
Unbelievable sights
Bayi perempuan mungil itu lahir tepat setelah sang ibu menyerukan kalimat takbir disusul dengan suara tangis yang menggaung di ruang bersalin. Raut bahagia tampak jelas pada wajah kedua orang yang baru saja menyandang status sebagai orang tua baru. Biru tak henti-hentinya mengecup tangan Kha dan mengucapkan terima kasih atas perjuangan Kha yang telah melahirkan anak mereka. Tak cukup hanya dengan kata terima kasih rasanya, mengingat ke belakang bahwa faktanya Kha telah berjuang seorang diri saat mengandung.
“Terima kasih sayang, ma-maafkan aku yang payah ini,” ucap Biru membanjiri Kha dengan kecupan di seluruh bagian wajahnya tanpa terkecuali.
“Bayinya perempuan ‘kan, Mas?” tanya Kha.
“Iya sayang, anak kita perempuan, kamu sudah tahu sejak masih di perut ‘kan?” ujar Biru yang mengira Kha melakukan tes USG untuk mengetahui jenis kelamin bayi mereka.
“Sok suka nebak, deh! Orang aku sengaja nggak usg biar buat kejutan,” jawab Kha, “Mas sudah bebas beneran? Mas nggak akan pergi lagi ‘kan?” kalimat Kha sedikit terbata, takut jika apa yang ia bayangkan tak sesuai dengan apa yang akan terjadi nantinya.
Biru tersenyum lalu mengusap lembut kepala Kha, “aku disini sayang, nggak akan kemana-mana.”
“Kok bisa?”
“just to be with you ...” jawab Biru, “sebentar ya,” pamitnya, Biru bergegas mendekati bayi yang di bawa oleh suster setelah pemotongan tali pusar, meninggalkan Kha yang tengah di tindak untuk mengeluarkan plasenta dari dalam rahim.
Setelah tadi mencecar banyak pertanyaan pada sang dokter saat baru masuk ke ruang bersalin, Biru tak berani lagi menanyakan apa yang sedang dokter tersebut lakukan pada bayinya takut akan mendapatkan jawaban yang seperti tadi. Ia hanya berani mengamati dari samping dokter, sembari meringis melihat bayi yang baru saja di lahirkan oleh Kha tengah di masukan selang kecil ke dalam mulut juga hidungnya.
“Di bersihkan dulu hidung dan mulutnya, buat menghilangkan lendir sama cairan ketuban biar bayinya bisa bernapas sendiri,” ujar dokter seolah tahu isi pikiran Biru.
“Oh-iya, Dok.”
“Selesai di bersihkan badannya dan tes APGAR, baru boleh di adzankan,” timpa dokter.
__ADS_1
Setelah bayi dibersihkan dan hasil tes apgar memiliki nilai di atas 8 yang mana nilai hasil tes tersebut menyatakan bahwa bayi dalam keadaan sehat, dokter menyerahkan bayi kepada Biru untuk di kumandangkan adzan pada telinganya. Proses adzan terdengar biasa di telinga dokter dan para perawat sebab hal tersebut sudah menjadi konsumsi keseharian mereka, berbeda dengan Kha yang mendengar dengan rasa penuh haru bercampur bahagia. Sejatinya ia sempat berburuk sangka pada Biru, dan tak pernah berani membayangkan akan ditemani selama proses bersalin. Namun, memang semua sudah kuasa-Nya, Kun Fayakun biidznillah, skenario sang pencipta selalu indah jika dijalani dengan rasa ikhlas dan penuh syukur.
“Sudah?” tanya perawat.
“Sudah,” Biru mengembalikan bayinya untuk di ukur panjang dan ditimbang beratnya.
“Panjangnya 56 cm, dan beratnya 2900 gram, masih normal tapi nanti ibunya harus rajin menyusui ya biar bayinya cepat besar,” ucap dokter.
“Nah, sekarang waktunya skin to skin contact!” perawat melepas kembali balutan pada tubuh bayi, membuka baju Kha bagian atas dan membaringkan bayinya di dekapan dada Kha.
Selama proses IMD berlangsung, Biru terkekeh melihat bayi perempuannya menggerakkan kepala untuk mencari dimana sumber makanannya. Saking gemasnya Kha mendorong badan bayi agar mulut bayi menempel pada ******, namun hal tersebut dilarang oleh dokter.
“Jangan dibantu ya, Bu! Biarkan bayinya berusaha sendiri, nikmati saja prosesnya!” tegur sang dokter.
Ibu dan bayinya sudah selesai di bersihkan, Biru benar-benar menikmati peran barunya ,menjadi seorang ayah sampai mengikuti perawat yang menjalani serangkaian pemeriksaan pada bayi, seperti memberi salep mata pada bayi, vitamin dan vaksin hingga cap telapak kaki, selama itu pula bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyuman. Unbelievable sights!
“Assalamualaikum! Mana anak Mama ... cucu Mama!” teriak Senja kegirangan setelah di perbolehkan melihat Kha yang sudah berganti ruangan lagi.
“Kha ... masya Allah, nak ... kamu hebat banget sudah melahirkan anak kalian, dan sekarang kembali dalam keadaan lebih fresh! Mama bangga banget sama kamu, sayang.” ucap Senja sembari memeluk anak mantu kesayangannya.
“Makasih, Ma. Mama sudah tunggu dari tadi?”
“Iya dong! Begitu Dipa telfon Barid mama sama papa langsung kesini tadi juga mama sudah kasih kabar sama ummi abi, katanya nanti sore mereka langsung berangkat kesini.”
Semua berkumpul, semua orang yang beberapa saat lalu menghilang tanpa kabar kini tengah mengelilingi ranjang untuk mengucapkan selamat pada Kha atas kelahiran bayinya. Namun begitu perawat masuk ke ruang rawat dengan mendorong baby box berisi anaknya, semua perhatian otomatis teralihkan pada anggota baru keluarga mereka.
__ADS_1
"Hey girl! Welcome to the club!” sapa Barid pada bayi. Disusul pujian kekaguman dari semua orang yang berada disana.
“Masya Allah cantiknya cucu, Mama ....”
“Berat ... berat!” bisik Gentar yang terdengar sebagian orang dalam ruangan itu.
“Berat kenapa?” Tanya Dipa.
“Anak perempuan pertama, cucu pertama dari dua keluarga besar, nggak kebayang beban dari harapan keluarga besarnya nanti. Beraaat ma bruuuh!” gumam Gentar menarik atensi Biru.
“Penerus Adwm.Corp, nich!” celetuk Barid pula.
“Never will! Dia akan tumbuh sesuai keinginannya, Gentar!” jawab Biru tegas mendengar candaan sahabatnya, seketika membuat Gentar beringsut menyembunyikan wajah menahan tawa pada lipatan tangannya.
Barid pun ikut terkekeh dibuatnya, “maklum, bro! Baru bebas ini, udah dihadapkan kenyataan buat puasa menahan hawa padas dalam tubuh, mangkanya agak-agak sensi,” sahut Barid ikut meledek sang kakak.
“sudah-sudah ih! Cara melepas rindu kalian itu nggak lucu! Nanti kalian kalau sudah punya anak akan tahu rasanya berganti peran dari suami saja ke suami juga ayah buat anaknya.” ujar Senja
“Woles, Ma, kan kemarin kita sudah di uji coba dapat peran jadi suami siaga yang baik buat Kha, ya gaes yaa!” selorohan Barid membuat yang lain ikut menggoda Biru, dan Biru hanya bisa menghela napas sesal, mau bagaimana lagi memang kenyataannya merekalah yang menjaga Kha selama ia di penjara,
“Sudah kamu siapkan nama untuk anakmu, Biru?” tanya Awan. Biru menoleh pada Kha dan mendapat gelengan kepala dari istrinya.
“RU'YA AZUCENA Bagaimana? Kamu suka?” tanya Biru pada Kha. Kha yang tak terpikir untuk menyiapkan nama pun setuju dengan pilihan Biru meski belum tahu makna dari nama tersebut.
“Kenapa kau hilangkan nama keluarga besar kita?”
__ADS_1