya periksa dulu.”


Setelah pamit pada suster, Dipa beranjak keluar dari ruangan dan meraih ponselnya untuk menghubungi Gentar. Tetapi belum sempat terhubung panggilannya, netranya menangkap gerombolan orang tengah berlarian ke arahnya, mata Dipa memicing demi memindai satu persatu orang-orang itu, dan ia melihat pria yang sudah sangat lama tidak ia temui. Ialah Biru, suami Kha yang sejak dulu selalu berpenampilan rapi dengan tatanan rambut ciri khas, dan kini ia datang mengenakan selembar kaos yang di timpa dengan blazer hitam.


“Bang Biru?”


“Dipa, Kha dimana? Sekarang bagaimana keadaannya? Apa sudah melahirkan?” ucap Biru memberondong pertanyaan.


“Masih diruang observasi, tapi bukaan serviksnya sudah lengkap dan siap menjalani Kala 2.” jawab Dipa sembari menunjuk ruangan di mana Kha berada.


“Ya sudah kita langsung masuk saja,” tukas Awan.


Tak ingin membuang waktu, Biru latas masuk ke ruangan yang tadi di tunjuk oleh Dipa, dan begitu sampai dalam ruangan, ia menilik satu persatu tirai penyekat yang terjejer di depannya dan berakhir menemukan sang istri di ruangan ke enam. Kha belum menyadari keberadaannya yang kini tengah berjalan mendekat.


“Anda siapanya pasien?” tanya salah seorang suster. Barulah Kha menoleh ke arah Biru saat mendengar suster bertanya.


 “Mas Biru?” sapa Kha dengan suara sengau.


“Saya suami Khadijah, sus, dan saya yang akan menemaninya ke ruang persalinan.”


Setelah itu Biru menghampiri Kha yang sudah menangis tersedu melihat kehadirannya. Biru langsung membungkuk memeluk Kha di pembaringan.

__ADS_1


“Maaf aku terlambat.”


Kha menggeleng cepat, sakit efek kontraksi yang begitu dahsyat seketika tersamarkan oleh perasaan bahagia yang membuncah. Pria yang beberapa bulan silam harus di penjara demi menyelamatkannya, pria yang beberapa bulan lalu juga menolak untuk bertemu, sekarang berada di depan matanya, tepat di pelukannya di saat-saat ia membutuhkan dorongan untuk mengumpulkan kekuatan.


“Tidak, Mas, kamu sama sekali tidak terlambat.”


“Kamu pasti bisa, Mas temani kamu, kita sambut bersama kehadiran anak kita ya,” ucap Biru lalu mengecup kening Kha. Sejenak Biru tahan kecupan itu sebelum turun mengecup hidung dan bibir Kha sekilas. Sembari merapal doa dalam hati sebagai bentuk rasa syukur dapat kembali di saat yang tepat.


Karena Kha tidak di tempatkan pada kamar all-in-one, begitu dirasa siap melahirkan Kha di bawa menuju ruangan bertuliskan ruang bersalin. Di ruangan ini terlihat lebih fresh dari sebelumnya, ranjang dengan posisi setengah duduk dengan lapisan sprei berwarna merah jambu juga di lengkapi penyangga kaki pada tiap sisi.


“Kenapa kakinya diangkat, Dokter?” tanya Biru pada dokter begitu melihat Kha mendesis semakin kencang ketika kedua kakinya di letakkan pada penyangga.


“Untuk memudahkan proses mengejan saat bersalin, Pak,” jawab Dokter dengan senyum penuh arti, seperti telah menjadi hal lumrah bagi seorang dokter menghadapi pendamping keluarga pasien yang masih awam terhadap peralatan di ruang bersalin.


“Tapi suhu AC-nya juga rendah sekali, apa tidak apa-apa? Istri saya sepertinya kedinginan,” lanjut Biru dengan pertanyaan yang lain.


“Ruangan untuk bersalin memang sengaja di pasang di suhu rendah, karena suhu dingin membantu menurunkan dampak infeksi, Bapak tidak perlu khawatir dampingi saja istrinya, berdoa, dan beri semangat ya, Pak.”


Biru meringis menampilkan barisan gigi putih bersihnya menyadari intonasi nada jawaban dokter mulai sedingin ruangannya, ia lalu berbalik menatap kembali istrinya dan menggenggam erat tangan Kha, membiarkan Dokter menyiapkan segala peralatan persalinan yang amat asing di matanya.


“Hanna waladat maryama, wa maryama waladat lisaa, ukhruj ayyuhal mauluudu biqudrotil malikil ma’buudi.” samar Biru mendengar Kha menggumam sebuah doa, dari itu ia mengingat pernah di beri secarik kertas berisi doa lancar persalinan oleh Ummi Alsea saat beberapa bulan lalu menjenguk ke tahanan.


Biru menggenggam satu tangan Kha dan meletakkan tangan lainnya di atas perut Kha lalu membaca doa yang sudah susah payah ia hafalkan sejak saat itu, “Allâhumma-ḫfadh waladî mâ dâma fî bathni zaujatî wa-syfihi antasy-syâfi lâ syifâ’an illâ syifâuka syifâ’an lâ yughâdiru saqaman. Allâhumma shawwirhu fî bathni zaujatî shûratan ḫasanatan wa tsabbit qalbahu îmânan bika wa bi rasûlika. Allâhumma akhrijhu mim bathni zaujatî waqta wilâdatihâ sahlan wa taslîman. Allâhumma ij‘alhu shahîhan kâmilan wa ‘âqilan ḫâdziqan ‘âliman ‘âmilan. Allâhumma thawwil ‘umrahu wa shahhih jasadahu wa ḫassin khuluqahu wa afshah lisânahu wa aḫsin shautahu li qirâ-atil hadîtsi wal qur’ânil ‘adhîm bi barakati Muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam. Walhamdulillâhi Rabbil ‘âlamîn.”


“Mass!! Sakit Masya Allah, nggak kuat!” suara Kha tercekat, peluh membanjiri kepala Kha yang masih tertutup hijab, sedikit berantakan akibat Kha terbaring gelisah mengguncangkan kepalanya kesana kemari.

__ADS_1


“euuughhh!!!”


__ADS_2