
...36. She drives me crazy ...
Hari sudah larut, tapi para penghuni rumah belum juga terdengar pulang ke rumah. Mungkin saja keluarga Kha sengaja meninggalkan mereka hanya berdua. Entahlah, yang pasti Biru sangat menikmati waktu mereka. Ini kali pertama mereka bisa berdua di dalam satu ruangan yang sama, tanpa orang lain mengawasi. Lebih lagi, mereka telah menuntaskan satu kewajiban.
Biru menyibak anak rambut Kha ke belakang telinga. Istrinya masih nampak mengatur napas setelah pertarungan panjang tadi. Ia menarik selimut untuk menutupi bagian bahu Kha yang basah oleh keringat.
“Gerah, Mas....” ucap Kha lirih.
“Gerah ya? Mau mandi sekarang?”
Kha tak menjawab, Ia merubah posisi tubuh dari miring menghadap Biru ke telentang. Raut wajah Kha seperti menahan sakit, mulutnya berdesis seraya mengucap istighfar.
“Sakit banget?” Kha menganggukkan kepalanya. “Maaf ya, aku terlalu tergesa-gesa,” sesal Biru. Ini pun pengalaman pertama baginya, wajar jika pergerakannya masih kasar dan terburu-buru.
Biru meraih celana dan baju yang berserakan dilantai, setelah memakai kembali, ia juga memunguti baju Kha lalu memberikan kepada istrinya.
“Dipakai dulu bajunya, Sayang. Aku gendong ke kamar mandi, ya.”
Kha tersipu, bukan karena ucapan Biru yang ingin menggendongnya, melainkan panggilan sayang dari Biru untuknya.
“Aku bisa jalan sendiri, Mas,” sergah Kha.
Kamar Kha tak memiliki kamar mandi didalamnya. Sebab itu mereka harus keluar kamar untuk membersihkan diri dari hadas besar.
Untungnya saat mereka berdua keluar kamar belum ada orang dirumah tersebut. Jadi mereka bisa mandi wajib tanpa merasa malu.
Mereka bergantian masuk kedalam kamar mandi. Ketika giliran Biru mandi, Kha bergegas naik ke kamar meski dengan langkah tertatih. Ia ingat ada noda merah di selimut serta seprai miliknya, secepat kilat Kha menggulung menjadi satu lalu di bawa turun. Kha tak ingin orang tua apalagi adik-adiknya tahu apa yang sudah ia lakukan. Meskipun itu sudah boleh dilakukan, tapi Kha tetap malu. karenanya ia langsung memasukan kedalam mesin cuci sebelum ada orang pulang kerumah.
“Sayang... Kamu ngapain?”
“Eh, Mas, Ini... Nyuci selimut sama seprai.”
Biru menyeringai, “Ada nodanya, ya....”
Krucuk krucuk.
__ADS_1
Bel menjawab pertanyaan Biru, Kha di buat terkekeh mendengar suara yang bersumber dari perut suaminya, Biru menggigit bibir, ia memang merasa lapar setelah menguras tenaga untuk mencapai titik terdalam bersama Kha.
“Kamu laper, Mas? Mau makan apa?”
“Yang ada aja, Sayang. Mie instan atau roti kalau ada?”
“Adanya Roti, mau?”
“Boleh.”
Biru dan Kha duduk bersebelahan di meja makan. Terlalu menikmati waktu berdua sampai melupakan makan malam, padahal Alsea sudah berpesan untuk makan malam di luar tadi. Biru mengusap rambut Kha yang setengah basah, dibiarkan tergerai tanpa hijab menutupinya.
“Ekhmmm!”
Biru terlonjak oleh suara dekheman. Bagaimana bisa mereka sampai tak menyadari kehadiran Abi dan Ummi. Biru menarik tangannya dari kepala Kha, sedangkan Kha, sadar tak membawa hijabnya, ia bersembunyi dibalik badan Biru.
“Ummi, Abi....”
“Kalian belum tidur?” tanya Alsea. Biru hanya menyeringai, menggaruk kepala yang tak gatal.
“Abi... Abi... Kamu itu kayak nggak pernah jadi pengantin baru saja, ayo masuk kamar!” tegur Alsea. Azzam memasang muka masam pada Biru, untung saja Alsea mendorong tubuh Azzam untuk pergi meninggalkan anak dan menantunya. Kalau tidak Biru harus bersiap menelan tatapan tajam ayah mertua yang tak terima anaknya mandi tengah malam.
“Ish malu!” gerutu Kha dari balik badan Biru. Biru memutar badannya menatap Kha. Tersenyum jahil mengusap pipi Kha yang merona.
“Ke kamar lagi aja, ya,” Kha mengangguk, lalu berjalan disamping Biru dengan tertatih.
“Masih nyeri?”
“Nyeri banget dipangkal paha.”
Biru menengok kearah pintu kamar utama, memastikan jika Abi dan Umminya sudah didalam kamar dengan pintu tertutup. Tanpa aba-aba, Biru langsung menggendong Kha ala bridal style.
“Mas!” teriak Kha terkejut, namun buru-buru ia bekap mulut sendiri takut orang tuanya mendengar.
“Katanya sakit.”
__ADS_1
“Turunin, aku bisa jalan sendiri!”
Biru mengabaikan permintaan istrinya, dan tetap menggendong hingga masuk kedalam Kamar Kha. Ia rebahkan tubuh Kha diatas ranjang, membantu Kha menarik kaki agar berselunjur diatas kasur.
“Makasih, Mas. Padahal mah aku bisa jalan sendiri.”
“Sama-sama, Sayang... Nggak apa-apa, 'kan aku juga yang udah bikin kamu sakit gini.”
“Aku nggak tahu bakal sesakit ini, apa setiap kali begitu bakal sakit kayak gini, Mas?” pertanyaan polos Kha membuat Biru kikuk untuk menjawabnya.
“Mau aku kasih tau caranya biar nggak sakit lagi?”
Kha mengernyit, tapi ia juga penasaran. “Gimana?”
“Harus sering-sering,” celetuk Biru, ia tertawa terbahak melihat ekspresi Kha yang membelalakkan matanya.
“Mas, ish! Serius aku tuh!”
“Itu serius, Sayang. Aku nggak bohong, mau bukti?”
Sekuat tenaga Kha mendorong tubuh Biru agar menjauh. Tapi Biru justru memangkas habis jarak antara dirinya dengan Kha. Kini Biru duduk bersimpuh didepan Kha. Tangan Kha masih dalam cengkramannya. Perlahan ia lepaskan satu tangan dan beralih menyibakkan rambut Kha ke belakang telinga. Telapak tangannya bermain diantara telinga dan pipi, lalu turun ke dagu.
Dengan satu tarikan, Biru mendekatkan wajahnya ke wajah Kha. Mempertemukan kembali dua Indra pengecap, membasahi satu sama lain. Tangan Biru berpindah ke tengkuk leher mendorong kepala istrinya agar semakin dalam. Napas mereka kian memburu, Biru merasa hasratnya kembali memuncak. Ia ingin mengulangi, tapi ia tak ingin menyakiti istrinya. Ia lepaskan panggutannya lalu menatap Kha penuh harap.
Kha mengangguk.
Setelah mendapat izin untuk kedua kalinya, Biru kembali melancarkan aksi untuk membawa Kha kembali ke peraduan. Menikmati suasana demi mengikis lara. Kali ini pergerakannya lebih slowly, meniti inchi demi inchi setiap lekuk tubuh. Meresapi kenikmatan didepan mata.
Biru sudah masa bodoh dengan bagaimana nanti untuk membersihkan diri. Sudah pasti ia akan menerima tatapan tajam atau bahkan murka Azzam yang marah karena dirinya membuat Kha mengulangi lagi ritual mandinya. Yang jelas saat ini ia telah dimabuk kepayang. Rintihan serta ******* Kha membuat dirinya semakin menggila.
She drives me crazy
Memang aktivitas seperti ini adalah satu satunya hal yang tidak perlu mereka pelajari sebelumnya. Nyatanya mereka terlihat seperti dua insan yang mahir di atas ranjang. Segala gaya Biru coba tanpa perlawanan, dan itu membuatnya tak pernah merasa cukup. Entah sudah berapa kali mereka melesat puncak menyemai benih. Namun Biru belum berniat menyudahi, padahal napas mereka saja sudah tersengal tak beraturan.
“Kamu luar biasa, Sayang. Terima kasih, I love you....”
__ADS_1
Ungkapan perasaan Biru pada Kha untuk menutup kegiatan panjang malam itu.